
8.8 : The Truth
Andrew kini berada di rumah Damon, ia tengah menyembuhkan luka nya. Hingga kelima kawannya menghampiri.
" Kenapa kau tak bilang kalau kau terluka? "
Vania menghampiri dengan plester dan obat merah di tangannya. Wajahnya menekuk, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Andrew.
" I'm okay. Aku hanya akan menutup ini dan... Tadaaa aku seperti biasa lagi. "
Andrew menutup luka nya dengan plester dan langsung berjalan. Membuktikan bahwa ia baik-baik saja.
" Sudahlah, jika ia bilang ia tak apa, jangan pikirkan. Hanya menambah beban pikiran kalian saja. Andrew tau kapan ia baik-baik saja dan kapan dia tak baik-baik saja. "
Rey yang tengah bersandar di dekat tangga menatap datar keempat kawannya yang terlihat terlalu khawatir dengan Andrew.
" Kau jahat sekali Rey. Dia terluka! "
Vania menghampiri Rey, tangannya terkepal hebat. Bersiap memukul Rey.
" Oh ayolah Vania... Hey Andrew! "
Andrew langsung menoleh, menatap heran Rey yang memanggilnya.
" You okay man? "
" I'm fine. "
Rey melipat kedua tangannya di dada nya, ia memiringkan wajahnya, terlihat senyum senang ketika Andrew benar-benar mengatakan ia baik-baik saja.
" See? Dia baik-baik saja, Vania. Jika kalian khawatir terlalu khawatir padanya, konsentrasi kalian akan buyar. "
" Yeah, Rey benar. " ucap Andrew singkat. Membuat Vania langsung menghampiri Andrew.
" Jangan begitu Andrew! Rey kau benar-benar jahat pada Andrew... "
Jeremy, Damon dan Tom yang melihat debat antara Vania dengan Rey dan Andrew hanya terdiam menatap hal itu.
" Setidaknya rumahku jadi ramai karena hal ini. " gumam Damon yang hanya bisa terdiam melihat hal itu.
" Perempuan jika sudah marah, dia menyeramkan ya.. " Jeremy menatap Vania dengan tatapan takut. Ia tak mengira perempuan semanis Vania bisa menyeramkan seperti itu.
" Kurasa Vania menyukai Andrew atau Rey.. " Tom hanya bergumam pelan dan langsung di sahuti dengan Jeremy dan Damon.
" I think so. "
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Andrew kini berjalan menuju basement, ia hanya ingin menyendiri akhir-akhir ini. Hingga ia terkejut melihat Rey berada di sana.
" Rey? What are you doing in here? "
Rey menatap Andrew, lagi-lagi dengan tatapan datarnya. Rey melempar sebuah kotak kecil ke arah Andrew.
" Untukmu. "
Rey langsung pergi tanpa keterangan apa-apa. Membuat Andrew heran dan langsung membuka kotak kecil itu.
Kotak kecil itu berisikan sebuah ponsel kecil. Ponsel ayah nya Andrew... Kenapa ada di kotak kecil ini? Dan kenapa Rey memilikinya?
Andrew menyalakan ponsel milik ayahnya itu, hingga sebuah notifikasi membuat Andrew melihat isi pesan itu.
" Sesuai kesepakatan. Keenam remaja itu menjadi milikku, dan kau serta istrimu bisa pergi dari rumah itu. "
Andrew mengangkat alisnya. Apa maksud pesan ini? Andrew langsung menggulir isi chat itu dari atas.
" Siapa orang ini? Kenapa orang ini mengatakan kalau mom dan dad bisa pergi dari rumah ini? " Batin Andrew, hingga ia melihat chat yang membuatnya kaget tak percaya.
Bos : Kau tau siapa itu Raiser?
You : Itu adalah Andrew.
Bos : Andrew? Andrew Xavier? Anakmu?
You : Tak salah lagi.
Bos : Baiklah. Aku akan memberi pilihan.
Bos : Siapa yang akan kau selamatkan? Anak mu atau istrimu?
Bos : Istrimu lebih berharga kan?
Bos : Pilihlah.
You : Istriku.
Bos : Baiklah.
Bos : Sesuai kesepakatan. Keenam remaja itu menjadi milikku, dan kau serta istrimu bisa pergi dari rumah itu.
