Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 15: Art




Hari baru jatuh lagi di Kota S, nampak sang surya tengah menyerukan sinar-sinar nan hangat. Bunga-bunga nampak bermekaran, burung-burung tengah berkicau berterbangan kesana kemari mencari makan.


Terlihat orang-orang ada yang tengah jogging dengan hewan peliharaannya, bersepeda ria maupun berjalan santai. Di daerah kawasan elite yang didiamin Andrea dan Hana terdapat banyak fasilitas seperti taman, track sepeda, jogging maupun hanya untuk jalan santai begitu pula ada kolam renang khusus untuk penghuni dikawasan itu.


Pagi itu Hana bangun dengan suasana hati yang cukup berantakan. Bagaimana tidak ia tadi malam bermimpi tentang Hans laki-laki yang telah menghianatinya.


Ia segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Ia pun melihat dirinya di cermin. Nampak rambutnya mulai tak berbentuk. Wajahnya yang nampak sayu.


“Hmmm.. sepertinya aku harus merubah gaya rambutku, wajahku juga nampak sedikit sayu. Mungkin hari ini aku akan meminta Ka Sania menemaniku ke salon,”


Hana pun turun ke bawah, nampak meja makan yang cukup besar. Disana telah tersedia hidangan untuk sarapan. Begitu pula dengan para pelayan yang berjejer rapi dan tentunya ada Ka Sania.


“Selamat pagi, hidangan ini sangat wangi,” ucap Hana.


“Selamat pagi nona,” jawab para pelayan.


“Selamat pagi nona, silahkan..” sambil menarik kursi dan mempersilahkan Hana untuk duduk.


“Ka Sania, aku bisa melakukannya sendiri. Kemarilah kak temani aku untuk sarapan, para pelayan yang ada disini silahkan ikut aku untuk sarapan bersama,” ucap Hana.


“Maaf nona, itu saya rasa kurang sopan jika kita berada dalam satu meja yang sama,” ucap ketua pelayan.


“Ahhh sudadhlah, meja sebesar ini hidangan yang banyak ini aku tidak akan sanggup menghabiskan semua, panggil yang lain juga kita makan bersama sekarang, ini perintahku,” ucap Hana.


Para pelayan saling menatap satu sama lain, ketua pelayan pun menatap Asisten Sania. Asisten Sania hanya mengangguk pelan pertanda ikuti saja apa yang nona inginkan.


Akhirnya pagi itu Hana sarapan bersama dengan Asisten Sania dan seluruh pelayan di rumah itu. Mereka tidak terlihat seperti majikan dan pelayan melainkan seperti keluarga.


Hana sangat senang karena dia tidak perlu merasakan kesepian. Setelah selesai Hana pun pergi ke taman belakang rumah. Disana terdapat sebuah gazebo dan kolam ikan yang indah.


Ia duduk sambil memberi makan ikan. Asisten Sania membawakan Hana buah potong.


“Nona silahkan buah potongnya,” ucap Asisten Sania.


“Oia kak, aku baru ingat tentang tiket pegelaran seni itu masih bisa digunakan?” tanya Hana.


“Tentu bisa nona, pegelaran seni itu berlangsung selama seminggu, apakah nona berniat untuk datang kesana?” tanya Asisten Sania.


“Baiklah kak, namun sebelum itu bisakah kau menghantarkan aku ke salon? aku butuh merapikan rambutku. Dan juga sebaiknya kau merubah gaya rambutmu kak hehehe,” ucap Hana.


“Apakah gaya rambutku terlihat kuno nona?” tanya Asisten Sania.


“Hmmm tidak kuno kak, cuma jika kau membenahi sedikit uara kecantikanmu akan lebih terpancar dan mungkin saja laki-laki yang kau taksir akan terpesona olehmu,” goda Hana.


“Nona anda bisa saja. Kalau begitu saya akan membooking salon terlebih dahulu, jika nona telah siap katakan saja,” ucap Asisten Sania.


“Baiklah kak,” jawab Hana.


