
Deer Eye ( Christian Geoff)
.
Chris memainkan gelas wiski nya saat dia menyambut Yericho datang. Mereka duduk bersebelahan di meja bar lounge hotel langganan mereka. Yericho menerima minumannya lalu memberikan isyarat untuk bersulang. Chris menurut dan mendenting kan gelas mereka sebelum minum lagi.
"Ada apa? Setiap kali kamu manggil saya pasti ada hal yang terjadi," ucap Yericho, dia masih mengarahkan tatapan matanya ke depan.
"Haha ... keliatan kentara ya?"
"Hn," gumam Yericho pendek. Dia sudah siap mendengarkan apa saja yang akan dikatakan Chris.
"Bukan sesuatu yang penting." Chris memulai ceritanya sambil masih menatap gelasnya. Di balas dengusan ringan Yericho.
"Penting atau tidak. Biar saya yang mendengar yang menentukan." Yericho melirik Chris yang terkekeh dengan sudut matanya.
Yericho terlalu mengenal temannya ini. Sulit untuk Yericho tidak bersikap serius saat Chris bilang ingin bicara dengannya.
"Kau kenal Vania?"
"Ya, sekertaris mu."
"Dia menjebak saya, seakan saya tidur dengannya." Chris mengatakannya dengan sangat santai. Yericho akhirnya menatapnya. Mempelajari ekspresi Chris saat ini. Ada gurat puas yang tidak kentara di wajahnya.
"Seakan saya tidur dengannya?" Yericho mengulang pernyataan Chris dengan pertanyaan.
"Kau yakin tidak benar-benar tidur dengannya?" tanya Yericho lagi.
"Katakanlah kau sedang mabuk. Benarkah kau tidak akan mengingat kalau kau sedang atau sudah berbuat begitu?" Chris menyalakan rokoknya santai. Menghisap dan menghembuskan asapnya. Saat Yericho sedang berpikir.
"Saya paham." Yericho mulai menyalakan rokoknya juga. "Jadi ...." dia menghembuskan asap rokok sebelum meneruskan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Belum tahu. Apa yang membuat dia bertindak konyol dan bodoh begini," jawab Chris jujur. Dia benar-benar tidak tahu jawabannya.
"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yericho sedikit penasaran.
"Tergantung ...." Chris menyeringai menggantung perkataannya.
"Celaka, gadis yang malang," ucap Yericho menggelengkan kepalanya. Dia ikut menyeringai.
"Tapi nyalinya cukup besar," puji Yericho sambil menghisap rokoknya. "Tidak banyak yang berani masuk kandang singa."
"Singa?" Chris menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa? lebih suka di panggil buaya?"
Chris tertawa cukup keras hingga membuat mereka berdua jadi pusat perhatian.
"Sayang sekali, padahal saya kenal dia sejak dia masih kecil," ujar Chris, kata-kata simpati yang tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya.
"Sejak dia kecil?"
"Hn. Sejak dua puluh satu tahun." Chris menjawab demgan tenang.
"Dua puluh satu tahun itu kecil?"
"Bagi kita harusnya masih kecil kan?" Chris menatap Yericho dengan sorot mata yang serius.
"Wah ... kau terlihat tahu sesuatu yang belum saya beritahukan," ucap Yericho membalas tatapan Chris.
"Hmmm ... apapun itu." Chris meneguk minumannya lagi. "Jangan terlalu menormalisasikan apa yang sebenarnya tidak normal. Siapa yang tahu isi hatinya. Dia mungkin ketakutan."
"Saya tahu. Saya tidak benar-benar menyentuhnya seperti yang kamu kira." Yericho waspada dengan ucapannya sekarang. Dia mendengar Chris mendengus lagi.
"Baik saya atau kamu. Kalau setan sudah datang. Hanya kita berdua yang dinilai bajingan. Hati-hati." Chris menegak minumannya lagi.
