
Pagi itu udara sangat sejuk, Hana membuka jendela dan mendekatkan diri dipagar balkon kamarnya. Ia menghirup semua oksigen dipagi itu. Melentangkan tanganya, memejamkan matanya. Dan menikamti hamparan surya yang menghangatkan jiwa.
Ia pun duduk di sofa, ia masih mengingat wajah Hans waktu video call tadi pagi.
“Ahh... betapa bodohnya aku, harusnya tadi aku lebih memperhatikannya, wajah Hans begitu tampan dan dewasa, sungguh tidak ada wanita yang mendekatinya hahah.” Hana berkata sambil mengambil majalah game kesukaannya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Bi Sukma pembantu sekaligus pengasuhnya membawakan sarapan pagi. Semangkuk sereal dan susu coklat panas.
“Bi, apakah mama dan papa sudah pulang?” tanya Hana.
“Tadi pagi nyonya telepon. Katanya hari ini beliau tidak akan pulang, karena ada perjalanan bisnis lagi.” sambil menaruh sarapan Hana diatas meja.
“Hmmm... baiklah bi,” ucap Hana sambil menghembuskan napas panjang.
Bi Sukma pun meninggalkan kamar Hana. Ia melahap sarapan yang sudah disajikan Bi Sukma. Ia pun terlihat biasa saja setelah mendengar bahwa orang tuanya tidak akan pulang hari ini. Nampaknya ia telah terbiasa akan hal itu.
*
*
*
Ia duduk di depan meja komputernya. Di ruangan itu ia menghabiskn waktunya. Setelah lulus dari kuliahnya. Main game online dan mereview menjadi kesibukannya. Ia ingin mengikuti jejak kakak laki-lakinya untuk merintis perusahaan game terkenal.
Hana menghidupkan komputernya dan membuka game onlinenya itu.
“Hmm, Hans online, coba aku say hi dulu deh,” ucap Hana.
📩: “Hans,”
📩: “Hallo, tuan putri bagaimana
pagimu hari ini?”
📩: “Tentu saja baik, aku sudah
merapikan diri dan baru saja
habis sarapan,”
Hans tiba-tiba offline. Hana hanya mengeryitkan alisnya. Dan lanjut memainkan game onlinenya itu. Tapi ia terlihat kesal. Ia terlihat lesu seperti kehilangan tambatan hatinya.
Ting.. tanda pesan masuk.
📩: “Nona Hana, bisakah kau
mengangkat teleponku,”
Hana kaget dengan pesan yang dikirimkan Hans. Ia sadar bahwa ponselnya sedang dicharger dan dalam mode diam. Ia berlari seperti anak kecil yang sedang kegirangan menunggu datangnya mobil ice cream.
5 panggilan tidak terjawab, 2 panggilan video call dan 10 pesan masuk. Itulah yang tertera dilayar ponsel Hana. Hana hanya bisa tersenyum-senyum manja.
Tiba-tiba layar ponselnya berubah dan tertera nomor Hans. Ia melakukan panggilan video call. Hana segera bercemin dan mengoleskan sedikit lipblam dibibir mungilnya itu.
Terdengar suara berat khas laki-laki dewasa yang sangat menawan.
“Akhirnya, kau mengangkatnya juga,”
“Ehh itu..ponselku sedang dicharger dan aku lupa mengaktifkan mode ponsel,”
“Wah wah lihat siapa ini, wanita ini sangat cantik,”
“Hahaha apakah kau baru menyadari kecantikan Tabib Hana?”
“Itu sudah tidak diragukan lagi, aku pun sangat pangling dibuatnya,”
“Ksatria Hans kau terlalu memujiku, mulutmu sangat manis, apakah kau memakan gula berlebihan pagi ini?”
“Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya, ngomong-ngomong bisakah nanti malam kita bertemu?”
“Mmmmm, baiklah. Kamu mau bertemu dimana?”
“Berikan saja aku alamatmu, aku akan menjemputmu, temanku merekomendasikan tempat yang bagus,”
“Baiklah, baiklah nanti aku akan mengirimu lokasi rumahku, okay,”
“Kalau begitu nanti aku akan mengabarimu,”
“Baiklah tuan, aku padamu, bye-bye.” lalu mematikan ponselnya.
Hana langsung merebahkan dirinya dikasur. Ia menghentak hentakan kakinya. Ia kegirangan bukan main. Akhirnya ia bisa bertemu dengan Hans.
Ia pun lalu bangun dan membuka lemari bajunya. Ia mengeluarkan semua baju yang ia miliki. Ia terlihat sangat bingung. Ia mencoba dan melihat dirinya dicermin.
“Ahhhh... aku bingung mau menggunakan yang mana!!!” seru Hana.
Akhirnya setelah lama mencari dan mencoba akhirnya ia menemukan setelan yang pas. Kaos hitam dan blaser coklat. Menjadi pilihanya saat itu.
Ia pun segera menuju cermin dan mengambil 1 set masker wajah. Ia menuju wastafell dan memulai membilas wajahnya. Setelah kering ia memakai masker yang telah ia ambil.
“Sekian lama aku tak pernah merawat wajahku, akhirnya masker pemeberian mama kupakai juga hahah” batin Hana.
*
*
*
Langit yang tadinya terang sekarang sudah mulai agak berwarna merah kekuningan.
Hana pun bergegas bangun dari tidurnya. Ia segera ke kamar mandi. Setelah itu ia mulai meriasi dirinya.