Asisten Sania pun meninggalkan Hana. Saat memasuki ruang tengah Asisten Sania pun melihat cermin. Ia melihat tatanan rambutnya. Ia pikir akan mengikuti saran nonanya.


“Apakah Senior akan terkesan jika aku mengubah gaya rambutku? Hahaha sedang apa aku ini, mungkin saja senior telah memiliki seorang kekasih,”


Asisten Sania pun mengambil ponselnya. Dia segera mengirim pesan kepada seniornya. Jika ia menyetujui akhir pekan nanti untuk makan malam.


Di sisi lain Nathan yang baru saja menyelesaikan laporannya nampak tersenyum. Setelah membaca pesan di ponselnya. Pesan itu dikirim oleh Sania.


“Tuhan, terimakasih. Akhirnya kesempatan ini datang juga.”


Nathan pun teringat jaman sekolah dulu. Ia ingin sekali berkenalan dengan Sania. Namun Sania selalu menghindarinya. Belum lagi penggemarnya yang selalu mengikutinya kemana-mana membuat dia tidak bisa melakukan sesuatu dengan leluasa.


Waktu itu Nathan adalah anak baru di sekolah itu. Ia ingat betul waktu itu hujan dan dia tak membawa payung. Tiba-tiba datanglah seorang gadis muda yang lugu menawarkan payungnya untuk dirinya. Gadis lugu itu adalah Sania.


Semenjak itu Nathan memberi Sania tempat yang spesial di hatinya. Nathan pun tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar ada seorang perawat yang melihatnya dari tadi.


“Maaf dok, pasien sudah menunggu anda,” ucap perawat itu.


“Ohh tentu saja, persilahkan dia untuk masuk keruangan saya,” jawab Nathan.


“Baik dok,” balas perawat itu.


Nathan hanya bisa menggeleng pelan dan tersenyum sendiri mengingat masa lalunya.


*


*


Di sebuah salon ternama di Kota S.


Hana dan Asisten Sania telah sampai di sebuah salon yang cukup terkenal di Kota S. Salon itu kerap menjadi langganan para selebritis papan atas yang ad di Kota S.


“Selamat siang nona, adakah yang bisa saya bantu,” tanya seorang pegawai salon itu.


“Bisakah kau membenahi rambutku, dan menurutmu gaya rambut apa yang cocok untuk diriku?” tanya Hana.


“Baik silahkan duduk dulu nona, saya akan membawakan model rambut dari salon kami,” ucap pegawai salon itu.


“Kak Sania, kamu duduklah disampingku. Kita bisa nyalon bersama,” ucap Hana.


Kedua wanita itu menghabiskan waktu bersama di salon. Pertama-taman pegawai salon itu mencuci rambut dua wanita muda itu. Dan memberikan sedikit pijatan di kepala mereka dan pundak mereka.


“Ahh senangnya, sudah lama aku tidak pergi kesalon. Pelayanan salon ini sangat bagus,” ucap Hana.


Para pegawai salon hanya tersenyum dan melanjutkan pijatan mereka. Setelah itu adalah sesi mengubah gaya rambut.


“Nona saya rasa jika rambut nona di warnai sedikit akan terlihat lebih segar,” ucap pegawai slaon itu.


Asisten Sania yang tersadar dengan ucapan pegawai salon, langsung menyela. Ia tahu bahwa nonanya sedang hamil, ia tidak ingin ada bahan-bahan kimia yang menyentuh bagian tubuh nonanya.


“Menurut saya nona, warna rambutmu yang sekarang sangat indah. Mungkin kau hanya perlu memotong bagian yang bercabang pada ujung rambutmu dan berikan sedikit sentuhan ikal dibawahnya,” sela Asisten Sania.


“Hoiii, ide yang bagus Kak,” jawab Hana.


Pegawai salon pun mengikuti arahan yang di katakan tadi. Asisten Sania pun mulai mengubah gaya rambutnya. Ia memotong pendek rambutnya sebahu. Ia terlihat semakin fresh dan sangat menarik jikah rambut sebahunya dipadukan dengan wajahnya yang tegas.


