Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 2.7



.


Deer Eyes ( Christian Geoff )


.


.


Chris tidak bisa mengontrol debar jantungnya, rasanya semua hal ini membuatnya hilang akal. Chris hanya bisa mendesah di sambil menikmati wajah cantik Vania diatasnya. Gadis itu bergerak konstan, kadang lambat kadang cepat.


Chris memang membiarkan apa yang ingin Vania lakukan pada tubuhnya. Chris tahu, sekali dia mencoba dia tidak mungkin bisa menahan dirinya lagi. Dia sudah sepenuhnya akan menikmati hal ini.


Chris hanya bingung, kenapa Vania menjebaknya dalam permainan ini. Apa yang tujuan Vania? Selama gadis itu bekerja dengannya, tidak pernah sekalipun Chris membayangkan hal yang merek lakukan saat ini akan terjadi. Tidak setelah dinas luar kota mereka yang terakhir kali.


Setelah itu, Chris tidak bisa berbohong dia melihat Vania dengan pandangan yang berbeda. Gadis itu terlihat lebih cantik dan menarik berkali-kali lipat. Dan setelah ini, apa Chris masih bisa menjaga akal sehatnya setiap.bertemu dengan Vania di dalam kantornya?


"Nia ...." Chris berbisik pelan saat Vania bergerak terlalu cepat.


Office suit yang Vania kenakan sangat berantakan, tapi tataan rambutnya masih sama seperti sebelum semuanya di mulai.


Chris menyandarkan tubuh bagian atasnya dan menumpunya dengan kedua tangan. Kancing kemejanya sudah terbuka semua. Tapi dia tidak memperdulikan itu. Ponselnya juga cukup sering berbunyi. Lagi, dia hanya ingin mengabaikan itu. Chris sedang tersihir oleh wanita yang ada di depannya. Oleh mata yang sedikit berair, memandangnya lugu seperti rusa.


Tapi Chris tahu, rusa itu terlihat menikmati dan puas dengan apa yang dia lakukan. Chris bisa merasakan getaran seluruh badan gadis itu. Di luar dan di dalam.


Vania tidak pernah menutup matanya terlalu lama setiap dia berkedip. Dua tangan Vania terulur untuk menyentuh kedua sisi wajah bosnya itu. Vania tersenyum sebelum menempelkan bibir mereka. Chris tidak menolaknya, bagaimana dia bisa.


Sial. Umpat Chris dalam hat saat Vania mendesah di tengah ciuman mereka. Dia menegakkan tubuhnya dan menarik badan Vania lebih mendekat. Mata mereka bertemu lagi. Chris menelusuri setiap jengkal wajah Vania. Dari rona merahnya yang merambat sampai telinga ke mulutnya yang sedikit terbuka.


"Saya sudah. Tidak bisa. Menahannya lagi." Chris berusaha mengatakan itu dengan jelas. Dan dia menyesal mengatakannya saat melihat senyum kemenangan Vania.


Chris juga tersenyum sebelum bergerak juga, membuat Vania sedikit menjerit. Gerakan Chris semakin cepat saat akhirnya dia menggeram di pundak Vania. Baru mengangkat kepalanya saat dia mendengar Vania tertawa kecil.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Chris.


"Tidak, hanya saja ...." Vania menghindari tatapan mata Chris.


"Ya?" bisik Chris parau. Matanya tertuju pada tulung selangka Vania yang terlihat karena kemejanya terbuka.


"Nia tidak tahu, akhirnya bisa melakukannya dengan Pak Chris," ucap Vania pelan.


Chris mengangkat sebelah alisnya sebelum tersenyum miring.


"Jadi kau ingin mengaku kalau kita tidak melakukan apa-apa malam itu?" tanya Chris.


Vania sedikit terkejut menyadari kebodohannya. Dia menggigit bibir bawahnya gugup.


"Itu ...." Vania mencoba berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan Chris.


