
“Hoooaaammm..” ia bangun dan merenggangkan badannya.
Hana bangun dan menuju ke cermin. Ia memandangi perutnya yang sudah sedikit buncit itu. Ia mengelus pelan perutnya.
“Hey, sayangnya mama.” gumamnya.
Tiba-tiba ia merasa agak sedikit mual ia pun bergegas menuju kamar mandi.
“Hoeek..hoekk....hoekk...”
Andrea yang telah pulang dari perjalanan bisnisnya hendak memberikan kejutan kepada Hana. Namun saat ia ingin mengetuk pintu kamar adiknya itu, ia mendengar suara adiknya yang tengah muntah di kamar mandi.
Andrea pun mengetuk pintu kamar mandi.
“Hana, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Andrea.
Hana terkejut mendengar suara kakaknya itu, namun ia tak bisa menjawab karena rasa mual yang hebat.
“Hana.” Andrea memanggil nama adiknya dan terus mengetuk pintu kamar mandi.
Pintu kamar mandi pun terbuka. Hana langsung memeluk kakaknya itu.
“Kakak, kapan kamu datang? bukankah kakak bilang pulang akhir pekan ini?” tanya Hana.
“Hana, kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Apakah kita perlu ke dokter? Kakak perhatikan kamu sering mual-mual seperti itu, belum lagi terakhir kamu hampir pingsan,” ucap Andrea.
“Aku baik-baik saja kak, kemarin aku pulang malam mungkin aku sedikit masuk angin. Aku pergi bersama Kak Sania ke pegelaran seni yang kakak rekomendasikan itu,” jawab Hana.
“Jadi apakah kamu tertarik dengan seni?” tanya Andrea.
“Emmm ku lihat itu sangat menyenangkan, kemarin aku bertemu Tuan Anan dan Frando anaknya,” jawab Hana.
“Jika kau tertarik kamu bisa belajar seni dengan Frando, ia adalah seorang pelukis terkenal,” ucap Andrea.
“Hahahaha aku akan memikirkannya nanti kak,” jawab Hana.
Andrea pun meminta Hana untuk istirahat kembali dan pergi meninggalkan kamar Hana. Ia lalu meminta pelayan untuk membuatkan Hana bubur dan sup ayam kacang merah.
*
*
Hana hanya bisa menghela nafas panjang setelah Andrea pergi dari kamarnya. Ia takut jika Andrea benar-benar mengajaknya ke dokter. Hana pun langsung membuka buku seputar kehamilan yang ia beli kemarin di toko buku.
Ia mencari tahu apakah ada sesuatu yang bisa mengurangi rasa mualnya itu. Ia pun belajar banyak tentang apa yang bisa dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat masa kehamilan.
Ia juga memuka laptopnya dan mencari informasi lebih tentang kehamilannya itu. Saat ia sedang serius membaca itu semua. Ia sampai tidak sadar bahwa Asisten Sania telah berdiri dihadapanya dengan membawa nampan yang berisi makanan.
“Nona, tuan Andrea meminta nona untuk memakan bubur dan sup ayam kacang merah ini,” ucap Asisten Sania.
Hana yang mendengar suara itu sontak kaget dan menutup laptopnya serta memasukkan buku-buku yang ia baca tadi ke dalam selimut.
“Kak Sania, apakah kakak sudah dari tadi di sini?” tanya Hana.
“Semoga saja Ka Sania tidak melihat cover buku itu,” batinya.
“Tidak nona, saya baru saja masuk. Maaf saya lancang karena saya sudah mengetuk pintu kamar nona tapi tidak ada jawaban,” jawab Asisten Hana dengan sedikit berbohong.
“Hehehe terimaksih ya Kak Sania, aku akan memakan bubur ini sekarang. Kakak bisa meninggalkanku sekarang,” ucap Hana.
Asisten Sania sebenarnya sudah tahu akan keadaan nonanya namun ia masih sedikit belum yakin. Ia berharap saat bertemu dengan Senior Nathan ia akan mendapatkan jawaban yang pasti.
“Baiklah nona, jika ada keperluan yang lain panggil saja saya.” ucap Asisten Sania.
Ia pun lalu keluar kama nonanya itu.
“Akhhh sampai kapan aku bisa menyembunyikan ini semua, lambat laun mereka semua akan tahu kehamilanku,” gerutu Hana.
Hana lalu menghabiskan sarapannya itu dan tidak lupa meminum obat yang diberikan oleh dokter. Ia lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat tengah berendam Hana berpikir bahwa ide yang bagus jika ia mencoba belajar seni lukis. Ia berfikir akan menghubungi Frando setelah mandi.