Ia terlihat tidak sabar ingin bertemu Hans. Ia pun lalu iseng mengirim gambar dirinya pada Hans.
📩: [pesan bergambar] “Hans, aku
sudah siap,”
Selang beberapa lama ada pesan suara yang masuk.
🔈 “wah kamu sungguh cantik Hana, tunggu sebentar lagi okay, aku masih diperjalanan menuju rumahmu,”
Hana hanya tersenyum, pipinya sudah mulai memerah karena malu.
“Aku sangat gugup.” Hana berkata sambil meremas tangannya itu.
Tak lama kemudian. Ada suara mobil dibawah. Hana segera berlari turun dan menghampirinya.
Sesosok laki-laki dengan kemeja putihnya dengan kancing atasnya yang sengaja dilepas menambah kemaskulinan laki-laki itu.
Laki-laki itu ialah Hans. Hana sangat kaget, ia tak menyangka bahwa Hans benar-benar tampan. Jantungnya pun mulai berdegub kencang.
“Hi,” ucap Hana.
“Hi, kau benar-benar sungguh cantik Hana,” balas Hans.
“Hahaha kau bisa saja Hans. Jadi kita pergi kemanah hari ini?” tanya Hana.
“Rahasia, aku rasa kau tahu tempat ini, jadi apakah orang tuamu ada? Aku ingin meminta ijin pada mereka untuk mengajakmu keluar,” ucap Hans.
“Emm tidak perlu, orang tuaku tengah sibuk dengan perjalanan bisnis mereka.” Hanna berkata sambil memainkan tasnya.
“Ohh baiklah kalau begitu, kita bergegas kesana.” Hans berkata sembari membukakan pintu mobil.
Mobil itu melaju pelan. Dua orang didalamnya hanya saling mengobrol ringan. Tak lama kemudian mobil putih itu sampi pada sebuah restoran. Restoran itu terletak di pinggiran Danau Bulan. Konon ceritanya jika sepasang kekasih disini pada saat bintang berhamburan disertai bulan bulat penuh maka pasangan tersebut akan menjadi pasangan yang abadi selamanya dan hanya kematian yang dapt memisahkan mereka.
Hans pun membukakan Hana pintu. Hana hanya tersenyum malu dengan perlakuannya.
“Hey apakah kau tahu danau itu?” tanya Hana.
“Hehe temanku hanya merekomendasikan restoran didekatnya,” balas Hans.
Hana pun hanya tersenyum simpul dan mengikutiku Hans dari belakang. Hans memesan meja dengan suasana outdoor. Dengan view Danau yang bersinar karena ada tumbuhan yang membuat airnya bersinar pada malam hari.
Hans dan Hana memesan 2 buah steak sapi dan 1 botol wine. Mereka menikmati makan malam yang indah itu. Dan sesekali mengobrol tentang kehidupan pribadi mereka.
“Hans, aku mau ke toilet sebentar okay,” ucap Hana.
“Baiklah Hana,” balas Hans.
Setelah Hana pergi ke toilet, datanglah seorang pelayan.
“Tuan hari ini Danau Bulan sangat indah, langit dihiasi bintang dan bulan bulat penuh. Konon saat seperti ini jika ada pasangan atau sesorang yang memohon disini maka permohonannya akan dikabulkan. Jika mereka pasangan makan hubungan mereka akan abadi.” Pelayan itu berkata dan memberikan senyuman yang ramah. Lalu meningglakan Hans sendiri.
Tak lama kemudian datanglah Hana. Hans lalu menarik ringan tangan Hana dan mengajaknya menikmati keindahan Danau bulan dari tepi.
“Hana, aku tau ini sangat cepat. Namun aku tidak bisa menahan perasaanku lagi, jadi maukah kau menjadi pacarku?” ucap Hans.
Hana sontak kaget dan membelalakan matanya.
“Pacar??” tanya Hana.
“Iya pacar, kalau bisa aku ingin kau satu-satunya yang mendampingi diriku kelak,” sahut Hans.
“Ini bukannya terlalu cepat Hans? Mungkin berikan aku waktu untuk berpikir” balas Hana.
Dengan wajah yang sedikit kecewa Hans pun berkata.
“Tidak apa-apa Hana aku akan tetap menunggumu, aku tahu ini memang sangatlah cepat.”
Akhirnya dua orang itu kembali kerestoran dan membayar bill. Lalu menuju parkiran dan bergegas untuk pulang.
*
*
*
Mobil putih itu pun berhenti disebuah rumah dikawasan elite. Hans membukakan pintu untuk Hana.
“Hey, terimakasih untuk makan malam hari ini,” ucap Hana.
“Besok aku sudah akan balik ke kotaku, jika suatu hari nanti aku kemari masih bersediakah kamu untuk menemuiku?” tanya Hans.
“Hahaha tentu saja, asalkan kau memberitahuku,” balas Hana.
Akhirnya wanita dan laki-laki itu berpisah dengan pikirannya masing-masing.
.
.
.
“Lalu bagaimana dengan janin yang ada diperutmu Han?” tanya Daisy.
Suara Daisy, membawa Hana kembali dari ingatanya itu. Ia hanya menatap Daisy dan sesekali memegang perutnya itu.
Hallo readers yang baik hati, support author terus ya dengan cara vote, like dan komentarnya. Jangan lupa klik tanda ❤️untuk memasukan kedaftar favorit kalian. Gomawo^_^