Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.10



Deer Eye ( Christian Geoff )


.


.


Chris berusaha menebak apa yang sedang dilakukan Vania sekarang ini. Apa yang ada di kepala gadis itu saat dia melucuti semua pakaian Chris dan miliknya sendiri. Lalu membuat kulit mereka yang telanjang bersentuhan seperti ini.


Kepala Chris sebenarnya sangat berat. Dia ingin terlelap sekarang juga. Chris melengkungkan bibirnya menganggap apa yang dilakukan Vania sangat lucu. Jadi dia berusaha tidak peduli pada lembut tubuh Vania yang menempel di tubuhnya yang keras. Dan akhirnya tertidur.


.


.


Drama yang dia lihat saat dia bangun adalah drama yang skenarionya sudah dia duga. Kepala Chris berdenging mendengar isakan Vania. Diam-diam Chris menyeringai.


"Nia?" panggilnya berusaha terdengar terkejut.


Chris menatap sekretarisnya itu yang sedang berakting dan pura-pura menangis. Hebat sekali, pikir Chris saat melihat air mata Vania benar-benar membasahi matanya yang besar hitam lugu seperti rusa itu.


"Sorry, Saya tidak bisa mengingat apa-apa,"ucap Chris.


Vania tidak menjawab, isakan kecil masih terdengar memenuhi kamar itu. Chris menghela napas sebelum mengulurkan tangannya memeluk Vania dengan canggung.


"Sttttt ...." Chris berusaha menenangkan Vania dengan suara White noise dan tepukan pelan di punggung gadis itu. Menyembunyikan wajah Vania di tengkuknya. Berusaha menebak sampai mana Vania akan main-main dengannya seperti ini.


"Tidak apa-apa, Pak Chris pasti sangat mabuk sampai tidak ingat," kata Vania terlalu lancar untuk ukuran orang yang sedang menangis.


Chris memutar mata dan berusaha untuk menahan tawanya mendengar itu. Chris tetap berusaha mencari jawaban atas kenekatan Vania melakukan semua drama ini padanya. Dia ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi sepertinya menyenangkan mengikuti jalan cerita drama ini.


"Maaf ya, Nia. Saya benar-benar tidak ingat apa-apa. Saya benar-benar minta maaf," kata Chris sambil masih mengusap punggung telanjang Vania.


"Jadi .... " Chris memisahkan badan mereka yang menempel untuk bisa melihat Vania. Chris mempertimbangkan kata-kata yang akan dia ucapkan selanjutnya.


"Apapun yang terjadi saya akan tanggung jawab," kata Chris cukup terdengar meyakinkan.


Ada kilat puas di mata Vania yang bisa Chris tangkap. Chris menatap wajah cantik sekertaris mudanya itu. Dia sadar dan menemukan jawaban dari pertanyaannya. Chris berusaha menahan seringai, saat melihat wajah lega Vania.


"Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit? Barangkali saya kasar atau gimana," ujar Chris dengan nada khawatir.


"Nia baik-baik aja Pak," jawab Vania sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.


"Oke kalau gitu." Chris turun dari tempat tidur membelakangi Vania.


Vania memalingkan wajahnya dari badan polos Chris, malu. Sedang wajah Chris berubah menjadi kaku, dia menyeringai licik sambil memakai pakaiannya.Saat dia berbalik ke arah Vania lagi, wajahnya sudah kembali ramah seperti Chris yang biasa.


"Saya ke kamar saya dulu, Kita sarapan sebelum pulang. Nanti Saya jemput," kata Chris, suaranya yang rendah dan dalam itu terdengar lebih lembut.


"Baik Pak," jawab Vania yang masih enggan menatap bos nya itu.


Chris mendekati Vania dan memeluknya sebentar, mengecup kepala Vania sekali sebelum keluar dari kamar itu. Meninggalkan Vania yang membaringkan tubuhnya lega. Detak jantungnya masih secepat tadi, tapi setidaknya dia bisa bernapas lega sekarang. Vania mengepalkan tangan. Berdoa agar rencananya berjalan lancar.


.


.


Ordinary Love ( Rio Anggara )


.


.