Chris tidak melepaskan Vania dari tatapan tajamnya. Ada banyak pertanyaan yang ingin Chris tanyakan. Tapi entah kenapa dia memilih untuk menyimpannya sekarang ini.


"Jangan dijawab kalau kamu berniat menjawabnya dengan kebohongan." Chris membuka kemejanya sendiri dan melemparnya ke lantai.


Posisi mereka belum berubah sama sekali. Chris dengan jelas melihat Vania menelan ludahnya saat dia membuka kancing baju gadis itu satu persatu dan meloloskan dari tangan mulusnya. Chris juga melemparnya sembarangan.


"Pak Chris ...." gumam Vania lirih saat tangan Chris sudah ada di pengait branya.


"Kenapa? Kau tidak mau?" tanya Chris parau.


"Bukan ... Hanya saja ...." Vania tidak meneruskan ucapan. Rona merah masih memenuhi wajah cantiknya.


"Oh ... Maksudmu ini?" tanya Chris sedikit menggerakkan pinggulnya.


"Buka sepenuhnya salah ku," ucap Chris lagi.


Vania tertawa pelan sebelum tawanya berubah menjadi suara menggairahkan lagi. Kali ini Chris yang mengambil kendali. Untuk apa yang mereka lakukan saat ini. Untuk apa yang akan terjadi pada mereka nanti.


.


.


Sugar (Yericho Adam)


.


Yericho menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidur. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang nyaman. Dan sibuk dengan ponselnya.


"Daddy mau menginap?" tanya Alexa.


"Kenapa? Kamu ingin saya cepat pulang?" tanya Yericho diselingi senyuman.


"Ih ... mana ada ...." balas Alexa dengan nada manja.


"Ale selalu ingin daddy nginep tahu," katanya lagi.


"Kenapa?" goda Yericho sambil tersenyum miring.


"Eh ... Biar bisa uhuk-uhuk?" jawab Alexa dengan nada tanya yang terdengar malu-malu.


"Apa?" Yericho tertawa mendengar dan melihat itu.


"Ih ... Daddy suka pura-pura tidak paham," cibir Alexa dengan bibir yang mengerucut.


"Apa sih ...." Yericho tertawa lebih keras.


"Ini kenapa saya tidak mau diam disini lama-lama. Banyak setan panas," kata Yericho disela tawanya.


"Setan apa?" Alexa tertawa juga. "Setannya cantik?" tanya Alexa memiringkan wajahnya.


Yericho terdiam sebentar, bibirnya masih tersenyum. Sementara matanya menikmati wajah cantik dan imut Alexa.


"Kalau kamu jelas cantik. Kalau setannya ...." Yericho tiba-tiba menghentikan ucapannya. Membuat Alexa mendekat karena penasaran dengan kata selanjutnya.


"Kamu jangan mau tahu, nanti kamu takut," jawab Yericho masih terdengar jahil.


"Dimana setannya?" tanya Alexa lagi.


"Disini." Yericho menunjuk dirinya sendiri.


"Oh ... Setannya bukan cantik tapi tampan," kata Alexa sambil tersenyum.


Yericho tertawa lagi, tidak lama tawanya berubah menjadi senyuman. Lesung pipinya terlihat jelas saat dia tersenyum.


"Tampan kata kamu?" Yericho berusaha untuk tidak terlalu melayang karena pujian itu.


"Iya ... Apa lagi kalau lagi senyum kayak sekarang," ucap Alexa lagi.


"Oke ... Oke ... Kamu bisa berhenti sekarang," ucap Yericho akhirnya.


Alexa mendekat dan dengan santai duduk dipangkuan Yericho. Membenamkan wajahnya di dada bidang Daddy-nya itu.


"Apa yang menganggu daddy?"


"Apa terlihat jelas?" tanya Yericho penasaran.


"Sangat jelas," jawab Alexa.


Alexa mendongak untuk mencari wajah Yericho lagi. Ekspresi sedih Yericho tertangkap oleh mata Alexa. Sudah gadis itu duga. Ada yang dipikirkan Yericho sejak tadi.


