Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 3: Kematian




Pagi jatuh lagi di kota ini, kota yang lambat bertumbuh. Akan tetapi, kehidupan manusi berjalan begitu cepat. Hidup manusia dan perkembangan kota kadang tidak seimbang. Kota sering memperlambat perjalanan tumbuh manusia. Atau di sisi berbeda manusia sering memperlambat pertumbuhan kota.


Terlihat Hana sedang melihat keadaan kota dari jendela apartemen, dengan susu hangat ditangannya. Menatap sisa hujan semalam perlahan hilang dijalanan kota. Hiruk pikuk bunyi kendaraan mulai memecahkan keheningan pagi. Ditrotoar terlihat beberapa orang pergi bekerja, selebihnya ada yang hanya sekedar berjalan-jalan pagi. Beberapa remaja dan orang dewasa muda terlihat menunggu angkutan. Mereka mungkin ingin kesekolah, ke kampus, atau entah kemana. Hal yang pasti dari suasana itu, mereka semuanya terlihat terburu-buru.


Hari itu berlalu, namun rasa sedih dan kecewa tidak berlalu.


“Hoaaaam...” Daisy menguap memecah kehingan dikamar apartemen itu.


“Morning.” Hana melangkah ke dapur dan mengambil susu dan roti untuk Daisy.


“Morning to Hanhan,” ucap Daisy sambil mengucek matanya.


“Sarapan dulu Isy, dan bersiaplah kita akan segera ke bandara.” sambil menaruh roti dan susu dimeja.


“Siap Nona Hana.” sambil bangun dari tempat tidur dan langsung kemeja makan.


Hana hanya bisa menggelengkan kepala terhadap teman yang baru ia temui itu. Iapun juga bersiap-siap mengemas barang yang tersisa dan tidak sabar untuk pulang ke rumahnya. Semakin lama di kota ini hanya akan membut luka hatinya semakin menganga.


*


*


“Daisy, apakah kamu serius untuk menemaniku kembali,” tanya Hana


“Tentu saja, aku senang bisa menemanimu.” sambil memberikan sebuah syal untuk Hana.


Hana hanya tersenyum, meskipun hatinya masih sakit. Namun dia masih enggan untuk jujur terhadap Daisy.


“Han, apapun yang terjadi, seterpuruk apapun kamu, aku akan tetap disisimu,” ucap Daisy.


“Aku sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik kamu.” Hana mengambil tangan Daisy dan mengenggamnya.


Penerbangan ke Kota H sudah tiba, dua wanita muda itu bergegas melakukan boarding. Bagaikan dua insan yang sudah lama bertemu, mereka saling bergandengan tangan dengan erat.


*


*


*


Sambil mengehela nafas panjang, Hana melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Nampak supirnya sudah menunggunya diparkiran.


“Mari nona saya bawakan barangnya.” sambil mengambil tas majikannya.


“Hallo Mang, apa kabar? Ini kenalin teman saya Daisy.” Sambil memperkenalan Daisy.


“Baik non,” ucap Mang Anto supir yang sudah lama mengabdi kepada keluarga Pramudya.


“Halo non Daisy, kenalin saya Mang Anto, kalo non mau kemana tinggal bilang sama saya.” sembari Mang Anto memasukan barang-barang majikannya ke dalam bagasi.


“Wah siap mang, dengan senang hati saya akan meminta Mang Anto menghantarkan saya keliling Kota H, hahahaha,” sahut Daisy.


Mobil Pajero Sport hitam itu meluncur meninggalkan bandara. Melewati gedung-gedung tinggi dan hiruk pikuk ramainya aktifitas orang-orang.


Setelah beberapa jam sampailah mobil itu, disebuah perumahan dikawasan elite Kota H. Mobil itu berhenti di post satpam untu melapor bahwa mereka tinggal dikawasan itu.


Tak lama kemudian mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah dengan cat putih dan jendela-jendela besarnya. Taman bunga beserta gazebo terpapar nyata menambah indahnya halaman rumah itu.


“Han, rumah ini indah sekali,” ucap Daisy yang masih memperhatikan sekitarnya.


“Rumah indah, tapi penghuninnya ntah kemana.” Hana menghela nafas panjang dan melangkahkan kakinya ke pintu utama.


