
.
Deer Eyes (Christian Geoff)
.
.
Hari ini setelah terbangun di apartemen Vania, Chris langsung bertolak ke rumah sakit. Dia baru membaca pesan dari Nicholas dan Yericho kemarin malam. Rasanya dia tidak bisa tidak datang untuk menjenguk Rio. Vania juga tidak menahannya.
Tapi sesampainya di sana. Dia harus berhadapan dengan drama siang bolong yang sebenarnya sangat menyebalkan. Tapi untungnya, dia bisa menjauhkan drama itu dari pasien.
Chris masih mendengar curhatan Ibu Rio tentang anaknya dan kekasih anaknya. Yang bagi Chris sebenarnya tidak seharusnya diungkapkan di depan orang yang katanya akan dijodohkan dengan Rio.
Chris mengerling wanita yang seperti baru saja dewasa itu. Meringis mendengar setiap kata dari ibu Rio. Dan saat ibu Rio pamit ke kamar mandi. Akhirnya Chris bisa sedikit menasehati wanita muda itu. Untuk mencari calon suami dengan calon mertua yang lebih baik.
Mereka berpisah saat hampir pukul dua siang. Chris sudah terlanjur ada di sekitar rumah sakit, jadi dia kembali ke ruangan Rio. Mendapati Joana sudah berganti menjadi Nicholas.
Nicholas tidak berkedip melihat Chris dari atas ke bawah. Lalu menyeringai sinis. Yang hanya diacuhkan oleh kakaknya itu.
"Rupanya ada yang tidak pulang ke rumah dan masih memakai pakaiannya yang kemarin," sindir Nicholas sambil mengupas buah apel.
Chris hanya mendengus sebelum melempar jasnya ke sofa dan duduk di sana.
"Jadi kenapa istrimu bisa babak belur begitu?" tanya Chris pada Nicholas.
"Istri apa?" protes Rio.
"Kau istriku," kata Nicholas santai. Menunjuk Rio dan dirinya.
"Amit-amit," gumam Rio.
Nicholas tertawa dan menyodorkan piring yang berisi apel yang sudah susah payah dia kupas.
"Kau tahu, bisa-bisa kamu mati muda kalau begini terus, Yo." Chris mengatakan itu sambil menutup matanya.
"Percuma-percuma. Dia tidak akan mendengarkan anda," jawab Nicholas. Dia sudah muak menasehati sahabatnya itu.
"Bukan begitu, kalau kalian jadi saya. Kalian juga pasti akan melakukan hal yang sama," ungkap Rio.
Ucapan Rio tidak ditanggapi dengan kata-kata. Tapi baik Chris dan Nicholas menatapnya seakan dia adalah orang gila. Rio meringis menyadari ucapannya salah. Para psikopat ini tidak akan mengerti patriotisme.
"Aku tarik lagi ucapan yang tadi," ucap Rio akhirnya. Membuat Chris dan Nicholas tersenyum secara bersamaan. Rio sedikit merinding, melihat wajah kakak beradik itu tiba-tiba terlihat sama persis.
"Murid kami yang namanya Colin itu gimana anaknya?" tanya Nicholas tiba-tiba.
Rio menatap Nicholas jijik. Kenapa temannya itu menanyakan muridnya?
"Kenapa dengan Colin?" tanya Rio terdengar waspada.
"Saya suka sama ibunya," jawab Nicholas ringan.
Rio tidak langsung menjawab dan menatap diam Nicholas. Sesuatu yang sangat menyejukkan untuk didengar. Apa kata orang gila ini? Dia suka ibunya?
"Ibunya siapa?" tanya Rio.
"Ibunya Colin, dia dokter disini. Namanya Monika." Nicholas masih menjawab tenang.
"Serius?" tanya Rio lagi.
"Mana mungkin saya bercanda tentang ini," jawab Nicholas.
"Istri orang?" Chris bertanya tiba-tiba. Membuat atensi Rio dan Nicholas beralih padanya.
"Bukan," jawab Rio dan Nicholas hampir bersamaan.
"Ketemu dimana?" tanya Rio penasaran.
"Di bus," jawab Nicholas jujur.
Tapi entah kenapa dia tidak menyesal. Apa yang sebenarnya dipikirkan gadis itu. Chris tidak bisa berhenti khawatir. Khawatir kalau permainan ini terlalu dalam dan di luar kendalinya nanti.
