
Sang surya telah mengagungkan sinarnya, embun pagi mulai menetes, suara kicauan burung terdengar, deburan ombak yang saling beradu. Menambah indahnya pemandangan di pantai itu.
Bias cahaya mentari menembus masuk ke dalam kamar hotel melalui jendela. Kamar itu terlihat sedikit berantakan. Sisa makanan di meja balkon. Dan penghuninya masih tertidur pulas.
Bagaikan seorang ksatria yang pulang dari perang. Kedua wanita itu terlihat saling memeluk satu sama lain. Seakan ingin saling menjaga.
Drrtttt....Drtttttt....Drtttt
Suara getar itu berasal dari ponsel Hana. Getaran itu berlangsung cukup lama. Hingga membuat para penghuninnya terbangun.
Daisy yang tengah meraba-raba ponsel itu dengan tangannya. Sambil mengucek-ngucek matanya ia menatap layar ponsel itu. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Kak Andrea.
“Hallo kak,” ucap Daisy.
“Loh, kok kamu. Hana mana?” tanya Andrea.
“Hehehe maafkan kami ka, kami kemarin tidur terlalu larut jadi baru bangun.” Daisy berkata sambil sesekali menguap.
“Astaga kalian para wanita ini, cepatlah bersiap. Aku sudah menunggu kalian dari sejam yang lalu,” ucap Andrea.
“Hehehe maafkan kami, kami akan segera bersiap-siap.” Daisy berkata sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hana.
Hana yang masih mengantuk terpaksa bangun. Ia sesungguhnya masih setengah sadar saat menuju kamar mandi. Sedangkan Daisy sibuk merapikan barang-barang yang terjatuh di lantai.
Hana Putri Pramudya, 20 tahun.
Daisy Qirani Alfaris, 21 tahun
Andrea Hanata Pramudya, 25 tahun.
Akhirnya kedua wanita itu selesai bersiap. Mereka berdua lalu menghampiri Andrea yang tengah duduk santai di lobi hotel.
“Akhirnya kalian datang juga,” ucap Andrea.
Hana langsung memberikan pelukan hangat kepada Kakanya itu.
“Maafkan kami kak, kemarin malam kami bercerita sampai tak kenal waktu.”
“Sudah kuduga, mari kita ke restoran dekat pantai, kalian pasti sudah lapar.” sambil membalas pelukan hangat adiknya dan memberi senyuman ke Daisy.
“Setelah kuperhatikan, Daisy ini cantik juga dan terlihat dewasa, hahaha aku ini bergurau saja.” batinya.
Akhirnya mereka bertiga pun mendatangi slah satu restoran yang terkenal di wilayah itu. Dengan suasana pantai yang indah akan membuat nafsu makan menjadi enak.
Mereka pun memesan menu favorit di restoran itu. Sambil menunggu makanan mereka pun berbincang-bincang.
“Hana, bagaimana perasaanmu?” tanya Andrea.
“Jauh lebih baik kak, apalagi ada Daisy yang menemaniku.” sambil memberikan senyuman yang indah ke Daisy.
“Hana, kau bisa saja.” sambil memegang tangan Hanas.
“Daisy, terimakasih karena kamu sudah menjaga dan menghibur Hana,” ucap Andrea.
Daisy hanya mengangguk dan melemparkan senyum yang indah pada Andrea. Muka Andrea tiba-tiba memerah melihat senyuman Daisy. Ia terlihat agak salah tingkah.
Hana yang selama ini tahu bahwa kakanya adalah laki-laki yang tegas. Namun sekarang ia melihat kakanya yang terlihat canggung karena sebuah senyuman.
Hana pun menggunakan kesempatan ini untuk menggoda kakak laki-lakinya itu.
“Kak, ada apa dengan wajahmu, kenapa merah seperti udang rebus? Apa karena Daisy?” tanya Hana.
“Ehhh... itu kamu. Jangan mengada-ada ini karena cuaca saja.” jawab Andrea menahan senyumnya dan matanya mencuri-curi pandang kepada Daisy.
Daisy yang sadar. Merasa salah tingkah juga. Ia pun tidak luput dari sasaran Hana.
“Daisy, seandainya saja aku mempunyai kakak perempuan sepertimu, pasti hidupku akan sangat lengkap,” ucap Hana.
“Bukankah kita sudah menjadi sahabat, apakah itu belum cukup?” tanya Daisy.