Daisypun mengikuti Hana dan masih mengagumi rumah itu. Rumah itu membuatnya rindu akan rumah. Terlihat seorang wanita paruh bayah yang datang menghampiri.


“Nona Hana, apa kabar?” Ucap Bi Sukma pembantu sekaligus pengasuh anak keluarga Pramudya.


“Baik bi, ini kenalin temen Hana bi, namanya Daisy dan tolong masakan sesuatu yang enak buat dia ya bi.” Hanapun berkata sambil menarik tangan Daisy yang masih bengong melihat kemewahan rumahnya.


Saat tiba di kamar Hana, Daisypun lebih kagum. Polesan dinding dengan warna pastel. Buku-buku novel tertata rapi di raknya. Ruang khusus untuk bermain game. Dan semua yang ada diruangan itutertata dengan indah.


Daisy sedikit iri dan tertawa kecut karena selama ini dia tidak bisa memiliki semua ini.


“Ahh, sial aku sedikit iri dengan kamar ini, dulu ibu tidak pernah mengizinkan aku untuk membeli peralatan-peralatan yang lengkap.” batinya.


Tiba-tiba mata Daisy tertuju pada beberapa pigura foto yang tertata rapi menghiasi tembok indah itu. Sambil melangkah mendekati karena penasaran.


“Han, ini siapa?” Daisy berkata sambil menunjuk foto itu.


Seperti orang kesetanan Hana mengambil semua pigura foto itu dan melemparnya ke lantai.


“Daisy tolong keluar dari kamarku, aku butuh ruang untuk sendiri,” ucap Hana


Daisy hanya mengangguk dan meninggalkan Hana sendiri dikamar. Ia tahu bahwa Hana masih butuh ruang sendiri, ia belum bisa membuka diri untuknya.


Sayang seribu sayang, rasa sakit sudah terlalu dalam menanam diri pada tubuh yang mulai terlihat semakin kurus itu. Perasaan yang terus ditahan itu mengumpulkan kekuatan menjadi satu gumpalan racun yang mengerikan. Menumpuk, menggunung hingga memburai menikam jantung. Akal sehat sudah hampir tidak bermain dalam dirinya. Ia benar-benar lepas kendali. Emosi memberontak kian tidak terbendung. Semua meluap semakin mengerikan.


Ia menjadi seperti sapi gila; mengamuk dan menyapu semua sisa pigura foto dan apapun yang dapat ia gapai. Lihatlah, kamar yang tadinya indah itu berantakan bagaikan kapal yang disapu ombak. Beberapa kaca pigura foto dan buku- buku berseralan dilantai. Sebagian masih tertelungkup di meja. Ia mengambil satu pigura foto. Kaca pigura foto yang ditangannya itu hancur. Dan terlihat ada foto seseorang lelaki memeluk mesra seorang perempuan. Foto itu entah bagaimana caranya ikut robek, memisahkan sepasang tokoh yang ada dalam bingkainya.


Ia mengambil foto itu. “Kamu!” ucapnya penuh emosi. Gigi-giginya saling menggigit, semakin rapat. Tubuhnya masih gemeteran menahan emosi mengingat kejadian saat hujan itu.


Ia terus berusaha menahan diri. Mencoba menguasai luapan emosi dalam dirinya. Namun semakin ia menahan, semakin ia benci dengan apa yang kini ia dapatkan. Rasa benci itu kian menggunung. Menimbulkan rasa sesak yang perlahan semakin menyakitkan. Rasa sakit yang sungguh tidak dapat ia tahan. Ia sedang kecewa. Rasa kecewa itu lahir karena sebuah penghianatan.


Perasaan cinta yang dalam terhadap seseorang, menghempaskannya hampir di bagian terdalam jurang. Ia ingin menyesal atas segala yang ia lakukan dimasa lampau. Semua kepelikan perasaan itu menumpuk menjadi satu, bercampur aduk menjadi tetesan-tetesan bening yang mengaliri pipinya. Hatinya sakit. Jiwa itu rapuh. Lelaki yang ia cintai tidak lagi menjaga apa yang ia titipkan. Tidak lagi memeluk hati yang ia dekapkan. Lelaki itu mengepingkan harapannya. Mencampakkan impiannya.


