
.
Ordinary Love ( Rio Anggara )
.
Rio terbangun karena mendengar suara cukup mengganggunya. Dia membuka mata dan melihat sekitar ruangan tempatnya menginap di rumah sakit. Dia menemukan Joana duduk di sofa sambil memijat keningnya. Dan beberapa perawat mengelilinginya.
"Ganti shift dulu ya Pak Rio. Maaf menganggu waktu istirahatnya," kata salah satu perawat.
Rio tersenyum lemah menanggapinya. Dia hanya mendengar perawat itu membacakan kondisinya pada perawat lainnya. Setelah mereka pergi, Joana menghampiri Rio dan duduk di sebelahnya.
"Gimana? Masih terasa sakit?" tanya Joana lembut.
"Banget," bisik Rio tanpa suara.
Joana sudah membuka mulutnya untuk mengomel. Tapi dia tutup kembali saat melihat ekspresi memelas Rio.
"Yang, tolong dong. Jangan begini lagi," ucap Joana agak merengek. Wajahnya sudah akan menangis lagi.
Rio meringis melihatnya. Dia ingin sekali mengatakan banyak hal tapi wajahnya masih terasa kaku dan perih. Sudah dipastikan dia babak belur.
"Udah makan?" bisik Rio akhirnya.
Joana menggeleng sebagai jawaban.
"Makan dulu yang," ucap Rio akhirnya walau suaranya terdengar parau.
"Iya ... Nanti aja, kalau kamu udah makan," jawab Joana.
Rio balik menggenggam tangan Joana yang terasa dingin. Dia mengelus tangan itu dengan ibu jarinya. Wajah Joana terlihat lelah. Bekas air mata juga terlihat jelas di wajah itu.
"Kamu haus?" tanya Joana lembut.
Rio mengangguk pelan, Joana melepas genggaman mereka untuk mengambil air minum. Dan Rio tiba-tiba merasa menyesal saat tangan itu terlepas dari tangannya. Kenapa dia mengangguk tadi. Dia bisa saja menahan hausnya sebentar lagi.
Pagi berlalu sangat cepat saat Rio hanya berbaring saja. Joana menyuapinya sarapan, perawat membersihkan badan dan mengganti pakaiannya.
Dokter susah visit dua kali hari ini. Dan Rio juga selalu tertidur setiap dia matanya merasa lelah. Seperti sekarang, dia terbangun setelah tertidur karena tidak bisa menahan kantuknya.
Saat dia bangun, hal pertama yang dia dengar samar-samar adalah nada tidak menyenangkan yang diucapkan oleh suara yang dia yakini adalah ibunya.
"Kamu masih disini?" kata ibunya ketus.
Rio tidak mendengar Joana menjawab apa-apa. Rio berusaha duduk untuk mencegah ibunya mengatakan hal-hal lain yang tidak perlu. Sebelum dia berhasil dia mendengar lagi ucapan ibunya.
"Ini anak tante, sayang. Dia sekarang memang guru, tapi akhirnya pasti jadi pewaris ayahnya. Namanya Rio," kata Ibunya entah pada siapa.
"Gitu ya Bu. Kalau hm ... Nona ini siapa ya?" tanya seseorang dengan suara wanita yang tidak Rio kenal.
"Oh ... Ria bukan siapa-siapa," jawab Ibu Rio.
Joana menelan ludahnya yang pahit, dia masih menunduk menatap lantai. Dibandingkan amarah dia lebih merasa sangat merana. Apa yang dikatakan Ibu kekasihnya itu bagai pisau yang merobek dadanya. Joana menahan air matanya dia tidak ingin menangis.
Di sisi lain Rio yang mendengar percakapan itu menggertakkan giginya keras. Semua orang menoleh padanya yang berusaha bangkit. Joana sudah akan menghampiri, tapi Ibu Rio menariknya mundur.
"Anak ku ... Kenapa? kamu haus?" tanya Ibu Rio pura-pura tidak mengerti keadaan yang dia ciptakan.
"Mil, tolong ambilkan minum," ucap Ibu Rio lagi.
"Baik tante," jawab wanita yang dipanggil Mil itu.
Wanita itu dengan gesit membawakan segelas air ke arah Rio dan memberikannya pada Ibu. Rio menatap ibunya tajam. Membiarkan tangan wanita yang melahirkan nya itu menggantung di udara. Rio sepertinya tidak berniat mengambil gelas yang ibunya sodorkan.
Melihat itu, Joana berjalan pelan menghampiri mereka. Dia menatap Rio dan menyuruhnya menerima gelas dari ibunya dengan tatapan mata. Rio menghela napas pendek dan akhirnya menerima gelas itu dan minum seteguk air.
Ibu Rio tersenyum, dia mengelus lengan Rio pelan.
"Rio, ini Mila, anak hakim daerah sini. Dia masih muda baru lulus kuliah," Ibu Rio mengenalkan Mila yang tersenyum.
