Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 1.6



Sugar ( Yericho Adam )


Yericho menyetir mobilnya menembus hujan. Alexa duduk dengan masih terlihat sedikit canggung. Mereka baru saja dari perpustakaan kota untuk mengambil barang-barang Alexa. Satu tas besar, yang dititipkan di loker perpustakaan itu. Yericho tidak tahu kalau loker perpustakaan bisa di pinjam untuk menyimpan barang.


Yericho penasaran sejak kapan Alexa tidak memiliki tempat tinggal. Tapi dia mencegah dirinya untuk bertanya. Sejujurnya saat lucy menyampaikan gagasan sugar dating atau apapun itu namanya. Yericho tidak bersemangat sama sekali.


Tapi menghabiskan uang yang jarang dia gunakan juga tidak ada salahnya. Dan karena Alexa gadis yang cantik dan menarik. Sepertinya tidak buruk juga.


Yericho memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk hotel bintang lima. Hotel biasa jika dia membawa 'teman'. Dia tidak biasa membawa wanita ke rumahnya sendiri. Rasanya tidak nyaman. Nicholas benar, seharusnya dia pindah saja dari sana. Tapi mau bagaimana lagi, di rumah itu semua kenangan tentang Cadee terekam. Setidaknya kenangan masa lalu selalu dapat sedikit menghiburnya.


Yericho menggandeng tangan Alexa dan Check in untuk beberapa hari. Sampai dia bisa mencarikan tempat yang layak untuk ditinggali Alexa.


Yericho memberikan tip untuk bell boy yang membawakan barang mereka. Hampir setiap hari Yericho selalu membawa baju ganti kemanapun. Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Dia hanya suka terlihat rapi.


Alexa melihat sekeliling kamar hotel itu dengan tatapan kagum, suite room di hotel ini memang indah. Dia tidak pernah percaya bisa menginjakkan kakinya di tempat seindah ini.


Alexa memandang Yericho yang sedang membelakangi nya.


Dan melebarkan matanya saat dia melihat Yericho tengah membuka kemejanya. Otot punggung Yericho yang kencang membuat Alexa meneguk ludah. Yericho berbalik belum menyadari tatapan mata Alexa.


Saat Yericho menghadapnya yang pertama Alexa lihat adalah wajah tampan Yericho. Pandangan matanya semakin kebawah ke dada bidang Yericho, ke otot perut Yericho yang membetuk enam kotak otot yang sempurna.


Menyadari tatapan Alexa yang semakin kebawah. Yericho dengan pelan melucuti sabuk celananya sambil memandang Alexa. Alexa terkesiap dan sadar arah pandangnya. Dia terkejut dan mengembalikan kembali pandangannya ke atas. Ke wajah tampan 'daddy' nya yang sekarang sedang tersenyum miring.


Dia tidak habis pikir tentang keberuntungan yang dia dapat malam ini. Anggap saja begitu. Saat dia siap tidak melihat fisik daddy nya atau apapun kekurangan mereka. Apa mereka orang yang kasar dan lainnnya. Dia malah mendapatkan daddy yang sangat tampan.


Jantungnya semakin berdebar kencang saat Yericho berjalan menghampirinya, dengan gerakan lambat menarik sabuk dari celananya. Alexa meneguk ludah gugup. Level gugup nya semakin meningkat di setiap langkah pelan Yericho.


Alexa bingung harus memandang ke arah mana. Yericho sudah di depannya sekarang. Mata Alexa sejajar dengan dada Yericho. Sekali lagi entah kenapa pandangan Alexa menuju tangan Yericho yang ada di celananya.


Alexa terpaksa mundur saat Yericho terus berjalan maju. Kakinya terantuk sofa.


"Aw!" pekik Alexa kaget.


Tapi Yericho tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Sampai Alexa terduduk di Sofa baca. Alexa meneguk ludah lagi. Dan menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa tidak gugup.


Yericho menyandarkan tubuhnya diatas tubuh Alexa. Mata mereka sejajar Sekarang. Iris mata Yericho yang berwarna hitam gelap menyihir Alexa.


Ujung jari Yericho mulai naik dari sisi tubuh Alexa ke atas. Membuat Alexa merinding. Lagi, perasaan yang tadi di VIP room club datang lagi kedalam diri Alexa. Tangan Yericho sudah ada di tengkuk Alexa, memijatnya lembut. Membuat Alexa sedikit melenguh. Jarinya terus naik membelai pipi Alexa, masih terus saling berpandangan.


Yericho dengan jelas melihat mata Alexa yang semakin sayu. Dia tersenyum saat Alexa menutup matanya. Sulit bagi Alexa untuk tetap memandang matanya. Alexa memilih untuk memejamkan mata saja menunggu. Tubuh dan hati Alexa sudah siap untuk mengikuti apa saja yang Yericho inginkan.


"Aw, daddy." Alexa kaget saat Yericho mencubit hidungnya gemas.


Yericho tertawa kecil melihat wajah kaget Alexa.


"Jadi anak baik dan tunggu disini. Saya mandi dulu." Yericho mengatakan itu sambil menjauh dari Alexa yang masih bingung.


'Jangan-jangan, sebenarnya akulah yang mesum.' Alexa menggelengkan kepalanya memikirkan hal konyol itu.


