Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 23: Group



Eka menerima permintaan maaf dari kedua temannya.


"Iya, aku maafin," katanya masih emosi.


"Nah, begitu. Sebagai permintaan maaf, kamu ingin apa? Kubeliin,


deh..." kata Aksa, biarpun mereka dimaafkan, tetapi perasaannya masih tidak enak.


"Enggak usah. Terima kasih." Eka meraih lemon tea-nya menyeruputnya."Sudah jam berapa ini?"


"Ini hampir menjelang malam," Hanila memberitahu. Dia menatap jendela di belakang Yudha."Kenapa?"


"Iya, sudah malam!"


"Ini sudah waktunya kami pulang! Nanti aku dimarahin sama mama!" Eka khawatir."Biar kubangunkan Sine." ia meletakkan cangkir di meja. Beranjak dari sofa, menaiki tangga. Ia melihat Sinetra sudah keluar dari kamar, melangkah pelan menuruni tangga. Membawa bajunya.


"Sudah bangun?"


"Aku enggak tidur." Sinetra memberikan bajunya kepada Eka."Bajumu ketinggalan."


Eka menerimanya.


"Besok biar kucuci. Nanti kalau ketahuan sama mama, aku dimarahi. Kita harus pulang. Ini sudah menjelang malam hari," kata Eka.


"Apa? Sudah malam?" Sinetra menuruni tangga cepat-cepat. Mereka berbelok ke arah ruang tamu. Mereka semua melihat pemuda itu sudah sadar.


"Kalian mau pulang, Bang?" kata VITTO.


"Kami mau pulang. Bukannya Dimensi Penghubung jauh dari sini?"


"Memang jauh. Tapi," Hanoman menjetikkan jari seperti yang dilakukan VITTO tadi."dari sini, kalian enggak perlu ke sana."


Muncul lingkaran sihir di bawah kaki mereka.


"Kalian bisa pulang," tambah VITTO."Bang, kapan-kapan ke sini lagi, ya! Aku tunggu kedatangannya!"


Perlahan mereka terisap. Sinetra dan Eka tersenyum kepada pemuda itu.


"Iya, pasti kami akan datang lagi," janji Sinetra.


Mereka berempat terisap, berpindah ke dunia kembali—ke rumah mereka masing-masing. Sinetra dan Eka kembali ke kamar duduk di ranjang. Kamar masih dalam posisi sama sebelum mereka dipanggil Hanoman ke Mayapada.


"Sampai?"


"Kita kembali?"


Sayup-sayup suara bisikan itu terdengar lagi di telinga Sinetra. Tatapannya menjadi kosong.


"Garuda... Aruna..."


"Sine!"


"Sine!"


"Sine!"


"Sine, sadarlah!"


Ia tersentak. Menatap Eka yang mengguncang-guncang pundaknya. Memanggil namanya berulang kali.


"Huh?"


"Kamu seperti itu lagi, ya?"


"Aku seperti itu lagi? Aku kan sudah disembuhin sama VITTO."


"Bukan itu maksudku. Kamu seperti sebelumnya. Tiba-tiba kamu diam dengan pandangan kosong terus kaget karena tersadar. Memangnya apa yang kamu pikirin?"


"Aku enggak mikirin apa-apa."


"Jangan buat aku tambah khawatir." Eka melihat kantong plastik hitam yang diberikan Maretha sudah berpindah di meja. Ia memeriksa isinya. Masih utuh atau tidak.


"Kok pindah ke sini?"


"Enggak tahu. Mungkin kakak yang pindahin ke sini."


Dari luar kamar, terdengar suara televisi dari arah ruang tengah. Mereka yang penasaran beranjak menuju ruang tengah. Mereka hanya mengintip di balik dinding. Di ruang itu tampak ayah dan mama sedang menonton berita terkini. Ayah menekan tombol remote dengan volume kencang. Mereka menyaksikannya dengan penuh minat.


"PARA PENELITI MENEMUKAN ADANYA SESUATU MUNCUL DARI ARAH SELATAN PULAU JAWA MENGGUNAKAN SATELIT."


"Raksasa?"


"Apa Bathara Kala?" Sinetra menebak.


"Enggak mungkin kalau raksasa itu. Dia kan, Called Pahlawan Aruna. Masa dia sampai ke pulau itu? Kayaknya ada sesuatu yang berhubungan dengan," kata Eka, berbalik kembali ke kamar.


