Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 14: Aksa's Fault



Besoknya seperti biasa di kampus, di lab, mengalun lagu Jepang berjudul "Dearest" yang dinyanyikan oleh penyanyi Hamazaki. Menunggu Indra selesai mengajar, ia ditemani mahasiswa Jurusan Desain Grafis 3 yang kebetulan telat duduk di pojok sedang internetan. Diam-diam ia merogoh saku celana, mengambil handpone. Kemarin malam, Eka menerima pesan dari Maretha di Whatsapp-nya. Sinetra segera meminta nomornya kepada Eka. Eka memberikannya. Ia mengetikan pesan singkat, dikirimnya. Jantungnya mulai berdebar kencang, tangannya erat memegang handpone. Pikirannya melayang mengingat senyumnya kemarin lalu berganti wajahnya menjadi Hermione Granger kecil yang menampilkan senyumnya bukan kepada Harry maupun Ron melainkan dirinya. Dirinya tersadar.


"Lho, ngapain aku bayangin Hermione? Duh, pasti gara-gara nonton kemarin," gumamnya.


Beberapa menit kemudian, ada pesan masuk dari Whatsapp-nya.


Ting!


Ia tersenyum mengetahui pesan itu dari Maretha. Membukanya.


Aku sedang bekerja. Ada apa? Ini nomormu, kan? Aku simpan, ya.


Sinetra mengetikan balasan, dikirimnya. Berlanjut sampai pesan yang dibalasnya, dibalas gadis itu tentang adanya konser Hard Core Band yang diadakan di taman yang tak jauh dari arah kampus. Gadis itu mengajaknya menonton konser itu. Mengingat Bumi, ia muram.


Pintu terbuka, mahasiswa-mahasiswi Jurusan Desain Grafis 3 masuk, mencari kursi masing-masing disusul Indra yang masuk belakangan dengan perutnya yang buncit mirip Slughorn, guru pelajaran Ramuan Harry, menghampiri meja kerjanya di sampingnya. Menatap pemuda itu.


"Kamu kenapa?" tanyanya, duduk di kursi.


Sinetra mendongakkan wajahnya.


"Enggak, Bang."


Indra menatap ke arah handpone Sinetra, sedang ber-chatting melalui Whatsapp dengan seorang wanita. Membaca akun pemilik. Menggodanya,"Hmm, siapa Maretha itu?"


Sinetra menunduk, buru-buru menutup Whatsapp, wajahnya langsung merona.


"Apaan, sih, Bang?" katanya.


Indra tertawa.


"Cantik enggak si Maretha itu?" tanya Indra, masih menggoda."Diam-diam kamu sudah punya cewek, ya?"


Sinetra tak menjawab, mengantongi Handpone-nya ke saku celana.


"Mengaku saja, Tra. Dilihat dari wajah merahmu..."


Sinetra tak menjawab.


"Kenalin dong," kata Indra, tangannya memencet tombol CPU di depannya."Enggak apa-apa kalau kamu sudah punya cewek. Sudah waktunya kamu mengenal seorang cewek... kayak Si siapa? Maretha..."


Sinetra tak menjawab.


Dari dulu hingga sekarang, ia sangat anti dengan namanya "pacaran". Dulu, waktu dia masih pengangguran, ia pernah pacaran dengan gadis SMA di sebuah chat grup penggemar anime. Kenal lama, saat di-chat, dia bilang, "Kita sudah enggak cocok


lagi." Padahal, ia merahasiakan dari kakak dan orang tuanya. Setelah CPU menyala, Indra melanjutkan obrolan."Robot yang kemarin enggak kamu ajak? Ke mana?"


"Rusak," kata Sinetra, membuka internet.


Komputer loading beberapa menit, muncul tampilan windows serta ikon-ikon-nya. Indra mulai menggerakkan mouse, mengarahkannya ke ikon Mozila Fire Fox."Kok bisa? Padahal kemarin baik-baik saja lho."


Terdengar bunyi 'Ting' lagi. Sinetra merogoh saku celana lagi.


"Jangan dipikirkan masalahmu."


Sinetra tak membalasnya. Ia tersenyum membacanya.


"Terus bagaimana sama robot itu? Sudah diperbaiki?" tanya Indra.


"Enggak tahu," jawab Sinetra, mengantongi lagi handpone-nya ke saku celana.


Ada sedikit semangat yang timbul dari pesan Maretha. Sepertinya, gadis itu mengerti perasaannya. Walaupun gadis itu terlihat aneh. Namun itu terjadi kala perasaan bersalah masih dilanda Aksa emosi kala dia memutuskan tidur saat kemarin pulang dari Kost Pria. Di kamar yang bernuansa gelap, jendela tertutupi gorden. Hati kecilnya berharap Bumi masih bisa diperbaiki. Namun sesuatu melayang nemasuki kamar yang terbuka sedikit, melayang menghampiri ranjang. Mengelus pipi Aksa dengan pipinya. Merasa pipinya dielus, dia menepisnya dengan tangannya. Berkata lirih,"A-apa sih?" mengeratkan pelukan gulingnya. Tak menyerah, mengelus pipinya kembali sampai dia terbangun. Merasa risih, matanya terbuka, setengah sadar.


"Aduh, apa lagi? Sana pergi... aku mau melanjutkan mimpiku lagi..." usirnya berbaring membelakangi. Matanya langsung terbuka, siapa yang barusan membangunkannya. Dia terlonjak bangun.