“Kak Sania, kau terlihat cantik dan seksi,” goda Hana.


“Nona, ini gaya rambut yang anda pilihkan untukku dan saya rasa itu cocok,” ucap Asisten Sania.


“Ka Sania, bagaimana kalau kita pergi melakukan perawatan wajah? Kau lihat mukaku ini terlihat sayu, setelah itu bagaimana kita ke butik untuk mencari baju untuk ke pegelaran seni nanti malam?” ucap Hana dengan sedikit manja.


“Tentu nona, apapun yang anda mau kita akan lakukan,” jawab Asisten Sania.


Akhirnya Asisten Sania mengajak Hana ke tempat perawatan wajah yang ternama di Kota S. Sesampainya di sana, Asisten Sania menyarakan nonanya untuk berkonsultasi pada dokter.


Hana pun sadar bahwa ia tengah hamil. Dia sempat curiga apakah Asisten Sania mengetahui ia tengah hamil. Karena waktu di salon pun ia melarangnya untuk mengubah warna rambut karena mengandung bahan kimia.


Setelah selesai berkonsultasi Hana pun melakukan perawatan wajah dengan-bahan organik yang aman untuk wanita yang sedang hamil. Tak lupa juga ia mengajak Asisten Sania untuk melakukan perawatan juga.


Setelah dua jam berlalu, para wanita muda itu selesai melakukan perawatan. Mereka pun menuju sebuah butik yang letaknya tidak terlalu jauh dari klinik perawatan itu.


Hana pun memilih sebuah long dress berwarna hitam polos dengan lengan yang sedikit terbuka. Yang memperlihatkan aksen tulang rawan yang indah terlihat.


Sedangkan Asisten Sania dipilihkan oleh Hana sebuah setelan berwarna coklat tua, yang membuat Asisten Sania terlihat seperti wanita muda yang tegas dan seksi, jika dipadukan dengan rambut pendek sebahunya itu.


Setela selesai memilih, mereka pun kembali ke rumah.


*


*


*


Malam pun tiba, Hana sudah mempersiapkan dirinya. Ia menata sedikit rambutnya dan memperindah dengan jepitan kupu-kupu berwarna gold. Ia terlihat sangat cantik, menawan dan dewasa. Apalagi dengan long dress hitamnya itu. Bibirnya diolesi dengan pewarna bibir berwarna peach coral. Matanya diriasi dengan eyeshadow berwarna coklat muda, dengan eyeliner yang menambah indh lekukan matanya.


Makeupnya terlihat natural tapi itu sangat cocok dengannya. Begitu pula dengan Asisten Sania. Ia benar-benar nampak menawan malam itu. Para pelayan memberikan pujian kepada dua wanita itu.


Di perjalanan Asisten Sania memberikan sedikit informasi tentang pegelaran ini. Pegelaran seni ini di selenggarakan oleh rekan kerja Andrea. Dimana banyak seniman-seniman yang ikut serta dalam pegelaran ini.


Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah gedung yang megah. Banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di area itu. Banyak orang-orang kaya yang datang silih berganti.


Hana dan Asisten Sania pun memasuki gedung itu. Banyak mata yang tertuju pada kecantikan Hana. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki tua menghampiri mereka.


“Selamat malam Asisten Sania, apakah Tuan Andrea datang bersamamu?”


“Selamat malam Tuan Anan, tuan tidak bisa datang karena sedang ada perjalanan bisnis,”


“Lalu siapa wanita muda ini, wajahnya terlihat sedikit familiar?”


“Perkenalkan tuan, ini adalah Nona Hana adik dari Tuan Andrea,”


“Perkenalkan nona, saya adalah Anan, orang yang menyelenggarakan pegelaran ini dan juga saya adalah teman baik kakakmu,”


“Selamat malam Tuan Anan, nama saya Hana. Senang bertemu dengan anda,”


Tuan Anan nampak memanggil seseorang laki-laki dewasa yang mungkin kisaran umurnya 28 tahun. Ia memperkenalkan laki-laki itu sebagai anak satu-satunya dan penerus bisnisnya kelak.


