Gentleman Dignity

Gentleman Dignity
Bab 2.3



.


Ordinary Love ( Rio Anggara)


.


Rio merasa pandangannya memudar saat Kepalanya berdenging terkena pukulan. Telinganya menangkap seseorang memanggil namanya.


"Pak Riooo ... !" Rio yakin itu suara Randy.


Rio sempat oleng, tapi dia berhasil berdiri lagi. Dia tidak ingin ada yang terluka selain dia. Jadi dia berusaha menahan muridnya untuk memulai perkelahian. Dan tanpa dia duga yang dia tangkap adalah Colin. Sejak kapan anak itu keluar dari persembunyiannya?


Tapi keadaan tidak bisa di kendalikan oleh dia seorang saja. Randy juga tidak bisa berbuat banyak selain mengancam dengan menyorot kamera ponsel pada mereka yang membawa kayu dan benda tumpul lainnya. Sedang perkelahian sudah terjadi menyebar di beberapa tempat.


"Berhenti !" teriak Rio dengan sisa tenaga yang dia punya.


Tapi teriakannya sia-sia, tidak ada yang menghiraukan dia. Rio merasa gagal saat dia mendengar suara erangan. Entah dari pihak mana. Dari dekat dia melihat seseorang terkapar. Dan dengan refleks menjatuhkan dirinya untuk melindungi orang itu. Beberapa pukulan lagi Rio terima. Dia tidak melawan, kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan.


Yang dia tahu ada orang lain juga yang terkapar di tanah bersamanya. Samar-samar Rio mendengar suara sirine, lalu tatapannya menjadi gelap lagi.


.


.


Randy bulak-balik diluar instansi gawat darurat. Rio dan beberapa murid yang terluka bisa di bawa langsung dengan mobil polisi. Randy tidak membeda-bedakan muridnya dan murid orang lain. Dia berusaha mengurusnya dengan baik. Dia juga sudah bertemu guru dari lawan muridnya. Dan mereka bicara banyak.


Murid-muridnya tidak ada yang terluka parah, Colin mendapat jahitan di beberapa bagian tubuhnya. Tapi dia terlihat baik-baik saja. Hanya saja Rio masih belum sadar. Di ruang gawat darurat itu.


Randy menghubungi Nicholas, hanya pria itu yang Randy kenal sebagai kolega Rio. Dan Randy sedang menunggunya datang. Tidak lama, Nicholas datang dengan agak tergesa.Nicholas menunduk sedikit menyapa Randy.


"Dimana Rio?" tanya Nicholas.


"Masih di ruang tindakan," Randy menjawab pelan.


Nicholas menghela napas pendek sebelum terduduk di kursi yang berjajar di luar.


"Saya harus pergi ke kantor polisi sekarang," ucap Randy pelan.


"Oh iya Pak Randy. Biar saya yang tunggu Rio," jawab Nicholas.


Nicholas menatap punggung Randy yang menjauh setelah mereka saling berpamitan. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Saat seorang anak muda duduk juga disampingnya.


Pemuda itu memakai kaos hitam dan penampilannya sangat berantakan. Perban ada dimana-mana. Beberapa luka memar terlihat di wajahnya.


"Murid Rio?" tanya Nicholas.


Pemuda itu terlihat kaget, tapi akhirnya mengangguk. Nicholas mendelik sedikit, murid-murid ini benar-benar merepotkan semua orang.


"Kenapa tawuran?" tanya Nicholas tidak bisa manahan rasa penasarannya.


Pemuda itu terdiam sebentar, dia menatap wajah Nicholas dengan tidak nyaman.


"Saya tidak tahu, Om. Saya hanya ikut-ikutan saja," jawab anak itu.


Nicholas mengerutkan keningnya sebelum tertawa pelan. Membuat anak itu semakin heran.


"Kalau bikin rugi jangan ikut-ikutan," ucap Nicholas diakhir tawanya.


"Tadinya memang malas, tapi ... Setelah melihat Pak Rio dipukul saya jadi ingin maju," jawab anak itu terdengar seperti melamun.


"Gitu ...." gumam Nicholas pelan. Sekali lagi Nicholas melihat anak itu dengan seksama. Kalau dipikir lagi dia pasti kesakitan. Nicholas bangkit dari duduknya dan masuk ke kantin. Membawa air mineral dan segelas es batu. Dan beberapa roti. Menyodorkannya pada anak itu yang menatapnya waspada.