"Kenapa dengan dia?" tanya Rio yang menatap Chris aneh setelah memanggilnya berkali-kali tanpa respon.
Nicholas menaikan pundaknya acuh. Tapi ikut menatap Chris juga.
"Kamu kenal Vania?" tanya Nicholas pada Rio.
"sekretaris Chris?" Rio menjawab dengan nada tanya.
"Ya. Mereka terlihat aneh akhir-akhir ini." Nicholas memulai gosipnya.
"Aneh bagaimana?" tanya Rio semakin penasaran.
"Dia ..." Nicholas menunjuk Chris. "Dan Vania, mereka kelihatan lagi mesum ...." Nicholas belum menyelesaikan kalimatnya tapi dia sudah merasakan lemparan bantal di kepalanya.
Nicholas tertawa terbahak-bahak sebagai tanggapan dari lemparan bantal Chris.
"Dasar gila," gumam Rio.
Chris tidak menanggapi lagi apa yang dia orang sahabat itu bicarakan soal dirinya. Dia mengangkat ponselnya dan mulai melihat beberapa pesan. Sampai dia membuka pesan dari Vania.
'Pak Chris, Nia boleh ke rumah Pak Chris?'
Chris membaca pesan itu berulang kali. Seringai muncul di wajah tenangnya. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan. Tapi Chris tidak menganggap itu buruk. Baginya hal ini cukup menarik dan menyenangkan. Tanpa sadar Chris tersenyum. Chris bangkit dari duduknya dan mengerling Rio lalu menatap Nicholas.
"Saya dan Vania, hubungan kami bukan sesuatu yang buruk. Jadi jangan khawatir," kata Chris membuat Rio melongo.
"Cepat sembuh ya, Yo." Chris menepuk pundak Rio sekali sebelum keluar meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa dia?" tanya Rio serius.
Nicholas hanya menggelengkan kepalanya sebelum pindah ke sofa dan membaringkannya tubuhnya. Meninggalkan Rio yang masih tertegun dengan informasi dari dua sahabatnya itu.
.
Chris menyetir mobilnya dengan tenang. Dia sudah mengirim pesan pada Vania kalau dia akan menjemputnya di sebuah restoran cepat saji. Bukan tempat yang biasa Chris tunjuk untuk janji temu dengan lawan jenis. Tapi karena Vania sedang makan di sana jadi apa boleh buat.
Chris melihat Vania duduk di dekat jendela kaca besar. Chris duduk dengan santai di hadapannya. Vania tersenyum menyambutnya.
"Pak Chris, mau Nia pesankan sesuatu?" tanya Vania.
Chris menggeleng, dia sudah makan dengan ibunya Rio tadi. Jadi dia masih merasa kenyang.
"Kamu saja," jawab Chris singkat.
"Tapi rasanya canggung kalau Pak Chris tidak ikut makan," kata Vania dengan nada sedikit manja.
Chris terkekeh mendengarnya. Bukan dia tidak suka mendengar nada itu keluar dari mulut Vania. Dia hanya terkesan dengan kemampuan Vania menggerakkan hatinya akhir-akhir ini. Seakan gadis itu tahu apa yang akan Chris anggap menarik dari seorang wanita.
"Saya akan pesan es kopi kalau begitu," ucap Chris sambil beranjak ke arah counter. Chris menunggu sebentar, sambil sesekali mencuri pandang pada Vania yang sudah makan dengan lahap lagi.
"Kenapa tiba-tiba mau ke rumah saya?" tanya Chris penasaran.
"Hmm ... Karena tidur dengan Pak Chris menyenangkan," jawab Vania seperti tanpa berpikir sama sekali.
Chris terdiam mencerna perkataan Vania. Dia berkata jujur atau hanya satu tipuan untuk merayunya saja.
"Begitu ya ...." gumam Chris pelan.
"Menyenangkan?" tanya Chris pelan seperti pada dirinya sendiri.
"Sudah lama Vania tidak tidur nyenyak seperti tadi malam." Vania menjawab gumam pelan Chris dengan tidak terduga.
Pertanyaan sudah ada di ujung lidah Chris. Dia ingin menanyakan semuanya. Tapi dia mengurungkan niatnya. Chris menatap gelas kopi dinginnya. Mencoba berpikir lebih jernih kali ini. Dia tidak ingin terseret untuk kedua kali.
...----------------...