Yericho paham dengan kata-kata chris. Dia menghembuskan asap rokoknya dengan tenang. Wajah berseri Alexa tadi sore masih terlihat jelas di depan matanya. Gadis itu sangat cantik. Bohong kalau Yericho menyangkal nafsunya. Setan selalu datang padanya saat dia berdua saja dengan Alexa.
Yericho membasahi bibirnya yang kering. Dia menatap Chris yang terlihat sedang berpikir keras juga. Rupanya begitu.
"Jadi? Berapa setan yang datang padamu?" tanya Yericho. Di balas seringai menyeramkan Chris.
"She never know. Who she playing with ...." Seringai Chris saat mengatakan itu cukup untuk membuat Yericho diam. Gadis bodoh pikir Yericho. Bisa-bisanya dia memainkan permainan yang tidak akan dia menangkan. Lawannya terlalu tangguh.
"I'am pitty her . Jangan terlalu kejam," ucap Yericho serius.
"Lihat saja nanti." Chris memutar es batu yang ada di gelas wiski nya. "Let's see," gumam Chris pelan.
.
.
Vania tampaknya sudah menjadi dirinya lagi. Penampilannya sangat rapi dan menarik. Wangi parfumnya memenuhi ruangan Chris. Rambutnya yang panjang di ikat ekor kuda, menambah daya tariknya. Lehernya dangat jenjang dan tinggi. Sangat aktraktif. Chris menelan ludah melihatnya. Bayangan tubuh telanjang Vania yang bersentuhan dengan tubuh polosnya kemarin muncul kembali.
"Kenapa Pak Chris, melihat saya begitu?" tanya Vania saat dia sadar bosnya sedang menatapnya dengan cukup intens.
"Kamu cantik," jawab Chris santai. Chris menurunkan lagi pandangannya ke berkas di mejanya.
Vania menelan ludah mendengar pujian Chris. Chris kadang memang memujinya. Tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Vania tidak yakin perbedaannya dari cara dia menerima pujian itu atau dari cara Chris menyampaikannya. Vania menjatuhkan pulpennya. Alat tulis itu jatuh ke sisi kaki Vania dengan suara yang cukup membuat Chris menatapnya lagi.
Chris merasa ketegangan menjalar dari ujung kakinya ke atas. Chris menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Menyilangkan kaki dan membawa tangannya ke bibir, menyembunyikan seringainya.
Vania kembali berdiri tegak. Menatap Bosnya yang menatapnya tajam di bawah alisnya yang tebal.
"Ada yang Pak Chris butuhkan atau inginkan sebelum saya keluar ruangan Bapak?" tanya Vania. Dia biasa bertanya seperti itu pada bosnya sebelum meninggalkan ruangan. Khawatir bosnya itu memerlukan sesuatu.
"Buka ...." Chris berkata di balik telapak tangannya.
"Iya?" Vania menatap bingung Chris.
"Buka satu kancing lagi." Perintah Chris dengan suaranya yang dalam.
.
.
.
The Red Umbrella ( Nicholas Geoff)
.
.
Nicholas menatap cangkir kopinya yang masih penuh. Sesekali dia menatap pintu kafe atau keluar jendela. Entah kenapa rasanya gugup sekali hanya karena menunggu seseorang.
Nicholas melihat lagi ponselnya. Lalu menghirup kopinya sedikit, saat dia melihat sepasang sepatu cantik di bawah meja.
"George," panggil Monika. Nicholas bisa melihat senyumnya yang manis saat dia mendongak. "Apa saya terlambat?"
"Tidak," jawab Nicholas cepat.
Monika duduk di depan Nicholas dan memesan kopi dan kudapan. Tersenyum lagi saat mata mereka bertatapan. Makanan minuman Monika belum datang. Jadi dia tidak punya pengalihan apapun. Selain jari-jari tangannya yang tiba-tiba menarik. Dia merasa gugup karena belum menemukan bahan obrolan.
Nicholas memperhatikan gerak-gerik Monika yang membuatnya terhibur. Nicholas mengangkat cangkirnya lagi.
