
Yudha selesai memasak pesanan para tamu di bantu Aldi, teman sesama chef-nya, meletakkannya di meja berisi tiga masakan yang tertata rapi. Teman sesama chef-nya yang lain mengambilnya dan diletakkan di meja troli lalu menyeretnya keluar menuju aula hotel. Selesai meletakkan makanan itu, dia bergegas mencuci semua peralatan masak. Aldi meletakkan makanan yang terakhir,ikut membantunya. Meraih tempat wadah sayur yang habis dicuci Yudha.
"Hari yang melelahkan ya?" katanya.
"Setiap hari kan begini, Di, kecuali hari Sabtu sama Minggu, kita libur," jawab Yudha, menyabuni wajan dan spatula kayu dengan sabun.
"Hehe. Iya sih, tapi hari ini tamu yang datang ke hotel ini punya acara," lanjut Aldi."Kamu sudah baca berita kemarin di internet, Yud?"
"Berita apa?" Yudha membilas wajan dan spatula dengan air mengalir di keran.
"Berita tentang semua terhenti di acara apa itu... Kayak cosplay..."
"Asia Festival Cosplay," koreksi Yudha.
"Ah, betul! Di acara itu semuanya pada berhenti bergerak—sampai ke seluruh kota lho."
Yudha memberikan wajan dan spatula itu pada Aldi, terdiam sebentar.
"Masa?"
"Iya, Yud! Terus langsung kembali semula! Enggak aneh, tuh?"
"Enggak."
"Menurutku aneh. Soalnya kayak waktu berhenti."
"Kamu ngerasain?"
"Iya, tapi enggak sadar. Waktu itu aku lagi tidur di kamar," kata Aldi.
"Sama saja dong!"
"Tapi pas bangun tidur, keluargaku cerita."
"Iya, deh."
"Nanti aku pulang bareng ya? Rumah kita kan searah."
Yudha menggangguk.
"Nanti kita mampir dulu ke supermarket. Aku mau beli sabun cuci muka sama dedoran." meletakkan wajan dan spatula di rak seharusnya.
Yudha mencuci wadah-wadah kecil.
"Gampang. Tapi selesaikan ini dulu... "
Saku celananya menyala. Dia menundukkan kepala.
"Kenapa?" Aldi ikut menunduk, melihat ke saku celananya."Handpone-mu mennyala tuh. Tapi kok aneh?" mengira Evolution Entity adalah handpone.
"Ah iya, tolong cucikan ya. Aku mau mengangkatnya dulu!" dia melesat meninggalkan dapur menuju lorong yang sering dilewati tamu. Berbelok ke arah sisi dinding yang tak terlihat di situ dan berubah lalu mengeluarkan kartu Gapuran di Evolution Entity-nya di bawah pundaknya terisap di lingkaran sihir. Lingkaran sihir membawanya ke gang kecil di sebelah rumah bertingkat dua, bercatkan krem, berpagarkan besi yang tertutupi sekat di depannya terbuka sedikit. Tampak di dalamnya pohon Bunga Melati Jepang menjulang tinggi. Dia mencoba merasakan daya kartu. Setelah merasakannya, dia melesat turun. Di depan gang ada papan nama pemberitahuan Jalan Nangka, Gang 3, Kota Balik. Dia melesat berbelok ke jalan raya sebelum ada kendaraan melayang melintas. Dia berhenti di tengah jalan melihat Margana cs. Mulailah pertarungan. Saling menyerang dan merapalkan mantra.
Berpindah di gang Yudha datang tadi,Aksa melesat turun ke bawah, berbelok berlari ke arah pertarungan, melompati mobil melayang dan pengendara sepeda melayang. Membuat pengendara melihat aksinya takjub.
Dia melompat lupa mendarat sampai menubruk temannya sendiri yang mulai kelelahan. Dua kali dia melawan Margana cs sendirian.
Bruuk!
"Aduh!"
Mereka mengaduh kesakitan. Yudha tertindih tepat di bawah bokong Aksa yang lancip.
"Aduh, hati-hati dong, Sa!" raungnya.
Aksa menoleh, menatap Yudha di bawahnya.
"Oh, maaf! Aku enggak tahu kalau ada kamu, Yud..."
"Huh!"
