
Hana membuka jendela kamarnya, ia memandangi sedetail mungkin pemandangan yang iya dapat. Ntah kapan lagi ia akan kembali kesini. Pohon-pohon, bunga-bunga yang basah karena tersiram hujan tadi malam. Membuat udaran pagi itu terasa sangat sejuk.
“Mungkin ini adalah satu-satunya jalan agar aku bisa melupakannya. Sesungguhnya aku masih menunggu penjelasan darinya, ini sudah hampir sebulan namun dia tak kunjung mengabariku. Mengapa begitu sulit untuk menghilangkannya dari pikiranku.”
“Sial...!!” Hana bergumam sambil memandangi foto Hans di ponselnya.
Ia ingin sekali menghapusnya, memblokir nomornya namun hati kecilnya masih menolak melakukan itu. Dimatikannya ponsel itu lagi, dan ia mulai menghirup udara yang sejuk itu.
Hana lalu bersiap dan bergegas turun ke bawah. Hari ini dia dan Kak Andrea akan berangkat ke Kota S. Begitu pula dengan Daisy ia akan pulang ke apartemen sahabatnya Rose di Kota T.
Di meja makan terlihat Andrea yang sedikit canggung dengan Daisy. Setelah ia mengetahui bahwa Daisy telah mempunyai seorang kekasih. Ia mulai bersikap biasa dan menahan semua perasaanya yang tersisa.
Hana yang melihat itu tahu bahwa kakaknya sedang bersikap hati-hati.
“Kak, mengapa kamu begitu tegang pagi ini?” Apa kau baik-baik saja?” tanya Hana.
“Emmm... aku baik-baik saja hanya sedikit ada masalah dikantor, kamu segera habiskan makanmu kita akan segera berangkat.” sambil mengunyah pelan makanannya, Andrea lupa bahwa Hana sangat sensitif dengan perasaanya. Ia pun terpaksa mengkambing hitamkan perusahaan.
Daisy yang juga sedikit merasa Andrea berbeda dari biasanya. Namun ia mengurungkan niatnya bertanya. Mungkin saja memang sedang ada masalah di perusahaannya pikirnya.
Bandara siang itu sangat ramai dipenuhi orang-orang yang datang dan pergi. Membawa kisah mereka masing-masing. Begitu pula dengan Hana, ia membawa kisahnya sendiri dan berharap bisa melupakannya.
Andrea dan Hana menuju gate menuju Kota S. Sedangkan Daisy menuju gate yang berbeda. Sebelumnya mereka saling berpelukan dan mengucapkan kata pisah.
Andrea meminta Hana untuk menuju gate terlebih dahulu. Ia berbohong pada adiknya dia mengatakan ingin membeli sesuatu. Hana pun mengiyakan dan berjalan menuju gate.
Andrea lalu berbalik dan berlari mengejar Daisy.
“Daisy, tunggu!” Andrea berkata sambil menarik tangan Daisy dari belakang.
“Ehhh... Kak Andrea. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang tertinggal?” tanya Daisy.
“Itu.. ada. (sambil menunjuk hatinya) aku hanya tak ingin menyimpannya sendiri. Kelak jika kita bertemu kembali dan kau masih lajang. Maka biarkanlah aku mengejarmu.” Andrea memberikan sebuah kotak kecil pada Daisy dan memeluknya.
Daisy hanya bisa terdiam dan mencoba mengendalikan dirinya. Belum sempat ia menjawab Andrea sudah memeluknya, ia bisa mendengar degup jantung Andrea yang berdegup dengan cepat.
Pelukan itu hanya berlangsung beberap detik. Andrea langsung melepaskannya dan ia berlari, melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Daisy yang masih terdiam kaku penuh tanya.
Kesadaran Daisy pun mulai kembali. Ia hanya menatap punggung Andrea yang telah pergi jauh. Ia melihat kotak kecil yang diberikan oleh Andrea. Ia membuka dan ia tersenyum melihat sebuah jepitan yang indah. Dibawah jepitan itu tertulis “jepitan yang indah, untuk orang yang seindah kamu, Andrea” Daisy pun menyimpan kotak kecil itu kembali ke dalam tas hitamnya.
Semua laki-laki yang duduk di gate melihat Hana penuh dengan tatapan kagum. Ia begitu cantik dan manis, dengan earphone ditelingannya dan buku ditangannya. Andrea yang melihat sinis pemandangan itu langsung duduk di samping Hana.
“Hey, kau gadis kecil bukalah dulu earphone mu,” ucap Andrea sambil menepuk pundak adiknya itu.
“Kakak sejak kapan kau ada disini? Dan apa itu ditanganmu?” tanya Hana.
“Tak bisakah kau lebih memperhatikan disekitarmu? Kau lihat laki-laki di sekitarmu mereka melihat dirimu terus-terusan (dengan sedikit kesal).” Andrea berkata sambil mengacak-acak rambut adiknya.
“Kakak, berhenti melakukan itu dan berikan kantong itu untukku, baunya seperti roti yang habis dipanggang,” ucap Hana.
Andrea hanya bisa menghelan napas panjang melihat kelakuan adiknya itu. Ia pun memberikan kantong roti dan susu coklat untuk Hana. Hana menyambut dengan sangat senang dan langsung memakannya.
