Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.7



Deer eye ( Christian Geoff )


.


.


Dugaan Chris memang benar, ada sesuatu yang terjadi pada Vania. Tapi Chris juga tidak menanyakannya. Chris tidak ingin di anggap terlalu ingin tahu urusan pribadi karyawannya.


Kemarin dia hanya mengantar Vania untuk tinggal di unit apartemen miliknya, yang memang tidak dia tempati. Prosesnya terlalu lama jika mereka mencari apartemen baru. Vania juga bilang dia akan membayar biaya sewa. Chris hanya mengamini saja agar dia dan sekretarisnya itu tidak berdebat.


Chris melirik Vania dengan ekor matanya. Dia sangat pendiam hari ini. Bahkan sampai mereka duduk di pesawat pun.


"Jadi hari ini kamu booking di hotel mana?" tanya Chris memecah kesunyian. Vania anehnya tidak menjawab.


Chris berputar menghadap gadis itu dan menatapnya, tidak lagi hanya dengan sudut mata. Chris mempelajari ekspresi Vania yang datar.


"Nia ...." Panggil Chris sedikit menepuk bahunya pelan.


Vania kaget dan tergagap. Benar saja dia memang sedang melamun sedari tadi.


"I-i-ya... Pak... kenapa?" gagap Vania.


"Hotel. Kamu sudah booking hotel kan untuk menginap," jelas Chris lagi.


"Hotel?"


"Nia ...." Chris memanggilnya lambat. Tahu dari ekspresi Nia kalau dia tidak mempersiapkan apa-apa sebelum mereka terbang.


"Maaf Pak...nanti setelah turun Nia langsung booking hotelnya."


Vania merasa bodoh, bisa-bisanya dia sangat ceroboh. Vania meringis menghindar dari tatapan tidak percaya Chris.


Chris sudah akan membuka mulutnya untuk menegur Vania. Selama dia ikut dengannya belum pernah Vania melakukan kesalahan begini. Chris menghela napas sebelum menenangkan dirinya. Dan memilih untuk tidur.


.


.


Saat mereka mendarat Nia sibuk kesana kemari mencari taksi. Kalau Nia sudah pesan kamar hotel biasanya dia meminta di jemput juga di bandara. Tapi karena dia lupa, akhirnya dia harus kerepotan seperti ini. Tangannya sibuk mendorong koper besar miliknya dan Chris, berlari kesana kemari dengan sepatu heelsnya.


Chris menghela napas lagi sebelum akhirnya menggenggam tangan gadis itu. Vania bingung, karena tiba-tiba Bos nya itu menghentikan dia. Chris menggelengkan kepala sebelum menarik Vania agar duduk.


"Kaki kamu pasti lecet dari tadi lari kesana kemari," kata Chris hampir berlutut kalau Vania tidak mencegahnya.


"Saya baik-baik saja Pak. Ini salah saya Pak."


"Oke ...." Chris berdiri di hadapan Vania yang jelas terlihat bingung dan takut.


"Tunggu disini," kata Chris akhirnya. Vania sudah akan mendebatnya lagi sebelum Chris memberinya tatapan untuk diam. Walau Chris bos yang baik, tapi siapa yang tidak akan segan pada bos mereka. Vania akhirnya menurut, dia membuka sepatunya saat Chris pergi. Benar saja, kakinya lecet dan itu sangat sakit.


Chris datang tidak lama kemudian, melirik kaki lecet Vania.


"Taksinya sudah ada, kamu bisa jalan kan?"


"Bisa Pak." Jawab Vania terlalu cepat sambil berdiri. Meringis saat merasakan sakit di kakinya.


Chris melihat Vania dan sedikit khawatir, tapi akhirnya memilih mendorong kopernya dan milik Vania juga menuju taksi. Vania mengikuti tanpa banyak bicara sambil berjalan tertatih-tatih.


Satu yang Vania syukuri, zaman sudah berubah dan semua sudah semakin canggih dan mudah. Vania bisa dengan cepat memesan dua kamar di hotel bintang empat dekat dengan tempat pertemuan mereka dengan klien. Jadi saat dia masuk ke dalam taksi, dia sudah tahu kemana mereka harus pergi. Vania akhirnya melihat senyum Chris lagi.


.


.


Vania menghempaskan badan lelahnya di kasur hotel yamg empuk. Dia mengerang merasakan perih di kakinya yang lecet, daerah atas tumit itu. Vania sebenarnya ingin tertidur, tapi dia harus menyiapkan pekerjaannya. Jadi dia mandi dan membongkar kopernya. Dia tidak membawa sepatu yang lain, menghela napas akhirnya memakai pakaian nyamannya. Celana pendek yang tenggelam di kaos oversize nya. Tepat saat pintu kamarnya diketuk.


Vania membukakan pintu untuk Bosnya. Siapa lagi yang akan mengetuk pintunya kalau bukan Chris.


Chris terdiam, menatap Vania agak heran. Dia memang biasa kalau dinas luar kota atau meeting di luar kota dengan Vania. Dan setelah mereka sampai hotel Chris selalu ke kamar Vania untuk mendiskusikan pekerjaan mereka. Tapi ini pertama kalinya Chris melihat Vania memakai baju piyama. Biasanya dia tidak mengganti baju sampai mereka selesai.


"Pak Chris?" panggil Vania yang sudah bergeser agar Chris bisa masuk ke dalam kamarnya.