Di bilik shower Yericho membiarkan air dingin mengguyur seluruh bagian tubuhnya. Dari kepala sampai ujung kaki. Yericho melihat kebawah ke benda yang masih berdiri tegak.


Sebenarnya Yericho tahu, Alexa sudah siap menerimanya. Gadis itu sudah siap dengan konsekuensi apapun yang akan terjadi malam ini secara mental. Mungkin, siapa yang tahu apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis itu.


Yericho sedikit mendesah lelah memikirkan hal itu. Rasanya dia ingin mundur lagi. Ini sepertinya tidak tepat sama sekali. Baiklah, beri saja dia tempat tinggal dulu. Lalu tinggalkan pelan-pelan.


Keluar dari kamar mandi, Alexa ternyata masih ada di sana. Entah kenapa Yericho merasa sedikit kecewa.


"Baby, ingin langsung tidur atau mandi dulu?" tanya Yericho sambil mengeringkan rambutnya.


"Mandi." Jawab Alexa singkat.


Dengan cepat dia berjalan menuju kamar mandi. Alexa mau tidak mau berpikir bahwa Yericho mungkin saja tidak menginginkan dirinya. Tapi bukannya Yericho sendiri yang mencari sugar baby di aplikasi itu dan memilihnya. Alexa tidak habis pikir pada sikap Yericho yang terlampau baik padanya.


'Sudah jangan banyak pikiran. Ikuti saja keinginan dia.' Alexa meyakinkan dirinya sekali lagi.


Alexa keluar dari kamar mandi dan menemukan Yericho sedang membaca di atas ranjang. Kakinya sudah bersembunyi di bawah selimut, sementara badannya tidak mengenakan apapun. Alexa dengan cepat melewati Yericho dan membelakanginya. Mengeluarkan piyama dari dalam tasnya, tank top hitam dan celana pendek. Sengaja memakai bajunya di sana.


Saat dia berbalik, Yericho menepuk tempat kosong di sebelah dia berbaring. Alexa menghampirinya dan masuk kedalam selimut. Sekali lagi mereka saling berhadapan. Tapi Alexa membiarkan hatinya untuk rileks. Membiarkan dirinya untuk menerima apapun malam ini.


Seperti yang Alexa duga. Yericho tidak memulai apapun. Dia hanya membelai rambut Alexa lembut. Membuat Alexa mau tidak mau merasa nyaman untuk masuk ke alam mimpi.


.


.


.


Ordinary Love ( Rio Anggara )


Rio terbangun memandangi punggung telanjang Joana. Masih terlalu pagi untuk bangun. Rio melihat jam, masih pukul tiga lebih tiga puluh pagi. Rio bergulir mendekati Joana lagi dan memeluknya, mengecup pundak telanjang Joana. Membuat Joana sedikit melenguh dalam tidurnya.


"Beb, Not again," kata Joana membuat Rio tertawa serak.


"Oke, oke." Rio masih tertawa seraya mengeratkan pelukannya.


"Tapi aku nggak bisa tidur kalau di peluk kayak gini." Joana masih berusaha menjauhkan tangan Rio.


"Iya oke oke oke .... " Jawab Rio sambil menjauhkan dirinya dari kekasihnya itu.


Rio menatap langit-langit kamarnya. Rio ingin hubungannya dengan Joana lebih maju ke depan. Bukan hanya diam di tempat seperti ini. Dia sebenarnya sudah siap mental dan fisik melakukannya. Tapi apa yang membuat Joana selalu menolak gagasan itu?


Tapi Rio juga tidak menyalakan Joana. Ada hal-hal di masa lalu yang tidak bisa di perbaiki walau waktu sudah berlalu cukup lama.


Rio mendesah lelah saat ingat kalau dia harus pulang ke rumah orang tuanya sore ini. Firasatnya cukup buruk. Jadi tidak membawa Joana adalah hal yang seharusnya baik. Rio tadi bertanya hanya agar menjaga hati Joana saja. Agak sedikit lega saat Joana menolaknya. Rio hanya takut Joana terluka lagi.


Rio merasa tidak akan bisa tertidur lagi. Jadi dia beranjak dari tempat tidur membawa ponselnya dan keluar kamar. Berencana memainkan games di ruang tamu. Menutup pintu kamar. Meninggalkan Joana yang sedang menatap diding kamar Rio kosong.


Joana tanpa sadar meneteskan air mata dan menangis dalam diam. Dadanya terasa sakit. Dia menggigit bibir bawahnya menahan isakan. Adakalanya dia berpikir jika waktu mereka sudah selesai.


Bukan karena dia tidak mencintai Rio lagi. Tapi bolehkan dia berpikir untuk lebih mencintai dirinya sendiri dulu. Joana sebenarnya lelah dengan lingkaran api yang terus berputar di sekitarnya.


Terkadang Joana ingin lari dari situasi ini. Tapi dia tidak bisa membohongi dirinya. Dia terlalu menyayangi Rio. Sebagaimana dia tahu Rio menyayanginya. Meski begitu, dia hanya berharap. Apapun yang akan terjadi di dalam pertemuan Rio dan orang tuanya hari ini. Joana ingin yang terbaik untuk diri sendiri. Joana sudah lebih dari siap.


...----------------...