Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 8: Secret Night (Last)




Hana bangun dari sofa melangkah menuju balkon. Embun malam mulai turun menusuk tulang. Dingin. Malam itu, ia menikmati setiap perasaan rindu yang menyerang dirinya. Sesekali dia bicara pada diri sendiri. Seperti orang gila. Kadang ia bicara pada bintang-bintang. Seolah bintang mengerti apa yang ia katakan.


Hatinya mulai rapuh, mengingat kenangan tentang bagaimana dia pertama kali bertemu dengan lelaki itu. Ia mengingat setiap detil tentangnya. Saat tertawa bersama, saling melontarkan lelucon lucu bahkan saat serius berdikusi tentang game online bersama.


Cairan panas mulai mengalir deras dipipinya, cairan panas itu sudah sedari tadi ingin meledak keluar. Dibiarkannya saja cairan panas itu membasahi wajahnya. Ia kembali menatap sendu ke arah lautan.


Daisy yang sejak tadi melihat kepiluan sahabatnya itu, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Ia seakan bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu. Ia pun melangkahkan kakinya menuju balkon, lalu menyelimuti sahabatnya itu. Ia mendekap lembut, seperti seorang kakak yang ingin menghibur dan menjaga adiknya. Ia sandarkan kepala Hana dipundaknya.


"Han, aku tau kau pasti merindukannya." Daisy berkata sambil mengelus kepala Hana dengan penuh kasih sayang.


Hana hanya terdiam.


Tak lama kemudian ia mulai membuka mulutnya dan mulai mengingat kembali tentang kenangan bersama laki-laki itu.


Sang surya mulai menunjukkan keagungannya. Siang itu sangat terik membuat siapapun yang terkena merasa kegerahan dan dibanjiri peluh keringat. Terlihat Hana yang tengah terburu-buru turun dari mobil. Ia memarkirkan mobil hitamnya di sebuah Hotel bintang lima di kotanya.


Beberapa saat sebelumnya.


Suara getar dai ponsel Hana terus bergetar diatas meja. Hana saat itu sedang asyik bermain game online tidak memperhatikannya. Tak lama kemudia ia merasa haus hendak turun mengambil minuman. Ia memicingkan matanya pada ponsel yang dari tadi terus menyala.


Ia bergegas mengambilnya, 10 panggilan tidak terjawab, 5 pesan masuk.


 📩: "Hana, perutku sangat sakit, bisakah kau menghantarku kerumah sakitt, aku sedang berada di kotamu, saat ingin bertemu rekan hari ini, tiba-tiba perutku sakit sekali, Aku sedang berada di Hotel CH."


Hana kaget bukan kepalang, melihat isi salah satu dari pesan itu. Pesan masuk itu dari Hans. Lelaki yang telah ia kenal selama 4 bulan terakhir ini.


Ia pun segera turun dan mengendarai mobilnya. Ia melaju dengan cepat tanpa memperhatikan lalu lintas.


***


Ia pun segera berlari ke dalam hotel, ia segera menuju receptionis hotel agar bisa menghantarkan ia kekamar Hans dan membuka pintu kamarnya.


Setelah pintu terbuka, Ia kaget karena Hans sudah tergeletak disamping kasurnya. Ia segera meminta bantuan kepada pihak hotel untuk memanggil ambulan. Keringat dingin mulai keluar ditubuh Hana. Ia sangat menyesal tidak mengangkat telepon Hans dari awal.


Di Rumah Sakit BR.


Ambulan itu berhenti disebuah rumah sakit besar. Para tenaga medis sudah siap siaga menunggu dan memberi pertolongan. Hans langsung dilarikan di IGD. Hana hanya bisa mondar -mandir di depan pintu IGD itu. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari pintu itu.


"Nona, apakah kau yang sedang bersama pasien?" kata dokter itu.


" I...iya dok, bagaimana dengan keadaanya?" tanya Hana.


"Sebentar lagi dia akan sadar, asam lambungnya naik, saya sudah memberikan dia obat dan dia bisa pulang hari ini," jawab dokter.


"Syukurlah, terima kasih dok, apakah saya sudah bisa menemui pasien," tanya Hana.


"Silahkan nona." dengan tersenyum ramah lalu meningglakan Hana.