"Saya hanya ingin bertemu anak saya," jawab Yericho santai.


"Anak Daddy?"


"Ya ...." Yericho menunjukan satu di ponselnya. Foto seorang anak laki-laki berusia delapan atau sembilan tahun.


"Namanya Cadee," kata Yericho lagi.


"Kalau begitu, temui dia." Alexa berkata seakan itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan.


"Dia ada di luar negeri," jawab Yericho.


"Lalu?" Alexa mengeratkan pelukannya. "Dia masih bisa dijangkau kan?" tanya Alexa lagi.


"Kau benar, tapi mungkin ibunya tidak ingin saya datang," kata Yericho, ada getar aneh di suaranya.


"Kenapa dengan itu? Apa anak daddy tidak mau bertemu daddy juga?"


"Bukan begitu ...."


"Daddy ... Dia juga mungkin menunggu daddy." Alexa memotong ucapan Yericho.


Yericho diam sambil menatap wajah Alexa. Dia merasakan tangan Alexa yang melingkari pinggangnya. Semakin lama semakin erat pelukan gadis ini.


"Kau benar, baby. Kau benar," gumam Yericho sambil mengangguk-angguk kepalanya.


Alexa menyembunyikan wajahnya lagi di pelukan Yericho. Agak sedikit mengecewakan, tapi Yericho tidak keberatan. Rambut Alexa sedikit menggelitik dagu Yericho.


Yericho menatap sekeliling kamar, ada satu sudut yang mungkin di tata sedemikian rupa. Entah kenapa Yericho menganggap sudut itulah yang menjadi ciri khusus Alexa. Lebih cocok dengan kepribadiannya.


"Kamu bisa menghias kamar ini seperti apa yang kamu mau," ucap Yericho.


"Ini sudah sangat nyaman," jawab Alexa.


"Kamarnya atau pelukannya?" tanya Yericho, nada jahilnya sudah kembali lagi.


Alexa tersenyum. Sebelum mendongak lagi.


"Pelukannya," bisik Alexa.


"Saya harus segera pulang kalau kamu sudah begini," gumam Yericho pelan.


"Hah? Kenapa?" tanya Alexa bingung.


"Kenapa menurut kamu?" ucap Yericho pelan. Sambil menelan ludahnya.


"Daddy ... Ale tidak keberatan," jawab Alexa pelan.


"Saya yang belum siap." Yericho tersenyum mengelus rambut Alexa.


"Kenapa?" Alexa menghindari tatapan Yericho.


"Hm ... Itu pertanyaan yang sulit."


Yericho masih sibuk mengelus rambut Alexa. Dia tidak mau berbohong, dia memang menginginkan itu. Pria mana yang tidak akan tergoda. Tapi entah kenapa kali ini tidak mudah bagi Yericho untuk melakukannya.


Entah perasaan apa yang Yericho punya ini. Simpati kah? Di tengah pikirannya yang sedang rumit, Yericho merasakan tangan Alexa di perutnya.


"Baby ...." Yericho memberi peringatan yang di balas senyuman lebar Alexa.


"Sedikit ... Saja ...." rengek Alexa.


"Udah sana lepas pelukannya, gerah," goda Yericho sambil tersenyum jahil.


"Ih ... Daddy jahat ...." rengek Alexa lagi.


Yericho hanya tersenyum menanggapi rengekan itu. Meski dia berkata begitu, tangannya belum berhenti mengelus rambut Alexa. Perlahan Yericho memajukan wajahnya dan mengecup kening Alexa pelan.


"Sudah jangan nakal dan cepat tidur,"bisik Yericho.


Alexa tidak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya. Perlahan rasa kantuk menyerangnya. Sangat nyaman berada di pelukan Yericho. Terlebih tangan Yericho yang mengelus rambutnya membuat matanya semakin berat. Sebelum terlelap, Alexa berharap semoga saat dia bangun Yericho masih ada di sampingnya.


...----------------...