Ia adalah Frando Wijaya Kusuma. Laki-laki itu adalah seorang pelukis terkenal. Tuan Anan pun meminta Frando untuk menemani Hana untuk melihat-lihat lukisan dan karya seni lainnya.


Sedangkan Tuan Anan sendiri mengajak Asisten Sania untuk bertemu kolega yang lain.


*


*


“Hi, apakah kau baru di Kota ini?” tanya Frando.


“Oh iya, aku baru ikut kakak pindah beberapa hari yang lalu,” jawab Hana.


“Apakah kita bisa menjadi teman kelak?” tanya Frando.


“Tentu,” jawab Hana singkat.


Mereka berdua pun melihat-lihat semua karya seni yang ada di gedung itu. Frando menjelaskan amat sangat detail tentang karya-karya seni itu.


Hana pun terpaku pada satu karya lukisan. Di lukisan itu nampak sebuah wanita menghadap ke belakang. Sehingga terlihat rambut pirangnya yang terkepang rapi dengan hiasan bunga-bunga kecil disetiap kepangannya. Dan ia membawa sebuah keranjang yang berisikan bunga tulip.


Disekitaran nampak hamparan kebun tulip yng sangat indah. Wanita itu sedang berjalan menuju ke sebuah ayunan yang indah.


“Hmm lukisan ini terlihat indah, namun sepertinya menyimpan sebuah kenangan yang mendalam,” gumam Hana.


Frando memandangi lukisan itu dan tersenyum.


“Ia adalah kekasihku, kau tau ia sangat menyukai bunga tulip. Dia mempunyai keinginan untuk memiliki sebuah kebun tulip dan terdapat sebuah ayunan disana,” ucap Frando.


“Tapi mengapa kau tak melukis wajahnya? Kenapa kau melukisnya dari belakang?” tanya Hana.


“Dia sudah meninggal, aku melukis itu hanya berharap keinginannya terwujud,” ucap Frando lirih.


Hana merasa iba dan sedikit menghiburnya.ia merasa bersalah telah bertanya seperti itu.


“Maafkan aku, aku tidak tahu,” ucap Hana.


“Tidak apa-apa ia meninggal karena penyakit kankernya, saat itu aku tengah sibuk menyiapakan diri untuk mengikuti lomba lukisan. Dan aku sangat menyesal karena tidak bisa menemani saat kematian menjemputnya,” jawab Frando.


“Frando percayalah, dia pasti bahagia disana tanpa perlu merasa sakit lagi, kau harus bisa mengikhlaskan dirinya agar dia tenang disana.” sambil menepuk-nepuk pundak Frando.


“Terimakasih Hana dan aku juga turut berduka atas meninggalnya orang tuamu,” ucap Frando.


Hana hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Mereka pun lalu melanjutkan melihat-lihat karya seni itu. Tanpa disadari malam pun semakin larut.


Asisten Sania telah menunggu nonanya. Hana pun mengucapkan selamat tinggal kepada Tuan Anan dan Frando. Namun sebelum itu Frando menyempatkan diri untuk meminta kontak Hana dan hendak mengajak Hana untuk mengunjungi galeri Art miliknya.


Sesampainya di rumah Hana langsung menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Ia teringat akan sahabatnya Daisy. Ia lupa membalas pesan Daisy.


✉️ :”Daisyku tersayang, maaf aku baru membalas pesanmu, kabarku baik-baik saja. Kau tahu aku sangat merindukanmu. Kemarin aku sempat kedokter untuk mengecek kandunganku, dan kau tahu aku akan memiliki anak kembar, seandainya kau ada di sini aku akan merasa senang berbagi denganmu, jika kau tidak sibuk bagaimana kalau kita video call? Aku ingin bercerita banyak hal denganmu,”


Setelah mengirim pesan itu Hana pun tertidur karena kelelahan.


Hallo readers yang baik hati dan tidak sombong..


Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya..


Klik tanda love untuk memasukan HANA ke dalam daftar favorit kalian, gomawo^_^