Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.9



The Red Umbrella (Nicholas Geoff)


.


.


Monika menolak Nicholas antarkan pulang tapi setidaknya dia mau bertukar nomor telepon. Dan untuk pertama kalinya Nicholas merasa kalau ketampanannya tidak berguna.


Nicholas melihat monika keluar melewati pintu. Monika tidak melihat ke belakang satu kali pun. Dan karena Nicholas terus memandanginya, Monika pamit untuk terakhir kalinya lewat jendela. Dia menundukkan kepalanya sedikit. Dibalas hal yang sama oleh Nicholas .


Monika berjalan pelan, sambil menunggu taksi. Atau mungkin ke arah halte bus. Dia tidak mau menunggu taksi di depan cafe tadi. Ada perasaan aneh yang dia rasakan. Monika memang menolak Nicholas mengantarnya. Bagaimanapun Nicholas adalah orang asing. Aneh kalau dia bersedia diantar pulang oleh orang yang baru pertama kali dia ajak bicara.


Meskipun Nicholas terlihat seperti orang baik. Setidaknya obrolan mereka sangat menyenangkan. Tawa tidak pernah absen dari bibir monika. Monika tersenyum mengingat wajah Nicholas , saat taksi membawanya pergi. Dia agak menyesal melewatkan kesempatan untuk dekat dengan Nicholas . Agak cemas bagaimana kalau Nicholas tidak menghubunginya. Monika menghela napas dan berusaha menghilangkan pikirannya yang kacau.


.


.


Sugar ( Yericho Adam )


.


.


Yericho memang mengiyakan saat Alexa mengajaknya mandi. Sebenarnya dia sudah paham maksud dari ini, yang sedang dia lakukan ini. Gadis itu duduk di dalam bathtub berhadapan dengannya. Kaki mereka bersentuhan di bawah air.


Kulit tan Alexa yang bersinar di bawah cahaya lampu kamar mandi yang redup. Mata gadis itu menatap Yericho dengan sangat percaya diri.


"Bagaimana hari ini?" tanya Yericho sedikit basa-basi.


"Lumayan." jawab Alexa. "Hari ini Ale, belanja banyak cat untuk projek melukis."


"Capek?"


"Tidak juga. Menyenangkan. Bagaimana dengan Daddy?" Alexa masih menatap Yericho.


"Tidak ada perubahan apa-apa. Masih begitu-begitu saja," jawab Yericho.


"Begitu-begitu saja?" kata Alexa pelan. Dia mulai menggigit bibir bawahnya cemas. Bisa jadi Yericho memang tidak ingin melanjutkan percakapan mereka.


"Saya jawab begitu karena memang hidup saya sangat membosankan," ujar Yericho seperti membaca isi kepala Alexa.


Alexa tersenyum sebelum bertanya lagi.


"Capek?" Giliran Alexa bertanya.


"Lumayan," jawab Yericho singkat.


"Mau Ale pijitin?" tawar Alexa.


"Tidak. Tidak usah sayang," jawab Yericho sambil tersenyum.


Alexa membatu sebentar, mencerna apa yang dia dengar dan dia rasakan. Alexa yakin detak jantungnya lah yang dengan jelas dia dengar.


"Sayang?" tanya Alexa, lebih ke meyakinkan diri kalau dia tidak salah dengar.


"Kamu tidak suka? Saya panggil sayang?" Yericho bertanya seraya memejamkan matanya.


"Bukan gitu ... hm ... ini pertama kalinya ada yang memanggil Ale begitu .... " gumam Alexa pelan.


"Biasakan saja, Saya pasti akan sering memanggil kamu begitu."


"Daddy, beneran nggak mau Ale pijit?" tanya Alexa, tangan Alexa sudah menyentuh betis Yericho membuat Yericho sedikit berjengit.


Yericho menatap Alexa waspada, sebelum akhirnya menangkap pergelangan tangan Alexa yang sudah ada di lututnya. Yericho tertawa saat Alexa menjerit pelan.


"No ... hands up ...." kata Yericho di sela tawanya.


"Ale salah apa?" tanya Alexa yang juga tertawa.


Yericho berdesis rendah sebelum berkata.


"Gadis yang nakal."


"Siapa?" tanya Alexa polos.


Yericho tersenyum sebelum menunjuk Alexa dengan dagunya.


"Kamu." jawab Yericho singkat.


