Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.11



Sugar (Yericho Adam)


.


.


Alexa membaca sambil tidur menelungkup. Sangat nyaman dengan baju tidur satinnya, sepotong tank top dan celana super pendek. Alexa menyalakan pengeras suara yang dia hubungkan ke ponsel pintarnya. Memainkan lagu trendy agar apartemennya tidak terlalu sepi.


Alexa agak terkejut saat mendengar kunci pintu yang terbuka. Alexa hanya menjulurkan kepala dan tersenyum menyambut Yericho.


Yericho, membalas senyum Alexa. Masuk ke dalam dengan santai. Jasnya dia letakan sembarangan di atas sofa. Menuju lemari es dan mengeluarkan bir kaleng dingin dari sana. Melonggarkan dasinya sebelum meneguk minuman itu.


Menghampiri Alexa dan berbaring, menjadikan punggung Alexa bantal.


"Daddy, udah makan malam?" tanya Alexa.


"Belum. Kamu?"


"Ale, juga belum." Alexa menjawab, matanya masih mengikuti pergerakan Yericho


"Mau makan apa? mau makan di luar? atau pesan aja?" tanya Yericho sambil memejamkan mata.


"Pesan aja, Daddy keliatannya capek kalau keluar lagi."


Yericho terkekeh, masih memejamkan matanya.


"Hn. Pesan apa saja yang kamu mau, saya ikut aja," jawab Yericho.


"Oke." Alexa mengangkat ponselnya dan memesan suki dan grill daging beserta alat-alatnya. Dan kembali membaca bukunya.


Yericho membuka matanya melihat langit-langit apartemen. Matanya fokus ke lampu yang berkelip di atas sana. Punggung Alexa cukup nyaman, Yericho menggerak-gerakkan kepalanya, membuat Alexa terkikik geli.


Yericho bangun dan berbaring menelungkup juga di samping Alexa. Kepala mereka sejajar dan sangat dekat.


"Baca apa?" bisik Yericho sambil mengintip buku yang Alexa baca.


"Novel romance," jawab Alexa berbisik juga.


"Daddy, lihat." Yericho masih berbisik.


"Ale malu kalau daddy baca," jawab Alexa masih berbisik.


Yericho tersenyum mendengarnya. Aneh rasanya, mereka bertukar bisikan saat hanya ada mereka di sana.


"Apa yang bikin kamu malu?" Yericho mengambil anak rambut Alexa dan mengaitkannya di belakang telinganya. Membelai sisi wajahnya lembut dengan jari telunjuk sampai ke dagu. Dan membawa wajah Alexa mendekat untuk mengecup bibirnya pelan.


"Sweet," bisik Yericho saat dia memberi jarak diantara bibir mereka.


Alexa menatap Daddy nya itu penuh kagum. Dia selalu terpesona dengan wajah Yericho. Alexa mengeluarkan lidahnya untuk menjilat bibir Yericho. Mata Yericho tidak lepas dari tatapan Alexa yang menggodanya untuk melakukan hal yang sama.


Tangan Yericho sudah ada di dalam baju satinnya, mengelus punggung telanjang Alexa yang tidak memakai bra. Yericho menempelkan lidahnya dengan lidah Alexa. Mata mereka sudah sayu, sampai Mereka mendengar bel pintu berbunyi.


Alexa memundurkan kepalanya, "Pesanan kita sudah datang," bisiknya di depan bibir Yericho.


Yericho dengan cepat menarik Alexa, menahannya agar tidak berdiri. Alexa menatap Yericho heran. Bel pintu berdering lagi.


"Kamu, nggak beneran mau buka pintu dengan baju kayak gitu kan?" tanya Yericho.


Alexa tidak menjawab, Yericho berdiri dan berjalan menerima pesanan mereka. Agak heran dengan peralatan dan bahan masakan yang dikirim kurir.


"Nanti saya ambil lagi empat jam dari sekarang ya, Pak." Kurir itu menjelaskan pada Yericho yang terlihat masih bingung.


Alexa menghampiri sudah lengkap dengan sweater dan celana panjangnya.


"Ale, sewa peralatan barbeque," kata Alexa menjawab kebingungan Yericho.


Yericho mengangguk mengerti dan membayar tagihan. Sementara Alexa membawa semua yang dia pesan ke dalam. Menatanya di meja lipat kecil yang baru Yericho lihat.


"Sekarang bisa sewa alatnya juga sekalian beli bahan-bahannya," Jelas Alexa.


"Oke." Yericho menanggapi singkat, sambil memperhatikan Alexa dengan ceria menata bahan-bahan di atas meja.


"You look happy," gumam Yericho.


"Iya. Berkat Daddy. Ale bisa makan enak," jawab Alexa yang tersenyum lebar.


Yericho mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Alexa sayang. Sebelum mengambil alih penjepit dan mulai memanggang daging.


.


.


Deer Eye (Christian Geoff)


.


.


Tidak ada yang istimewa dari perjalanan pulang Chris dan Vania. Vania masih bungkam saat mereka berangkat kemarin. Sedang Chris jadi merasa sedikit canggung untuk memulai obrolan lagi. Chris sedikit bimbang, apakah pura-pura tertipu adalah ide yang bagus? Haruskah dia jujur pada Vania kalau dia tahu Vania menjebaknya dengan sangat kentara?


Vania menunduk menyentuh tumitnya. Dan sedikit meringis. Chris melihat ke arah sepatu Vania. Kalau di ingat Vania belum mengganti sepatunya sejak Jumat malam. Aneh. Pikir Chris.