Tiba-tiba seorang perawat datang dan memberikan beberapa berkas. Ia menghampiri Hana dan mengarahkan Hana untuk menyelesaikan administrasi. Hana pun segera kebagian administrasi, dan bergegas ke ruangan Hans.


Air matanya mulai jatuh. Ia menatap Hans dan memegang tangannya.


"Hans, kau kemari tidak mengabariku, maafkan aku yang terlambat mengangkat teleponmu." Hana menangis sambil memeluk tangan Hans.


Hans yang sedari tadi sudah sadar, hanya berpura-pura dan tersenyum tipis. Ia sangat senang karena wanita ini ternyata mengkhawatirkannya. Tak kuat melihat wanita yang dia kasihi menangis dia pun mulai membuka mulutnya dan berkata.


"Hey, hey kenapa kamu menangis seakan aku sudah meninggal?" dengan melatakkan satu tangan lainnya mengelus kepala Hana.


Hana lalu mendongakkan kepalanya, ia sangat senang bahwa laki-laki itu telah siuman.


"Kamu... akhirnya bangun juga, aku aku minta maaf, karena tak mengangkat teleponmu tepat waktu." dengan menunjukkan wajah seperti anak kecil yang sedang melakukan kesalahan.


"Kamu sangat lucu berekspresi seperti itu, aku sudah bangun dari tadi, hanya saja aku berpura-pura tidur saja." dengan memalingkan majahnya yang sedang menahan tawa.


Muka Hana memerah mendengar perkataan Hans.


"Jadi kau hanya ingin menggodaku?, aku dari tadi sangat khawatir padamu." Hana menunjukkan muka yang kesal dan melipatkan tangannya.


Hans hanya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan wanita itu.


"Tuh kan kau tertawa lagi, jadi kau sudah sehat aku akan pergi meninggalkanmu." Hana bergegas untuk pergi.


Hans yang menyadari wanita itu ingin pergi, berakting memegang perutnya dan merintih kesakitan. Hana panik dan menghampiri Hans kembali.


"Perutmu sakit lagi? (sambil memegang perut Hans), aku akan memanggil dokter sekarang" tanya Hana.


Hans merasakan sesuatu yang berbeda saat Hana menyentuh perutnya.


"Tidak.. tidak aku tidak perlu dokter, aku hanya membutuhkanmu." Hans lalu menarik tangan Hana.


Mereka sangat dekat, seolah bisa mendengar detak jantung masing-masing. Mata mereka saling bertatapan. Ntah siapa yang memulai, kedua bibir mereka saling mendekat. Ciuman yang lembut itu mendarat di bibir mereka. Bagaikan dunia milik berdua, mereka berciuman sangat lama. Dengan tangan Hans yang menyentuh lembut kepala Hana.


Tringgg... Tringggg ponsel Hana berbunyi. Memecahkan kemesraan dua pasangan ini. Hana melepas ciuman Hans, dan mengangkat ponsel itu. Ternyata itu telepon dari Mamanya.


"Hey, sayang kamu sedang dimana?" tanya seorang wanita dengan suara lembutnya.


"Emmm, aku sedang di rumah sakit ma, teman aku sedang mengalami kesusahan," balas Hana.


"Mama sudah sampai dirumah, namun mama sama papa akan berangkat lagi, kami hanya mengambil pakaian dan dokumen, seminggu lagi kita bertemu lagi ya sayang. Kamu hati-hati nanti pulangnya,"


"Pergi lagi ya ma, baiklah. Salam buat papa." sambil mematikan ponselnya.


Bibir Hans terlihat bengkak, begitu pun bibirnya. Hana sangat malu mengingat kejadian tadi. Ini pertama kali baginya. Namun Hans hanya tersenyum sumringah padanya.


"Emmm itu kata dokter kau boleh pulang hari ini." Hana berkata smabil memalingkan wajahnya yang memerah.


"Baiklah kita pulang saja, aku tidak ingin berlama-lama disini." balas Hans.


"Ohh...ok aku akan memesan taksi dulu, karena aku tadi ikut dimobil ambulan, dan mobil kutinggalakan dihotel." sambil mengambil ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan taksi online.


Tak lama kemudian taksi yang sudah dipesan datang. Mereka meminta sopir untuk menghantarkan ke Hotel HC. Taksi itu pun melaju pelan. Hans mengambil kesempatan untuk meletakkan kepalanya dipaha Hana. Ia mengambil tangan Hana dan meletakkan dikepalanya.