"Berhubungan? Apa mungkin berhubungan dengan kartu—"


Mereka teringat cerita Mirna, saat pertama kali akan bergabung dengan Aliansi Garuda. Seketika muncul di bawah kaki mereka lingkaran kartu Gapuran, mereka terisap, sekarang berpindah di sebuah ruangan berwarna merah-api. Mereka bingung, memandang semuanya sudah berkumpul dan bertemu kembali.


"Maaf, saya memanggil kamu berdua barusan," kata Mirna, menunjukkan kartu Gapuran di tangannya. Membuka pembicaraan,"Saya memanggil kalian semua, Pahlawan Garuda dan Pahlawan Aruna tentunya yang dipanggil juga oleh Ketua Maya, membahas soal berita yang diberitakan di televisi."


Sudah kuduga, batin Sinetra.


"Soal kemunculan sosok yang diperlihatkan oleh satelit itu mungkin adalah sosok raksasa yang muncul kembali ke selatan Pulau Jawa, Pulau Buminata," lanjutnya."Saya beranggapan, itu ada hubungannya dengan kartu yang selama ini kalian cari... misalkan raksasa itu merebut lima kartu yang dibawa di antara kamu semua, maka sebisa mungkin, kita harus menghadapinya dan itu berisiko tinggi. Karena di pulau itu masih ada yang menghuni."


"Saya tekankan, buat kamu semua yang ada di sini, mau enggak mau harus siap. Siap mental dan fisik," tambah Maya."Sebisa mungkin, kita harus melindungi pulau yang berkaitan dengan daya sihir itu."


Mendengarnya, Sinetra dan Eka menjadi tidak bersemangat. Ingin menolak, tetapi mereka merasa sungkan. Mirna memandangi mereka langsung tahu. Dia beranjak dari kursi yang di dudukinya, mendekati mereka mengajaknya,"Ikut saya sebentar," katanya.


Mereka menurut mengikutinya menuju pintu. Pintu bergeser otomatis, mereka keluar. Di depan pintu, Mirna langsung bicara pada intinya.


Mereka terdiam.


"Apakah kamu berdua takut?"


"Er..."


"Ngomong saja, enggak apa-apa. Saya enggak akan marah."


"Sebenarnya sih iya, Ketua..." Sinetra menghela napas berat.


"Sinetra, Eka, setiap orang itu mempunyai rasa takut. Termasuk saya. Mau bagaimana pun itu, tugas yang harus kita hadapi! Kamu berdua jangan menyerah! Seperti perkataan saya waktu lalu, kenapa saya memilih kamu berdua? Karena saya memercayai kalian!" kata Mirna, menyakinkan mereka lagi.


"Kenapa harus kami? Bukan yang lain saja?!" kata Eka, berkelit."Lebih baik kami keluar saja dari Aliansi Garuda! Enggak ada namanya Pahlawan Garuda!" ia mengeluarkan unek-uneknya selama ini. Namun, di rumah Mirna yang lalu, ia masih bisa menahannya dan menjaga sopan santunnya.


"Eka," Mirna menatapnya bergantian menatap Sinetra."Dengarkan saya, kamu berdua memang pantas di Aliansi Garuda... kalian hanya belum mencobanya..."


Sinetra menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dua tangannya terkepal.


"Maaf, Ketua..."


"Itu bukan salahmu, Sinetra." Mirna menepuk pundak mereka pelan, tersenyum."Persiapkan diri kamu untuk besok," pesannya.


Setelah percakapan itu, Maya keluar bersama yang lain. Margana melewati mereka. Dia teringat omongan adiknya waktu bertemu dengan Sinetra di Asia Festival Cosplay, memastikannya. Dia berbelok bersama yang lain menuju pintu yang bergeser otomatis. Aji melirik Aksa takut-takut. Ia masih bersalah akibat insiden yang menimpa Bumi. Aksa menatapnya tidak suka.


"Saya duluan, ya," pamit Mirna, berbalik berjalan ke arah pintu mengikuti yang lain.


Mereka mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu berdua tadi ngomongin apa sama Ketua?" tanya Aksa.


"Hanya memberi semangat saja," jawab Sinetra.


"Tapi kok tiba-tiba kita dipanggil seperti ini? Aku saja belum pernah ke Pulau Buminata itu. Hanoman kan, cerita tadi ke kita," kata Yudha.


"Betul juga. Bagaimana menurutmu Sinetra?" Aksa melihat pemuda itu tidak menjawab. Pandangan pemuda itu kosong."Sinetra?"