Hana keluar dari kamar mandi masih berbalut dengan jubah mandinya dan handuk yang menggulung rambutnya itu. Ia terlihat sedikit lebih segar. Ia lalu mengambil ponselnya. Ia sedikit kecewa karena sahabatnya Daisy belum membalas pesanya. Ia pun lalu mencari kontak Frando dan mengiriminya pesan.
✉️ :”Selamat pagi tuan Frando, saya
Hana. Bisakah kita bertemu
siang ini? Saya agak sedikit
mencari kegiatan baru sedikit
menyenangkan,”
Pesan sudah terkirim, Hana membuka balutan handuk yang menutupi kepalanya. Ia pun mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Tidak lupa ia mengusap vitamin rambut ke rambut hitamnya itu.
“Tingg...” bunyi pesan masuk.
📩 :”Selamat pagi juga nona
Hana,saya sangat mendengar
keputusan nona, dan mari kita
bertemu siang nanti di Cafe di
seberang jalan gedung
pegelaran seni. Mari kita
bertemu pukul 02.00 siang
nanti,”
Hana membalas pesan itu dan melanjutkan untuk mengeringkan rambutnya.
Ia lalu membuka lemari dan mengambil satu set pakaian rumahan. Ia keluar dari kamarnya dan hendak mencari kakaknya itu. Ia bertanya pada pelayan karena kakaknya tidak ada di kamar.
Pelayan mengatakan bahwa kakanya itu sedang berada di ruang kerja. Hana pun mengurungkan niatnya itu, ia tak ingin menggangu kakaknya itu.
Hana pun menuju taman belakang rumah. Ia duduk di gazebo dan hendak memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam samping gazebo.
Di Ruang Kerja Andrea.
Andrea sedang diskusi kecil dengan dua asistennya itu.
“Rangga, besok kita akan ada rapat dengan perusahan Game Int. tolong siapkan segala keperluannya. Dan siapkan semua akomodasi untuk para anggota perusahaan itu.” ucap Andrea.
“Baik tuan, saya sudah menyiapkan hotel yang dekat dengan perusahaan kita, besok pagi saya sudah meminta staff kita untuk menjemput mereka di Bandara,” jawab Rangga mantap.
Andrea hanya mengangguk dan membaca berkasnya kembali.
“Sania, apakah nona selama saya tinggal baik-baik saja? atau dia ada melakukan hal-hal yang aneh?” tanya Andrea.
“Nona baik-baik saja tuan, memang belakangan ini nona agak cepat kelelahan, tapi saya pikir itu wajar. Nona mungkin masih butuh waktu memulihkan keadaanya dan pikirannya setelah kematian Tuan dan Nyonya besar,” jawab Sania.
“Baiklah, terimakasih kau sudah menjaganya dengan baik dan kau terlihat lebih fresh dengan gaya rambutmu itu,” ucap Andrea.
“Itu nona lah yang meminta saya mengubah gaya rambut saya tuan,” jawab Sania.
Andrea hanya mengangguk dan mulai bekerja lagi. Ia meminta Sania keluar dan menemani Hana.
Asisten Sania merasa tidak enak karena telah berkata tidak jujur kepada Tuan Andrea. Namun ia sudah menganggap Hana seperti adiknya sendiri.
Ia pun menghampiri Hana yang sedang duduk di gazebo sambil memberi makan ikan.
“Nona, apakah kau sudah merasa baikan? tanya Sania.
“Kakak Sania, aku sudah baikan dan apakah kakak mau menemaniku ke cafe nanti siang? aku ada janji dengan Tuan Frando aku berencana akan ikut kelas seni lukisnya,” ucap Hana dengan semangat.
“Tentu saja nona, saya akan dengan senang hati menemani nona,” jawab Asisten Sania.
“Terimakasih kak, emmm apakah kaka masih sibuk dengan pekerjannya? aku ingin meminta ijin padanya,” tanya Hana.
“Nanti saya akan memberi tahu tuan jika nona ingin bertemu dengannya,” jawab Asisten Sania.
Hana hanya tersenyum dan lanjut memberi makan ikan-ikan di kolam itu.
Di sisi lain Frando yang senang akan bertemu Hana lagi. Wajah Hana mengingatkannya dengan kekasihnya yang telah meninggal. Ia membuka galeri ponselnya dan mengelus foto kekasihnya itu.
“Aruna, aku bertemu seseorang yang mirip sekali denganmu. Apakah aku bisa menganggapnya sebagai dirimu?” gumam Frando.
Hallo readers yang baik hati dan tidak sombong...
Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya..
Klik tanda love untuk memasukkan Hana ke daftar favorit kalian.