Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 2.9



.


Sugar (Yericho Adam)


.


Alexa terbangun dari tidurnya. Seperti yang dia duga, Yericho tidak ada di sampingnya. Daddy nya itu sudah pergi entah sejak kapan. Alexa hanya bisa menghela napas kecil. Dia sudah biasa kecewa seperti ini tapi dia belum bisa terbiasa.


Alexa bangkit dari tempat tidur dan melakukan kegiatan paginya sebelum pergi ke kampus. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Membuat Alexa sepenuhnya terbangun dan siap untuk hari ini.


Alexa keluar dari kamar mandi dan langsung menoleh ke arah jam dinding. Masih ada waktu tiga jam sebelum kelasnya di mulai. Alexa sedang mengeringkan rambutnya saat mendengar pintu terbuka. Kaget. Itu yang respon pertama darinya. Dengan cepat Alexa berlari memeriksa siapa yang datang. Dia tidak menduga jika Yericho yang membuka pintu.


"Daddy?" tanya Alexa.


"Ya," jawab Yericho santai.


Alexa melihat Yericho dari kepala sampai kaki. Daddy nya itu memakai setelan joging. Masih dengan wajah santai Yericho membuka kulkas dan mengambil air minum.


"Ale kira Daddy udah pulang," ucap Alexa lagi.


"Saya ketiduran, pas bangun tahu-tahu udah pagi," jawab Yericho.


"Jadi, Daddy tidur disini semalaman?" tanya Alexa lagi.


"Iya." Yericho menjawab singkat. Lalu minum beberapa teguk lagi. Dia tersenyum tipis menyadari Alexa masih bergeming di tempatnya berdiri tadi.


"Kenapa? Tidak suka saya menginap?" tanya Yericho dengan nada jahil.


"Bukan ... Justru sebaliknya. Kenapa Ale tidak menyadari itu semalaman ...." Alexa mengakhiri jawabannya dengan nada lirih. Dia memilin handuk yang masih ada di pinggangnya.


"Kenapa memangnya kalau kamu sadar?" tanya Yericho lagi.


"Hmm ... itu ...." Alexa menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan.


Yericho menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Tetesan air mengalir dari rambutnya yang basah. Tank top dan handuk yang masih melilit pinggangnya. Di tambah wajah tan nya yang polos tanpa riasan wajah. Bibir Alexa merekah hampir berwarna coklat. Rambut yang di potong pendek hanya setengah leher saja membuat tetes air mengalir ke area tulang selangkanya dan menghilang di balik tank top.


Yericho meletakkan botol minumnya di atas meja sebelum menghampiri Alexa dengan langkah yang tidak pelan. Alexa yang hanya terpaku menatap Yericho sedikit memekik saat tangan Yericho membawanya ke pelukannya. Alexa bisa merasakan tubuh Yericho yang kokoh dan kuat itu. Agak keras menjadi sandaran tubuhnya yang berisi dan lembut.


Yericho bisa mencium puncak kepala Alexa yang wangi bunga. Wangi sabun dan sampo yang biasa Alexa gunakan.


Alexa yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Yericho bisa mendengar debar jantung Yericho yang berdetak konstan. Sementara jantung Alexa berdebar kencang.


"Bau keringat ya?" tanya Yericho, Alexa bisa merasakan senyum Yericho saat mendengar itu.


"Tidak ... Tidak bau sama sekali," ucap Alexa terdengar riang. Dua tangannya melingkar di pinggang Yericho.


"Kamu tidak akan tahu, apa yang ada di dalam kepala saya sekarang ini," bisik Yericho pelan.


"Tahu ...." jawab Alexa dalam bisikan juga.


"Apa?" Yericho menaikan sebelah alisnya.


"Sama seperti yang Ale rasakan," jawab Alexa. Kepalanya menengadah menatap wajah Yericho diatasnya. Alexa menyunggingkan senyum cantik yang membuat Yericho terpana.


Yericho tidak lagi mendengar sisi baiknya. Dia hanya ingin memajukan kepalanya dan mengecup bibir Alexa yang penuh itu. Sedang Alexa menyambutnya dengan senang hati. Hidung mereka kadang beradu di tengah kepala mereka yang maji mundur.


Yericho bisa merasakan aroma minta pasta gigi dari mulut Alexa. Atau tangan Alexa yang mencengkram bagian depan bajunya. Meremasnya semakin lama semakin erat. Saat ciuman mereka berakhir Yericho bisa melihat rona merah di wajah Alexa, yang membuat dia menelan ludah.


