Hana's Love Story

Hana's Love Story
Chapter 2: Late




“Siapa yang kau sebut suami??” bentak laki-laki dewasa itu.


“Bukankah, aku sudah bilang Hans bahwa aku ingin rujuk kembali denganmu,” sahut wanita itu


Nama laki-laki itu adalah Hans Pranata Agustama. Ia adalah laki-laki yang tengah menjalin hubungan dengan Hana. Saat itu mantan istrinya mengajak bertemu untuk rujuk kembali. Sialnya pada saat itu Hana melihat ini semua dan salah paham.


Hans meninggalkan mantan istrinya itu. Ia mencoba berlari mengejar Hana. Menyusuri setiap sudut jalan di kota besar itu. Derasnya hujan tak menjadi halanggan baginya, ia pun terus menerobosnya.


Namun sayang, ia tak dapat menemukan wanita yang dikasihinya itu. Ia terus bergumam dan berteriak menyebut nama Hana.


“Han ... Hana...” sambil terus berlari.


Perasaannya sangat kalut, ia benar-benar tidak ingin kehilangan Hana. Ia sangat mencintai Hana. Semenjak mengenalnya ia bisa bangkit dari keterpurukan dan trauma beratnya terhadap cinta.


Ditengah pilunya ia mencari Hana. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam melaju sangat cepat. Hans yang hanya fokus mencari Hana tidak menyadari mobil itu.


Brakkk!!!!


Mobil itu menghantam Hans, yang membuatnya terpental jauh. Jalanan yang semula basah karena hujan, berubah warna menjadi merah oleh darah Hans.


Semua orang berlari dan mengerumuni tempat kecelakaan itu. Terlihat dikerumunan itu ada yang hanya menonton, berteriak histeris dan ada yang pula yang mencoba menelpon ambulan. Polisi lalu lintas pun juga sibuk mengamankan tempat itu.


.


.


.


Nguing! Nguing! Nguing


Sirene ambulan berdengung kencang sejalan dengann lajunya. Menerobos ramainya jalan ibu kota dan derasnya hujan.


Sesampainnya di rumah sakit, perawat dan dokter dengan cepat membawa Hans ke IGD. Ntah berapa banyak ia kehiangan banyak darah. Semua tenaga medis sudah berusaha semampu mereka untuk menyelamatkan Hans.


.


.


.


Titt..tit..titt...


terdengar bunyi denyut jantung Hans. Ia terbaring dan mengalami koma setelah menjalani operasi dadakan karena kecelakaan yang ia alami.


Terlihat ada seorang wanita tua bersama suaminya. Yang saling berpelukan dan menatap lirih dari luar kaca kamar tempat Hans dirawat. Yah, mereka adalah orang tua Hans.


“Sungguh malang nasib Hans, pa.” seru wanita tua itu sambil menangis dipelukan suaminya.


“Tenang ma, ini semua sudah takdir, kita hanya bisa berdoa dan berharap ada keajaiban untuk Hans kita” sambil mendekap erat istrinya


Tiba-tiba datanglah seorang wanita menghampiri pasangan tua itu. Wanita itu adalah mantan istri Hans, Sara. Belum sempat ia berbicara, mantan ibu mertuanya mengusirnya dari sana.


“Untuk apa kau datang kemari, Sara.” seru wanita tua itu


“Ma, aku hanya ingin melihat keadaan Hans,”


“Seandainya kamu tidak datang ke kota ini dan bertemu dengan putraku, kejadian ini tidak akan terjadi.” dengan penuh amarah wanita tua itu membentak mantan menantunya itu.


“Ituuu...ituu bukan salahku, ma!!” sahutnya.


Ayah Hans pun datang dan mencoba menengahi kedua wanita itu.


“Sara, sebaiknya kau pulang saja. Emosi ibu mertuamu sedang buruk,”


“Baiklah pa, saya akan pergi!!”


Sara pun pergi meninggalkan kedua mantan mertuanya itu dengan gusar.


Di sisi lain, terlihat dua wanita muda yaitu Hana dan Daisy yang sedang menuju parkiran rumah sakit.


“Han, sungguh malang kedua orang tua itu” kata Daisy.


“Memangnya kenapa???” sahut Hana.


“Tadi sewaktu aku mengurus administrasimu, ada keributan. Ada korban kecelakaan, aku pikir itu sangat parah, karena baju yang dikenainnya basah oleh hujan dan darah. Dan mereka adalah orang tua dari pasien itu,” Balas Daisy.


