
Sudah tiga hari ini Hana hanya berdiam diri di kamar. Ia tidak bersemangat untuk pergi menjelajahi Kota S. Mengingat kejadian dia hampir pingsan dan perutnya mulai mual-mual lagi.
Hana tidak ingin Asisten Sania curiga denganya. Namun dia juga perlu untuk ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya lagi. Obat yang diberikan dokter waktu itu juga sudah menipis.
Hana lalu mencari lokasi rumah sakit yang agak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Itu ia lakukan agar tidak akan ada orang yang mengenalinya. Setelah menemukan lokasi yang pas, ia pun memesan taksi online.
Hana pun keluar dari kamar dan berjalan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh Asisten Sania. Ia tidak ingin Asisten Sania tahu bahwa ia akan pergi ke rumah sakit.
Namun sayang, Asisten Sania sudah memperhatikan gerak-gerik Hana dari tadi. Ia pun segera mengikuti taksi yang dipesan oleh nonanya itu.
“Mengapa nona Hana tidak memberi tahuku jika ia ingin bepergian?” gumam Asisten Sania.
Ia pun mengikuti Hana hingga sampailah disebuah rumah sakit yang letaknya agak jauh dari ibu kota.
Hana turun dari taksi, ia terlihat seperti orang yang panik. Ia menoleh kanan dan kiri sebelum masuk ke dalam rumah sakit. Ia pun menuju ke bagian administrasi dan terlihat seorang perawat yang menghantarkan Hana ke bagian Spesialis Obgyn.
Asisten Sania semakin penasaran dengan nonanya itu. Karena kebetulan ia sedang di rumah sakit. Ia pun ingin mengecek obat-obatan yang sedang dikonsumsi oleh nonanya itu.
Saat ia sedang berjalan di koridor Asisten Sania tidak sengaja menabrak seseorang. Saat ingin minta maaf ia pun sempat kaget ternyata orang yang di tabraknya itu adalah seniornya dulu waktu Sekolah Menengah Atas.
“Maaf saya tidak sengaja,”
“Hey bukankah kau Sania?”
“Kamu..?” (wajahnya mulai memerah)
“Iya, aku seniormu dulu. Nathan,”
“Senior Nathan, sungguh tidak menyangka bisa bertemu senior yang dulu penggemarnya banyak hahaha,”
“Hahaha kau ada-ada aja, jadi apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku sedang mengikuti nonaku, dia pergi dari rumah untuk pergi ke rumah sakit ini, sekarang dia sedang menunggu di bagian Spesialis Obgyn,”
“Kebetulan sekali, aku adalah dokter obgyn disini,”
“Apakah kau bisa menolongku? aku sempat memfoto beberapa obat yang pernah dikonsumsi oleh nonaku. Apakah kau bisa memberi tahuku ini obat ap?”
“Ini, adalah vitamin untuk kandungan dan ini adalah obat untuk penguat kandungan, jadi bisa disimpulkan bahwa nonamu sedang hamil,”
“Apa.. hamil,?”
“Iya tentu saja, baiklah kalau begitu aku akan kembali keruanganku untuk memeriksa pasien, jadi bisakah aku meminta kontakmu?”
“Emmm tentu saja senior, sampai bertemu kembali,”
Setelah mereka bertukar kontak, Asisten Sania kembali ke mobilnya. Ia masih sedikit kaget dengan keadaan nonanya. Ia bingung apakah ia harus memberi tahu tuannya atau tidak. Setahunya nona Hana belum menikah, jadi bagaimana dia bisa hamil.
Di ruang dokter
Kini adalah giliran Hana, sebenarnya dia agak sedikit gugup.
“Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Selamat pagi dokter, saya mau memeriksa kandungan saya,”
“Apakah anda kesini sendiri? dimana suami anda?”
“Itu, bisakah doker langsung memeriksanya saja?”
Dokter obgyn itu pun langsung memeriksa Hana. Ia mengoleskan suatu cairan ke perut Hana. Lalu menempelkan alat di perutnya itu. Terlihat di layar ad dua janin yang sedang berkembang. Jika dihitung-hitung usia kandungannya harusnya sudah memasuki dua bulan.
