Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 2.6



.


Red Umbrella (Nicholas Geoff)


.


.


Nicholas menghisap, isapan terakhir rokoknya. Malam itu rumah sakit entah kenapa terlihat ramai. Harusnya dia segera pergi dengan mobilnya dari sana. Supaya tempat parkirnya bisa digunakan orang lain.


Tapi kakinya terasa berat, dia berharap Tuhan memberinya takdir untuk tanpa sengaja bertemu lagi dengan Monica. Tapi ternyata Tuhan tidak selalu mengabulkan harapannya. Jadi dengan langkah yang diseret Nicholas menuju mobil.


"Nicholas?"


Nicholas membeku, saat mendengar seseorang memanggil namanya. Kepalanya menengok agak sedikit terlalu cepat. Monica ada di sana, tangannya sedang menggandeng pemuda bernama Colin yang tadi duduk bersebelahan dengan Nicholas diluar unit gawat darurat.


"Monica." Nicholas menyapanya juga dengan sopan sambil sedikit menundukkan kepala.


"Kenapa? Apa kau sakit?" tanya Monica lagi.


"Tidak. Bukan aku. Tapi temanku," jawab Nicholas jujur.


Colin memperhatikan ibu dan orang yang tadi memberi minum dan roti padanya itu.


"Temanmu?" tanya Monica terdengar serius.


"Ya, seorang guru bodoh yang membiarkan dirinya babak belur," ucap Nicholas.


"Dia teman Pak Rio yang tadi aku ceritakan pada Ibu," ucap Colin.


"Pak Rio?" Monica tertawa pelan.


"Maaf, tidak seharusnya aku tertawa. Tapi ... Karena kau teman dari dokter Yericho dan Pak Rio ... Kamu tahu maksud ku." Monica tersenyum malu.


"Sudah saya bilang, kita terhubung satu sama lain," jawab Nicholas.


Nicholas memperhatikan Rona merah yang perlahan menyebar di wajah Monica. Wajah bulat Monica terlihat cantik di bawah cahaya lampu.


"Kalian mau pulang kan? Saya antar ya," ucap Nicholas terdengar seperti tawaran yang tidak ingin di tolak.


"Tidak ... Tidak ... Kami bisa naik taksi." Monica menjawab terlalu cepat.


"Kenapa?" tanya Nicholas dan Colin bersamaan. Mereka berdua saling pandang sebelum Colin menatap ke arah ibunya lagi.


"Kita bisa ikut paman ini Ibu," ucap Colin lemah.


"Anak mu terlihat lelah Monica. Terlalu jauh ke tempat dimana taksi berada. Saya juga akan pulang. Jadi saya bisa mengantar kalian." Nicholas tidak memberikan tawaran kosong. Dia benar-benar ingin mengantar mereka.


Monica melirik Colin sejenak sebelum mengangguk, "Terimakasih," gumam Monica.


Nicholas tersenyum dan membukakan pintu belakang untuk Colin yang dengan segera masuk ke dalam mobil. Nicholas memperhatikan Monica yang sudah berputar bersiap membuka pintu penumpang di bagian depan.


Nicholas tersenyum tipis dan mengangguk, menyampaikan gestur kalau Monica sudah boleh masuk sebelum dia juga duduk di belakang kemudi.


Monica memberitahu Nicholas alamat rumahnya. Sebuah komplek apartemen yang tidak jauh dari rumah sakit. Nicholas menyetir dengan tenang mengikuti jalur gps mobilnya.


"Bagaimana keadaan Pak Rio?" tanya Colin pelan.


"Kamu masih bisa mengkhawatirkan orang lain, sementara kamu juga terlihat tidak baik-baik saja," jawab Nicholas sambil tersenyum.


"Rio baik-baik saja, bukan sekali ini saja dia sial seperti hari ini," lanjut Nicholas.


"Ya ... Pak Rio selalu seperti ini," gumam Colin pelan.


"Kalau kamu merasa bersalah pada gurumu, berhenti ikut hal-hal seperti ini," omel Monica akhirnya.


Colin tidak menjawab ibunya. Dia terdiam menatap jendela.


"Dia bukan tidak tahu jika itu sesuatu yang buruk, Monica." Nicholas akhirnya bersuara.


"Dia hanya tidak bisa mencegah semua ini terjadi. Jika Rio tidak, apalagi anak mu. Bayangkan jika dia tidak punya kemampuan untuk melindungi diri," lanjut Nicholas.


Nicholas tidak bermaksud ikut campur. Tapi dia tahu, sebagai orang tua yang khawatir, tentu saja apa yang Monica katakan adalah hal yang wajar. Tapi terlalu menyalahkan juga, Nicholas rasa kurang tepat.