Hana hanya pasrah dengan apa yang lelaki itu lakukan. Sesekali ia menatap wajah Hans yang tampan dan mulai tersenyum . Tangannya mengeulus pelan kepala Hans.


Akhirnya taksi yang mereka tumpangi sampai di sebuah hotel bintang lima yang megah. Hana membantu Hans turun dari taksi dan membopongnya. Di dalam hotel ia meminta bantuan kepada receptionis, untuk menghantarkan mereka ke kamar Hans.


Sesampainya dikamar, Hana meletakkan Hans ditempat tidur.


"Emmm Hana, bisakah kau membantuku untuk mengganti pakaian?" tanya Hans.


"Itu.. aku akan memanggil pelayan laki-laki untuk membantumu," sahut Hana.


"Tidak tidak aku tidak ingin pelayan, aku hanya ingin kamu, kamu hanya perlu mengambil satu set pakaian tidur dilemari," ucap Hans.


"Oh itu, baiklah." dengan wajah memerah Hana bergegas mengambil satu set pakaian di lemari lalu menyerahkan kepada Hans.


"Hey mengapa wajahmu memerah? apa yang sedang kau pikirkan tadi?" Hans menggoda Hana kembali.


"Itu.. tidak apa-apa kau segeralah mengganti pakaianmu, aku akan menunggumu di diluar, aku rasa bisa melihat kemerlap malam dari balkon kamar ini." Hana melangkahkan kakinya menuju balkon kamar.


Hans yang melihat kelakuan Hana hanya tersenyum manis.


Malam itu agak sedikit dingin. Namun cahaya lampu-lampu gedung dan kendaraan yang lalu lalang membuat malam itu indah. Hana lalu menghirup nafas panjang dan memejamkan matanya.


Tiba-tiba ia dikagetkan oleh pelukan hangat dari belakang.


“Hey, lepaskan aku.” sambil berusaha melepaskan tangan Hans.


“Diamlah sebentar, aku hanya ingin memelukmu seperti ini.” sambil meletakkan kepalanya diatas kepala Hana.


Hana hanya terdiam, ia merasa sangat nyaman dan aman dipelukan Hans. Ia bisa mendengar irama jantung Hans yang sangat teratur. Hana lalu kembali memejamkan matanya.


“Han,” ucap Hans.


“Emmmm,” balas Hana.


“Kau masih belum menjawab pertanyaanku 4 bulan yang lalu,” ucap Hans.


“Pertanyaan yang mana?,” balas Hana.


Hans lalu membalikkan tubuh Hana. Mata mereka saling bertatapan.


“Apakah kamu lupa? Aku pernah mengajakmu untuk berpacaran saat kita sedang berada di Danau Bulan,” ucap Hans.


Hans hanya tersenyum dan mengangguk dengan pasti.


“Jadi apa yang nona inginkan?”


“Berjanjilah bahwa kau hanya boleh menjadi Hansku.” Hana berkata sambil mengelus hidung Hans dengan telunjuknya.


Hans pun membalas dengan mencubit pelan hidung Hana.


“Aku Ksatria Hans berjanji di bawah bintang-bintang yang kemerlap, akan selalu menjadi milik Tabib Hana.”


Hana hanya tersenyum lebar sambil menunjukkan jejeran gigi putihnya yang rapi.


Hans menatap lekat wajah Hana,


“Kulit yang putih, mata yang indah, hidung yang mancung dan bibir yang mungil. Sungguh indah ciptaan tuhan ini.”


Hana pun juga menatap dan mencoba mengingat detail setiap inchi dari wajah Hans,


“Hmm, bagaimana bisa tuhan menciptakan laki-laki setampat ini. Tak ada satupun kecacatan yang terlihat diwajahnya”


Tiba-tiba Hans menyapu lembut bibir Hana. Tangan satunya mencoba merangkul Hana, dan tangan satunya memegang lembut kepala Hana.


Suasana malam yang dingin itu tiba-tiba berubah menjadi hangat. Hans dengan tangannya yang kekar menggendong Hana kedalam kamar dengan tetap menciumnya.


