Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.8



The Red Umbrella (Nicholas Geoff)


.


.


Nicholas tidak berharap apapun pada senin yang selalu membosankan ini. Pekerjaan Nicholas agak banyak karena kantor di tinggal kakaknya ke luar kota.


Kakaknya Chris adalah arsitek handal -sedang dia hanya pengelola perusahaan yang Chris bangun ini- sedang berusaha sabar menghadapi pertanyaan calon klien-klien mereka. Nicholas mungkin tidak handal seperti kakaknya dalam hal-hal teknis. Tapi sedikit banyak dia mengerti teori.


Dan terima kasih pada kemampuan bicara dan senyum diplomatiknya. Semua pekerjaannya berjalan lancar hari ini. Dia bisa pulang dengan tenang.


Nicholas memarkirkan mobil SUV nya di area parkir kafe, tempat dimana dia berlindung dari hujan jumat malam kemarin. Hujan turun lagi, mengundang Nicholas untuk menghirup kopi panas. Rasanya Latte pasti sangat nikmat.


Nicholas masuk kedalam dan memesan minuman, sebelum mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Mencari tempat yang nyaman untuk bersantai, saat matanya menangkap rambut berwarna merah muda.


Benar saja, dokter merah muda yang berbagi payung dengannya minggu kemarin itu. Nicholas menghampirinya dengan sedikit ragu. Tapi akhirnya berhasil mencapai meja itu.


"Ternyata memang benar anda, dokter merah muda.” Nicholas harap sapaannya tidak separah itu. Tapi dia tetap menerbitkan senyuman. Wanita itu memandang Nicholas sejenak sebelum tersenyum lebar menampilkan deretan gigi nya yang rapi.


“Ah ...Tuan gentleman yang kemarin.” Nicholas memutar mata mendengar kata gentleman. Entah kenapa dia merasa geli.


“Saya lebih suka dipanggil Nicholas sebenarnya.” Nicholas mengatakan itu masih berdiri di sampingnya.


“Saya juga lebih suka di panggil Monika.”


ini perkenalan yang cukup unik.


“Baiklah ,jadi apa anda sedang menunggu seseorang?” Nicholas sedikit berbasa-basi.


“Tidak , saya menunggu hujan reda," jawab Monika yang masih tersenyum.


“Keberatan jika saya mentraktir secangkir kopi dan mengobrol ?” Nicholas tidak tahu kenapa dia bertanya begitu. Tapi dia sudah tidak bisa menarik kata-katanya lagi.


“Kita bisa mengobrol, tentu saja. Anda tidak perlu mentraktir kopi hanya untuk mengobrol.” Jawaban Monika entah kenapa membuat keraguan Nicholas hilang. Nicholas tersenyum mendengar dan menarik kursi di sebrang monika. Dan duduk dengan santai


“Tentu saja harus, saya berhutang secangkir kopi pada anda,” ucap George, senyum belum hilang dari wajahnya.


“Saya tidak ingat kita pernah membahas ini sebelum nya.”


“Memang tidak, saya berhutang pada diri sendiri. Di detik-detik saat anda memotong tali pusar seorang bayi." Nicholas tertawa pelan diakhir ucapannya.


Monika juga tertawa dengan suara paling renyah dan merdu terdengar di telinga George. Apa adanya. Bahunya bergetar seiring tawanya.


“Sudah pesan sesuatu ?” Nicholas bertanya pada Monika yang masih tersenyum cantik sambil menahan tawa. Rona merah tergambar bagai bias pelangi di guratan pipi nya yang putih.


"Saya sudah memesan kopi saya. Tapi saya berpikir memesan sepotong kue tart coklat." Monika tidak berusaha jual mahal dengan menolak apa yang Nicholas tawarkan.


"Tentu saja. Biar saya yang bayar." Nicholas membual dengan memperlihatkan dompetnya.


"Anda ingin sekalian saya pesankan juga?" tanga Monika basa-basi.


"Tidak usah. Terima kasih," jawab Nicholas cepat.


"Biar saya tebak, anda pasti benci manis.” Monika menyipitkan matanya yang tidak cukup besar itu. Membuat Nicholas sulit tidak tersenyum geli.


“Tebakan anda salah," jawab George, masih berusaha untuk menahan tawa.


“Gula membuat kita bersemangat dan hangat," kata Monika mencoba terdengar ceria dengan wajah malu-malunya.


“Saya tidak akan menyangkal itu.” Nicholas bergumam sambil menyesap sedikit kopi.


“Jadi anda kesini untuk menikmati kopi saja?" tanya Monika tidak berhenti bertanya.


“Saya kesini untuk berteduh dari hujan," jawab George. Bohong , tentu saja. Dia sebenarnya membawa mobil.


“Dari sini ada sebuah mini market yang mungkin sudah menjual payung lagi.” Monika memulai membuat Nicholas teringat kenangan mereka. Mereka? Nicholas mendengus pada kata yang terlintas di pikirannya.


“Tidak terima kasih. Terakhir saya kesana saya harus melihat seseorang memotong tali pusar," jawab Nicholas setengah bercanda.


“Anda membahas tali pusar dua kali. Apa itu sangat mengganggu?” tanya Monika lagi.


“Tidak, ada yang lebih mengganggu sebenarnya, dari sekedar tali pusar yang di potong.”


