
.
Deer Eyes ( Christian Geoff )
.
Chris sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tidak dengan bagaimana cara Vania menaklukkan semua hawa nafsu yang dia tahan. Perlahan dia mencoba kembali ke akal sehatnya. Dan menjauhkan Vania dengan hati-hati. Mengambil tangan Vania yang ada di balik bajunya.
"Saya rasa ini salah ...." gumam Chris.
Chris tahu seharusnya dia tidak mengatakan itu, tidak setelah dia juga terbawa suasana. Chris mencoba menelan ludahnya. Ada rasa pahit yang sedikit terasa di pangkal tenggorokannya, saat dia melihat Vania menunduk.
Chris mencoba meraih sisi wajah agar gadis itu tidak menunduk lagi. Mengusapnya lembut dengan ibu jari. Chris kasih tidak tahu apa kata yang tepat untuk membuat suasana hati Vania menjadi lebih baik.
"Bagaimana kalau kita ke dalam dulu. Ke apartemen kamu maksud saya." Chris tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya ingin melepas kecanggungan diantara mereka setelah ciuman tadi.
Ucapan Chris rupanya mengembalikan senyum Vania. Wajah gadis itu terlihat lebih bersinar dari sebelumnya. Vania terlihat bersemangat membuka pintu mobil meninggalkan Chris yang menelan ludah sebelum keluar juga.
Meskipun tangan mereka saling menggenggam saat berjalan menuju lift. Mereka tidak mampu untuk saling memandang. Vania dengan perasaan gugupnya. Dan Chris dengan rasa was-was nya.
.
.
Hal yang Chris sadari saat masuk ke dalam apartemen Vania adalah melihat bahwa ruangan itu hampir kosong. Tidak ada furnitur atau hiasan dinding. Tidak ada rak sepatu atau apa saja yang menandakan jika ada kehidupan dalam rumah itu.
Chris mengerling isi kamar Vania. Satu matras kecil di letakan di lantai. Di sebelah matras itu tergeletak koper yang isinya keluar, serta beberapa sepatu yang berserakan.
Chris mengangkat alisnya, dia pernah berkunjung ke tempat kos Vania dengan beberapa karyawannya yang lain saat menengok Vania yang sedang sakit dulu. Dan kamar kos yang rapi dan cantik itu sangat timpang dengan keadaan apartemen yang diberikan Chris padanya.
Chris menatap Vania yang sedang tiba-tiba menubruknya dan berusaha menjatuhkan badan Chris ke matras yang terasa tipis itu. Chris tentu bisa menolak dan menahan tubuhnya sendiri. Tapi dia tidak ingin melukai Vania. jadi dia membiarkan tubuhnya mendarat dengan cukup menyakitkan.
"Pak Chris ! Sakit ya?" Vania terlihat khawatir dengan bunyi cukup keras yang dihasilkan oleh badan mereka.
Chris tertawa pelan mendengarnya. Cukup terhibur dengan situasi yang Vania ciptakan.
"Kamu kenapa sih Van, hei ...." gumam Chris pelan. Dia duduk di atas matras. Menatap wajah merah Vania yang lucu.
"Itu ... Nia ...." Vania tergagap menanggapi ucapan Chris.
"Kenapa harus terburu-buru? Kalau kamu terluka gimana? Kalau saya terluka?" kata Chris lagi.
"Maaf Pak ...." ucap Vania lirih.
"Sebelum kita melakukan apa-apa, saya mau tanya soal ini dulu ...." Chris mengangkat lengannya. Memberi gestur jika dia menunjuk seluruh apartemen Vania.
"Ya?" tanya Vania sambil memiringkan kepala.
"Kenapa ini kosong gini?" tanya Chris lagi.
"Saya belum sempat beli furniture, Pak."
"Dari kosan yang lama? Belum kamu pindah?" tanya Chris penasaran.
Vania menghindari tatapan matanya. Selalu begitu jika Chris membahas tempat tinggalnya yang dulu. Chris menghela napas. Apa yang terjadi di kamar itu.
"Oke ... Nanti libur, saya antar kamu belanja," putus Chris.
Vania tertegun, kenapa bosnya ini sangat perhatian padanya? Apa yang Chris rasakan terhadap dirinya. Vania tidak bisa menebak isi kepala Chris. Yang Vania tahu, bos nya itu selalu terlihat tenang dalam kondisi apapun. Itulah kenapa Vania sangat segan padanya.
Vania menelan ludah, seharusnya dia tidak melakukan ini pada Chris. Pada pria baik hati yang selalu dia kagumi secara diam-diam ini. Tapi Vania tidak bisa mundur. Dia ingin menghilangkan kenangan buruknya dengan mewujudkan fantasinya.
"Kenapa?" tanya Vania pelan. "Kenapa Pak Chris sebaik ini ke Nia?" tanya Vania tidak bisa menahannya lagi.