Alexa terkesima. Pada wajah teduh Yericho yang dia lihat. Pada lengkung bibirnya yang mempesona. Entah dia tersihir atau dalam sadarnya. Alexa memajukan badannya ke depan. Dua tangannya masih digenggam Yericho. Tapi mata mereka terhubung oleh sesuatu yang lain.


Yericho terkesiap saat merasakan bibir Alexa di bibirnya. Ada waktu kosong yang tidak dia sadari. Bagaimana dia bisa tidak tahu kapan Alexa mendekat. Yang dia mampu rasakan hanya bibir penuh Alexa yang menekan bibir tipisnya.


Genggaman Yericho melonggar. Alexa menyamankan lengannya di pundak Yericho. Tubuhnya menekan tubuh Yericho yang keras. Saat ciumannya semakin dalam. Yericho meremas sisi bathtub dengan satu tangannya. Sementara tangan yang lain mengusap punggung Alexa pelan.


Alexa menjauhkan wajahnya dari wajah Daddy-nya itu. Memandang Yericho dengan mata sayu. Dia menggigit bibir bawahnya saat menatap tatapan tajam Yericho.


"Kamu sebaiknya keluar duluan dari sini," ujar Yericho dengan suara rendah dan dalamnya, yang entah kenapa membuat Alexa merinding.


"Kenapa?" tanya Alexa ragu.


"Jangan bertanya. Lakukan saja." Yericho mengatakan dengan nada perintah yang Alexa yakini tidak boleh dia bantah.


"Baiklah," gumam Alexa pelan, sekali lagi mengecup bibir Yericho pelan. Sebelum dengan santai berdiri dan keluar dari bathtub.  Di tengah tatapan tajam Yericho.


Yericho menelan ludah saat pintu kamar mandi ditutup oleh Alexa. Menggelengkan kepala dan menghela nafas ringan. Mendongak melihat langi-langit kamar mandi. Berusaha menenangkan sesuatu yang menegang di bawah air.


.


.


.


Yericho duduk di salah satu meja di lounge hotel bintang lima. Mengedarkan pandangannya ke sekitar area lounge berharap bertemu seseorang yang dia kenal untuk diajak berbincang.


Yericho benar-benar meninggalkan Alexa, gadis itu tampak sedih saat dia pamit. Cukup untuk membuat hatinya bimbang, tidak ingin meninggalkan Alexa sendirian. Tapi akhirnya logikanya menang dan akhirnya dia duduk di sini.


Yericho melihat Nicholas di kejauhan menghampirinya. Dengan santai Nicholas duduk di depannya. Menyampirkan jasnya sembarangan. Memainkan korek sebelum menyalakan rokok saat Yericho menuang minuman untuknya.


"Bro ..." panggil Nicholas pelan di sela hembusan rokoknya.


"Hn?"


"Di rumah sakit tempat kamu kerja, ada dokter namanya Monika?" tanya Nicholas .


Yericho menatap Nicholas sebelum menjawab.


"Ada, dokter kandungan, yang rambutnya pink itu kan?" Yericho mengangkat gelasnya dan minum lagi.


"Iya yang itu, sudah punya suami?" tanya Nicholas dengan nada penasaran yang sangat kentara.


"Siapa? Monika?"


"Iya, kan kita lagi ngomongin dia." ucap Nicholas agak tidak sabar.


"Setahu saya tidak," jawab Yericho singkat.


"Belum pernah punya?"


"Oh ... anak perempuan atau anak laki-laki?"


"Anak laki-laki." jawab Yericho lagi.


"Bagus kalau gitu." Nicholas terdengar lega.


"Bagus apanya?"


"Bisa di lanjut perkenalannya." jawab Nicholas santai.


"Kalau anaknya perempuan? tidak dilanjut?"


"Tidak. Saya tidak bisa menerima gagasan kalau saya punya anak tiri perempuan," jawab Nicholas agak bergidik.


"Kenapa?"


"Takut ada setan."


"Sialan." umpat Yericho mendengar jawaban Nicholas . "Tapi masuk akal." kata Yericho lagi.


"Tidak mau bertanya?"


"Soal apa?" Yericho memandang heran Nicholas .


"Barangkali mau tanya, saya ketemu dimana gitu."


"Tidak tertarik." dengus Yericho.


Nicholas tertawa mendengar dengusan Yericho. Menatap Yericho sambil meneguk minumannya.