Andrew terkejut melihat isi chat itu, apa-apaan ini? Siapa orang ini?? Hal yang paling membuat Andrew lemas adalah... Jason memberitahu kalau Raiser adalah dirinya. Dan Jason memilih menyelamatkan Bella ketimbang dirinya.
Andrew langsung beranjak dan menuju ruang tengah. Nampak kelima kawannya termasuk Rey berada di ruang TV.
Andrew langsung menghampiri Rey dan tanpa aba-aba langsung memukul Rey.
BUGGHH!!
Semuanya menatap Andrew dengan tatapan membelalak. Rey terduduk dengan darah keluar dari bibirnya.
" Kau dapat dari mana ini? " Andrew mencengkram pakaian Rey, tangannya sudah terkepal sempurna dan sudah berada di samping telinganya. Bersiap memukul Rey lagi.
" Kau tak tau hal itu? Menyedihkan sekali dirimu, An. "
BUGGHH!!
Rey terkekeh pelan, semakin banyak darah yang mengalir dari bibirnya. Andrew mungkin akan memukul Rey lagi jika Damon, Tom dan Jeremy tahan tangannya.
" Get off. "
" What are you doing, Andrew? " Damon berseru, membuat senyum sarkas tercetak di bibirnya.
" Bukan urusanmu. "
" Andrew, sudah hentikan! " Vania berseru, Andrew terkekeh dan langsung menyentak tangannya dan langsung beranjak dari tempat nya.
Rey perlahan bangun seraya membersihkan darah di bibirnya. Kemudian terkekeh lagi, membuat Vania menengahi kedua lelaki itu yang nampak hendak berkelahi lagi.
" Apa yang kalian ributkan? Hentikan!! Kita bisa bicarakan baik-baik! "
Andrew langsung pergi begitu saja dan mendobrak pintu. Nampak sekali ia benar-benar emosi.
" Apa yang terjadi? Kau apakan Andrew, Rey? Tak mungkin ia emosi seperti itu tanpa alasan! " Damon langsung menatap Rey, meminta jawaban. Tapi Rey langsung pergi juga.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Andrew berjalan menelusuri kota. Sekarang sudah gelap, lampu-lampu kota menyinari jalanan. Ia berjalan penuh emosi menuju perusahaan ayahnya bekerja.
Ia masuk ke dalam perusahaan STARS. Perusahaan yang sangat terkenal di seluruh dunia dengan teknologi nya yang canggih canggih.
Andrew menghampiri resepsionis. Sejujurnya ini pertama kalinya ia berada di perusahaan STARS, ia hanya takut tersesat.
" Can I help you, kid? "
" Apa kau tau seorang laki-laki? Namanya Jason Xavier. " Andrew bertanya, resepsionis itu mengecek di laptopnya dan menatap Andrew.
" Mr. Jason Xavier kini berada di Great Room. Ia sedang rapat dengan Mr. Azera. "
" Bisakah aku menemuinya? "
" Sure, tapi tunggu sampai rapatnya selesai. Kau bisa menghampiri Great Room tapi jangan mengganggu. "
Andrew mengikuti petunjuk resepsionis itu. Ia menaiki lift hingga lantai tertinggi kemudian belok kiri dan maju sampai ujung lorong. Hingga ia menemukan ruangan dengan nama " Great Room ".
Andrew berdiri di depan ruangan itu, beruntung tak ada orang yang lewat lorong itu sehingga ia tak akan di kira orang aneh.
Andrew baru saja melihat pemandangan kota dari lantai 30 perusahaan STARS, hingga tiba-tiba terdengar suara tembakan dari ruangan Great Room. Membuat Andrew menatap ruangan di hadapannya.
" 00, bisakah kau diam-diam masuk ke dalam dan perlihatkan apa yang terjadi? "
" Sure. "
Hologram 00 langsung merubah bagian kecil miliknya menjadi nyata dan perlahan masuk ke dalam ruangan. Hal yang bagian kecil itu lihat langsung terpampang di jam tangan milik Andrew.
Serpihan kecil 00 melihat darah di meja konferensi itu. Memperlihatkan tubuh Jason Xavier alias ayahnya terbaring kaku di lantai dengan darah berlumuran di mana-mana.
Andrew langsung terkejut ketika melihat orang yang berada di depan tubuh Jason, perempuan menyebalkan yang sulit diatur di kelas nya, Anna.
" What the... "