“Benarkah? Apa itu?” Monika ternyata adalah ornag yang mudah dibuat ingin tahu.


“Maaf saya tidak biasa menceritakan rahasia pada orang yang baru saya kenal," jawab Nicholas dengan berbisik.


“Baiklah, saya tidak akan bertanya.” Monika memutar matanya.


“Mungkin benar kata ibu hamil itu. Kita terikat dalam benar merah," kata Nicholas terdengar membual.


“Ya, mungkin bertemu dengan anda membawa kesialan untuk saya.”


“Apa? Terima kasih George, saya sedikit tersinggung sekarang.” Monika menyilangkan tangannya di depan dada.


“Seharusnya anda tidak harus tersinggung. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk wanita cantik. Mungkin itu sedikit ketidaksempurnaan anda," kata Nicholas panjang.


“Apa anda baru saja mengatakan kalau saya cantik?” Monika berusaha melebarkan matanya sekarang dengan cara yang menurut Nicholas lucu.


“Anda tidak suka di sebut cantik?” Nicholas membalas dengan sedikit menggodanya.


“Kenapa lelaki tampan suka membalikan pertanyaan dengan pertanyaan?”


“Jadi saya ini tampan?” Senyum Nicholas sangat lebar sekarang ini.


“Anda harus belajar menjawab pertanyaan dengan benar George."


“Menjawab yang mana? Terlalu banyak pertanyaan yang anda ajukan Monika."


“Jika anda menjawab dengan pertanyaan lagi. Anda akan membuat saya kesal dan tuan, anda tidak akan mau melihat seorang dokter kandungan marah.” Monika masih menyilangkan tangannya, dagunya sedikit terangkat. Sedang sudut matanya mencuri pandang pada George.


“Apa sekarang saya ada di bawah ancaman?” Nicholas masih berusaha menggoda Monika.


“Itu pertanyaan yang lainnya sir.” Dan akhirnya Monika tidak bisa menahan senyumnya lagi.


“Jangan marah, saya harus punya cara untuk membuat anda terkesan.” Nicholas mengetuk meja dengan dari telunjuknya.


“Apa itu penting?” Monika menaikan dagunya lagi. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang terlihat semakin merah.


“Tentu saja penting. Terutama saat ini saya akan membahas tentang ritual penangkal kesialan. Bagaimana menurut anda?” Omong kosong Nicholas terus berlanjut. Dia bahkan tidak tahu lagi bagaimana caranya berhenti.


“Saya tidak menyangka topik ini akan berlanjut.” Monika menaikan sebelah alisnya.


“Tentu saja ini akan terus berlanjut. Jadi kita harus memikirkannya baik-baik.” Nicholas menganggukkan kepalanya dua kali, seakan ini adalah hal yang serius.


“Baiklah, bagaimana caranya kalau begitu.” Monika akhirnya menyerah dan siap mendengar lebih banyak lagi bualan pria itu. Dia sudah menopang dagunya dengan sebelah tangan yang terkepal, menyentuh bibirnya dengan jari tengahnya.


“Ada tiga cara.” Nicholas menatap Monika. Ada kilatan geli yang terlintas di mata Monika yang teduh. Indah.


“Pertama, saya harus mengantar anda pulang dengan mobil saya malam ini," kata Nicholas terdengar percaya diri.


"Anda membawa mobil? anda bilang anda sedang menunggu hujan reda.” Monika sedikit menaikan nada bicaranya.


“Bukan itu topik yang sedang berlangsung sekarang Nona.”


“Baiklah. Lalu?” Monika kembali menegakkan duduknya menunggu apa yang apa yang akan dikatakan Nicholas selanjutnya.


“Kedua kita harus bertukar nomer ponsel.”


“Kenapa?” tanya Monika pura-pura tidak paham.


“Agar kita dapat saling terhubung saat kesialan datang," alasan Nicholas terdengar lemah.


“Anda bilang saya pembawa sial, untuk apa kita saling terhubung?” Monika ingin menyerang Nicholas dengan alasan lemah itu.


“Kesialan membuat kita hidup Nona.”


“Baiklah, dan ketiga.” Monika tidak tahu lagi. Dia hanya akan ikut dalam permainan.


“Yang ketiga, ada baiknya kita bertemu setiap akhir pekan.”


Dan monika tertawa lagi.


“Maaf apa itu ajakan kencan?" tanya Monika terdengar tidak percaya dengan apa yang di dengar.


“Ya sebenarnya.” Nicholas dengan ringan menjawab itu.


“Nicholas kau benar-benar penuh dengan omong kosong.”


“Ya, anda benar. Saya sedang berpikir cara untuk mengisinya.” Nicholas menyunggingkan senyum yang benar-benar senyuman. Bukan senyum diplomatiknya yang biasa.


Monika masih memandang geli Nicholas yang sedang memandangnya serius.


“Anda cantik saat tertawa Nona. Itu isi dari semua omong kosong ini.”


Kilat geli dimata Monika diganti oleh binar yang lain. Pipinya merona cerah,dia meneguk ludah selagi memalingkan mukanya sedikit dan menyesap kopinya. Meski dia menghindar dari tatapan mata Nicholas yang bagai elang itu. Nicholas masih bisa merasakan senyumannya.


...----------------...