“Dasar, gadis kecil ini hanya makanan saja yang ia tahu” gumam Andrea dan sesekali menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Selamat datang di Kota S”
Papan itu terpampang jelas di Bandara King.
Hana dan Andrea telah sampa di Kota S. Nampak seorang laki-laki yang umurnya kisaran 25 tahun telah menunggu tuannya di pintu masuk bandaraa.
Dia adalah Rangga asisten Andrea. Ia menyambut Andrea dan Hana.
“Selamat sore tuan,” ucap Nathan.
“Selamat sore Rangga, dimana Asisten Sania?,” tanya Andrea.
“Asisten San sedang menyiapakan semua kebutuhan Nona di rumah,” balas Rangga.
“Oke baiklah, ini kuperkenalkan Hana, adik kesayangan aku.” Andrea berkata sambil memperkenalkan Hana.
“Selamat sore Asisten Rangga, terimaksih atas sambutannya, saya tidak akan sungkan meminta bantuannmu,” balas Hana.
Rangga pun mempersilahkan Tuan dan adiknya untuk masuk ke mobil. Ia melajukan mobil pajero hitamnya dengan pelan menuju kawasan rumah elite di Kota S.
“Rangga, bagaimana kabar perusahaan? Apakah aku mempunyai jadwal rapat?” tanya Andrea.
“Keadaan perusahaan cukup stabil Tuan, dan menurut catatan saya seharusnya tuan besok pagi sudah berangkat lagi ke Kota P, untuk bertemu klien.” jawab Rangga.
“Ohh baiklah, besok kita berangkat itu adalah klien terhormat kita, aku akan secara langsung menemuinnya,” ucap Andrea.
“Jadi, besok kakak akan meninggalkan aku ?” tanya Hana dengan nada sedikit kesal.
“Maafkan kakak, tapi itu adalah klien besar Hana. Kakak janji akan memenuhi apapun keinginan kamu sepulang dari sana, okey?” jawab Andrea.
“Emm...baiklah, aku akan memikirkannya nanti,” ucap Hana.
Setelah satu jam lamanya perjalanan, mobil hitam itu pun berhenti disebuah kawasan elite. Rumah dengan desain yang modern dan minimalis.
Asisten Sania dan beberapa pelayan sudah menunggu kedatangan tuan rumahnya.
“Selamat datang Tuan, Nona,” ucap Asisten San.
“Sania, perkenalkan ini adik kesayanganku Hana, kau kutugaskan untuk mengurus semua keperluannya,” ucap Andrea.
“Hallo Nona Hana, perkenalkan saya Asisten Sania, mari saya tunjukkan kamar nona.”
“Terimakasih Asisten Sania,” ucap Hana.
Sania pun mengajak Hana untuk melihat rumah dan kamarnya. Hana sangat menyukai kamarnya ini. Lengkap dengan semua fasilitas yang sama dengan kamarnya dulu.
“Wah, aku sangat suka dengan kamar ini,” ucap Hana.
“Ini sesuai permintaan Tuan Andrea, nona. Kami hanya mengikuti dan melengkapi ruangan ini,” jawab Asisten Sania.
Hana pun merebahkan dirinya dikasur setelah Asisten Sania meninggalkannya.
“Hey, kehidupan baru, kota baru semoga kita bersahabat ya, dan kau anakku mulai sekarang mama akan menjagamu, maafkan mama yang hampir membunuhmu, love you”
Gumam Hana,
Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk berendam dengan air hangat. Karena tubuhnya agak sedikit lelah karena perjalanan panjang. Untung saja ia tidak mual ketika diperjalanan.
Andrea memanggil kedua asistennya ke ruang kerjanya.
“Asisten San, besok aku dan Nathan akan pergi melakukan perjalanan bisnis. Kau temanilah nona untuk melihat-lihat Kota,” ucap Andrea.
“Baik tuan,” jawab Asisten Sania.
“Dan kau Rangga, siapkanlah berkas-berkas yang kita butuhkan besok,” ucap Andrea.
“Semua sudah saya siapkan tuan, besok kita sudah berangkat pagi sekali,” jawab Rangga.
“Baiklah kalian berdua bisa pergi sekarang,” ucap Andrea.
Andrea masih tersenyum sendiri mengingat kelakuannya tadi siang di bandara. Ia terus memandangi foto mereka bertiga sewaktu di pantai. Terlihat dirinya, Hana dan Daisy yang membuat wajah konyol atas permintaan Hana untuk diabadikan.
Di sisi lain, Daisy yang sudah sampai diapartemen dikejutkan dengan sosok Rose sahabatnya itu tengah tertidur pulas. Tak ingin menggagu tidur temannya, Daisy pun duduk menuju sofa favoritnya.
Ia mengingat perkataan Andrea “jika suatu saat nanti kita bertemu kembali dan kau masih lajang maka biarkanlah aku mengejarmu”
“Hey, betapa bodohnya aku. Apakah Andrea sedang menyatakan bahwa ia menyukaiku?” Daisy bergumam sambil menepuk jidatnya sendiri dan menggeleng kepalanya.
“Lucu!!!”
Hallo readers yang baik hati dan tidak sombong....
Jangan lupa vote, like dan komentarnya...