Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 5: Senja




Hari itu berlalu, namun rasa sedih dan kecewa tidak berlalu.


Ia hanya sendirian di kamarnya. Ia mengunci rapat kamarnya dari kemarin setelah acara kremasi orang tuannya selesai. Ia hanya ingin menyendiri itulah yang dibutuhkannya setelah banyaknya kejadian pilu yang ia alami.


Matanya yang sembab, menandai ia menangis semalam.  Tanggannya masih memegang erat sebuah pigura foto. Nampak sebuah keluarga yang sangat bahagia. Dimana berisi Papa, Mama, Dirinya dan Kak Andrea yang sedang liburan.


Embun pagi mulai turun, suara kicauan burung terdengar. Namun ia tetap terdiam disofa. Enggan untuk keluar mengawali kisah barunya. Dia masih larut dengan kesedihannya. Ia adalah Hana wanita muda yang tengah mengalami patah hati dan kehilangan.


.


.


.


Di sisi lain, Daisy dan Andrea memulai pembicaraan ringan.


“Nama kamu siapa?” Andrea berkata sambil meminum kopi yang telah dibawakan Bi Sukma.


“Nama saya Daisy, teman baru Hana dari Kota T,” jawab Daisy.


“Saya, Andrea kakak laki-laki Hana, saya berterima kasih karena kamu sudah menemani Hana di saat seperti ini, apalagi kamu adalah teman baru Hana,” lanjut Andrea.


“Sama-sama kak, saya hanya merindukan sosok sahabat dan adik saya, Hana sangat mirip seperti mereka, itulah yang membuat saya menajadi nyaman dan ingin menjaga Hana,” jawab Daisy.


“Hmmm... Jadi bisakah saya meminta tolong padamu?” ucap Andrea.


“Tentu saja, apapun selama saya bisa.” Daisy menjawab dengan antusias.


“Hana sangat suka senja di pantai, dulu saat dia sedih, dia selalu ingin menatap senja dan menghirup udara pantai, saya ingin kamu menemaninya,” ucap Andrea.


“Kebetulan sekali saya juga suka senja, kalau begitu nanti sore saya akan mengajak Hana ke pantai, tapi omong-omong kak! Saya tidak tahu pantai di Kota ini hehehe.” Daisy menjawab sambil terkekeh.


“Tenang saja, nanti Mang Anto yang akan mengantarkan kalian, saya ingin sekali menemani, tapi saya rasa Hana butuh teman wanita untuk menemaninya sekarang,” ucap Andrea.


Daisy mengangguk tanda paham. Lalu pergi meninggalkan Andrea di ruang tengah. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar Hana. Ia berharap Hana mau membuka pintu dan berhasil mengajaknya pergi nanti.


Tok, Tok, Tok..... Daisy mengetok pintu kamar Hana.


“Han, apakah aku bole masuk?” ucap Daisy.


Ketukan pintu itu menyadarkan Hana. Ia sebenarnya masih enggan bertemu siapapun. Namun dia merasa tidak enak hati pada Daisy. Ia selalu ada disaat keterpurukannya.


Lalu Hanapun mulai menggerakkan tubuhnya dan membukakan pintu untuk Daisy. Daisy yang melihat Hana langsung memeluknya.


“Morning, Hanhan.” Sambil memeluk teman barunya itu.


“Morning to Isy.” dengan lemas Hana menjawab dan membalas pelukan Daisy.


Hana membiarkan Daisy masuk ke kamarnya. Kamar yang masih berantakan, akibat kejadian yang memilukan hatinya. Hana pun mencoba mengambil serpihan-serpihan yang tersisa dan memasukkanya ke dalam sebuah kotak.


Hanapun lalu membuka pembicaraan yang sederhana kepada Daisy.


“Isy, aku minta maaf padamu, dari awal kita bertemu aku hanya merepotkanmu saja,” ucap Hana.


Sambil merebahkan dirinya di kasur Daisy pun menjawab “Sudahlah Han, tak usah kau pikirkan aku, kau adalah temanku sudah kewajibanku menemanimu dalam suka maupun duka.”


“Aku hanya takut tidak bisa membalasnya,” balas Hana.


“Berhentilah berpikir seperti itu, ngomong-ngomong nanti sore aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Dan aku ingin kau ikut, anggap saja itu hadiah pertemanan kita.” Ucap Daisy.


“Kita mau kemana Isy?” dengan menaikan satu alis matanya, Hana nampak kebingungan.