“Baik nona, kandungan anda sehat. Hanya saja anda harus mengatur pola makan anda dan jangan terlalu banyak pikiran. Apalagi ada dua janin yang sedang berkembang di dalam kandungan anda,”
“Jadi saya akan mempunyai anak kembar dok?,”
“Iya nona, jika dilihat dari layar tadi. Ada dua janin yang sedang berkembang di dalam rahim anda. Saya akan memberikan resep dan anda bisa membelinya di apotek,”
Hana pun keluar dari ruangan dokter itu dan langsung menuju apotek terdekat.
“Itu kah nona yang disebut oleh Sania tadi? Masih muda, mungkin lain waktu aku akan mengajak Sania untuk makan bersama.” ucap Nathan saat Hana pergi dari ruanganya.
Hana pun keluar dari rumah sakit dan menaiki sebuah taksi yang sudah ia pesan melalui aplikasi online. Asisten Sania pun bergegas mengikuti dengan hati-hati taksi itu.
Tak lama kemudian taksi itu berhenti di sebuah toko buku. Hana keluar dan langsung memasuki toko buku itu. Asisten Sania hanya menunggu nonanya dari dalam mobil. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, saat dia melihat ternyata ada pesan masuk dari seseorang yang baru ia temui tadi yaitu dari Nathan.
“Emm senior?” gumamnya.
📩 : “hi, Sania,”
✉️ : “hi, senior Nathan, ada yang
bisa aku bantu?”
📩 : “hahaha apakah akhir pekan
nanti kau sibuk? Aku ingin
itupun jika kau mau,”
Asisten Sania tersenyum membaca pesan masuk itu, dulu ia sempat mengagumi senior Nathan. Namun dulu ia hanyalah seorang gadis desa jadi dia merasa tidak pantas untuk mendekati Nathan.
✉️ : “akan aku kabari nanti senior,
terimakasih atas ajakanmu,”
📩 : “kabari saja aku nanti,”
Di sisi lain Nathan melengkungkan senyumnya, senyum yang begitu indah. Dulu ia sering memperhatikan Sania. Dia ingat betapa lugunya Sania. Wajahnya tidak begitu cantik namun sangat indah untuk dipandang.
“Mungkin ini adalah kesempatanku untuk mengejar Sania,” gumamnya.
*
*
Hana tengah sibuk melihat-lihat buku. Pertama-tama ia menuju rak novel, ia memilih beberapa novel dari karya penulis-penulis baru dan beberapa karya dari penulis favoritnya.
Saat melihat-lihat buku yang lain Hana pun agak sedikit ragu menuju stand buku tentang “kehamilan” namun ia tetap saja ingin melihat-lihat stand buku itu. Disana terlihat beberapa buku dengan judul: Serba Serbi Seputaran Kehamilan, Tips-tips Saat Masa Kehamilan, Makanan Sehat untuk Perkembangan Janin dll.
Hana pun mengambil dua buku dari beberapa buku itu. Dan saat ia ingin membayar buku itu tak sengaja ia melihat ada buku tentang nama-nama bayi. Ia pun mengambil dan segera menuju kasir. Ia pikir buku itu akan berguna dikemudian hari.
Hana nampak sedikit kesal karena ia tidak dapat memesan taksi online. Cuaca juga sedikit mendung, ia tidak ingin lama-lama berada di luar. Ia pun terpaksa menelpon Asisten Sania. Asisten Sania yang kebetulan berada disana berpura-pura bahwa ia akan segera sampai karena ia juga berada disekitaran daerah itu.
Sepuluh menit kemudian mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Hana. Ia pun segera naik ke dalam mobil itu.
“Nona, mengapa anda tidak memberi tahu saya jika hendak ingin pergi?”
“Itu aku hanya tidak ingin merepotkanmu Kak, hehehe,”
“Apapun itu yang ingin anda lakukan tidak akan pernah merepotkan saya,”
“Kak Sania, kau semakin mirip dengan Kak Andrea, baiklah jika akan pergi aku akan memberitahumu okay?”