"Hmm ...Nia... Kamu bisa siapin draft saya sendiri ya," kata Chris mencoba memandang tepat hanya ke wajah Vania saja.


"Kenapa memangnya Pak?" tanya Vania dengan wajah bingung. Tidak pernah Chris menyuruhnya menyiapkan draft meeting nya sendirian.


"Hmm .... " Chris tersenyum. Bingung bagaimana menjelaskan situasi canggung yang dia rasakan ini. Dia sering melihat Vania dengan rok pendek yang sama panjangnya dengan kaos yang dia pakai. Tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda saja.


"Iya ...." Jawab Chris singkat. Dibalas anggukan pendek Vania.


"Saya tinggal ya," kata Chris kaku, sambil berbalik untuk pergi. Masih heran dengan sekretarisnya itu. Sedang Vania menatap Chris dengan tatapan aneh. Dia menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdetak kencang, dan keringat menetes di punggungnya.


.


.


Chris akhirnya memilih masuk ke kamarnya lagi dan beristirahat. Apa yang dia lakukan tadi? Harusnya dia masuk saja dan bekerja dengan Vania. Mungkin gadis itu benar-benar lelah dan ingin segera berganti pakaian dengan pakaian yang nyaman. Tidak ada maksud apa-apa.


Chris menelan ludahnya lagi, bayangan Vania muncul di depan matanya. Wajah polosnya yang tanpa make up dan rambutnya yang di cepol agak berantakan. Lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang mengintip di kerah kaosnya yang longgar.


"Gila," Chris bergumam sambil mengacak rambutnya. Dan memilih masuk ke kamar mandi untuk mandi saja. Berencana tidur sampai waktu meeting tiba.


.


.


Sugar (Yericho Adam)


.


Yericho menyamankan tubuhnya di kursi kerjanya. Rasanya sangat lelah, jadwal konsultasi hari ini cukup padat. Yericho memandangi ponselnya. Banyak pesan masuk, tapi hanya satu nama yang mencuri atensinya.


Alexa mengiriminya pesan. Menanyakan apa dia boleh memakai uang yang Yericho berikan atau tidak. Yericho mengerutkan dahi heran. Kenapa gadis itu harus bertanya.


Yericho akhirnya mencoba menghubungi gadis itu. Tapi Alexa tidak mengangkat teleponnya. Lalu akhirnya memilih membalas pesan Alexa.


Pakai saja uangnya.


.


.


Alexa kaget saat ponsel barunya bergetar. Dia melihat Daddy Yericho tertera di layar. Tapi tidak sempat mengangkatnya karena sedang ada di dalam kelas. Lalu tidak lama dia menerima pesan singkat.


Alexa sedikit tersenyum miris saat membacanya. Dia sudah bertekad tidak akan berekspektasi apa-apa pada Yericho tapi tetap membaca pesan singkat itu membuat Alexa sedikit kecewa.


Daddy nya itu memberi semua yang Alexa butuhkan kemarin. Dari mulai yang terkecil sampai yang terbesar. Alexa bahkan tinggal di apartemen yang cukup mewah. Saat dia bilang kalau asrama saja cukup, Yericho mengangkat alisnya. Dan entah kenapa Alexa tahu. Hal itu bukan hal yang harus dia perdebatkan.


Tapi Yericho belum menyentuhnya sama sekali. Hal itu membuat Alexa berpikir mungkin pikirannya tentang sugar dating itu salah. Tidak selalu soal hubungan fisik. Alexa tidak punya petunjuk apapun. Dan tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dia menghela napas dan mulai fokus belajar lagi.


.


.


Alexa tergopoh-gopoh membawa barang belanjaannya yang banyak. Menaiki lift ke unit apartemennya. Membuka pintunya dengan susah payah. Dan saat pintu terbuka. Alexa tersenyum melihat sepatu kerja laki-laki bertengger rapi di rak sepatu.


Alexa menyimpan barang-barang belanjaannya di samping rak sepatu, sebelum berganti sendal rumah dan memasuki apartemennya.


Alexa sedikit mematung melihat Yericho sedang menatap jendela kaca besar. Alexa mungkin hanya melihat Daddy-nya dari belakang. Tapi entah kenapa Yericho memang semenarik itu.


Alexa berlari kecil sebelum menubruk kan diri ke punggung Yericho yang melonjak sedikit kaget.


'Daddy datang?"


"Hmm ... saya tidak tahu kamu akan terlihat senang begini," ucap Yericho setengah bercanda.


"Tidur disini sendiri agak menakutkan. Mungkin karena sudah lama Alexa cuma tidur di kos satu kamar saja." Alexa tidak bermaksud komplain atau merajuk dia hanya berusaha bersikap jujur.


"Kamu hanya belum terbiasa. Nanti juga takutnya hilang," jawab Yericho sambil mengelus lengan Alexa yang melingkar di pinggangnya.


"Daddy menginapkan?" tanya Alexa hati-hati.


"Tidak...saya temani kamu sampai larut saja ya. Baru saya pulang."


"Oh ...." balas Alexa agak kecewa. Tapi tidak lama senyumnya merekah lagi.


"Daddy mau mandi bareng?" tanya Alexa sedikit malu-malu di punggung Yericho.


Yericho terkekeh mendengarnya. Entah kenapa suara Alexa terdengar sangat manis.


"Boleh," jawab Yericho tenang. Tapi di sambut detak jantung Alexa yang kencang. Tidak menyangka Yericho akan menjawab seperti itu.


...----------------...