Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.5



Red Umbrella ( Nicholas Geoff )


.


Bus masih juga belum datang dan Nicholas sudah mati kebosanan. Hujan masih saja lebat. Nicholas sudah gatal ingin menelepon salah satu temannya. Berharap mereka bisa memberinya tumpangan. Tapi tidak dia lakukan. Tidak bijak rasanya menganggu aktivitas mereka. Mereka bekerja sepanjang minggu. Dan hari libur adalah hari yang mereka tunggu. Nicholas bersandar di kusir tunggu sambil mengantuk.


“Kau tidak pulang hari ini?” suara lembut si pinky terdengar. Dia sedang menelpon seseorang.


"Baiklah jaga dirimu baik-baik. Aku juga menyayangi mu. Sampai nanti.”


Ternyata si Pinky sudah punya kekasih. Lagi pula kenapa kalau dia tidak punya kekasih. Tanya Nicholas dalam hati. Nicholas sedikit mendengus mengejek pikirannya sendiri. Nicholas tidak menyangkal kalau si Pinky sangat menarik dimata George. Wajahnya yang cantik dan postur tubuhnya yang tidak seperti wanita kebanyakan yang dia temui. Di tambah senyumnya yang lembut.


Bus yang di tunggu akhirnya datang. Si pinky dan wanita hamil itu juga masuk kedalam bus. Bus sangat lenggang, mungkin karena ini sudah hampir tengah malam. Di tempat duduk depan berisi sepasang suami istri yang sudah renta saling mengaitkan tangan. Nicholas tersenyum pada mereka saat mata mereka bertemu. Itu pemandangan yang sangat romantis.


Nicholas duduk di bangku deretan sebelah kiri. Memandangi pemandangan kota di malam hari lewat jendela. Perjalanan berlangsung tenang. Membuat Nicholas ingin memejamkan mata. Hingga dia mendengar teriakan dari arah belakang.


"Ya Tuhan !!!!”


“Nyonya anda baik-baik saja.” itu suara di pinky. Batin Goerge.


“Ya, Tuhan ini sakit sekali.” Wanita hamil itu terdengar meringis.


Nicholas menoleh ke belakang. Sepasang suami istri yang sudah renta itu sudah berjalan ke bagian belakang bus. Dan Nicholas juga mengikuti mereka karena penasaran. Dia terkejut saat melihat darah yang mengalir di kaki wanita hamil tadi.


Wanita hamil itu menggigit bibir nya menahan sakit. Sementara di pinky terlihat panik mata nya sedikit melebar. Si pinky menghela nafas sebentar dan wajah panik nya berganti dengan wajah percaya diri.


“Nyonya mungkin anda akan segera melahirkan , tarik napas dan keluarkan pelan-pelan oke. Berapa jauh lagi rumah sakit?” si Pinky bertanya sambil menatap George.


Nicholas berteriak pada supir bus menanyakan hal yang sama.


“Lima blok lagi !!!” si supir berteriak dari arah depan.


"Itu terlalu jauh.” si Pinky bergumam dan dalam diam Nicholas setuju dengan nya.


“Kita perlu membaringkan anda nyonya. Tenanglah aku rasa aku bisa sedikit membantu,” ujar si Pinky.


Dia beranjak dari kursi dan menggelar mantelnya di lantai bus. Dan tanpa di perintah Nicholas melakukan hal yang sama. Nicholas menggelar mantelnya di atas mantel milik si pinky. Dan dengan sigap membantu wanita hamil itu berbaring.


“Maaf tuan, anda tidak keberatan jika kaki anda menjadi bantalan untuk nya?” si pinky bertanya pada George.


Nicholas tidak menjawab dia duduk dan menempatkan kepala wanita hamil itu di pangkuannya. suami istri tua juga duduk di sisi kanan dan kiri George.


Nicholas bisa melihat si pinky sibuk mengaduk tas nya. Mengeluarkan bungkusan sarung tangan karet baru dari dalam kotak obat, dia menggigit bungkusnya dan memakai sarung tangan itu. Lalu membuka ****** ***** si ibu hamil yang sudah banyak darah nya. Bagian ini membuat Nicholas mual.


“Ya Tuhan ini sakit sekali ...." ringis wanita hamil ini.


“Tenang lah nak. Kau akan baik-baik saja.” Si nenek memberikan semangat. Wanita hamil itu mencengkram tangan Nicholas seakan ingin meremukkannya. Ini pengalaman pertama Nicholas melihat hal seperti ini. Dan jujur dia sedikit ketakutan.


Keringat Nicholas bercucuran. Dan demi segala hal yang terjadi di dunia ini sepanjang hidupnya. Hal ini adalah hal paling horor yang pernah dia alami. Tanpa sadar saat si pinky mengintruksikan ibu hamil ini menarik nafas Nicholas juga mengikutinya.


Tangan Nicholas sudah kebas dalam cengkraman wanita hamil ini. Wanita ini terus mengerang menahan sakit.


“Apa wanita ini siap untuk melahirkan?” tanya si kakek disamping kiri George. 'Kenapa dia harus bertanya di saat seperti ini?' Nicholas mengerang dalam hati tidak ingin mendengar jawaban apapun .


“Ya tapi pembukaannya belum sempurna.”


“Tapi darahnya sudah banyak sekali.” Si nenek bergumam sambil mengusap lembut peluh yang menetes dari kening wanita ini. Wanita ini menghela nafas tenang sebelum mengerang sakit lagi. Terus begitu dari waktu ke waktu.