"Jadi? wangi sabun siapa yang memenuhi hidung saya ini?" tanya Nicholas dengan tatapan jahil, bibirnya menyeringai.


Yericho menaikan sebelah alisnya. Membaui bajunya. Benar saja, aroma bunga sangat menyengat. Dia terkekeh, sebelum meneguk minumannya lagi.


"Saya lagi ngurus bayi," ujar Yericho.


"Bayi apa?"


"Sugar baby," jawab Yericho bernada.


Nicholas tertawa nyaring mendengarnya.


"Serius?" tanya Nicholas yang di balas anggukan singkat Yericho.


"Tidak bermoral," kata Nicholas lagi sambil masih tertawa.


"Kamu, tidak diterima bicara soal moral," kata Yericho sambil tersenyum miring.


"Oke ... cantik?"


"Menurut kamu?"


"Emang benar, orang tampan suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan." jawab Nicholas bercanda.


"Dia cantik, dan tidak usah ingin tahu lebih banyak," jawab Yericho tenang.


"Oke .... " kata Nicholas singkat, sambil mengangkat gelasnya mengajak Yericho bersulang.


"Jangan bilang Rio," kata Yericho tepat saat Nicholas menelan minumannya, membuat Nicholas tersedak menahan tawa.


.


.


Deer Eye (Christian Geoff)


.


.


Meeting kali ini lancar seperti biasanya. Tanpa error sama sekali, Vania memang sehebat itu. Dia menyiapkan draft meeting untuk Chris dengan sangat sempurna.


"Mau makan malam apa?" tanya Chris pada Vania.


"Terserah Pak Chris saja. Vania ikut," jawab Vania pelan.


"Sushi? ada restoran sushi di dekat sini yang enak," tawar Chris.


"Oh ... hm ... Pak Chris kalau mau makan sushi makan saja. Nanti Vania cari tempat makan lain."


"Kenapa?" tanya Chris heran.


"Vania tidak bisa makan sushi."


"Sejak kapan, bukannya kita sering makan sushi?" Chris menaikkan sebelah alisnya heran.


"Maksud Vania, sekarang ini Vania tidak bisa makan, makanan mentah."


"Makanya tadi saya tanya, mau makan apa?" kata Chris berusaha sabar.


"Tapi saya ...."


"Nia ...." Chris memotong perkataan Vania dengan nada dominannya.


"Nia, lagi mau makan yang pedas Pak Chris." jawab Vania cepat.


"Makan apa yang pedas?" tanya Chris sambil menaikan sebelah alisnya.


"Itu Pak, yang berkuah tapi pedes. Saya juga bingung apa ya Pak yang enak."


Chris terlihat berpikir keras.


"Saya nggak ada bayangan sedikitpun," kata Chris sambil menggeleng.


"Tadinya saya mau beli mie instan cup yang rasanya pedas, terus saya seduh di hotel Pak."


"Jadi maksudnya kamu nggak ikut makan malam sama klien?"


"Iya Pak, kalau bisa Nia minta izin untuk pulang duluan ke hotel." Vania menunduk.


Chris mempertimbangkan sesuatu sebelum mengatakan iya. Dia berpesan pada supir yang mengantar mereka kemari agar mengantar Vania dengan selamat ke hotel lalu menjemputnya kembali. Vania berterima kasih dan akhirnya pamit.


.


.


Vania tahu kalau Bosnya itu akan mabuk setelah makan malam dengan klien mereka. Tapi bukan itu yang membuat dia menghindari makan malam itu.


Saat supirnya menghubungi kalau Chris tidak sadarkan diri, Vania bergegas menjemputnya di lobi. Dengan di bantu bell boy Vania berhasil membawa Chris ke kamar tidurnya.


Dengan susah payah menaikan tubuh besar Chris ke atas ranjang. Vania menelan ludahnya gugup. Dia menggigit bibir bawahnya melihat Chris tertidur dengan sangat pulas di atas bantal yang dia pakai semalam.


Dengan perlahan, Vania melepas semua kain yang menempel pada badan Chris dan meletakkannya di lantai dengan sembarang. Sebelum membuka pakaiannya juga dan masuk kedalam selimut di samping bosnya itu. Jantungnya berdebar tidak karuan. Vania mencoba untuk tenang. Dia mencoba menghitung domba imajiner di kepalanya sampai terlelap tidur.


Tidak menyadari kalau Chris menatap puncak kepalanya tajam.


...----------------...