“Terimakasih nona,”
Pertengahan jalan Hana merasa perutnya sedikit berbunyi. Itu pertanda bahwa ia sedang lapar. Ia pun meminta Asisten Sania untuk mencari restoran china, ntah mengapa ia ingin sekali memakan masakan khas china.
Asisten Sania pun melajukan mobilnya menuju sebuah restoran china ternama di Kota S. Ia pun memparkirkan mobilnya. Dan mengajak Hana ke dalam. Ia memesan meja dengan menghadap view hamparan Kota S yang sangat indah meskipun saat itu cuaca sedang mendung.
Pelayan pun datang dengan membawa menu. Hana melihat-lihat menu dan memesan beberapa menu favorit restoran itu. Ia memesan untuk dua orang. Namun siapa sangka Asisten Sania ternyata alergi bawang. Saat sedang memakan salah satu menu itu ia merasa kulitnya agak sedikit gatal. Mukanya pun mulai memerah.
Hana yang melihat itu langsung bertanya.
“Kak, mengapa kulitmu memerah seperti itu?”
“Maaf nona, saya lupa bahwa saya alergi dengan bawang,”
“Maafkan aku kak, aku tidak tahu, aku tadi tidak enak menggangumu karena kau terlihat serius saat menelpon, dan aku pesankan saja makanan yang sama denganku,”
“Tidak apa-apa nona, saya juga yang teledor tidak memperhatikannya, saya akan kembali ke mobil sebentar untuk mengambil obat saya. Nona lanjutkan saja dulu makannya,”
Asisten Sania pun bergegas kembali ke mobil. Untung saja ia selalu membawa obat alerginya itu. Ia pun mengoleskan salep ke beberapa ruam merah pada kulitnya. Saat sedang mengoleskan salep matanya tertuju pada sebuah kantong belanja yang berisikan buku-buku yang dibeli nonanya.
Nampak ada sebuah buku yang berisi tentang kehamilan.
“Nona, memang benar-benar hamil. Oh ia kebetulan senior Nathan mengajakku makan malam akhir pekan, aku akan mengiyakan dan aku bisa menanyakan keadaan nona,” ucap Asisten Sania.
Tiba-tiba terdengar ketukan jendelan. Asisten Sania kaget bahwa itu adalah Hana. Ia segera merapikan kantong belanjaan Hana. Lalu membukakan pintu mobil.
“Kak, apakah kau sudah agak baikan? Apakah kita perlu untuk kerumah sakit?” tanya Hana.
“Tidak nona, aku sudah agak enakan. Jadi apakah nona sudah selesai makan?, apakah nona ingin pergi ke tempat yang lain?” ucap Asisten Sania.
“Tidak perlu ka, sebaiknya kita pulang saja, dan ini aku sudah pesankan makanan untukmu dan tanpa bawang hehehe.” memberikan sebuah bungkusan makanan kepada Asisten Sania.
“Terimakasih nona, maaf aku merepotkanmu,” ucap Asisten Sania.
Mobil sedan hitam itu pun melaju menuju rumah di sebuah kawasan elit. Sesampainya di rumah Hana pamit duluan ke kamar, karena ia merasa perutnya agak sedikit mual.
Di kamar Hana.
Ia langsung menuju kamar mandi, ia memuntahkan makanan yang baru saja ia makan tadi. Ia pun sekalian memenuhi baktubhnya dengar air hangat. Berendam adalah cara yang ampuh untuk relaksasi pikirnya.
Sambil berendam Hana memasukkan cairan sabun yang memiliki wewangian yang lembut. Ia mulai mengelus-elus perutnya.
“Ternyata ada dua nyawa yang ada di perut ini, tenang nak mama akan merawat kalian dengan baik, dan mama tidak sabar untuk bertemu kalian,”
Hana berbicara dengan penuh suka cita. Meskipun ia sesungguhnya agak sedikit ragu. Karena, ia masih belum tahu cara untuk memberi tahukan keadaan ini pada kakaknya, Andrea.
Hallo readers yang baik hati dan tidak sombong...
Beri dukungan terus ya...vote, like dan komentarnya....
Klik tanda love untuk masukkan HANA ke daftar favorit kalian, gomawo ^_^