Bus melaju kencang, sesekali suara rem yang ditekan terdengar mengerikan. Bus bahkan tidak berhenti di halte-halte berikut nya. Suasana di dalam sini tiba-tiba sangat hening. Keheningan yang sesekali terselip erangan bahkan teriakan sang wanita hamil. Dia sudah menangis sekarang sambil merengek sakit. Dan cengkeramannya lebih menyakitkan dari sebelumnya.


“Aku tidak sanggup. Tuhan ... ini sakit sekali....”


“Anda harus mendorongnya,,tarik napas dan dorong.”


“Euuuuengggg!!!” wanita itu mengejan dengan sekuat tenaga, sekali, dua kali. Dan dia sudah terlihat kelelahan. Dan mata nya mulai terpejam.


“Nyonya anda tidak boleh tertidur!!” si pinky mulai berteriak. Dan si nenek menepuk-nepuk pipinya membangunkannya. Pegangan wanita hamil itu melemah. Dan saat semua hal buruk berseliweran di kepala George. Bus berhenti dengan kasar dengan suara mengerikan membuat wanita yang akan melahirkan ini melonjak kaget dan mulai menarik nafas lagi.


“Sebentar lagi nyonya anda harus berjuang.” Si pinky menyemangati. Saat segerombol orang berpakaian perawat datang masuk kedalam bus.


“dr.Monika … pasien ini bisa di pindahkan dari bus?” Salah satu dari mereka bertanya pada si pinky.


"Tidak ada waktu kita akan melakukannya disini. Tolong siap kan keperluannya.” Si pinky memerintah dengan sedikit panik.


“Nyonya tinggal sedikit lagi. Berjuang lah. Tarik napas dan dorong.” Dia memberi instruksi lagi.


Para perawat sudah meninggalkan bus menyisakan dua orang. Dan tangisan bayi menggema di seluruh badan bus. Tanpa sadar Nicholas mendesah lega.


“Nyonya anak anda perempuan.” Si pinky mengumumkan sambil mengangkat bayi mungil yang masih menangis. Seorang perawat memotong tali plasenta membuat Nicholas meringis, mengalihkan pandangannya. Seorang wanita pirang masuk kedalam bus dengan setelan dokter.


“Monika.”


“Sarah, kau yang piket hari ini?”


“Ya ... wanita ini beruntung karena kau ada di dalam bus ini juga," ucap wanita pirang itu.


“Kau pikir begitu?” Si Pinky tersenyum saat mengoper bayi itu ke perawat yang tinggal bersama dia.


“Ya ... serahkan sisa nya pada kami. Kami akan merawatnya.” Wanita pirang itu melihat Nicholas dengan matanya yang besar. “Tenang lah Tuan kami akan segera merawat istri anda.”


Dan pernyataan itu membuat Nicholas mendengus. Nicholas tidak habis pikir, bagaimana dokter pirang ini menganggap wanita ini istrinya. Tentu saja sebelum dia menyadari posisinya yang cukup mesra itu.


“Dia bukan suaminya Sarah.” Si pinky memberitahu sambil menahan senyum.


"Ah ... Maaf ...." Wanita yang dipanggil Sarah itu tersenyum canggung pada Nicholas sebelum turun dari bus.


Dan semua orang sibuk memindahkan wanita yang mencetak sejarah melahirkan di dalam bus di bantu orang-orang asing yang baik hati.


Pria tua yang bersama Nicholas bangkit dan menepuk bahu Nicholas sekali sambil tertawa pelan. Si pinky membuka sarung tangannya dan menyatukannya dengan lipatan mantel mereka yang sudah bau karat darah.


“Bagaimana dengan mantel mu?” Dia bertanya pada George.


“Aku rasa aku tidak mau melihatnya lagi,” gumam Nicholas lemah. Si pinky tertawa geli.


“Aku juga. Kurasa aku akan menyerahkannya pada petugas rumah sakit. Terserah mereka apakan mantel-mantel ini.”


Setelah si pinky beranjak dari tempatnya. Nicholas mulai berdiri sambil berpegangan pada kursi-kursi bus. Dan entah kenapa berusaha tidak menginjak tempat yang tadi dijadikan tempat bersalin darurat.


Nicholas berhasil keluar dari bus. Dan menyalakan rokok. Si supir bus mengumumkan jika dia tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dan menyarankan penumpangnya memakai jasa taksi.


Udara sangat dingin saat Nicholas sudah tidak mengenakan mantel. Di depan pintu masuk rumah sakit ada tiga taksi yang sudah berjejer. Suami istri itu sudah masuk kedalam taksi. Dan entah karena alasan apa. Nicholas membukakan pintu taksi untuk si pinky. Dia bergumam terima kasih dengan wajah bersemu merah muda.


Nicholas hanya membalas dengan sedikit senyum, dan melenggang menuju taksinya sendiri. Sekarang dia jadi tahu kenapa Yericho dengan suka rela memberikan hak asuh Cadee pada ibu nya. Mungkin karena pemandangan seperti tadilah yang dia lihat saat anaknya lahir ke dunia dan itu sangat mengerikan. Lebih mengerikan lagi jika itu terjadi pada orang-orang yang benar-benar kita pedulikan.


Dan jika suatu hari dia punya anak ... Nicholas mendengus, mengejek pikiran konyol nya. Dia menelpon ibunya sebentar saat sampai di rumah. Dan tanpa sadar tertidur di sofa saat suara ibunya masih terdengar di telinga.


...----------------...