
Deer Eye ( Christian Geoff )
.
Chris menatap Vania, semakin lama semakin menarik saja permainan gadis itu. Chris belum bisa menebak, kemana arah yang Vania tuju. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Vania yang sekarang membuka satu kancing bajunya lagi. Chris melonggarkan dasinya, tiba-tiba napasnya sedikit tercekat.
"Jadi? katakan padaku Nia. Apa sebenarnya yang sedang kita lakukan?" tanya Chris dengan suara berat.
Vania melangkah maju mendekat pada Chris yang masih tidak bergerak dari kursinya. Chris semakin menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Apa yang Pak Chris inginkan?" tanya Vania ambigu.
Chris mengerutkan keningnya. Setan semakin dekat saja. Dan membuat kepala Chris sakit.
"Kamu bertanya pada saya?" Chris memalingkan wajahnya dari Vania. Sampai kapan sekretarisnya itu mau mengujinya.
"Pak Chris," panggil Vania lirih. Chris menatap Vania lagi, gadis cantik itu sudah berlutut dekat kakinya. Chris menelan ludah melihat Vania ada di bawah sana.
Tangan Vania dengan santai di letakkan di atas paha Chris. Mulai membelainya lembut. Chris belum bereaksi, dia masih menunggu dan mengawasi apa yang akan Vania lakukan. Vania sudah lebih mendekat padanya. Berlutut diantara kaki Chris. Dua tangannya masih membelai paha Chris. Wajahnya mendongak keatas. Chris dengan jelas bisa melihat pakaian dalam Vania mengintip dari kancing yang dia buka satu lagi tadi.
Vania membasahi bibirnya dengan lidahnya, sensual. Tangan Vania sudah ada di resleting celana Chris. Masih menatap Chris, Vania menelan ludah dan akhirnya menurunkan resleting itu. Chris tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan apa yang Vania lakukan. Dia hanya menatap Vania saja.
Mereka bahkan tidak merasa kaget saat pintu ruangan Chris terbuka. Nicholas berdiri diambang pintu menatap Chris. Siapa lagi yang berani membuka pintu tanpa mengetuk selain dia. Mata Nicholas menatap Chris dan berpindah ke Vania. Sebelum berbalik dan menutup pintu di belakangnya.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan sekarang," kata Chris pada Vania yang masih menatapnya.
"Keluarlah, jangan lupa pasang lagi kancing bajumu," perintah Chris dengan volume pelan.
Vania memasang kancingnya di depan Chris dan berdiri merapikan bajunya setelah memastikan dia menaikan kembali resleting celana Chris. Chris memutar kursinya dan kembali menghadap meja kerjanya. Vania menatap Chris agak kecewa sebelum berbalik ke arah pintu.
"Pulangnya nanti saya antar," ujar Chris sedikit membuat Vania terkejut. Bibir Vania melengkung mendengarnya.
"Baik, Pak," jawab Vania patuh, membuka pintu dan keluar dari sana.
.
.
Saat Vania keluar ruangan bosnya, dia melihat Nicholas duduk di meja kerjanya yang memang diletakkan dekat pintu masuk kantor Chris.
"Sudah?" tanya Nicholas .
"Sudah, Pak," jawab Vania sedikit malu. Pipinya merona merah. Matanya tidak bisa menatap langsung pada Nicholas . Nicholas mengangguk dan berdiri, membuka pintu kantor Chris dan masuk kedalam sana.
Nicholas menatap kakaknya yang sibuk dengan dokumen di atas meja. Memperhatikan setiap gerak gerik Chris.
"Jadi? Sudah berapa lama?" tanya Nicholas tertarik.
"Apa?" tanya Chris tenang.
"Kau dan Vania," jawab Nicholas .
Chris tertawa mendengar pertanyaan itu. Chris menyandarkan lagi punggungnya di sandaran kursi. Menatap adiknya itu yang menatapnya penasaran.
"Jawaban apa yang ingin kau dengar?" tanya Chris santai.
"Sial ...." Umpat Nicholas pelan.
"Baru-baru ini," jawab Chris. Masih terlihat fokus pada dokumennya.
"Begitukah? Apa yang terjadi?" tanya Nicholas penasaran.
Vania sudah bekerja pada Chris selama enam tahun. Dan dari waktu yang lama ini, baru sekarang Chris terlihat tertarik padanya. Kalau dipikir lagi, Vania memang semakin lama semakin cantik. Gadis kikuk yang polos itu sudah bermetamorfosis menjadi wanita dengan aura dewasa yang luar biasa menarik.
