Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 6: Secret Night (Part 1)




Langit malam nan indah. Dengan hamparan kerlap kerlip malam, seakan tersenyum indah bulan sabit menghiasi malam itu. Semilir angin malam dengan aroma khas laut. Membuat suasana malam itu sangat romantis bagi para pasangan.


Dibalkon hotel dengan view lautan lepas, dengan deburan ombak yang saling beradu, terlihat kepiting-kepiting kecil tengah berlari ke dalam laut.


Nampak seorang wanita muda yang menatap sendu, kearah lautan lepas dengan hamparan bintang itu. Menatap dengan pandangan lurus, seakan tengah merindukan kenangan-kenangan yang telah lewat.


Hana melamun dan sibuk dengan pandangannya sendiri.


“Ntah dari mana aku harus memulai bercerita pada Daisy, hati dan pikiranku seakan mau meledak, aku hanya membohongi diriku sendiri jika aku mampu menanggung beban ini, tidak...tidak...aku belum siap, ahhh...”


Daisy yang sejak tadi memperhatikan Hana hanya memiringkan kepalanya menatap Hana. Ia tengah heran dan kagum dengan sahabat barunya ini.


“Hana, wanita secantik seperti namanya, Hana dalam bahasa jepang artinya bunga, dia seperti bunga sakura, kulitnya putih, dengan rambut hitamnya yang pekat, hidung mancung, bibir mungil, laki-laki mana yang tidak tergoda dengan keindahan tuhan ini? mungkin saja bila aku laki-laki aku juga akan mengejarnya, namun mengapa kesialan selalu menimpanya, sungguh malang nasibnya”


Hana merasa ada yang menatap dirinya langsung tersadar. Ia tersenyum cantik menoleh sahabatnya yang masih menatapnya itu.


“Hey, kau begitu serius menatapku, apakah kau menyukaiku?” ucap Hana.


Daisy yang membalas senyum dari Hana berkata.


“Siapa bilang aku melihatmu, kau sungguh sangat narsis nona.” sambil menggetok pela jidat sahabatnya itu.


Kedua sahabat itu tertawa terbahak-bahak dan kembali menikmati indahnya malam itu. Menatap lurus kedepan dan sibuk dengan pikiran masing.


****


Tett..tetttt....tettttt


Suara bel pintu berbunyi, menyadarkan kedua wanita muda itu dari lamunan mereka. Mereka berlari menuju pintu, karena mereka sadar bahwa itu adalah makan malam mereka.


Mereka sengaja memesan makanan dari kamar hotel agar bisa menyantapny di dekat balkon sambil menikmati indahnya pemandangan laut malam.


“Selamat malam, ini benar dengan Nona Hana?” ucap seorang pelayan.


“Betul, apakah ini pesanan makanan yang telah kami pesan tadi?” jawab Hana.


“Iya, nona. Apakah ingin kami sajikan langsung di dekat balkon?” lanjut pelayan.


“Wah, tentu saja. Silahkan sajikan makanan yang lezat ini.” Hana berkata dan mempersilahkan pelayan itu untuk masuk menyajikan makan malamnya.


Wanita muda lainnya mulai membututi Hana dan pelayan itu. Ia mengekor seperti anak ayam.


“Ahhh.., jadi teringat Rose, dulu kita sering makan bersama seperti ini, melontarkan beberapa lelucon konyol dan tertawa bersama. sedang apa ya dia sekarang?” batin Daisy.


Wanita muda itu duduk dimeja dekat balkon, dan menyaksikan pramusaji itu menyajikan makanan mereka. Menu malam itu adalah sea food , menu spesial dari hotel itu.


“Silahkan dinikmati nona, jika ada kekurangan silahkan menelpon kembali.” pramusaji itu berkata sambil bersiap untuk meninggalkan kedua wanita muda itu dan tersenyum sumringah.


“Tentu saja, makanan ini terlihat fresh dan baunya sangat wangi,” ucap Daisy.


Hana hanya tertawa kecil melihat kelakuan Daisy itu.


“Makanlah sesukamu Daisy, kudengar suara perutmu sudah menjerit, beri aku makan beri aku maka hahaha.” Hana berkata sembari mengambil makanan dan meletakkan dipiring Daisy.


“Hana, bukankah yang berakting perut yang keroncongan itu kamu? Kau sedari tadi terus menggodaku.” dengan muka yang cemberut dan melipatkan kedua tangganya Daisy berucap.


“Apakah, tuan putri marah? sungguh sayang jika makanan ini lama-lama tidak disentuh, aku takut ini akan habis kulahap.” Hana mulai menggoda sahabatnya itu.


“Hey, nona kau tahu aku sangat pandai memasak, aku bisa membuat masakan yang lebih enak dari ini, tadi aku hanya tidak ingin menyinggung perasaan pramusajai tadi,” balas Hana.