Hujan turun lagi di tengah hari yang sibuk ini. Wangi tanah yang dibasahi air hujan tercium sampai kantor Rio. Rio menyandarkan punggungnya di kursi, berusaha menyamakan diri. Kemejanya lusuh dan menempel pada badannya karena keringat


Hari ini harusnya terasa sejuk, sejuk kalau Rio tidak harus berlarian sepanjang koridor mengejar siswa tengil yang ketahuan merokok di gudang sapu. Sejuk kalau saat dia melihat sekitar menemukan wajah-wajah damai, bukan wajah yang selalu siap diajak berkelahi.


Rio menghela napas panjang, memejamkan matanya untuk mencoba menghilangkan lelahnya. Kemejanya sangat tidak nyaman. Sudah saatnya berganti setelan training.


"Sepertinya perlu mandi," gumam Rio pelan.


"Setuju, Pak Rio," ucap Randy, rekan gurunya yang tiba-tiba menjawab.


"Sebau itu?" tanya Rio penasaran.


"Lumayan," jawab Randy sambil tersenyum memperlihatkan giginya.


Rio tertawa mendengarnya lalu dengan canggung membaui kemejanya yamg lecek itu.


"Kayaknya, Pak Randy, benar," kata Rio sambil beranjak dari duduknya, mengeluarkan setelan training dari laci meja.


"Mau mandi?" Randy bertanya dengan senyum yang ditahan.


"Hn," Gumam Rio sambil lalu.


"Abis mandi mau ikut makan siang nggak Pak Rio. Kalau ikut saya tungguin," seru Randy agar terdengar oleh Rio.


"Ikut," jawab Rio setengah berteriak.


.


.


Rio duduk dengan Randy menunggu pesanan mie ayam mereka. Tempat ini tidak terlalu ramai karena jam makan siang sudah lewat. Rio sangat nyaman memakai setelan training, apalagi hari sedang hujan.


"Ran, adik kamu nikah duluan kan?" tanya Rio yang melepas embel-embel Pak dari Randy saat mereka di luar sekolah.


"Iya, adik saya kan perempuan, wajar kalau nikah duluan," jawab Randy sambil fokus pada ponselnya. Seketika ingat sesuatu, Randy lantas meletakan ponselnya di atas meja.


"Adik kamu juga mau nikah ya sebentar lagi?" tanya Randy pelan.


"Iya. Udah rame banget diomongin dimana-mana." jawab Rio santai.


"Namanya juga nikah sama artis, wajar."


"Gitu ya?" Rio menanggapi dengan senyum yang sedikit kecut.


"Jangan kecewa, namanya juga sudah jodoh, siapa yang tahu, siapa yang ketemu duluan." Randy mencoba menasehati Rio.


"Udahlah, kamu udah bertahan sama dia delapan tahun, masa orang tua kamu nggak setuju terus, nanti pasti ada saatnya. Sekarang belum aja kali, waktunya belum tepat." Randy bersimpati pada rekan kerjanya itu. Bagaimana tidak, kisah cinta Rio memang biasa saja. Tapi ada beberapa hal yang memang membuat Randy merasa patut mengasihani Rio.


Rio menghela nafas, mengingat pertengkarannya dengan ibunya kemarin. Sial. Kenapa ibunya keras kepala. Atau mungkin dia yang keras kepala.


"Jujur, sebenarnya saya capek Ran," ungkap Rio dengan nada lemah.


"Mau menyerah ke yang mana emangnya?" Randy mulai serius bertanya.


"Yang pasti nggak ke Joana, kasian udah delapan tahun dia nunggu saya." Rio menghela nafas mengingat kekasihnya.


"Iya sih, tapi yang namanya orang tua emang biasanya cuma ingin yang terbaik buat anaknya."


"Emang nggak cukup dengan anaknya bahagia?" tanya Rio. Dijawab gelengan kepala dan senyum Randy yang jelas tidak tahu.


"Someday, kita pasti rasain. Kalau jadi orang tua," jawab Randy sebelum menyumpit mienya.


Rio agak mendengus mendengar itu. Tapi akhirnya ikut menyumpit mienya juga.


.


.


