Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 4: Hening Malam




Malam yang semakin larut, hawa dingin yang semakin mencekam. Raut-raut sedih nampak jelas pada wajah keluarga korban jatuhnya pesawat itu. Mereka datang silih berganti tidak mengenal waktu. Ada yang menangis, ada yang berteriak histeris dan ada pula yang terdiam membisu.


Terlihat seorang wanita muda, yang tengah kebingungan mencari seseorang. Wanita muda itu ialah Daisy. Ia tengah kebingungan mencari Hana. Dia berlari disetiap sudut rumah sakit, namun hasilnya nihil.


“Hana, kamu dimana, telepon tidak diangkat,” batinnya.


Ia pun segera mencari Andrea kakak Hana.


“Maaf kak, apakah Hana bersamamu?” tanya Daisy.


“Hana? bukankah dia bersama denganmu?” Andrea berkata sambil menandatangani berkas untuk memulangkan jenazah orang tuannya.


“Aku tadi hanya pergi sebentar untuk membeli minuman, setelah aku kembali Hana sudah tidak ada, aku sudah menghubungi ponselnya tapi hasilnya nihil.” dengan wajah paniknya dan bibir gemetaran ia berkata seperti itu.


Tiba-tiba suara teriakan orang-orang memecah keheningan malam itu. Mereka berteriak bahwa ada seorang wanita muda tengah berdiri di ujung balkon rumah sakit.


Andrea dan Daisy pun bergegas keluar, mereka takut bahwa wanita yang disebut itu adalah Hana. Kaget bukan main, wajah Andrea memucat setelah melihat bahwa wanita muda itu adalah adik kesayangannya, Hana. Ia pun bergegas menuju balkon rumah sakit dengan menggunakan tangga. Daisy yang panik segera menelpon nomor darurat agar bisa tepat waktu menolong Hana.


*


*


*


Laki-laki itu sudah memperhatikan gerak-gerik wanita yang tengah menangis dan berteriak di atas balkon. Ia yang sedari tadi sedang merokok tiba- tiba kaget dengan teriakan wanita itu.


Lelaki itu adalah Elang kakak laki-laki Hans. Ia baru saja sampai di Kota H untuk membawa adik laki-lakinya, agar mendapat pengobatan terbaik. Ia pun membuang sisa putung rokoknya.


“Hey, apa yang kau lakukan diujung sana, kemarilah.” Elang berkata sambil mencoba mendekati Hana.


Hana yang akalnya sudah hilang tak merespon kata laki-laki itu. Ia tetap berdiam diri diujung balkon. Dan menatap kosong kedepan.


“Betapa berat masalahmu, kau harus kuat. Kau fikir dengan seperti itu bisa menyelesaikan masalahmu?” dengan tetap berjalan mendekati Hana yang kini sudah siap untuk melompat.


Dengan melepas pegangannya pada pagar balkon. Hana merentangkan tangannya, menutup matanya dan siap untuk terjun melompat kebawah.


Dengan sigap Elang berlari dan berhasil memegang tangan Hana.


“Lepaskan,” bentak Hana.


“Wanita gila, apakah dengan cara begini kau merasa lega?” Elang berkata sambil memegang erat satu tangan Hana.


“Kau fikir hanya kau yang punya masalah? Semua orang di dunia ini juga punya,” lanjutnya.


“Kau tidak mengerti masalah apa yang aku alami, aku sudah tidak tahan dengan ketidak adilan tuhan.” Hana berkata sambil menggoncang-goncangkan tangannya.


Andrea yang tiba di atas balkon, segera berlari menghampiri Elang yang tengah mendongak kebawah memegang satu tangan Hana.


“Hana, kembalilah.” dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung Andrea membujuk Hana.


“Aku telah kehilangan kedua orang tua, aku tak akan sanggup jika harus kehilangan saudara satu-satunya yang kumiliki,” lanjutnya.


Hana akhirnya tersadar, akalnya mulai berjalan. Ia sadar bahwa ia masih memiliki sandaran untuk hidup. Dia sayang Andrea dan tidak ingin membuatnya bersedih.


Namun sayang, tangan Elang terkilir ia tidak bisa menahannya lagi. Andrea yang coba membantu kehilangan kesempatan. Hana akhirnya terjun bebas dari atas balkon.


“Hanaaa......” Andrea berteriak menyaksikan adik kesayangannya terjun bebas kebawah.


Tim darurat itu langsung membentangkan kasur balon empuk, agar saat terjatuh Hana tidak terluka.


Saat terjun bebas Hana hanya bisa menangis pilu dan berdoa agar dia bisa diberikan kesempatan untuk hidup dan memulai semua dengan hal baru. Dia memejamkan matanya dan memegang perutnya yang berisi janin itu.