“Bukan... bukan itu maksudku. Jika saja kamu dan Kak Andrea berpacaran dan menikah. Aku akan menjadi orang yang sangat beruntung di dunia ini.” Hana berkata sambil menatap wajah Daisy dan Andrea bergantian.
“Hana, cukup. Jangan godai kami lagi. Daisy mungkin saja sudah punya kekasih,” ucap Andrea.
“Daisy apakah betul kau sudah mempunyai kekasih?” tanya Hana serius.
Daisy hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
Tiba-tiba makanan yang mereka pesan sudah datang. Daisypun menghela nafas panjang karena ia bisa mengalihkan pembicaraan ini.
Mereka bertiga menyantap makanan dengan lahap. Terlihat Andrea dan Daisy yang masih canggung saat mata mereka tak sengaja bertemu.
Hana yang melihat semua itu mulai berpikir untuk mendekatkan kakaknya dengan Daisy.
“Hehehehe aku akan mencari cara untuk mendekatkan kalian berdua. Aku akan menjadi orang yang paling beruntung jika itu semua berhasil.” batinya.
Setelah selesai mereka bertiga melanjutkan berjalan-jalan menyusuri pantai. Cuaca saat itu terik namun udaranya sejuk. Mereka berlari-lari, bermain air bersama.
Tiba-tiba Andrea berhenti. Ia menatap lurus ke arah pantai lalu berteriak sekencang mungkin.
“Aaaaaa...aaaaaaaaaakh.”
Ia terus mengulang sampai dirinya puas.
Hana yang tau kebiasaan kakak laki-lakinya itu. Hanya tersenyum tipis dang mengingat jika kakaknya sedang banyak pikiran ia akan segera mencari tempat sepi dan tenang laku berteriak sekencang kencangnya.
Hana lalu menghampiri kakaknya. Ia berdiri tepat disamping Andrea. Ia pun mulai berteriak sekencang-kencangnya. Kedua saudara itu berteriak silih berganti hingga mereka merasa puas dan lega.
Daisy yang melihat keakraban dari kedua saudara itu. Tiba-tiba merasa rindu dengan adiknya Sindy.
“Sindy kaka merindukanmu.” batinya.
Cuaca semakin terik. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Namun saat pertengahan jalan Hana merasa mual, kepalanya pusing dan ia pun terjatuh.
Untung saja Andrea dengan sigap langsung menggendong Hana. Andrea sangat panik, dan segera berlari menuju mobil. Daisy pun lebih panik lagi, karena dia tahu hal ini pasti disebabkan oleh kehamilannya.
Andrea melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat. Daisy merasa cemas, ia takut kehamilan Hana akan diketahui oleh kakaknya.
Sesampainya di rumah sakit. Hana segera dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa. Daisy dan Andrea hanya bisa menunggu di depan pintu.
“Kak, tidak akan terjadi apa-apa dengan Hana. Mungkin dia hanya kecapekan,” ucap Daisy.
Andrea hanya terdiam dan duduk dengan wajah yang sangat frustasi. Ia takut terjadi sesuatu dengan Hana.
Tak lama kemudian, seorang perawat muncul dari pintu.
“Ada yang bernama Nona Daisy?” tanyanya.
“Saya sus, ada apa?” balas Daisy.
“Nona Hana sudah sadar dan dia ingin bertemu denganmu,” ucap perawat itu.
“Oh baiklah sus, terimaksih.” Daisy menjawab dan bergegas menemui Hana.
Andrea merasa bingung, kenapa hanya Daisy yang dipanggil. Ia pun segera bertanya pada perawat yang tadi.
“Sus, bagaimana keadaan adik saya. Hana?”
“Apakah anda keluarga dari pasien? kebetulan sekali, silahkan anda kebagian administrasi untuk mengurusi biaya rumah sakit.”
“Baik, terimakasih sus.” Andrea bergegas menuju bagian administrasi.
.
.
.
Di ruang IGD terlihat Hana yang terbaring lemah dengan seorang dokter disampingnya. Daisy pun segera menghampirinya.
“Apakah anda keluarga pasien?” tanya dokter itu.
“Iya dok, saya kakak perempuannya, bagaimana dengan keadaanya dok?” tanya Daisy.
“Usia kehamilan pasien sangat rentan. Jadi saya sarankan agar pasien tidak kelelahan dan mengalami depresi. Karena itu akan sangat mempengaruhi janin yang ada dikandungannya. Ini saya sudah menulis resep obat.” sembari menerikan amplop yang berisi hasil pemeriksaan dan resep obat.