Hana hanya tersenyum dan mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Mereka berdua benar-benar sangat menikmati santapan itu. Apalagi ditemani dengan view lautan yang indah.


Tiba-tiba Hana merasa perutnya tidak enak, ia mual dan ingin muntah. Cepat-cepat ia berlari dan menuju kamar mandi.


Hoek...hoek..hoekk


Dia lalu mencuci mulutnya di wastafell dan memandai cermin.


“Sial, perutku mual lagi.” Hana yang sadar bahwa dirinya tengah hamil, memegangi terus perutnya.


Daisy yang panik dengan keadaan Hana, menyusul sahabatnya itu.


“Han, apakah kau baik-baik saja?”


“Aku tidak apa-apa Daisy, aku hanya sedikit mual,” balas Hana.


Hanapun keluar dan merebahkan dirinya di sofa. Dia sudah tak nafsu makan lagi. Daisy dengan telatenya membawakan Hana segelas air hangat yang telah dicampur dengan gula.


“Han, minumlah ini. Aku harap ini bisa membuatmu lebih baik.” Daisy menyerahkan air hangat itu.


“Terimakasih, Isy.” mengambil dan meminum sedikit demi sedikit.


Hana mengambil bantal besar yang ada si sofa, dan meminta Daisy untuk duduk disampingnya.


“Dulu aku sangat senang bermain game online begitupun Kak Andrea, kami sering ditinggal sama papa dan mama. Hanya game online lah yang sering menemani kami.”


Daisy pun mulai serius mendengarkan Hana, ia tahu Hana sudah mulai terbuka dengannya. Ia pun sudah siap untuk menampung semua keluh kesah Hana. Tanpa berkata apapun.


“Aku dan Ka Andrea bercita-cita untuk merintis perusahaan game online. Kami senang sekali mereview game-game baru.”


“Malam itu, ada event war. Dan team kami menang, tiba-tiba ada seseorang mengirimi aku pesan pribadi lewat fitur pesan di game”


Hana menceritakan kembali kenangn itu dan mengingt tiap detailnya. Tiap detail tentang lelaki itu dan kebodohannya.


Ting... tanda pesan masuk


📩:”Hi, Hana.”


Hana mengeryitkan alisnya, di game Hana menggunkan namanya sebagai nick gamenya. Pesan itu dikirim oleh seseorang dengan nick game Hans.


📩:“Hollla,” balas Hana.


📩:”Tim kalian sangat hebat, kenalin aku Hans, tim lawan kalian tadi”


📩:”Ohhh, kalian juga hebat namun kebetulan tim aku lebih kompak dari kalian,” balas Hana.


📩:”Emmm , bolehkah aku bergabung dengan kalian? Bagaimana jika tim kita beraliansi untuk menjadi tim yang lebih kuat?”


📩:”Wah tentu saja boleh, itu ide yang sangat bagus hahaha,” ucap Hana.


Sejak saat itu Hana mulai merasa, game online ini menyenangkan. Padahal niatnya mau mereview game ini malah menjadi semakin betah untuk bermain.


Hans, seorang teman game onlinenya setiap hari selalu menanyakan dirinya. Lelaki itu sangat misterius namun sangat perhatian denganya. Ia juga pemain yang handal dan dia sultan. Sultan dalam artian orang yang melakukan Top Up digame untuk menambahkan kekuatan.


Saat tiba pada level, dimana pemain bisa memasuki fitur pernikahan pada game. Hans tiba-tiba melamar Hana dengan mengirimkan bunga yang berisikan “will you marry me Hana?”


Hana yang hanya bisa tersenyum memandangi layar komputernya itu. Ia berfikir bahwa lelaki ini cukup menarik.


Hana pun menimpali dan mengirimkan bunga dengan tulisan “yes, I do,”


Seperti orang yang sedang dimabuk asmara Hana menyetel lagu favoritnya.


“I Like You So Much, You’ll Know It” by Ysabelle Cuevas


Dengan ikut bernyanyi di depan cermin.


I like the way you true so hard when you play ball with your friends


I like the way you hit the notes, in every song you’re shining


I love the litle things, like when you’re unaware


I catch you steal a glance and smile so perfectyl


Tiba-tiba suara ponsel Hana berbunyi. Tak ada nama yang tertera, itu adalah nomor baru. Hana pun mengangkatnya.


“Halo,”


“Hallo, Hana,”


“Emm, dengan siapakah saya berbicara?”


“Aku, Hans. Apakah aku mengganggumu?”


Hana sontak kaget, dia tidak menyangka bahwa Hans akan menghubunginya secepat ini.


“Ahh, suara Hans sangat indah,” batinya.