Mereka berdua sangat menikmati momen itu. Namun Hana dengan kejahilannya menggigit pelan bibir bawah Hans. Hans pun berhenti dan tersenyum licik.


“Wah nona Hana sangat nakal.” dan menjatuhkan Hana dikasur.


Hana tidak sadar dengan apa yang dilakukannya membuat gairah Hans membara. Hana hanya tertawa cekikikan.


Hans langsung mendominasi seperti srigala yang sudah mendapatkan mangsanya, ia berada diatas tubuh Hana. Menyeka rambut Hana dan menyelipkan di telingannya.


“Kau tahu, kau sangat menggodaku.” Hans berkata dan menyapu lembut bibir mungil Hana.


Hana yang sudah terbawa suasana pun mengikuti dengan pasrah. Ciuman Hans sudah tidak selembut tadi, ciuman ini sangat kasar namun tidak menyakitkan.


Tubuh mereka mulai hangat, nafas mulai berat dan memburu. Tangan Hans pun sudah mulai meraba seluruh tubuh Hana. Hana hanya memeluk tubuh Hans dan mulai membuka pakaian Hans.


Ia memandangi tubuh Hans yang seksi, dengan dada bidangnya. Perut sispacknya terlukis indah di tubuh laki-laki itu.


Tubuhnya sudah tak memakai sehelai kainpun. Ia tak sadar kapan Hans sudah menanggalkan pakaiannya.


Kedua pasangan itu beradu mesra di kasur yang berukuran King size itu. Hana sedikit merintih kesakitan karena ini adalah yang pertama kali untuknya.


Kamar hotel itu menjadi saksi dua pasangan telah melepas semua batasan mereka. Dengan suara-suara desahan yang kecil dan peluh keringat kedua pasangan itu.


*


*


*


Cahaya surya menusuk masuk , memantulkan cahayanya dari celah-celah jendela kamar hotel. Hana terbangun dengan tubuh yang terbalut selimut. Dan terdengar suara berat laki-laki disampingnya.


“Selamat pagi, sayang.” Hans berkata sambil mengecup kening Hana.


Hana sangat malu dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Ia mulai mengingat kejadian tadi malam.


“Hey, mengapa kau menutupi wajahmu?, bangunlah dan segeralah mandi, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.


Hana sadar bahwa ia tengah telanjang melilitkan selimut dan bergegas ke kamar mandi.


Ia membasahi rambut dan tubuhnya. Ia memandangi bekas-bekas merah ditubuhnya dan tersenyum malu.


Setelah selesai mandi, Hana menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Hans.


“Pakaian siapa ini?” Hana berkata sambil mengeryitkan alisnya.


“Itu aku beli, dan ingin ku hadiahi untukmu,” jawab Hans.


Hana segera menggunakan baju itu. Baju itu sangat pas dibadanya. Ia tahu merk baju ini sangatlah mahal dan limited edition.


Hans yang tengah membaca koran di sofa, terbelalak kaget dan menjatuhkan koranya. Ia terpesona dengan kecantikan kekasihnya itu.


Hana hanya tertawa melihat kelakuan laki-laki yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Setelah semua selesai bersiap merekapun turun kebawah.


Hari itu Hans sedang bertemu dengan partner bisnisnya. Ia memperkenalkan Hana sebagai calon istrinya.


Wanita mana yang tidak bahagia, diperlakukan seperti itu.


*


*


*


“Hana sebaiknya kita kedalam, udar sudah semakin dingin,” ucap Daisy.


Hana hanya menganguk lemas. Daisypun membaringkan Hana dikasur.


“Lalu setelah itu apa yang terjadi?” tanya Daisy penasaran.


“Kamu masih ingat saat menemukanku dijembatan itu?” tanya Hana.


Daisy hanya menganguk.


“Sehari sebelum aku kesana, aku baru tahu bahwa aku tengah hamil, lalu aku ingin mengabarinya namun dia tidak mengangkat teleponku. Aku fikir jika aku menyusulnya ke Kota T adalah ide yang bagus. Aku hanya ingin menyampaikan secara langsung padanya.” sambil menyeka air matanya Hana berkata.