“Baik, terimakasih dok,” ucap Daisy.
Hana dengan tubuhnya yang lemah berusaha mengeluarkan suara dan memanggil Daisy. Ia meminta Daisy untuk mendekat padanya.
“Daisy, aku tidak ingin Kak Andrea tahu bahwa aku tengah hamil.” Hana berkata sambil memegang tangan Daisy.
“Apa kamu yakin untuk menyembunyikannya?” tanya Daisy.
“Untuk saat ini aku tidak ingin menambah beban untuk Kak Andrea. Jadi bisakah memberi pernyataan bahwa aku hanya sedikit kelelahan,” ucap Hana.
Daisy hanya mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba Andrea datang menghampiri mereka. Wajahnya yang tadi seperti orang depresi perlahan mulai membaik. Ia memegang tangan Hana dan mengelus lembut kepalanya.
“Kak, aku tidak apa-apa,” ucap Hana.
“Aku ingin bertemu dokter,” balas Andrea.
“Itu tidak perlu kak, ak sudah bertemu dokter, kata dokter Hana hanya kelelahan, mungkin karena kemarin kita bercerita san menikmati angin malam dari balkon kamar.” Daisy berkata sambil menunjukkan amplop putih yang berisi hasil pemeriksaan dan resep obat.
“Baiklah, kalau begitu. Biarkan aku yang menebus obatnya. Berikan resepnya padaku,” ucap Andrea.
Hana dan Daisy pun saling bertatapan. Mereka takut jika Kak Andrea yang menebus obat itu, maka ia akan tahu bahwa Hana tengah hamil.
“Tidak perlu kak, sekarang kakak menghantarkan Hana pulang. Sedangkan aku akan menebus obat ini aku bisa memesan taksi online untuk pulang. Aku rasa Hana butuh suasana rumah.” Dengan tenang Daisy berkata dan segera menuju pintu keluar.
Andrea hanya mengangguk dan sebenarnya sedikit curiga. Namun sekarang yang ia pikirkan adalah Hana. Setelah agak enakan, Hana pun meminta untuk pulang.
Andrea menggendong adiknya itu bak pengantin. Hana hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kakaknya. Padahal ia bisa menggunakan kursi roda.
Sesampainya dirumah, Andrea membaringkan adiknya di kasur kamarnya.
“Kamu beristirahatlah, kakak akan memasakkan sesuatu untukmu.” Andrea berkata sambil mengelus lembut kepala adiknya.
“Makasi kakak,” ucap Hana.
Andrea pun meninggalkan Hana. Ia bergegas menuju dapur. Ia mengambil bahan-bahan di kulkas. Dan menyiapakan semua bahan. Ia ingin membuat makanan kesukaan Hana.
Dulu sewaktu kecil, saat Hana sakit ia selalu ingin dibuatkan sup ayam kacang merah. Bibi Sukma yang melihat tuannya sedang sibuk segera ingin mengambil alih. Namun Andrea menolak dengan halus.
Tak lama kemudian, Daisy pun datang. Ia sedikit terpana melihat Andrea yng sedang sibuk memasak.
Ia hanya memperhatikan dari jauh. Ia tidak ingin menggangu Andrea yang tengah serius memasak.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Sungguh beruntung wanita yang akan menjadi pendampingnya kelak, ia begitu sangat penyayang, sabar dan pandai memasak. Terlebih lagi dia terlihat sedikit maskulin.” batinnya.
Andrea yang merasa sedang diperhatikan. Ia pun menoleh dan tak sengaja matanya menatap mata Daisy. Daisy yang melihat itu berpura-pura bahwa ia baru saja pulang.
Andrea sedikit salah tingkah, tangannya tak sengaja menyentuh wajan yang panas.
“Aww..” Ia pun sontak kaget, dan meniup-niup tangannya itu.
Daisy yang melihat itu langsung mengambil salep luka dan secepatnya mengoleskan ke tangan Andrea. Ia meniup dan mengoleskan dengan lembut.
Andrea tak henti-hentinya menatap Daisy. Sejujurnya dia sangat berharap bisa lebih dekat dengannya.
Hallo readers yang baik hati, support author terus ya dengan cara vote, like dan komentarnya. Jangan lupa klik tanda ❤️untuk memasukan kedaftar favorit kalian. Gomawo^_^
note: visual tokoh hanya sebagai hiburan semata. Diambil dari tokoh-tokoh publik.