"Kamu ada di pihaknya?" tanya Monica terdengar sekali kalau dia berusaha terdengar gusar, membuat Nicholas tertawa pelan.


"Ya ... Bagi kita pria, kita perlu menyalurkan energi kita yang banyak ini," ucap Nicholas setelah menghentikan tawanya.


Nicholas akhirnya memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen. Colin keluar duluan setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Lalu berjalan masuk ke dalam gedung.


"Lihat anak itu," gumam Monica pelan.


"Kenapa dengan anak itu?"


"Dia mungkin sedang berada di pihak ku sekarang," ucap Nicholas.


"Apa maksudnya itu?" Monica menahan senyumnya. Tapi dia tidak berhasil, dua sudut bibirnya terangkat ke atas.


"Maksud saya ...." Nicholas menggantung ucapannya dia menyandarkan kepalanya di atas stir dan menatap Monica.


"Saya menunggu lama di sana, berharap takdir mempertemukan kita tanpa sengaja lagi," gumam Nicholas pelan.


"Saya belum memiliki jawaban apa-apa," jawab Monica jujur.


"Tidak masalah, Monica ... Aku tidak keberatan menunggu lebih lama," ucap Nicholas. Senyum tipis masih menghiasi wajah tampannya.


Monica sangat bimbang dengan apa yang dia rasakan. Terlalu sulit untuk seorang pria menerimanya yang sudah memiliki anak usia remaja. Dan meskipun Nicholas terlihat tidak perduli. Tapi Monica tidak bisa menutup mata pada apa yang terjadi di masa lalu.


"Saya hanya bingung kenapa Anda ... Pada saya ...." Monica menelan ludahnya saat wajah Nicholas terlihat mendekat pada wajahnya.


"Itu namanya hasrat, Monica ...." bisik Nicholas pelan.


"Hasrat yang menggebu dan sulit untuk diacuhkan," kata Nicholas lagi.


"Hasrat?" Monica tidak merasa sudah mengerti. Jadi dia menaikan alisnya.


Nicholas menelan ludahnya dan itu terlihat jelas di mata Monica. Apa yang ada di dalam kepala pria dewasa ini sudah bisa Monica baca. Monica hanya merasa dia perlu pura-pura tidak tahu. Setidaknya untuk hari ini.


Monica bermaksud memundurkan kepalanya menjauh dari wajah Nicholas. Tapi sebelum dia sempat bergerak. Bibir Nicholas sudah menempel pada bibirnya.


Ciuman itu terjadi sangat singkat karena Nicholas memundurkan kepalanya lagi. Membuat Monica yakin Nicholas juga terkejut dengan tindakannya.


"Saya akan turun kalau begitu. Terima kasih tumpangannya," ucap Monica.


Nicholas mengangguk sedikit sebelum Monica keluar dari mobilnya. Dia ingin sekali menampar dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir Monica akan membalas ciumannya tadi.


Nicholas menatap punggung Monica sampai dia menghilang ke dalam gedung. Nicholas menelan ludahnya lagi. Ibu jarinya menekan bibir bawahnya. Sial bibirnya terasa lembut.


.


.


Ordinary Love (Rio Anggara)


.


.


Rio membuka matanya perlahan, dia merasa sangat haus. Badannya masih tidak bisa bergerak bebas. Rio mengerling selang infus yang terpasang. Kepalanya berdenyut nyeri.


"Beb?" Rio mendengar suara Joana.


"Beb kamu bangun?" tanya suara itu lagi.


Rio berusaha memfokuskan penglihatannya pada orang yang bicara tadi. Hingga akhirnya bisa melihat wajah Joana dengan jelas.


"Yang ...." gumam Rio pelan.


"Aku disini ...." jawab Joana sambil mengecup tangannya berulang kali.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rio khawatir.


"Apa dan siapa yang harusnya khawatir disini?" Joana terdengar gusar.


"Yang ... Kamu baru sadar dan kamu cukup lama tidak sadarkan diri," omel Joana.


Rio tersenyum lemah melihat jejak airmata di pipi Joana. Wanita ini menangis untuknya lagi.


"Aku haus yang ...." bisik Rio parau.


Joana beranjak dan membawakan minum untuk Rio. Membantunya minum.


"Jangan banyak gerak dulu," ucap Joana.


"Oke yang, kamu saja yang bergerak kalau begitu," canda Rio.


Joana melotot mendengar candaan mesum itu. Dia ingin memukul Rio sekali saja. Syukurlah dia bisa menahannya dengan baik.


"Nanti kalau kamu sembuh," balas Joana.


Rio tertawa di selingi ringisan. Beberapa bagian tubuhnya terasa sangat nyeri. Rio menutup matanya lagi. Dia ingin beristirahat sebentar saja. Sebelum bertemu dengan realita lagi.


.


...----------------...