
.
Ordinary Love ( Rio Anggara)
.
Ibu Rio menatap semua orang yang ada bersama anaknya satu persatu. Dan menatap Joana agak lama. Joana yang duduk di satu-satunya kursi di samping tempat tidur Rio, segera beranjak berdiri. Ibu Rio tidak banyak bicara sebelum duduk di kursi itu. Tangannya mengelus lembut lengan anaknya yang terpasang infus.
"Gimana keadaannya?" tanya Ibu Rio.
"Sudah stabil Bu, sebentar lagi juga sadar," jawab Yericho tenang.
"Kamu yakin?" tanya Ibu sekali lagi.
"Ya Bu. Jangan khawatir," ucap Yericho lagi.
"Kenapa anak ini harus menjalani hidup seperti ini?" gumam Ibu Rio yang jelas terdengar oleh semua orang.
"Andai saja ...." Ibu Rio menggantung ucapannya, sudut matanya melirik Joana yang berdiri sambil menunduk melihat lantai di samping Nicholas.
Nicholas memutar mata, dia tidak suka dengan situasi ini. Tapi dia belum tahu caranya keluar dari sana. Nicholas melirik Joana, ekspresi apa yang ditunjukkan wanita itu sekarang? Dia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Kita tahu bagaimana Rio, dia tidak mungkin tidak melindungi anak-anak itu. Ini bukan pertama kalinya, Bu." Yericho mendekat pada ibu dan menjadikan badan besarnya perisai untuk menghalangi Joana.
"Bukankah, harusnya kita bangga padanya, karena selalu jadi orang baik." Yericho meletakan satu tangannya di pundak ibu Rio. Dan satu tangan yang lain memberi isyarat pada Nicholas untuk pergi.
Nicholas segera menyadarinya, dia menggenggam tangan Joana untuk dengan perlahan meninggalkan ruangan itu.
Joana menurut dan mengikuti langkah Nicholas sampai di ujung lorong. Nicholas menatap Joana simpati.
"Duduk dulu," ucap Nicholas lembut.
Joana menurut lagi, dia merasa tidak ingin membantah apa-apa. Nicholas meninggalkannya untuk membeli minuman dingin. Dan kembali tidak lama kemudian. Menyodorkan kaleng minuman dingin pada Joana.
"Semuanya ... Salah aku ya?" tanya Joana dengan nada yang hampir kosong.
Nicholas tidak langsung menjawab, dia melihat ke arah langit-langit. Cukup lama terdiam dan menyelam dalam pikirannya sendiri.
"Tidak tahu ...." jawab Nicholas.
Joana menatap Nicholas yang sedang menatapnya. Air mata sudah menggantung di sudut matanya yang coklat terang.
"Makanya ... Jangan salah pilih," gumam Nicholas membuat Joana tersenyum miris.
"Waktu itu aku masih muda, jadi cinta masih nomor satu." Joana melepas tatapannya dari mata Nicholas.
"Sekarang?" tanya Nicholas santai.
Joana menggeleng dengan senyum sedihnya.
"Rasanya semakin berat Nic," jawab Joana.
"Hmmm ... semua akan berpikiran sama. Jangan salah paham. Saya bilang gini sama kamu, bukan karena kita punya masa lalu. Ini karena saya berteman dengan kalian berdua." Nicholas diam sejenak. Sebelum akhirnya meneruskan ucapannya.
"Karena saya tahu, kalian berdua sudah lelah," ucap Nicholas.
Joana mengencangkan cengkeramannya pada kaleng minuman yang dia genggam. Joana menelan ludahnya yang terasa pahit. Akhirnya tidak bisa membendung air matanya lagi.
Nicholas merasa sedikit bersalah, dia rasa ucapannya lah yang membuat Joana menangis. Dengan canggung Nicholas menepuk punggung Joana, berusaha menenangkan tangisnya.
.
.
.
.
Chris diam-diam melirik Vania yang duduk tenang di kursi penumpang di sebelahnya. Seperti janjinya, Chris mengantar Vania pulang. Nicholas sudah mengabari kalai Rio baik-baik saja. Jadi Chris tidak terburu-buru untuk menengok sahabatnya itu.
Dimata Chris entah kenapa hari ini Vania terlihat lebih cantik. Terkadang lirikan mata mereka bertemu dan kemudian senyum mengulas di bibir Vania yang berwarna merah muda.