Baik Rio atau Joana, tidak memungkiri jika Mila adalah gadis yang cantik. Kulit gadis muda itu berwarna kuning dan bersinar. Matanya juga terlihat teduh dan polos.
Joana menelan ludahnya lagi. Tahan Joana Tahan. Gumamnya dalam hati.
"Yang ...." panggil Rio lemah. Membuat Joana dengan cepat mendongak menatapnya. Dan senyum hilang dari wajah Ibu Rio ataupun Mila.
Joana masih terdiam tidak berkutik. Dia bingung. Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia menghampiri Rio? Dengan kaku, Joana mendekati ranjang Rio.
"Ya?" tanya Joana pelan.
"Kamu udah makan siang?" tanya Rio perhatian. Suaranya terdengar masih serak. Jelas sekali dia memaksakan diri untuk bicara.
Ditengah rasa sakitnya, Rio merasa harus melindungi Joana dari Ibunya. Joana tersenyum tapi air mata sudah menumpuk di matanya. Dia tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan itu sekarang.
Dia seharusnya tidak membuat jarak antara ibu dan anak ini semakin menjauh. Dia tidak seharusnya membuat wanita yang melahirkan orang yang dia cintai itu mengutuknya setiap saat.
Joana menghela napas dan tersenyum lagi. Mencoba menahan air matanya lagi.
"Hm. Aku sudah makan," kata Joana Dnegan tenang.
Ibu Rio, mendelik pada anak dan kekasih anaknya itu. Jelas tidak suka situasi yang terjadi saat ini. Tidak seperti apa yang dia rencanakan atau harapkan. Jauh dari keduanya.
"Rio bilang begitu bukankah artinya dia berharap kamu jawab belum. Agar kamu pergi dari kamar ini?" Ibu Rio tersenyum setelah mengatakan hal itu dengan nada ketus.
"Saya tidak bermak ...."
"Kamu ini tidak peka Joana ... Selama ini kamu ini benar-benar pura-pura tidak tahu saja kan." Ibu Rio memotret ucapan anaknya.
Rio menatap ibunya tidak percaya, apa yang akan wanita ini katakan selanjutnya.
"Kamu dan latar ...."
"Saya tidak bermaksud begitu !" Rio akhirnya berteriak keras memotong ucapan ibunya. Dadanya naik turun bersama helaan napasnya yang berat.
"Saya. Tidak. Ingin. Joana. Pergi." Rio menekan setiap kata yang dia ucapkan.
Matanya tajam menatap ibunya. Sedang Mila sedikit mundur karena merasa takut dan terkejut.
"Kamu ... Kamu berani membentak ibu?" Ibu Rio balas memelototi anaknya.
"Demi dia ... Kamu .... " Ibu Rio bergetar. Dia merasa sakit hati tentu saja. Bagaimana bisa, anak yang dia lahir kan menentangnya seperti itu.
"Rio ...." panggil Joana lirih. Joana menggeleng kecil. Dia harap bisa menenangkan kekasihnya. Dan benar apa yang Ibu Rio katakan. Harusnya dia lebih peka dan pergi dari sana. Itu lebih baik daripada menimbulkan pertengkaran yang menyesakan ini.
Ibu Rio sudah akan bicara lagi jika saja pintu ruangan itu tidak terbuka. Chris menatap semua orang yang ada di sana. Dia tersenyum tampan sebelum menyapa dan masuk dengan tenang.
"Ibu udah lama?" tanya Chris sambil mencium kedua pipi ibu sahabatnya itu.
"Baru aja ...." jawab Ibu Rio tiba-tiba terdengar ramah.
"Siapa?" tanya Chris basa-basi.
"Ini Mila ... Cantik kan Chris?" Ibu Rio menggandeng Mila ke depan. Ke dekat Chris.
"Cantik dong masa tampan," goda Chris sambil tersenyum kecil.
"Kamu bisa aja." Ibu Rio menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Oh ya Bu. Di sini ada restoran jepang yang baru. Sudah waktunya makan. Mau kesana? Chris yang traktir." Chris masih mempertahankan senyumnya.
"Ninggalin Rio?" tanya Ibunya lagi.
"Biarin aja, ada bel. Nanti dia bisa pencet sendiri kalau ada apa-apa. Ada perawat sama dokter. Jangan khawatir. Chris udah lama tidak bertemu ibu. Mau ya?" bujuk Chris.
Ibu Rio tampak bimbang antara ikut dengan Chris atau tidak. Lalu Chris mendekat padanya dan berbisik pelan.
"Kasian Bu sama Mila," bisik Chris.
Ibu Rio menatap Mila yang tersenyum canggung. Lalu mengangguk.
"Oke. Mila, ayo ikut tante makan dulu. Nanti kita kesini lagi setelah makan," kata Ibu Rio.
Chris berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Ibu Rio dan Mila. Tersenyum saat melihat Rio menggumamkan terima kasih tanpa suara.
...----------------...