Rio sangat bahagia saat dia melihat Joana ada di dapurnya. Seakan semua lelahnya hilang. Rio memeluk Joana dari belakang. Mengecup tengkuknya berulang kali. Joana juga tersenyum menerimanya.


"Gimana hari ini?" tanya Joana yang masih sibuk menumis sayur.


"Capek, banget." jawab Rio sedikit manja.


"Mandi dulu atau makan dulu?"


"Makan kamu boleh?" bisik Rio seduktif.


Joana terkikik mendengarnya. "Mandi dulu aja," ucap Joana.


"Udah tadi di sekolah, yang."


"Mana? Nggak ada bau sabun sama sekali," kata Joana sambil mendekatkan tangan Rio ke hidungnya.


"Ya nggak ada sabun di sana."


"Mandi lagi, ah ... jorok."


"Mandiin dong, yang," kata Rio dengan nada manja.


"Ya udah iya."


"Hah? Apa, yang?"


"Iya dimandiin, tapi abis beres masak," kata Joana menahan senyum.


Rio juga tersenyum, matanya menyipit bahagia, pelukannya semakin erat. Dan bibirnya tidak berhenti mengecup pipi kiri Joana yang bisa dia jangkau.


.


.


Rio familiar dengan suara ******* Joana, tapi tidak pernah membuat dia bosan. Bibir Rio menyusuri sepanjang tulang belakang Joana yang membungkuk di depannya. Setiap kedutan dari dalam tubuh Joana, di setiap hentakan yang Rio lakukan membuat semua sarap Rio hidup.


"Yang .... " panggil Joana di tengah desahannya. Rio tahu Joana hampir sampai. Tapi Rio merasa belum mendekat sama sekali.


"Keluar duluan." kata Rio parau.


Joana menggigit bibir bawahnya saat dia merasakan klimaksnya datang. Kuku-kuku jarinya menggores dinding kamar mandi. Desahannya tertahan di dalam mulutnya. Rio merasakan itu saat otot dalam tubuh Joana menegang.


"Yang ... aku belum," bisik Rio parau.


"Oke ... tunggu sebentar ya .... " napas Joana tersenggal.


Rio mengeratkan giginya menahan nafsu. Dia menunggu izin Joana untuk bergerak lagi. Saat Joana memberi Rio tanda, Rio tidak bisa menahan untuk tidak menghentak keras Joana. Membuat Joana sedikit menjerit. Rio meringis mendengarnya tapi dia sudah tidak bisa berhenti sampai dia menggeram rendah dan melepaskan semuanya.


.


.


"Sayurnya jadi dingin," omel Joana di meja makan.


"Iya maaf ,yang. Kirain nggak akan lama," jawab Rio merasa bersalah.


Joana melirik Rio sebentar sebelum meneruskan makannya. Dia dengan ragu mengajukan pertanyaan yang sedari tadi dia tahan.


"Ibu ... gimana?"


"Ibu sehat," jawab Rio singkat. Sinyal kalau dia tidak mau menjawab apa-apa lagi yang berkaitan dengan ibu.


"Kamu tahu kan, yang. Aku akan lebih sakit kalau kamu tidak jujur," ujar Joana.


Rio diam sejenak, menggenggam tangan Joana yang ada di atas meja dan berusaha tersenyum.


"Yang, apapun yang terjadi tidak akan ada yang berubah. Terutama perasaan aku ke kamu."


"Ibu ... ngelarang aku ke pernikahan adik kamu?" tanya Joana hati-hati.


Rio tidak menjawab, tapi genggamannya mengerat.


"That oke, sayang." kata Joana memaksakan senyumnya. "Daripada aku terluka di sana karena tidak diterima, tidak datang adalah yang pilihan paling baik," ujar Joana lagi.


Rio sudah tidak bisa lagi mengatakan maaf, rasanya sudah terdengar tidak tulus. Dia menghela nafas pelan sambil menatap Joana dengan tatapan sedih.


" I love you," bisik Rio pelan hampir tidak terdengar. Tapi bisa Joana baca dari gerak bibirnya.


Joana menguatkan hatinya, menampilkan senyum terbaik untuk laki-laki yang dia cintai itu. Sedikit lagi, dia ingin bertahan sedikit lagi.


...----------------...