"Aku paham," ucap Nicholas tiba-tiba.
"Soal apa?" tanya Chris yang mengangkat sebelah alisnya.
"Apa saja, kecuali ...." Nicholas mengerling Chris jahil.
Chris menatap adiknya dengan tatapan heran, meski dia penasaran dengan apa yang akan Nicholas katakan.
"Aku tidak paham kenapa aku baru menyadari kalau Vania cantik dan ... Hmmm ... Luar biasa," kata Chris lambat-lambat.
Chris tidak melepaskan tatapannya pada Nicholas meski Nicholas menatap balik padanya. Cukup lama mereka bertatapan hingga Chris memutuskan untuk melihat dokumen yang ada di tangannya lagi.
Nicholas menyeringai, masih ingin menggoda Chris. Sebelum dia sempat membuka mulutnya lagi. Chris berkata pelan dan datar, "Tidak heran, aku sempat berpikir kalau ...." Chris mendongak menatap Nicholas dan tersenyum tipis. "Kau. Gay." Chris menekan dua kata itu, membuat seringai Nicholas hilang.
Nicholas mendelik pada Chris sebelum akhirnya duduk di sofa yang ada di ruangan Chris. Menyilangkan tangannya di depan dada. Menatap Chris tajam.
"Apa yang membuat mu berpikir begitu?" tanya Nicholas datar.
"Kau terlalu dekat dengan Rio," jawab Chris asal.
"Itu karena kami sebaya," jawab Nicholas cepat.
"Kau memilih sekretaris laki-laki," Chris menjawab asal lagi.
"Itu karena aku terlalu tampan, aku takut jika sekretaris ku perempuan dia jatuh cinta padaku." Nicholas tersenyum saat mengatakan kalimat panjang itu.
Chris melayangkan tatapan jijiknya. Dia memutar mata dan fokus lagi pada dokumennya.
"Chris ...." panggil Nicholas menganggu.
"Terserah saja ...." gumam Chris acuh.
"Chris ...." panggil Nicholas lagi.
Chris tidak lagi menanggapi, dia masih terhanyut ke dalam kertas-kertas laporan yang dia pegang.
"Chris ... Sepertinya ... Aku ... Jatuh cinta," ucap Nicholas membuat Chris menghentikan gerakan tangannya, melihat Nicholas dengan sudut matanya.
.
.
Ordinary Love ( Rio Anggara )
.
"Pelajarannya sampai disini saja, ada yang ingin kalian tanyakan sebelum bel berbunyi?" tanya Rio pada murid-muridnya yang terlihat malas.
"Tidak Pak ...." teriak mereka kompak.
Rio menggelengkan kepala menatap para siswa nya itu, apa yang Rio harapkan dari sekolah khusus laki-laki ini. Rio tersenyum tipis saat bel berbunyi. Semua siswa menunggu untuk berhamburan keluar kelas. Tapi Rio masih duduk di kursi guru. Rio tersenyum lebar karena tidak ada satupun muridnya yang berani beranjak dari tempatnya.
"Kalian tidak keluar?" tanya Rio menahan tawa.
Tawa Rio di sambut oleh siswanya yang juga tertawa sambil berlarian ke arah pintu. Menyisakan gurunya yang terkekeh kecil. Rio sedang membereskan barang-barangnya saat satu siswa menghampiri.
"Kenapa?" tanya Rio tanpa menatap wajah muridnya itu.
"Kayaknya akan ada tawuran lagi Pak, dekat gerbong kereta terbengkalai di sebelah stasiun," ucap muridnya itu.
"Kamu ikut?" tanya Rio tenang.
"Diajak, tapi tidak," jawab muridnya dengan tenang juga.
Rio akhirnya mendongak melihat wajah siswanya yang bisa dibilang tampan itu.
"Kau yakin?" tanya Rio lagi.
"Ya ...." jawab siswa tampan itu sedikit acuh.
"Akan Bapak cek nanti," ucap Rio bersiap pergi.
"Colin ... Ayo ...." ajak Rio pada muridnya yang masih terdiam di tempatnya tadi.
.
.