"Bumi!" serunya. "Oh, terima kasih Tuhan! Akhirnya kamu sudah diperbaiki... oh, maafkan aku, ya? Aku sudah marah sama kamu waktu itu..." dia memeluknya sayang. Bumi mengangguk, memaafkannya.


"Nah, ayo kita sarapan," ajaknya turun dari ranjang keluar dari kamar menuju ke dapur. Menghampiri meja makan. Membuka tudung saji.


"Kosong?" mengembalikan tudung saji seperti semula. Biasanya, Pranaja yang membuat sarapan untuk mereka. Karena Pranaja


"Kamu tunggu di sini, ya," katanya,"aku mau lihat Brother dulu."


Bumi melayang turun di meja mengangguk.


Aksa bergegas keluar dari dapur berjalan menuju kamar dari dua kamar yang berada di ruang tengah. Dia membuka pintu kamar Pranaja pelan mengintip di balik pintu. Dia melihat Pranaja tampak tertidur pulas. Semalam, tanpa disadari dirinya, setelah pulang dari Kost Pria, sesuai janjinya kepada Aksa. Dia segera memperbaiki Bumi hingga larut malam. Bumi pun menyala lagi dan dia memberitahunya supaya besok pagi Bumi harus membangunkan Aksa. Bumi menurut, melaksanakannya sesuai perintahnya. Aksa menutup pintu. Berjalan ke arah dapur lagi.


"Kita bikin sarapan, yuk. Biarin Brother tidur... aku enggak tega membangunkannya," kata Aksa,"kamu siapin piring sama yang lainnya, ya."


Bumi menurut. Terbang melayang mengarah ke rak piring. Mengambil piring lalu gelas dengan tangan mungilnya. Melayang ke arah meja, meletakkannya dengan rapi. Aksa memakai celemek bermotif kuning kotak-kotak dikaitkan dua talinya di pinggangnya.


"Mau bikin apa, ya?" dia berpikir sebentar. Apa yang ingin dibuatnya sekarang. Terlintas dipikirannya akan membuat apa. Yang menurutnya mudah dan sederhana.


"Aha, bikin telur orak-arik saja!"


Dia segera menyiapkan penggorengan serta bahan-bahannya. Mulai menggoreng. Bumi sudah selesai, menghampirinya. Melihatnya saat Aksa menyeplokan empat telur sekaligus ke mangkuk, mengaduk-aduk telur menggunakan sendok. Tak lupa memberinya sedikit garam dan lada bubuk. Mengocok-ngocoknya kembali. Aksa menoleh, mengetahui Bumi di sampingnya.


"Oh, Bum, aku baru ingat. Cokelatmu masih ada di kulkas," katanya, menyalakan kompor, memasukkan minyak goreng, menunggu sampai panas. Beberapa menit setelah minyak goreng panas, telur yang dikocoknya tadi dimasukkan ke dalam wajan lalu telur menyebar merata. Dia mengaduk telur tak beraturan menggunakan spatula.


Pintu terbuka, Pranaja keluar dari kamar. Hidungnya mencium bau yang digoreng. Berjalan menghampiri dapur. Dia melihat adiknya dan Bumi, menghampiri meja makan, menggeser kursi, duduk.


"Kamu nggoreng telur, Sa?" tanya Pranaja.


Aksa dan Bumi menoleh.


"Ah, Brot, sudah bangun? Aku bikin telur orak-arik nih." melanjutkan mengaduk, setelah kecokelatan matang, mematikan kompor memindahkan telur di piring yang sudah disiapkan. Membawanya ke meja makan diikuti Bumi melayang di belakangnya. Meletakkannya di meja. Pranaja mengambil nasi di bakul kecil, meletakknya di piringnya. Pranaja menatap adiknya heran.


"Tumben banget kamu yang bikin sarapan?"


Aksa tersenyum, menggeser kursi, duduk.


"Enggak apa-apa."


"Kapan kamu manggung lagi?"


"Enggak tahu. Brother mau ikut?" mengambil telur orak-arik di piring. Pranaja ikut mengambil telur, meletakkannya di piring yang sudah disiapkan Bumi. Aksa menyuap telur dan nasi ke mulut, mengunyahnya.


"Enggak. Aku di rumah saja. Kamu ikutkah, Bum?"


Bumi menggeleng. Dia menjadi takut karena teringat kejadian kemarin.


"Oke," kata Aksa,"tapi aku masih teringat uang ganti rugi Sinetra... apa kukembalikan saja, ya?"


"Terserah kamu. Makanya jangan marah dulu. Kamu malah dapat uang ganti rugi kemarin. Kalau kamu ketemu sama Sinetra lagi, kamu minta maaf." Pranaja mengingatkan.


"Iya. Aku takutnya dia punya rasa salah sama aku eh memang dia


salah... kalau misalkan dia enggak mau mendengarkan laguku lagi bagaimana? Terus aku takut dia enggak mau bertemu lagi sama aku?"


Pranaja menyuap makanan, mengunyahnya kemudian menelannya.


"Jangan berpikiran negatif dulu. Enggak mungkin dia begitu.


Aku yakin."


"Dia sama Eka kan, sudah keluar dari Aliansi Garuda..."


"Aku tahu itu," kata Pranaja."Terus Eka sama Sinetra bagaimana? Mereka kembali?"


Aksa pun menceritakannya


panjang-lebar.


"Bu Mirna yang membujuk mereka? Bagus itu! Yah, kamu kembalikan uang itu sama minta maaf," ulang Pranaja." Pokoknya Bumi sudah diperbaiki. Iya kan, Bum?"


Bumi mengangguk.