“Kamu pernah mikir nggak sih, gimana susahnya menjaga hati, menaruh kepercayaan yang penuh dengan seseorang lalu dihianati? Arrrght!! Ia mengepal jemarinya, semakin keras.


“Kamu memang benar-benar lelaki biadab!” Ia merobek foto yang sudah terbagi dua itu. Kertas bergambar dua orang berpelukan itu pun terbagi menjadi semakin banyak. Menjadikan sobekan kecil yang bertebaran.


Emosinya masih belum reda.


Ia pun bangun dari sudut ruangan itu. Direbahkan tubuhnya di atas kasur. Ingatan tentang lelaki itu masih saja membuat dada sesak. Ia masih tak habis pikir apa yang membuat lelaki itu tega membohonginnya. Jelas-jelas sudah beristri tapi masih berani menyatakan cinta pada wanita diluar sana. Bukankah cinta yang ia berikan pada lelaki itu selama ini adalah cintak terbaik yang ia miliki? Perasaan yang ia curahkan adalah perasaan paling indah yang ia punya. Semua kesungguhan dengan sungguh ia tunjukkan. Lalu mengapa ia sangat tega terhadap dirinya.


Ia pun mengelus perutnya.


“Lalu apa yang harus kulakukan pada janin ini, apa yang harus kukatakan pada keluargaku?” ucapnya.


Dadanya semakin sesak oleh emosi yang semakin tak terkendali. Air matanya terus mengaliri lekuk pipi. Ada ribuan ketidakpercayaan yang menggambar di sana. Pertanyaan yang sampai saat ini masih menyiksa dadanya. Kenapa kamu lakukan itu padaku? Ia masih belum bisa mempercayai kenyataan; lelaki itu membohonginya dan menghianati cintanya.


Tubuhnya lelah, hatinya patah. Wajahnya yang biasanya teduh, kini membiaskan gerimis-gerimis kesedihan. Ia pun bangun dan melangkahkan kakinya menuju keruangan gamenya. Dimana ia dulu sering menghabiskan waktu untuk berguaru dengan lelaki itu. Sering bermain bersama dan mengirim pesan lewat fitur pesan digame online itu.


Dengan sisa tenaganya, ia menghidupakn komputer itu. Dan tak beberapa lama, ia menghapus game online itu.


“Seandainya aku tidak pernah memainkan game ini, aku yakin nasibku tidak akan seburuk ini, sial!!” Hana bergumam dan kembali bersandar disofa favoritnya.


*


*


*


Tringg..tringg..tringgg


Terdengar suara telepon diruang tengah keluarga Pramudya. Daisy yang kebetulan lewat sana lalu mengangkat telepon itu.


“Halo, selamat malam, kami dari kepolisian Kota H, apakah ini betul kediaman keluarga Pramudya?” tanya seorang polisi dengan nada yang serius.


“Halo, selamat malam, betul ini dengan kediaman keluarga Pramudya, ada yang bisa saya bantu pak?” Ucap Daisy.


“Apakah anda bisa ke rumah sakit M untuk memastikan apakah benar jenazah korban kecelakaan pesawat dengan penerbangan menuju kota P adalah keluarga anda. Karena menurut identitas yang kami temukan disekitar lokasi, jenasah ini adalah jenasah Tuan Agung Nugraha Pramudya dan Nyonya Ratu Kirana Pramudya. Terimakasih,” kata polisi


“Baik pak, saya akan segera kesana.” Daisy pun menutup telepon itu. Ia kaget mendengar berita itu, ia bingung bagaimana cara memberi tahu Hana. Karena terakhir perasaan Hana sedang kacau.


Daisy pun segera memberitahukan Bi Sukma dan Mang Ujang. Ia memerintahkan Bi Sukma untuk menelpon keluarga yang lainnya. Sedangka ia menyuruh Mang Ujang untuk menyiapkan mobil.


Ia pun segera berlari menyusuri anak tangga, untuk mencari Hana. Ia mengetok pintu kamar namun tidak ada respon. Syukur pintu itu tidak terkunci. Daisy kaget bukan main kamar yang tadinya terlihat indah dan rapi, kini berantakan seperti habis terkena gempa.


“Han..Han kamu dimana?” tanya Daisy.


Namun tak ada jawabn sedikitpun.


