
''Rendy kok saya perhatikan kamu ini banyak diam dan seperti tak bergairah begitu, kenapa Ren ?'' tanya Yura si setan cantik dia kini duduk dekat Rendy
Rendy sempat menatap Yura sekilas lalu kembali menatap luar jendela, mungkin menghirup udara segar.
''Aku sedang galau Yura.'' celetuk Rendy memberitahu.
''Ga-galau, galau itu apa Ren ?'' tanya balik Yura dia tidak tahu artinya. Itu kan kata-kata anak gaul.
''Kamu gak tahu juga?''
''Enggak.'' balasnya menggeleng
''Ya galau itu semacam sedih gitu Yura, ''
''Jadi kamu sedang sedih?''
''Hm iya aku sedih Yura.'' menunjukkan ekspresi sedih.
''Sedih nya kenapa kamu? Gak dapet uang jajan kah?'' tebak Yura sangat jauh dari kenyataan.
''Hah, bukan karena itu.'' Rendy sedikit terhibur ketika mendengar tebakan Yura.
''Oh lalu karena apa? Di marahi Mama mu?''
''Gak juga Yura, aku sedih itu karena si Alya mau menikah dengan tuh si bajingan brengsek Rama.'' pekik Rendy dia marah
Yura langsung mendekap mulutnya dengan tangan ''Hah ... Apa, mau menikah? mereka?'' tuh Yura setan saja dia nampak shock apalagi Rendy.
'Hm dia mau nikah,''
''Kamu pasti sangat sakit hati mu ya kan, tenang-tenang!'' Yura menepuk-nepuk dada Rendy seolah menepuk hati pria itu.
''Yura?''
''Ya!'' mereka saling tatap
''Boleh aku punya pinjam bahu mu gak ?'' pinta Rendy tiba-tiba
''Ohh bo-boleh.'' Yura mengangguk
Lalu Rendy menggeser tubuhnya hingga kini dia lebih dekat pada Yura.
Kemudian ia menyenderkan kepalanya di bahu Yura tak hanya kepalanya saja yang bergerak, tapi kini tiba-tiba tangan nya dia bergerak sampai sekarang memeluk pinggang Yura.
''Yura, gue lagi sakit hati banget Yura! Gue sakit mereka tega sekali kan Yura !'' menatap Yura yang sedari tadi dag-dig-dug karena tangan Rendy memeluknya terlalu erat.
''Yura kenapa diam, mereka jahat kan Yura? Sangat tega banget tuh orang, sialan emang!''
''Huhuhu ... Yura ayo hibur aku Yura, aku sedang butuh seseorang untuk menghibur ku dan aku ingin kembali bahagia.''
''Yura, kamu dengar apa tidak sih. Aku sudah banyak bicara ini.'' Rendy menyentak bahu Yura
''Fiuuhh ... Akhirnya Saya bisa bernafas juga.'' ucap Yura dengan helaan nafas.
'Apa sih Yura !''
''Kamu tidak merasa telah membuat saya kesusahan nafas hah?'' balas Yura kini dia melotot pada Rendy
''Apaan, aku gak ngerti.''
''Gak ngerti ya saya ini tadi sesak saat kamu dekap perut saya terlalu kasar dan erat tahu gak?'' kini Yura menyadarkan Rendy
''Ya benar !''
''Ya Sorry kan gak sengaja.'' ucap Rendy
''Tapi Yura , ayo dong hibur aku Yura. Please !'' kini Rendy memeluk lagi pinggang Yura namun kali ini dia tak terlalu erat seperti tadi.
''Bagaimana caranya ?'' bahkan Yura tidak tahu harus apa.
''Ya apa saja lah Yura, asal membuang ku senang lagi.''
''Tapi saya juga bingung, gimana dan harus apa ?''
''Coba kamu ceritakan soal yang lucu gitu Yura, misal saat kamu kecil dulu gitu di hutan kemarin.'' pinta Rendy dan mengusulkan Yura bercerita.
''Saya tak punya kisah waktu kecil Rendy, karena saya sudah hidup langsung seperti ini.''
''Maksudnya kamu tak pernah jadi kecil begitu?'' Rendy shock
''Ya benar, saya tidak pernah menjadi anak kecil, saya hidup langsung begini juga saya tidak akan pernah tua Rendy.'' jelas Yura kembali.
''Apa? Tidak akan tua? Berarti selamanya kamu akan menjaga cantik begini dong, terus bila nantinya kita menikah dan punya anak lalu hubungan kita sudah bertahun tahun lamanya berarti kau tak akan pernah berubah tua, tapi aku nya yang akan kelihatan sudah kakek-kakek dong, lalu nanti banyak pria yang menginginkan mu karena kau masih muda. Ah itu tidak boleh terjadi, kau tak boleh memiliki pria lain lagi.'' tiba-tiba asumsi Rendy sudah berpikir Sangatlah jauh.
Yura bibirnya tersenyum namun dia juga sedih, Yura menepuk-nepuk pundak Rendy, ''Ren. Itu semua tak mungkin terjadi ingat kita ini beda alam, kita tak mungkin bisa hidup selamanya seperti yang kamu angankan barusan, saya akan pergi bila kita telah menikah.'' kembali Yura mengingatkan Rendy bahwa mereka itu tidak akan pernah bersatu.
''Tapi Yura, bagaimana kalau aku menginginkan kamu untuk selamanya Yura. Apa yang harus aku lakukan agar bisa seperti itu.?'' tanya Rendy barangkali ada jalan.
''Saya juga tidak tahu harus apa Rendy, ketua hutan tak mengatakan soal itu. Bahkan mungkin memang tidak akan ada jalan nya untuk kita bersama.''lirih Yura
''Tidak Yura, jangan bersedih. Aku berjanji akan melakukan apapun itu, yang pasti ini kulakukan untuk kita berdua. Aku janji Yura.'' ucap Rendy tulus dan serius.
''Hmm Ren, memangnya kau sudah memiliki cinta pada saya?'' tanya Yura
Awalnya Rendy hanya diam tapi detik kemudian, pria itu mengangguk mantap dan membalas dengan senyuman.
''Beneran?''
''Ya, benar Yura. Aku ... Aku mulai mencintaimu.'' tegas Rendy
''Ahhh sakit, Awww Ahhh Aduhh...'' tiba-tiba Yura memegang tubuhnya dan nampak langsung kesakitan.
Jika cintanya pria itu sudah mulai tumbuh, maka perlahan kau akan merasakan sakit dan lambat-laun kau akan menghilang Yura.!!
'Ketua, bolehkan saya meminta untuk hidup lebih lama lagi dengan manusia ini??'
'Tidak bisa Yura! Dan jangan pernah sekalipun kau memohon hanya demi seorang manusia.'
'Tapi ketua, sepertinya pemuda ini sangat tulus terhadap saya. Saya mohon.'
'Yura Stop,! Saya bilang jangan pernah memohon untuk seorang manusia.'
'Kenapa?'
'Karena bila kau memohon, maka kekuatan mu perlahan akan melemah. Dan kau akan rendah Yura akan hal itu.'
'Tapi, ketua ... ketua .'
'Berhenti, jangan berdebat!'
Rendy pun jelas kaget dan panik saat Yura kesakitan di tubuhnya ini secara tiba-tiba.