“Rahasia!!! sekarang sebaiknya kamu makan, dan beristirahatlah, Bi Sukma sudah memasakan makanan kesukaanmu, okay!!!” jawa Daisy


Hana hanya mengangguk dan sedikit tertawa melihat kelakuan teman barunya itu. Teman yang dari awal sudah menemani awal keterpurukannya hingga sekarang. Ia sangat beruntung bertemu Daisy. Lalu bergegas membenahi diri, merapikan kamarnya yang seperti habis terkena gempa bumi.


Ia berjalan pelan menuju cermin, ia memandangi dirinya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Hey, kau yang dicermin nasibmu sungguh malang, belum lepas sehari kau mengalami penghianatan, kau telah mengalami kehilangan yang sangat dalam, bagaimana dengan janin yang sedang ada diperutmu? Ia akan terus bertumbuh, apakah kau yakin untuk membiarkan mereka tumbuh atau kau akan melenyapkan mereka dan memulai semua dari awal? kurasa perjalanan kita masih panjang."


Ia menghembuskan napasnya setelah berbicara pada dirinya sendiri. Susah baginya untuk benar-benar berharap bahwa semua yang ia alami hanyalah sebuah bunga tidur. yang jika ia terbangun nanti semua tetap kembali semula seperti yang ia harapkan.


***


Pantai Lerona, pantai yang sangat indah. Beberapa orang terlihat sibuk berlarian, sebagian bermain bola kaki di pasir. Ada juga yang berjalan berdua. Yang berdua itu sepertinya sedang dimabuk asmara. Tak peduli orang yang di sekitar mereka, mungkin mereka pikir pantai ini milik mereka. Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang suka seperti itu.


Seperti biasa, Hana melakukan ritual sebelum menikmati senja. Menghirup udara pantai, merasakan buliran udara bercampur garam menyusup melalui air laut yang menguap itu masuk mengaliri paru-paru. Memejamkan mata dan menikmati hening beberapa saat.


Hana sangat menikmati senja, ia mencoba merileksasikan tubuhnya, pikirannya dan terlebih lagi hatinya. Setelah beberapa saat menikmati lukisan tuhan itu. Ia membuka matanya, melepas alas kakinya dan menggantungkannya di satu tangganya dan mulai menyusuri pantai yang diselimuti pemandangan dengan awan merahnya. Deburan ombak. Sungguh Indah dan menenangkan.


Daisy yang sedari tadi memperhatikan Hana, tersenyum indah. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa melihat sisi lain Hana yang tenang. Ia pun segera berlari menghampiri Hana dan ikut menyusuri pantai dengan telanjang kaki.


"Han, apakah kau menyukai ini?" dengan menendang pasir Daisy bertanya.


“Aku sangat menyukainnya.” Hana berkata sambil mengingat kenangan waktu dulu jika ia sedang sedih, ia akan merengek pada kakaknya untuk dapat melihat senja.


“Itu.... sebenarnya ka Andrea yang memintaku untuk mengajakmu melihat senja, ia bilang kau sangat menyukai senja,” ucap Daisy.


“Daisy, kita ini baru kenal. Dan kau sangat baik padaku, aku selalu merepotkanmu, kau selalu melihat aku dalam kekonyolan yang menimpaku.” sambil menatap lurus kedepan Hana berucap.


Daisy memegang tangan hana, dan mencoba jalan beriringan dengannya.


“Kau tahu, kau mirip sekali dengan sahabatku rose dan adikku. Aku sangat merindukan mereka. Ntah mengapa saat pertama kali melihatmu dijembatan. Saat kau ingin meloncat hatiku tergerak untuk menjagamu.”


“Hanya saja aku takut, aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Lalu bisakah kita disebut sahabat sekarang?” Hana berkata sembari menyeka rambut diwajahnya.


Dengan menatap Hana serius Daisy berkata “Bukankah kita sudah menjadi teman semenjak awal bertemu? dan kurasa kita bisa menjadi sahabat yang baik.”


Hana hanya bisa tersenyum sumringah melihat Sahabat barunya itu, orang yang tidak terduga akan mengisi bagian terpuruk dalam hidupnya.


Senja kala itu menjadi saksi, dua orang wanita muda telah menjalin persahabatan. Mereka terus menyusuri pantai, ombak yang menyapu ringan kaki mereka, burung-burung yang berterbangan, angin sepoi-sepoi menambah keindahan langit yang berwarna merah itu.


Hana tengah menatap ke arah sahabat barunya itu yang tengah asyik mengoceh tentang keindahan senja itu.


“Apakah sudah saatnya aku lebih membuka diri dari Daisy? Aku bisa saja menyimpannya sendiri. Namun wanita ini sudah melihat kepedihanku dari awal. Aku tahu betapa banyaknya pertanyaan yang ia lontarkan, namun selalu ia urungkan hanya untuk membuatku tidak bersedih, ntah mengapa aku sangat beruntung ada ia disampingku”


Daisy yang sedari tadi merasa sedang diperhatikan, memanggil- manggil nama Hana dan menjentikan jarinya tepat di depan wajah Hana.