“Namun ternyata itu adalah ide terburuk. Saat aku tiba di Kota T saat aku tengah mecoba menelponya, pandanganku tertuju pada seseorang di depan sana. Orang itu tidak lain adalah Hans, namun ia tidak sendiri. Ada seorang wanita cantik bersamanya. Akupun menghampirinya, dan menarik tangannya. Namun wanita yang sedang bersamanya meneriaku, dia bilang bahwa lelaki itu adalah suaminya.” Hana berkata dan mulai terisak.


Daisy yang geram dan mulai paham, memukul bantal yang sedari tadi dia pegang.


“Laki-laki jahanam itu.”


“Aku bukan pelakor, jika aku tahu ia sudah beristri aku tidak akan mungkin mau didekatinya.” Hana berkata dan bangun dari tempat tidur, melangkahkan kakinya menuju tas hitamnya dan mengambil sebuah botol obat.


Hana memegang perutnya dan memandangi botol obat itu, ia ingin segera menelan obat itu.


Daisy yang mulai curiga mengahampiri sahabatnya itu. Ia menahan Hana untuk meminum obat itu.


“Hana!!! Apa yang kau lakukan, obat apa ini?” Daisy mengambil obat itu dan membaca keterangan obat itu.


Daisy geram dan melempar jauh botol obat itu dan merampas obat yang berada digenggaman Hana.


“Kau gila? (sambil menggoncang-goncang tubuh Hana), kau mau mengugurkan janin itu?” tanya Daisy dengan amarah yang meledak.


“Untuk apa lagi aku mempertahankan mereka? Aku tidak mungkin mencari lelaki itu dan meminta pertanggung jawabanya.” Hana berkata sembari mencoba mengambil obat yang berserakan dilantai.


Daisy yang melihat itu menarik tangan Hana dan menamparnya. Dan menyeretnya kecermin.


“Lihat dirimu, kau seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang ibu. Janin di dalam perutmu itu tidak pantas menanggung kesalahan orang tuanya.” dengan penuh amarah Daisy berkata.


“Kau tidak tahu, kau tidak akan mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini,” balas Hana meneriaki Daisy.


Daisy mencoba menjaga jarak dengan Hana. Ia melangkah menuju sofa dan duduk terdiam. Sedangkan Hana masih di depan cermin dan menangisi dirinya.


“Kau tahu, hidupku tak semudah yang kau kira. Ayahku seorang pembisnis dan Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Ayahku adalah seorang yang lembut dan paling memahami diriku. Sedangkan ibuku adalah seseorang yang tegas. Baginya ia harus bisa memiliki seorang putri yang sempurna. Apapun yang dia katakan harus dituruti, jika tidak maka ia tak segan-segan untuk memukuliku. Aku tahu itulah cara dia mendidiku. Namun semakin aku dewasa aku mulai tertekan. Aku ini manusia bukan boneka yang bisa diatur oleh pemiliknya. Akupun mulai berontak dan memilih untuk hidup mandiri. Aku mulai kerja paruh waktu untuk memenuhi segala kebutuhanku termasuk biaya sekolahku. Meskipun demikian ayahku tetap mengajariku cara berbisnis, sesekali beliau akan memberiku uang saku. Namun aku tolak karena dari awal aku sudah berjanji untuk hidup mandiri. Kau tahu semua orang memiliki rahasia sedih dan menyakitkan. Aku hanya tak ingin kau membiarkan janin itu mati sebelum bisa mendaptkan kasih sayang dari ibunya.” Daisy berucap sambil mencoba menahan luapan air mata.


Hana yang tersadar dengan perkataan Daisy, mencoba melangkah dan memeluknya.


“Maafkan aku, maafkan aku yang membuatmu mengingat lukamu.”


Daisy pun membalas pelukan Hana itu.


“Han, aku tahu ini akan sangat sulit bagimu. Aku tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh. Aku yakin jika kau sudah bertekad pasti kau akan mampu melewati ini semua,” ucap Daisy.


Akhirnya kedua sahabat itu membagi keluh kesah mereka. Itu adalah malam yang panjang bagi mereka berdua. Ntah karena sudah larut malam atau mereka kelelahan akibat menangis. Merekapun melepas penat mereka dikasur hotel yang empuk itu.


Daisy pun mulai memejamkan matanya, sedangkan Hana masih menatap langit-langit kamar.


“Harus mulai dari mana aku menceritakan semua ini pada Kak Andrea.” batinya.


Ia pun mulai menutup perlahan matanya.