Sinetra tidak mendengar omongannya. Bisikan itu datang lagi membisikkan telinganya.


"Garuda... Aruna..."


Eka mengetahuinya segera menepuk-nepuk pipinya keras, memanggil namanya.


"Sine!"


"Sine!"


"Sine, sadarlah!"


Yudha dan Aksa membantu menyadarkannya dengan mencubit pipi dan menggoyang-goyangkan pundaknya.


"Sine, SADAR!" pekik Eka di depan wajahnya.


Sinetra tersentak.


"Eh?"


"Kamu seperti ini lagi!"


Besoknya, semua berkumpul kembali, berada di dalam sebuah kendaraan melayang yang sudah di-called sebelumnya oleh Dewa. Dengan menggunakan kartu Gapuran dan kartu Blumbangan yang disatukan. Kendaraan itu berbentuk persegi panjang, berwarna hitam, di setiap sisinya memancarkan warna kuning-merah api menyala. Mereka semua berangkat tanpa ada yang tahu. Semua di dalam kendaraan


itu—sudah berwujud Pahlawan. Kendaraan melayang itu melayang turun, melaju perlahan ke sebuah pulau yang dimasuki. Pulau itu mirip Hutan Peteng yang ada di dunia Mayapada. Pulau itu gelap dan berkabut tebal sehingga menghalangi perjalanan. Memiliki cuaca sedingin kutub es, lebatnya pepohonan serta tumbuh-tumbuhan di situ. Ya, pulau itu Pulau Buminata. Dua jam perjalanan, Dewa mendaratkan kendaraannya, timbul asap di sekitarnya saat pintu terbuka otomatis. Mereka mendarat di sisi tumbuhan berbiji berwarna cokelat tua yang tampaknya sudah matang. Semua keluar, berjalan kaki menelusuri hutan, melewati semak-semak belukar. Semua menghentikan langkah. Di balik semak-semak muncul seekor makhluk berkaki empat, bertubuh mungil mirip kelinci, berbulu tebal bercorakan motif gurda, memiliki mata besar berwarna hitam. Makhluk itu menatap mereka dengan takut-takut.


"Makhluk apa itu?"


"Cuwiri. Makhluk yang menghuni tempat ini."


"Apa makhluk aneh ini yang pernah diceritakan Hanoman?"


"Iya," kata Yudha.


Sinetra membungkukkan badan, tangan kanannya terulur ke depan, mencoba memanggilnya seperti yang dilakukannya terhadap kucingnya."Ayo, sini..."


Makhluk itu masih takut-takut namun berjalan mendekatinya. Sinetra lalu mengelus kepalanya lembut, memanggilnya dengan suara manja yang aneh. Makhluk itu menurut, mencakar tangan bahkan menggigit tangannya. Suaranya mendekur manja. Semua yang melihatnya takjub maupun aneh, padahal hewan itu baru bertemu dengannya.


"Seperti kucing saja, ya," kata Samudra membungkuk, ikut mengelus kepalanya. Makhluk itu langsung mendesis, bulu-bulunya berdiri tampak terganggu. Sinetra buru-buru menggendongnya, mengelusnya agar tenang.


"Dia enggak suka kamu yang


mengelusnya," katanya kepada Samudra.


"Aku cuma ingin mengelusnya!" decak Samudra sebal.


Semua tertawa. Maya menyarankan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka memasuki hutan lebih dalam. Sampai di sana ada banyaknya gua-gua mungil. Keluar makhluk mirip dengan Cuwiri yang mereka temui. Mata mereka melebar melihat teman sekawanannya bersama mereka. Mereka awalnya takut, namun bergerombol mendekati. Bahkan ada yang menubruk Eka sampai jatuh. Mereka melompat-lompat senang.


"Itu kawananmu?" kata Sinetra.


Cuwiri digendongannya mengangguk. Sinetra menurunkannya kembali ke kawanannya. Di antaranya ada yang menjilati mereka, tidur di pangkuan, menaiki kepala, mencakar dan menggigit mereka—Aksa dan Samudra. Kawanan itu tampak senang bersama mereka. Tiba-tiba suara bisikan itu kembali lagi terdengar di telinga Sinetra.


"Garuda... Aruna..."


Deg.


"Garuda... Aruna..."


Sinetra buru-buru menutup telinganya rapat. Ia merasa kesakitan mendengarnya.


"A... AAA! AAA!" pekiknya.


Malah suara itu terngiang jelas di telinganya.