"Aku bertanya tentangmu pada temanku yang juga dokter di rumah sakit tempo hari." Nicholas memulai obrolan, seraya meletakkan cangkirnya kembali.
"Benarkah? Siapa?"
"Yericho. Yericho Adam."
"dokter Yericho? Anda temannya?"
"Ya ... Kami berteman cukup lama. Sejak ...." Nicholas mencoba mengingat kapan mereka saling mengenal. "Entahlah ... mungkin sejak dia sekolah menengah pertama." Nicholas tertawa diakhir kalimatnya.
"Coba saya tebak. Anda pasti sudah mendengar banyak hal tentang saya dari dokter Yericho."
"Ya mengenal dan mendengar itu hal yang berbeda. Mendengar banyak tidak berarti mengenal." Nicholas menatap Monika dengan manik hitamnya yang tajam.
Monika tertegun melihat lengkung bibir tipis George. Helaian anak rambut Nicholas yang panjang bergerak mengikuti aliran angin dalam ruangan itu.
"Kenapa? Kenapa Anda ingin mengenal saya?" tanya Monika tanpa sadar.
Lengkungan bibir Nicholas sudah hilang. Diganti senyuman yang lebih lebar. Nicholas membuat Monika lebih gugup dari sebelumnya. Menunggu jawaban apa yang akan di utarakan oleh pria tampan itu.
"Kenapa pria ingin mengenal wanita? Kamu tidak berpikir kalau saya hanya ingin mencari teman kan?"
Monika cukup kaget dengan jawaban Nicholas yang tidak lagi basa-basi. Rasa gugupnya tidak hilang, tapi semakin bertambah.
"Anda pasti sudah mendengar tentang saya dari dokter Yericho. Dia pasti sudah mengatakan kalau saya ...." Monika menggantung kalimatnya.
"Iya ... kalau maksud kamu soal anak. Ya saya tahu." Nicholas saat ini sangat percaya diri. Dia tidak akan gentar pada apapun. Setidaknya itu yang dia percaya.
Monika membuka mulutnya, tapi akhirnya menutupnya kembali. Pelayan datang membawa pesanannya. Monika meminum kopi susu dinginnya sebelum berucap, "Banyak yang lebih baik dari saya di luar sana."
"Benarkah? Siapa yang menentukan soal itu?" Nicholas tersenyum miring. Tangannya terjulur ke dekat tangan Monika yang dia letakkan diatas meja. Nicholas tidak menggenggamnya, bagaimana mungkin dia berani melakukannya. Mereka masih orang asing bagi masing-masing.
"Dengar Monika, Saya tidak pernah membiarkan orang lain menilai sesuatu untuk saya." Nicholas mengetuk meja tepat di sebelah tangan Monika. "Saya tertarik dengan kamu, saya ingin mengenal kamu lebih dekat, saya ingin masuk dalam hidup kamu. Tentu saja jika kami mengizinkan."
Kata-kata Nicholas membungkam Monika. Bagi monika saat ini adalah saat paling mendebarkan yang dia rasakan setelah beberapa tahun terlewati tanpa mencoba merasakannya lagi.
"Saya, belum menemukan jawaban yang tepat," ucap Monika sedikit lemah.
"Tidak masalah. Saya hanya ingin mengenal kamu untuk saat ini." Nicholas tersenyum saat mengatakan itu, membuat Monika membalas senyumnya dengan sedikit canggung.
"Terima kasih, George," gumam Monika kecil.
"Tidak masalah." Nicholas diam sebentar untuk menatap ekspresi Monika. "Hari ini, boleh saya antarkan pulang?"
Tawa keluar dari bibir Monika saat Nicholas bertanya.
"Dengan senang hati," jawab Monika masih dengan senyum canggungnya.
Nicholas tersenyum miring sebelum membawa cangkir ke bibirnya lagi. Mengecap rasa pahit, sambil menatap wajah manis Monika dengan intens lewat cangkirnya.
...----------------...