Rio membetulkan topinya agar menutup setengah wajahnya. Dia sedikit merasa gerah memakai jaket bisbol hitam. Menurut Colin, muridnya. Hari ini akan terjadi tawuran lagi di daerah sini. Rio berdoa semoga hal itu tidak pernah terjadi. Rio bisa saja tidak perlu datang seperti saran Randy. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menghiraukan informasi ini.
Di kejauhan Rio sudah melihat beberapa muridnya berkumpul. Aneh. Pikir Rio. Dia merasakan firasat yang buruk. Dia sering melibatkan dirinya untuk membubarkan perkelahian mereka. Tapi entah kenapa kali ini terasa lebih gugup dari biasanya.
Di tengah perhatiannya pada gerombolan anak-anak itu. Ponselnya bergetar, sekilas dia melihat siapa yang menelponnya. Joana, tidak biasanya dia menelpon di jam-jam begini.
Saat akan mengangkat telepon, Rio dikagetkan dengan tepukan pada pundaknya. Dia menoleh dan melihat Colin dan Randy rekan gurunya.
"Mereka benar-benar berkumpul disini?" gumam Randy pelan. Colin mengangguk, anak itu sudah berganti pakaian juga.
"Apa yang di rencanakan berandal-berandalan itu?" tanya Randy lagi. Colin menanggapi dengan menggelengkan kepalanya.
"Yang paling penting kenapa Colin ada disini?" tanya Rio.
"Tenang saja Pak. Aku bisa pura-pura menyelamatkan mereka jika mereka kurang orang," jawab Colin santai.
Ponsel Rio bergetar lagi, Joana lagi yang menelponnya. Tapi Rio tidak mengangkat panggilan itu dan membiarkannya hingga ponselnya berhenti bergetar dan memasukannya lagi ke dalam saku celana.
Rio masih memperhatikan murid-muridnya, dia cukup tenang karena tidak ada yang membawa senjata tajam atau benda tumpul.
"Terus Pak Rio, kita harus gimana? Telepon polisi?" tanya Randy lagi.
"Iya, nanti kalau lawannya datang," jawab Rio santai.
"Harus nunggu nanti?" tanya Randy lagi.
"Kalau sekarang, apa yang mau dilaporkan Pak? Lagian kenapa Pak Randy kesini segala?" kata Rio agak tidak sabar.
"Anak ini yang bawa saya kesini. Dia bilang ada firasat buruk segala," jawab Randy yang sama tidak sabarnya.
Rio melihat Randy dan Colin bergantian. Lalu terdengar menghela napas pelan.
"Pak Rio ...." gumam Randy lirih.
Rio menoleh lagi ke arah anak-anaknya. Dan terkejut saat musuh membawa banyak potongan kayu.
"Lapor polisi Pak," perintah Rio pada Randy. Yang dengan cekatan menelpon polisi. Sedang Rio masih waspada memperhatikan anak-anak didiknya.
Rio berhasil menangkap tangan Colin saat dia hendak pergi ke arah temannya berada. Rio menggelengkan kepala agar Colin tetap diam. Setelah memastikan Colin tidak akan pergi kemana-mana. Rio dengan tenang keluar dari persembunyiannya.
"Ekhmm ...." deham Rio meminta perhatian.
Semua orang menoleh padanya, murid-muridnya tentu takut dan terkejut. Sedang yang bukan muridnya memandang Rio seakan dia orang gila.
"Ada apa? Kenapa berkumpul di tempat kayak gini?" tanya Rio masih tenang.
"Bacot ! Hei Pak Tua? Set**!" umpat salah satu musuh muridnya pada Rio.
Senyum hilang dari wajah Rio mendengar itu. Sedang murid-muridnya terlihat waspada, bagaimana pun Rio adalah guru yang paling ditakuti oleh mereka.
"Saya peringatkan. Sebaiknya kalian bubar," kata Rio yang berusaha berwajah garang.
Semua orang saling pandang, sebelum satu orang mengintruksikan untuk mundur. Murid-murid yang membawa kayu itu berbalik dan berjalan menjauh. Meninggalkan Rio yang berbalik menghadap murid-muridnya lagi.
Rio tidak tahu, apa yang terjadi dalam hitungan detik saat dia berbalik membelakangi musuh muridnya. Yang dia tahu kepalanya terasa sakit setelah mendengar suara hantaman yang keras. Telinganya berdenging, perlahan penglihatannya buram. Yang dia dengar terakhir kali adalah teriakan murid yang memanggil namanya. Semakin lama. Semakin jauh.
...----------------...