“Han, aku harap kamu tetap tenang, tadi ada seorang polisi yang menghubungi saluran telepon rumahmu, ia mengatakan untuk segera kerumah sakit untuk identifikasi jenazah, polisi mengira itu adalah jenazah dari kedua orang tuamu. Pesawat yang mereka tumpangi mengalamai kecelakaan,” lanjutnya


Bagikan tersambar petir. Hanapun terbangun dari sofa, sontak kaget dengan apa yang dikatakan Daisy. Ia pun berlari menghampiri Daisy, tanpa peduli telapak kakinya terkena pecahan kaca pigura foto.


Dengan muka yang pucat pasi, mata yang sembab. Ia bergegas turun kebawah dan meminta Mang Ujang untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tak henti-hentinya Hana berdoa, berharap itu bukanlah kedua orang tuanya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, tertulis dilayar ponselnya itu ‘Kak Andrea’. Andrea Hanata Pramudya, kakak laki-laki satu-satunya yang dimiliki Hana. Ia pun lalu mengangkat panggilan itu.


“Haloo, Hana tunggu kakak, kakak sudah mengambil penerbangan untuk ke Kota H,”


“Hiks, iya kak, Hana berharap bahwa ini bukan mama dan papa,” ucapnya.


“Hana, apapun yang terjadi kita harus tabah.” Andrea berkata memberikan semngat untuk adik tercitanya, meskipun hatinya juga sangat sedih.


Daisy hanya bisa memeluk Hana. Ia menyaksikan semua penderitaan Hana. Bingung bercampur sedih itulah yang dirasakanya sekarang.


*


*


Hana pun berlari menuju kamar jenazah. Terlihat ada dua orang polisi yang sedang berjaga disana. Dan beberapa keluarga korban lainnya.


“Maaf pak, saya Hana putri dari keluarga Pramudya, dimana saya bisa melihat dua jenazah itu?” Hana bertanya sambil menyeka air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.


“Mari saya antar nona,” ucap polisi itu.


Saat melihat jenazah itu, kaki Hana serasa mati. Ia pun hampir jatuh terkulai lemas. Untung saja Daisy dengan sigap menahannya. Hana sadar bahwa itu adalah kedua orang tuannya. Ia hafal betul dengan kalung yang digunakan jenazah wanita itu adalah kalung kesayangan mamanya. Dan jam tangan yang dipakai oleh jenazah pria itu adalah jam tangan yang ia berikan saat ulang tahun papanya.


Hana tak bisa mengeluarkan satu patah katapun. Ia hanya bisa menangis sekencang kencangnya. Belum habis patah hati yang dialaminya. Sekarang orang tua yang sangat ia cintai meninggalkan dia untuk selamanya.


“Han, aku tahu ini berat untukmu, tapi kamu harus mengiklaskan kepergian mereka.” Daisy berkata sambil memeluk dan menepuk-nepuk pundak temannya itu.


Hana tetap diam dan masih larut dalam kesedihannya. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dewasa menghampiri mereka berdua. Lelaki itu adalah Andrea kakak laki-laki Hana.


Hana yang melihat kakaknya, langsung bangun dan memeluknya. Air matanya terus mengalir. Andrea memeluk erat adiknya sambil mengusap kepalanya.


“Sudah Hana, jangan menangis lagi, kita iklaskan saja semua ini, kamu tunggulah disini sebentar, kakak akan mengurusi jenazah mama dan papa, agar secepatnya kita bisa mengkremasi mereka.” Melepaskan pelukan dan pergi kebagian administrasi.


Hana benar-benar sangat terpukul. Saat Daisy tengah membelikan minuman. Hana lalu lari menuju balkon rumah sakit. Ia menangis dan berteriak.


“Tuhan mengapa kau tega memperkainkan aku seperti ini, tak habis-habisnya kau membuatku mengalami kehilangan!!” Sambil naik ke ujung pagar balkon.


Pikiranya benar-benar kalut, akalnya sudah tidak bisa ia gunakan lagi. Ia melihat ke bawah dan yang terlihat hanyalah jalan rumah sakit.


“Pa, Ma tunggu Hana, aku akan menyusul kalian,” batinya.


Hallo readers yang baik hati, jangan lupa vote, like dan komentarnya ya. Janga lupa klik tanda ❤️untuk memasukkan kedafartar favorit kalian, terimakasih ^_^