Plup....


Hana terjatuh tepat dikasur balon itu. Daisy segera berlari begitu juga dengan tim medis. Hanapun kembali membuka matanya, ia sadar tuhan masih memberinya kesempatan untuk memulai hidup yang baru.


Tim medis segera membawa Hana masuk kedalam IGD. Mereka memeriksa apakah ada benturan yang terjadi.


“Syukurlah, ia tidak apa-apa, mungkin hanya mengalami depresi berat dan kelelahan, dan janin dalam perutnya sangat kuat, saya akan memberikan resep vitamin,” kata seorang dokter.


“Daisy kau harus menyembunyikan kehamilanku pada Kak Andrea, aku tidak ingin menambah beban padanya,” ucap Hana.


“Tentu Han, tapi sampai kapan kau akan menyembunyikannya, perutmu itu makin lama makin membesar.” Daisy berkata sambil memberikan Hana segelas air putih.


Hana hanya terdiam lemas. Tiba-tiba Andrea menghampiri Hana. Ia bersyukur masih bisa melihat adik kesayangnya ini. Ia memeluk dan mengusap kepala adiknya itu. Dan berjanji akan menjaganya selalu.


“Kak, maafkan Hana, aku selalu merepotkan kaka dengan hal-hal bodoh yang aku lakukan.” Hana berkata sembari memeluk kakaknya itu.


“Tidak, Hana kakak lah yang harus minta maaf padamu, kakak jarang bisa menemanimu, namun sekarang kakak berjanji akan selalu menjagamu,” ucap Andrea.


Kedua saudara itu saling menangis, berpelukan dan memberi semangat satu sama lain. Mereka mencoba untuk membangun pertahanan diri.


Di ujung pintu nampak Elang yang memperhatikan adik kakak itu. Ia teringat akan adik laki-lakinya Hans yang masih koma dan ntah kapan ia akan bangun kembali. Lalu ia pergi menjauh meninggalkan kakak adik tersebut dan kembali keruang ICU untuk melihat adiknya. Berharap ada secercah harapan untuknya.


*


*


*


Di Rumah Kediaman Keluarga Pramudya orang-orang dengan pakaian hitam pekat silih berganti berdatangan. Dari sanak keluarga, teman, maupun tetangga sekitar. Mereka memberi ucapan turut berbelasungkawa kepada Hana dan Andrea.


Prosesi pemakaman dilakukan disebuah Rumah Kremasi di Kota H. Selang beberapa lama, prosesi kremasi kedua orang tua merekapun selesai. Mereka lalu menyimpan abu kedua orang tua mereka disebuah lemari kaca besar yang megah dimana banyak abu jenazah lainnya.


Ia memilih lemari kaca dengan ukiran yang indah, menempatkan abu jenazah kedua orang tuannya. Tidak lupa ia meletakkan foto keluarga mereka. Dan benda-benda kesayangan orang tuannya.


“Pa, Ma selamat jalan, beristirahatlah kalian dengan tenang, kelak dikehidupan berikutnya aku ingin menjadi anak lelaki kalian kembali.” Andrea berkata sambil mengelus lemari kaca bening itu.


“Pa, Ma maafkan Hana, karena belum bisa menjadi putri yang baik buat kalian, kelak dikehidupan berikutnya aku ingin tetap menjadi putri kalian kembali.” dengan isak tangis dipelukan kakaknya Hana menoleh pigura foto keluarga yang sangat bahagia.


Orang-orang yang hadir di acara itu mulai pergi satu persatu meninggalkan kedua kaka beradik itu. Kini yang tersisa hanya keheningan dan kenangan akan orang tuanya. Hana berbisik didekat abu jenazah orang tuannya.


“Pa, Ma kelak jika Hana merawat mereka, ketauilah bahwa mereka adalah cucu kalian, maafkan Hana,” sambil memegang perutnya Hana berkata dengan lirih dan meninggalkan tempat itu.


*


*


*


“Daisy, aku dilema apakah aku ingin membiarkan mereka terus berkembang atau aku ingin melenyapkan mereka dan menganggap semua ini tidka pernah terjadi.” dengan tangan memegang perutnya dan tangan satunya memegang tangan Daisy sambil menyusuri jalan menuju parkiran tempat kremasi itu.


Daisy hanya terdiam, ia tahu bahwa bukan saatnya ia menceramahi Hana. Ia masih penasaran siapa ayah dari janin itu. Ia hanya menatap dan tersenyum simpul kepada Hana. Memegang erat tangan temanya itu.


Hallo readers yang baik hati. Jika kalian suka silahkan vote, like dan komentarnya ya. Jangan lupa klik tanda ❤️untuk memasukkan kedaftar favorit kalian, terimakasih ^_^