“Ohhh, hi Hans. Aku fikir kau hanya iseng menanyai nomor teleponku Hahaha”


“Aku sangat serius dengan itu Nona Hana,”


Hana melangkah ke kasurnya yang empuk dan merebahkan dirinya disana.


“Kau sedang apa?” tanya Hans.


“Hmm hanya bermain game, kamu bagaimana?”


“Aku juga sedang bermain game, dan mencoba mencari ilham untuk merancang sebuah game baru,” balas Hans.


“Wah, serius? keren banget Hans. Kalu aku suka mereview game-game baru, apakah suatu saat nanti jika game itu telah selesai aku bisa mereviewnya?” ucap Hana antusias.


“Tentu saja, kau akan jadi orang pertama yang mencobanya, jadi game apakah yang sangat engkau sukai?” tanya Hans.


“Aku sangat suka game yang didalamnya kita seperti kehidupan sehari-sehari. Banyak fiturnya yang tidak hanya tentang kerajaan tapi mungkin suasana yang lebih modern,” balas Hana.


“Ide yang sangat bagus, aku seperti mendapatkan sebuah ilham hahaha, ngomong-ngomong ehemm... apakah kau sudah punya pacar?” tanya Hans.


Hana yang sedang meminum susu coklatnya itu tersedak.


“Uhuk...uhuk... hahaha aku jadi tersedak. Sejauh ini aku belum punya pacar, mana ada yang mau sama wanita yang sukanya main game online hingga tengah malam, kau tahu mataku akan berubah menjadi mata panda,” jawab Hana.


“Ada kok yang mau, aku mau,” balas Hans.


“Hahahaha Hans kau jangan bercanda, kau sangat lucu.” sambil tersenyum simpul dan pipi kemerahan Hana menjawab.


“Aku tidak bercanda, aku serius,” jawab Hans.


“Hahaha baiklah baiklah Ksatria Hans, mari kita lanjutkan bermain game.” sambil melangkah ke depan komputernya.


“Baiklah, tabib Hana mari kita lanjutkan di game saja, tapi lain hari apakah aku bisa menelponmu lagi?” tanya Hans.


“Ahhh tentu saja bole Hans. Tapi yang aku takuti pacarmu akan mencabik-cabik diriku,” balas Hana.


“Aku single Hana. Aku sibuk dengan game mana ada yang mau denganku,” jawab Hans.


“Hahaha kita sangat cocok untuk berguarau, mari kita lanjutkan di game.” sambil mematikan ponselnya.


Hana hanya bisa tersenyum simpul. Sebenarnya ia juga mulai menyukai Hans. Teman game yang belum pernah ia temui sekalipun.


*


*


*


Drttt...drrttt suara ponsel Hana bergetar. Hana mulai meraba raba dimana ia meletakkan ponselnya tersebut.


Ia tak melihat siapa yang menelpon, ia hanya terburu-buru mengngkatnya. Dan menaruh ponselnya itu ditelinga.


“Hey, hey ini video call bisakah kau melihat dengan benar,”


Hana sontak kaget, dan dia hafal dengan suara ini. Dan membenarkan ponselnya.


“Morning, tabib Hana,”


“Hey, kau menelponku sepagi ini. Kau tahu aku masih tertidur.” Hana mengucek-ucek matanya, rambutnya masih berantakan, namun dia tetap terlihat cantik itu adalah anugrah tuhan yang tak bisa dielakkan.


“Hahaha maafkan aku, kau tahu aku sedang dimana sekarang?”


“Memangnya kau lagi dimana?”


“Aku sedang berada di kotamu, aku sedang ada urusan bisnis disini,”


“Serius? Aku fikir kau sudah lupa denganku hahaha, beberapa hari ini kau tidak ada mengabariku,”


“Mana mungkin aku melupakan wanita secantik kamu,”


“Hans..... kau tak usah mengejekku.” Hana berkata dengan raut cemberut.


“Hahahaha kau sangat lucu dengan ekspresi itu Han,”


“Jika kau menelponku hanya untuk mengejekku, akan kumatikan ini,”


“Hey..hey jangan dimatikan dulu, maafkan aku tabib Hana yang menawan. Jika urusan bisnisku selesai apakah kau mau bertemu denganku?”


“Emmmm, kupikir dulu okay, aku takut kau akan lari jika melihatku hahahaha,”


“Hahaha baiklah, see you “


“See you” sambil menutup ponselnya itu.


Hana bangun dari tidurnya, ia melangkah menuju cermin.


“Hmmm, untung saja aku masih terlihat menawan meskipun baru bangun tidur hahaha”


Ia pun bergegas ke kamar mandi, untuk membenahi dirinya sendiri.


Hallo readers yang baik hati, support author terus ya dengan vote, like dan komentarnya. Jangan lupa klik tanda ❤️untuk memasukkan kedaftar favorit kalian, gomawo ^_^