Vania, sekretarisnya yang Chris kenal adalah wanita yang selalu mengutamakan mode dan penampilannya. Chris tahu setiap hari Vania akan mengganti sepatunya.


"Nggak, Pak. Semua sepatu saya masih di kosan yang lama." Vania menjawab sambil menegakan punggungnya lagi


"Belum di pindah?" tanya Chris.


"Belum, Pak." Vania menggigit bibirnya gugup.


"Perlu saya bantu?"


"Nggak perlu, Pak."


"Nia, kalau kamu sedang kesulitan, Saya harap kamu tidak ragu untuk bilang. Saya mungkin bisa bantu." Chris serius mengucapkan itu. Dia ingin Vania terbuka dengan apa yang dia alami. Ada apa di kosan Vania yang dulu.


"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Vania sambil memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Chris.


"Soal semalam ...." Chris tidak meneruskan perkataannya. Dia melihat tubuh Vania yang agak menegang.


Vania memberanikan diri menatap Chris yang sedang menatapnya. Chris menggigit kecil ibu jarinya.


"Semalam, meskipun Saya tidak mengingatnya. Saya harap kamu tidak menyembunyikan apa-apa dari saya," ujar Chris.


Chris ingin menekankan kata-katanya. Dia harap Vania tidak melanjutkan tindakan bodohnya. Apapun yang menjadi dasar dia melakukan itu pada Chris. Bagaimanapun, Chris tidak ingin kehilangan Vania sebagai sekretarisnya.


Vania tidak menjawab, dia masih menatap Chris dengan matanya yang terlihat lugu.


"Pak Chris, Vania bukan Vania enam tahun lalu yang Pak Chris anggap anak kecil. Vania sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang Vania lakukan," kata Vania.


Sejujurnya, Chris tidak mengerti maksud perkataan Vania itu. Tapi akhirnya dia tidak ingin melanjutkan percakapan ambigu mereka. Seperti Chris yang tidak menangkap maksud dari kata-kata Vania, Vania pun sepertinya tidak paham maksud dari kata-kata Chris sebelumnya.


Chris menghela nafas, memalingkan wajahnya ke jendela pesawat. Untuk saat ini, dia tidak ingin memikirkan apa-apa.


.


.


.


The Red Umbrella (Nicholas Geoff)


.


.


Nicholas menatap layar ponselnya, mempertimbangkan sesuatu. Dia ingin berkenalan dengan Monika lebih jauh. Bukan hanya tahu nama dan dimana monika bekerja saja. Nicholas sadar, ternyata dia tidak punya banyak pengalaman tentang ini.


Nicholas akhirnya menghela napas sebelum menekan tombol telepon. Berharap Monika mengangkat teleponnya. Agak gugup saat masih mendengar bunyi sambungan telepon itu.


"Halo," sapa monika di sebrang sana.


Nicholas tersenyum mendengar nada lembut monika.


"Hai, ini Nicholas ," kata Nicholas cukup percaya diri Monika mengingat dia.


"Tuan Gentleman?" tanya Monika dengan nada yang sedikit geli.


"Iya ... yang terhubung denganmu oleh benang merah." Nicholas tertawa mengakhiri kalimatnya. Dia geli sendiri mendengar itu.


"Jadi ... apa Anda sudah melepaskan formalitas dengan saya?" tanya Monika saat Nicholas tidak lagi bicara formal padanya.


"Mendengar kamu bicara formal begini, mengingatkan saya kalau kita adalah orang asing." Nicholas menjawab dengan suaranya yang dalam.


"Kita memang orang asing," jawab Monika, ada senyum dalam kata-katanya yang bisa Nicholas rasakan.


"Baiklah, bagaimana caranya agar saya tidak menjadi orang asing lagi?" tanya Nicholas , penuh antispasi.


"Apa motif Anda, mendekati Saya?" tanya Monika penasaran.


Nicholas tidak langsung menjawab, dia diam sebentar.


"Saya juga sebenarnya ingin tahu. Kamu mau bantu saya?" Nicholas agak gugup menunggu jawaban Monika. Kalau Monika memutuskan untuk tidak menanggapi Nicholas , rasanya dia tidak ingin mengejar sesuatu yang sulit. Dia sudah terlalu malas.


"Baiklah." Monika mengatakan itu sambil menahan tawanya.


Nicholas mematung sebentar. Kenapa rasanya senang sekali.


"Bagaimana Saya memulainya?" tanya Nicholas yang berhasil menyembunyikan nada puasnya.


"Bisa kita bertemu jumat ini?" Nicholas menjawab pertanyaannya sendiri dengan pertanyaan.


"Baiklah," jawab Monika.


"Boleh Saya tetap menghubungimu dari waktu ke waktu?" Nicholas bertanya agak canggung.


"Dengan senang hati," ujar Monika membuat Nicholas tersenyum lebar.


"Sampai nanti kalau begitu." Nicholas mengakhiri percakapannya dengan Monika. Dan mengakhiri panggilan teleponnya saat Monika mengatakan sampai jumpa juga.


Nicholas menatap layar ponselnya lama, merasa aneh dengan dirinya sendiri. Sebelum, mengantongi ponselnya lagi. Menyalakan rokok dan memandang keluar jendela kantornya. Memandang langit yamg terlihat sangat terik. Nicholas menghembuskan asap rokoknya. Sebelum tersenyum mengingat wajah tertawa Monika kemarin.


...----------------...