“Hey, Nona Hana apa yang sedang kau lihat, apakah ada sesuatu yang aneh pada wajahku? Kau terlihat sangat serius.” ucap Daisy sembarri memegang wajahnya.


Hana yang tiba-tiba tersadar dari pikirannya lalu berkata.


“Tidak.....tidak (sambil menggelengkan kepala) tidak ada yang aneh pada wajahmu, kau sungguh sangat cantik, dan aku menyesal karena terlambat untuk menyadarinya heheh” sambil menepukkan kedua tangganya di pipi Daisy.


Daisy yang seketika malu, hanya tersenyum lebar menunjukkan giginya yang putih dan tertata rapi itu. Lalu mereka melanjutkan menikmati senja itu, sesekali melontarkan lelucon, sesekali berlari ringan dan tertawa bersama.


Namun siapa yang bisa menebak isi hati seseorang. Hana tetap ingin menyimpan kepedihannya sendiri.


Lalu ia memandangi langit merah itu kembali. Tatapannya nanar.


Meskipun ia tahu senja adalah rasa sedih yang menutup kisah dengan cara sendiri. Senja ibarat perpisahan yang dilakukan dengan suka cita. Perpisahan yang dilakukan dengan warna -warni. Perpisahan yang dirayakan dengan membakar langit.


Memburaikan bias cahaya berwarna di gumpalan awan. Cahaya berwarna yang akhirnya saling melepaskan, saling meninggalkan. Senja adalah bagian dari perpisahan yang manis-juga dramatis. Meski sebenarnya perpisahan tetap memisahkan, dan yang terpisah pasti selalu diiringi sedih. Diakui atau tidak begitu adanya.


Senja berjalan pelan, hingga pada saat malam merengutnya, membenamkan dalam bibir lautan. Lalu beberapa lampu kapal mulai menyala ditengah lautan. Lampu-lampu kapal penangkap ikan pun membentuk kerlap kerlip yang indah. Jika senja adalah perpisahan, maka lampu-lampu kapal itu adalah sesuatu yang dihasilkan oleh perpisahan itu.


Keheningan itu tiba-tiba terpecah oleh suara nyaring seorang wanita. Wanita itu adalah Daisy.


“Han, apakah kau sudah selesai menikmatinya? Bagaima kalo kita hari ini menginap saja di hotel dekat pantai?”


“Wah itu ide yang sangat indah, aku akan mengirim pesan ke Kak Andrea untuk memberitahu bahwa hari ini kita tidak pulang,” ucap Hana dengan antusias.


“Namun ada sesuatu yang mengganjal, aku penasaran mengapa kau dari tadi menatapku, seakan ingin mengatakan sesuatu namun kau urungkan,” tanya Daisy.


Hana pun sontak kaget, ia fikir sahabatnya ini tidak akan menyadarinya.


Tiba-tiba ponsel Hana berbunyi nampak sebuah nama tertera di layar ponselnya ‘Kak Andrea’. Ia buru-buru mengangkat telepon itu dan mengalihkan pembicaraan.


“Ohh perutku sangat lapar, cacing-cacing diperutku sudah berdemo ria, perutku sudah sangat merindukan makanan lezat.” Hana berkata sembari berakting ia sedang kelaparan.


Daisy yang terkekeh melihat kelakuan Hana dan tau bahwa ia sedang mengalihkan pembicaraan berkata.


“Ohh tuan putri Hana lapar, sungguh malang sekali. Jika kau pingsan aku tidak akan sanggup menggendongmu. Jika kutinggalkan engkau disini ku takut kau diculik monster laut.”


Kedua sahabat itu lalu tertawa bersama.


“Ayo kita pergi ke Hotel Lily, Ka Andrea sudah menyiapakan segalanya disana. Ia akan menyusul kita besok,” ucap Hana.


Kedua wanita muda itu berjalan menyusuri pantai yang sudah mulai gelap itu, diiringin dengan kerlap kerlip lampu kapal, hamparan langit yang begitu indah dengan kerlap kerlip cahaya bintang.


Hana menggandeng tangan sahabatnya itu. Seakan tidak ingin melepasnya dan sesekali menatap sendu padanya.


“Daisy, aku janji setelah ini akan menceritakan semua rahasiaku, aku yakin kau adalah orang yang tepat. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu.”


Hallo readers yang baik hati, jangan lupa vote, like dan komentarnya ya, jangan lupa klik tanda ❤️untuk memasukkan kedalam daftar favorit kalian ^_^ terimakasih!!!