Ntah mengapa hati Hana terasa sesak dan sakit, seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Ia memegang dadanya sambil berkata


“Semoga, orang tua itu diberikan ketabahan menghadapi semua ini”.


Saat menoleh orang tua itu, tak sengaja Hana dan pasangan itu saling tatap. Hana hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Lalu pergi meninggalkan pasangan tua itu.


“Pa, ntah mengapa aku merasa ada yang berbeda terhadap gadis itu.” kata Ibu Hans sambil menunjuk Hana.


“Kau hanya kelelahan sayang, mungkin saja kau merindukan sosok anak perempuan,” sahut suaminya.


“Ntahlah aku rasa kelak kita akan bertemu dengannya lagi,” sambil meletakkan kepala didada suaminya.


“Sebaiknya kau pulang dan beristirahatlah, biar aku yang menjaga Hans” sambil mengelus kepala istrinya.


Dari kejauhan terlihat pria dewasa yang berlari panik menghampiri kedua pasangan tua itu. Ia adalah putra tertua mereka, kakak laki-laki Hans satu-satunya. Ia bernama Elang Prawira Agustama.


“Pa, Ma bagaimana keadaan Hans??” tanya lelaki itu.


“Dia mengalami koma, ntah kapan dia akan bangun, tidak ada yang bisa memastikan kita hanya bisa berdo dan berharap ada keajaiban.” sahut papanya.


“Apa yang sebenarnya terjadi, aku sangat kaget saat Sara menelponku, dia hanya berkata Hans mengejar seorang wanita dan tiba-tiba mengalamai kecelakaan,” sahut Elang sambil meremas kedua tangannya karena cemas.


“Sudahlah Elang, tak usah kau gubris perkataam Sara, seandainya saja ia tidak kembali ke kota ini dan bertemu dengan Hans, semua ini tidak akan pernah terjadi,” jawab Mamanya dengan kesal.


“Sebaiknya, kalian berdua pulang saja, biar aku yang menjaga Hans, semua pekerjaanku sudah kuserahkan kepada sekretarisku, aku akan menunggu Hans sampai dia sadar.” Kata Elang memastikan kedua orang tuannya.


“Tuan, nyonya saya supir tuan Elang, mari saya hantarkan kalian pulang” kata seorang pria paruh baya.


Akhirnya atas bujukan putra pertama mereka, pasangan tua itu pun akhirnya bersedia untuk pulang.


Elang lalu menuju kesebuah ruangan untuk bertemu dokter. Ia ingin menanyakan tentang keadaaan adik kesayangannya itu.


“Permisi dok,” sambil membuka pintu ruangan itu.


“Silahkan duduk.” kata dokter itu dengan ramah.


“Begini dok, saya ingin menanyakan tentang keadaan Hans, adik saya.”


“Sebelumnya saya tidak ingin membuat orang tuamu khawatir, jadi sebenarnya keadaan Hans sangat kritis, ia mengalami pendarahan di otak kecilnya, dan ada beberapa syaraf yang rusak, saya takut itu akan mempengaruhi beberapa fungsi tubuhnya, terlebih lagi kemungkinan dia akan mengalami amnesia,” kata dokter serius.


“Saya ingin yang terbaik untuknya, saya akan membawanya kerumah sakit besar lainnya dengan alat yang canggih, apakah dokter bisa mengurusnya??”


“Baiklah jika kondisi vitalnya sedikit membaik, kita akan segera mengurus perpindahanya kerumah sakit lain,” jawab dokter itu.


“Baiklah dok, saya harap dokter tetap merahasiakan ini kepada orang tua saya. Saya tidak ingin mereka beban diusia mereka yang sudah tua”


“Tentu tuan,” sambil menaruh kembali resume pasien.


“Kalau begitu, saya permisi dulu dok, terimakasih.” sambil bangun dan meninggalkan ruangan itu.


Elang pun duduk dan mulai berpikir.


“Siapa, wanita yang disebutkan oleh Sara tadi?, Mengapa Hans sampai mengejarnya??, sebaiknya aku menelpon kembali Sara besok tanpa sepengetahuan mama.


Ntah karena kelelahan dari penerbangannya kembali ke Kota T dan pikiran yang kalut atas kejadian yang menimpa Hans. Elang pun tertidur disudut kursi penunggu pasien itu.


\~\~\~\~


Halo readers yang baik hati, bantu vote, like dan komentar ya. Jangan lupa klik tanda ❤️untuk memasukkan kedaftar favorit kalian