Yericho tahu, Alexa memakai pakaian dalamnya. Seharusnya dia berhenti disini dan tidak meneruskannya lagi. Seharusnya dia menyuruh Alexa meneruskan kegiatan yang dia lakukan sebelum dia datang. Pikirannya terbagi dua, antara menuruti nafsunya atau menuruti kesadarannya.


Dan semua pertahannya runtuh saat Alexa memajukan lagi kepalanya dan mengecupnya lagi. Alexa melenguh saat dia merasakan lidahnya bertemu dengan lidah Yericho lagi. Badan mereka masih saling menempel. Dan Alexa bersumpah ada sesuatu yang bangun di dalam dirinya. Ada sesuatu yang mendorong tingkah gilanya untuk membuka handuknya.


Yericho tidak memprotes itu, dia dengan tenaganya mengangkat tubuh Alexa dan menghempaskannya di sofa. Wajah Alexa sangat merah saat ini. Yericho menelan ludah saat Alexa membuka kakinya. Dia tidak mungkin baik-baik saja setelah melihat pemandangan itu.


Dengan seringai kecil, Yericho mendekat pada Alexa. Mengajak gadis itu berciuman lagi. Kaki Alexa melingkari punggung Yericho menariknya lebih dekat. Bagian bawah tubuh mereka bertemu, Alexa yang tidak menggunakan apa-apa dan Yericho yang terhalang celana jogingnya.


Alexa bisa merasakan sesuatu yang keras menekan daerah sensitifnya. Dia mendesah di tengah ciumannya. Perutnya berdesir halus di dalam sana. Ada perasaan menyenangkan yang di bangun dengan konstan dan terus menerus saat mereka saling menekan seperti ini.


Yericho mengangkat kepalanya, dia tersenyum tampan sebelum membawa kepalanya ke bawah. Alexa tidak bisa melihat wajah Yericho lagi. Tapi sesuatu yang intens membuatnya melengkungkan punggung. Alexa melihat rambut Yericho diantara kakinya. Dia mengigit bibirnya untuk tidak menjerit. Perutnya menegang, telapak kakinya berkerut dan kepala yang dia usahakan menempel terus dengan sofa.


Sampai dia tidak bisa menahan lagi, desah halus terdengar dari mulutnya. Bersama dengan jilatan terakhir yang Alexa rasakan. Alexa terengah-engah berusaha bernapas normal lagi. Kenikmatan apa yang dia rasakan tadi? Pikirnya.


Alexa bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Tapi merasakannya langsung dengan hanya tahu dan melihat saja sangat berbeda. Yang dia tahu, dia ingin lebih.


Tapi sepertinya hal yang dia inginkan tidak akan terjadi. Yericho sudah bangkit berdiri. Dia berjalan dnegan langkah kaki besar menuju kamar mandi. Alexa menoleh padanya. Tenaganya belum bisa kembali ke tubuhnya yang seperti meleleh.


Perlahan dia mendudukkan diri dan melihat bercak basah di sofanya yang berwarna krem itu. Alexa menelan ludah sebelum menuju handuknya dan mengelap sofa. Entah kenapa Alexa yakin, dia tidak bisa mendekat pada Yericho saat ini. Jadi Alexa hanya masuk kamar dan menutupnya. Meski jantungnya berdebar kencang dan keringat menetes di pelipisnya. Alexa berharap, dia tidak akan memikirkan hal tadi terlalu lama.


.


.


Sial. Umpat Yericho dalam hati. Air dingin membasahi kepalanya yang sedari tadi terasa panas. Tapi tetap tidak meredakan apa-apa. Dia bisa membuat dirinya sendiri keluar. Dan dia kita itu cukup.


Tapi tidak, bayangan Alexa berkelebat terus di depan matanya. Wangi tubuhnya yang tidka mau meninggalkan hidungnya. Dan kulitnya yang lembut. Yericho menelan ludah. Haruskah aku menuruti setan saja? tanyanya dalam hati. Haruskah aku keluar dan memulai lagi? Yericho menatap pintu kamar mandi yang di tutup. Di sana, diluar sana. Ada Alexa yang cantik. Seperti tersihir dengan mantra itu, Yericho berjalan menuju pintu. Dan membukanya. Mencari Alexa yang tidak dia temukan di tempat dia meninggalkan gadis itu tadi.


...----------------...