Chris terdiam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Chris sebenarnya juga merasa aneh dan bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini pada Vania. Selama enam tahun Vania menjadi sekretarisnya tidak pernah Chris menyangka akan menyentuh Vania dengan intim seperti sekarang ini.
Tapi akhirnya Chris tahu jawabannya, dia mengundurkan tangannya lagi untuk membelai wajah Vania. Jarinya yang kasar menyentuh pipi Vania yang lembut. Menelusuri pipi sampai dagunya.
Chris tersenyum saat telunjuknya menyentuh bibir bawah Vania. Matanya yang tajam dengan intens memperhatikan ekspresi yang Vania tampilkan.
"Itu karena kamu Nia ... Kamu dan setan yang kamu bawa," bisik Chris pelan.
.
.
.
.
Yericho akhirnya bisa beristirahat di ruang dokter. Setelah membujuk ibu Rio pulang, dengan dalih Nicholas akan menjaga Rio malam ini. Tentu saja, Joana yang sebenarnya akan melakukan itu dan Ibu Rio cukup tahu jika Yericho berbohong. Tapi dia tampaknya tidak memiliki waktu untuk berdebat, karena sudah banyak tamu yang menunggunya di rumah.
Yericho memeriksa ponselnya dan satu-satunya orang yang menghubunginya hanya Alexa saja. Gadis itu tamoak semangat melaporkan apa yang dia lakukan seharian pada Yericho. Yericho tersenyum kecil melihat foto-foto yang dikirim gadis itu.
Perlahan senyumnya hilang, saat dia membaca satu pesan dari mantan istrinya. Lagi, wanita itu tidak mengizinkan Yericho membawa anak mereka saat liburan sekolah.
Sial. Umpat Yericho dalam hati. Apa wanita itu lupa kalau dia ayah dari anaknya? Yericho menarik napas dan menghembuskan nya pelan. Berusaha menenangkan diri.
Yericho mulai bangkit dari tempat duduknya dan berniat pulang saja. Dia merasa lelah hari ini. Padahal pasiennya tidak sebanyak kemarin.
Yericho turun ke bawah dan bertemu dengan Nicholas yang sedang merokok di area parkir. Temannya itu terlihat sedikit mencurigakan karena celingukan kesana kemari.
"Sedang apa?" tanya Yericho heran.
"Nunggu saya?" tanya Yericho lagi.
"Mana mungkin saya nunggu kamu," jawab Nicholas santai.
"Kira-kira, Monica sudah pulang belum ya?" Nicholas bertanya lebih pada dirinya sendiri.
Yericho mengangkat sedikit bahunya. Dia menggelengkan kepala dan mulai tersenyum juga.
"Bukankah sekarang ada teknologi yang bernama telepon?" sindir Yericho, mengingat saat Nicholas menguliahi Rio tentang itu.
"Sialan, masih ingat soal itu?" Nicholas tertawa pelan. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan.
"Mau kemana?" tanya Nicholas akhirnya, setelah melihat Yericho memasukkan tasnya ke dalam bagasi mobil.
"Pulang?" jawab Yericho dengan nada tanya.
"Nanya apa jawab. Pilih salah satu, dasar orang tampan," ucap Nicholas sambil mendelik.
Yericho tertawa lagi. "Pulang ...." kata Yericho.
"Ke rumah?" Nicholas bertanya seperti orang bodoh jika saja buka Yericho lawan bicaranya.
"Kemana lagi?" goda Yericho.
Nicholas tersenyum miring melihat wajah Yericho yang terlihat licik di matanya.
"Ke tempat yang nyaman dan tidak menyakiti," ucap Yericho setengah bercanda.
Nicholas berdecak, dia terlihat kesal mendengar Yericho mengatakan itu.
"Sudah saya bilang. Pindah." Nicholas menekan kata terakhir.
Nicholas heran kenapa semua temannya keras kepala. Tapi dia juga tidak bisa memaksa mereka. Terserah mereka ingin menghadapi hidup seperti apa.
Yericho masih tersenyum menanggapi Nicholas. Dia akhirnya pamit meninggalkan laki-laki yang katanya sedang jatuh cinta itu.
Yericho memutar setirnya dan pergi ke apartemen Alexa. Mampir sebentar mungkin bisa memperbaiki suasana hatinya.
Yericho memang benar, datang kepada Alexa bisa membuat harinya lebih baik. Saat dia membuka pintu, Alexa sedang menari-nari di depan kamera ponselnya. Dia mungkin tidak menyadari Yericho datang. Atau sengaja belum menghiraukannya.
Saat mata mereka bertemu, Alexa tertawa dan berlari menyebrang ruangan dan melompat ke pelukan Yericho.
"Daddy ...." bisik Alexa di tengah suara musik yang berisik.
"Ya?" Yericho tersenyum dan mengeratkan pelukannya agar Alexa tidak jatuh.
"Selamat datang ...." bisik Alexa lagi.
Yericho tertawa dan membawa Alexa di pangkuannya. Malam ini, Yericho berharap andai dia tidak usah pulang.
...----------------...