"Saya teman Pak Rio mu itu, ini es untuk memar kamu, air untuk kamu minum, roti coba dimakan sedikit. Sudah sore kamu pasti lapar." Nicholas menjelaskan panjang lebar.


Anak itu tersenyum lalu meringis dan mengucapkan terimakasih. Nicholas duduk lagi di sampingnya. Minum air juga.


"Belum, Om."


"Nama kamu siapa?" tanya Nicholas lagi.


"Colin ...." jawab anak itu lirih.


"Nicholas." Nicholas menjabat tangannya.


Lama mereka terdiam setelah itu. Sampai Nicholas dipanggil sebagai wali dari Rio. Nicholas masuk ke dalam dan mendengar penjelasan dokter. Dia mengiyakan saja semua tindakan yang harus dilakukan untuk Rio. Sambil terhubung dengan Yericho di telepon.


Colin menatap Nicholas, dia ingin masuk ke dalam dan melihat keadaan Rio. Tapi kakinya tidak mau bergerak. Sampai seseorang menubruk badannya. Colin berbalik dan menemukan ibunya menangis sambil memeluknya. Colin menenangkan wanita yang melahirkannya itu.


Di kejauhan, Nicholas terpaku di tempatnya berdiri. Melihat wanita berambut merak muda yang terisak di pelukan anak yang mengobrol dengannya tadi. Dia mungkin masih akan tetap diam jika saja Yericho tidak memanggil namanya berulang kali di sebrang telepon.


.


.


Yericho menatap Rio yang terbaring di ranjang rumah sakit. Menggelengkan kepala sebelum menoleh ke arah Nicholas yang terlihat melamun.


"Udah telepon ibu?" tanya Yericho.


"Kamu saja yang telepon, jangan saya," jawab Nicholas.


"Joana?" tanya Yericho lagi.


"Sudah tadi."


"Bisa-bisanya dia babak belur begini," gumam Yericho.


Nicholas tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan Yericho. Dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tadi itu Monica kan? Tanya Nicholas dalam hati.


Nicholas mungkin berharap bertemu wanita itu disini. Tapi ternyata dia malah bertemu anaknya juga. Colin. Nicholas menggumamkan nama itu dalam hati. Jadi wanita yang dia taksir adalah rekan kerja temannya dan anak wanita itu juga murid temannya. Nicholas tiba-tiba tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Udah gila?" tanya Yericho sambil menepuk pundak Nicholas.


"Siapa?" tanya Nicholas pelan.


"Kamu," jawab Yericho menahan tawa.


"Maksudnya apa nih?"


"Ya ... Dari tadi kamu senyum-senyum sendiri." Yericho tidak habis pikir kenapa Nicholas yang keren itu bisa menampilkan wajah bodoh seperti tadi.


"Oh ... bukan gila ... Jatuh cinta," jawab Nicholas sambil tertawa.


"Cinta kamu bilang?" Yericho menggelengkan kepalanya lagi.


Percakapan mereka terhenti saat melihat Joana masuk ruangan. Jelas menangis, Nicholas dan Yericho saling bertukar pandang. Sebelum akhirnya menghampiri dan menenangkan kekasih teman mereka itu.


"Dia baik-baik saja, hanya belum sadar," kata Yericho.


"Iya ... Kan kamu tahu, dia pernah ngalamin yang lebih buruk," ucap Nicholas menyambung ucapan Yericho.


Joana terus menangis dan terisak. Yericho hanya bisa memberinya saputangan. Dan Nicholas memegang kotak tisu di sebelah kiri Joana. Diantara mereka bertiga, tidak ada yang berbicara. Yericho dan Nicholas tidak cukup pandai menghibur seseorang yang menangis. Mereka hanya berdiri canggung dan berharap Rio segera sadar.


"Rio ...." panggil Joana lirih. "Rio ...." lagi Joana mencoba memanggilnya.


"Iya ... Dia pasti sadar sebentar lagi, sabar ya." Nicholas sebenarnya tidak bermaksud menyebalkan. Dia benar-benar bermaksud menghibur Joana. Tapi apa daya, dia memang tidak terlalu pandai.


Yericho memelototi Nicholas memperingatkannya untuk diam dan menutup mulut saja. Nicholas hanya mengangkat bahunya sebagai respon. Belum juga mereka bisa menenangkan Joana. Satu orang lagi datang masuk ruangan Rio dengan ribut. Nicholas dan Yericho mematung di tempat mereka berdiri. Saat Ibu Rio datang dengan wajah marah. Menelan ludah gugup, mereka mencoba tersenyum.


...----------------...