"Pak Chris nanti mau mampir dulu?" tanya Vania tanpa diduga.
"Tidak, saya langsung pulang ya," jawab Chris.
Vania terlihat sedikit kecewa, tapi bisa disembunyikan dengan memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Memang kenapa? Ada apa sampai saya harus mampir?" tanya Chris pura-pura tidak paham.
"Barangkali, Pak Chris mau ngopi dulu, atau makan dulu," jawab Vania sambil memainkan jemari tangannya.
"Kamu mau masak buat saya?" tanya Chris lagi hampir mengeluarkan suara tawa.
"Kan kita bisa pesan Pak." Vania dengan cepat menjawab. Lalu merasa malu, kenapa harus terlihat kentara kalau dia tidak bisa masak.
Chris akhirnya tertawa melihat reaksi Vania. Sejak kapan sekretarisnya bisa masak. Yang selalu Chris perhatikan, Vania mungkin tidak bisa memegang pisau dengan benar.
"Mau saya masakin?" tanya Chris menggoda Vania.
"Boleh Pak," jawab Vania terdengar bersemangat.
Chris agak terkejut dengan jawaban yang cepat itu. Apa memang Vania berharap Chris mampir ke dalam unit apartemen nya? Chris kira apa yang Vania katakan tadi hanya basa-basi saja. Sekarang, Chris yakin bukan itu.
Chris sedikit berpikir, dia sebenarnya tidak ingin masalahnya dan Vania melebar dan semakin besar. Tapi seperti yang Yericho bilang. Setan mungkin mendekati Chris perlahan. Dan entah kenapa itu membuat Chris tersenyum.
Chris dengan tenang memarkirkan mobilnya dengan mulus di area parkir apartemen Vania. Menoleh dan menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu sekarang. Jika, Vania masih mengajaknya masuk. Maka dia tidak akan berpikir lagi.
Sedang Vania, dia merasa gugup. Dia membuka sabuk pengaman yang dia pakai dengan pelan. Berusaha mengulur waktu. Dia tidak ingin turun dari mobil Chris. Tidak kalau Chris tidak mau ikut dengannya.
Vania menelan ludah dan memberanikan diri menatap bosnya itu. Tanpa Vania duga, Chris juga sedang menatapnya. Wajah Chris yang sangat maskulin dan dewasa membius Vania. Yang tanpa sadar memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Chris.
Chris memang kaget dengan gestur itu. Dia tidak mungkin merasa ingin menghindar. Chris tersenyum saat bibir mereka menempel cukup lama. Vania yang merasakan senyum Chris, akhirnya membuka matanya dan menatap wajah Chris lagi.
"Pak Chris ...." panggil Vania lirih.
Chris menelan ludah melihat bibir Vania yang sedikit terbuka. Dia bukan laki-laki baik yang bisa melewatkan ini. Tidak, dia tidak punya daya untuk menolak pesona Vania.
Tangan Chris terulur membelai rambut Vania lembut. Telunjuknya menyusuri sepanjang pipi Chris berakhir lama di dagunya. Ibu jari Chris sedikit menekan area di bawah bibir bawah Vania. Membuat Vania membuka mulutnya lebih lebar.
"Hmmm ... Haruskah, saya benar-benar memasak untuk mu ...." ujar Chris lirih dan menggoda.
Tangan Vania terjulur juga, menelusuri kancing baju Chris satu persatu seperti mengabsen nya. Mata Vania yang sayu, tidak menghindar dari tatapan Chris barang satu detik pun.
"Pak Chris ...." panggil Vania lirih lagi.
Dan begitulah semua yang ada dalam diri Chris meledak. Dia menarik bahu Vania mendekat dan menempelkan bibir mereka lagi. Kali ini ciuman mereka lebih basah dan lebih dalam.
Vania tidak bisa berkutik di bawah kungkungan badan Chris yang besar. Tangan Chris yang ada di bahu Vania menggenggam bahu Vania dengan kencang. Sedang lidahnya menginvasi semua isi mulut Vania.
Vania dan Chris terlihat sudah hilang akal. Vania berhasil membuat Chris melebarkan matanya yang sedang terbuka. Saat tangannya sudah terasa di otot perutnya.
...----------------...