"Tadi aku melompat, jadi enggak tahu," katanya membela diri.
"Ya, sudah. Cepetan kamu bangun! Bokongmu lancip tahu!"
Aksa meringis, dia bangkit berdiri lalu mengulurkan tangan menolong Yudha.
Yudha berdiri.
"Pesanku sudah dibaca?" tanya Aksa.
"Pesan yang mana?"
"Yang mereka keluar dari Aliansi Garuda itu."
"Sudah, aku kaget mereka keluar. Bukan kaget saja, kecewa iya."
"Jadi sekarang kita cuma berdua lagi seperti dulu menghadapi itu?"
"Ya iyalah kita berdua sama Ketua. Siapa lagi?"
Aksa mendesah.
"Pas dengar dari Ketua, aku malas datang ke sini... daripada kena marah sama Brother, aku ke sini, deh..."
"Ya, mau bagaimana lagi? Terpaksa kita lakukan ini bersama."
"Aku harap, mereka kembali ke Aliansi Garuda lagi," kata Aksa berharap, dua tangannya saling tinju."Biar aku yang maju," dia maju ke depan seperti biasa menggulung badan bagaikan bola menggelinding ke arah mereka.
"Aksa tung—"
Aksa menggelinding mengenai Samudra dan Aji yang merapalkan mantra.
"Solar—"
"Hole—"
Namun mereka tak sempat mengucapkan dan terpental beberapa meter menabrak dua pilar di seberang lalu lintas.
Bruuk!
"Uaagh!!"
Aksa menggelinding lagi, menabrak papan besar di salah satu bangunan ruko sampai menimbulkan retakan dan hancur. Kartu Mandura ikut tertimbun bersamaan.
Praak!
Dewa merapal mantra, mengeluarkan sihir merah-api dari kedua tangan, membentuk percikan bunga api di sekeliling tubuhnya mengarahkannya ke Aksa.
"Fire Orcid Ball!"
Wuush!
"Aksa!"
Sihir bunga Dewa dan Aksa menggelinding beradu tubrukan. Sihir Bunga Dewa menyilaukan mata Yudha dan Margana. Kesempatan itu Margana melayang ke arah reruntuhan tadi. Yudha melihatnya buru-buru beranjak menuju runtuhan. Sihir Bunga Dewa dan Aksa masih beradu, sihir Bunga Dewa perlahan mendorongnya ke belakang lalu terpental.
"Ah!"
Tubuh Aksa berhenti berputar, dia terpental hingga jauh menubruk bangunan ruko tertutup menimbulkan retakan asap menyeruak di sekitarnya. Dia terbaring di antara reruntuhan.
Selanjutnya Dewa mengarahkan sihir ke arah Yudha. Bunga-bunga itu menjulur mirip sulur Snargalluf, siap membebatnya. Dia melompat menghindari sulur-sulur itu. Mengeluarkan Bintang Raksasa-nya, melemparkannya ke sulur-sulur itu. Bintang Raksasa berputar cepat, menebasnya dengan sekali tebas. Berputar ke belakang Dewa. Dewa membalikkan badan, melompat salto dan mendarat ke jalan. Bintang Raksasa kembali ke tangan Yudha.
"Dari dulu sampai sekarang, kamu masih tetap kuat ya?" puji Dewa."Di antara kalian, kamulah yang paling kuat."
Yudha kaget.
"Iya, aku mengakuimu. Kamu enggak kayak temanmu yang barbar itu. Cara berpikirmulah yang aku kagumi."
Yudha tersenyum.
"Terima kasih," ucapnya, melempar lagi Bintang Raksasa-nya ke arah Dewa.
Dewa menghindar. Bintang Raksasa berputar ke arah Margana berdiri terbalik, ada di atas tiang kosong, berusaha meraih kartu Awangga yang bersinar. Mendengar suara berdesing, dia menoleh kaget, melompat menghindar sampai tiang kosong itu terbelah menjadi dua.
Sreet!
Dua tiang kosong itu jatuh ke jalan menimbulkan retakan lagi. Bintang Raksasa berputar ke Margana lagi. Mengenai perutnya. Seketika tubuhnya berubah menjadi bayangan.
"Duplikat?"
Bintang Raksasa berputar ke arah Dewa lagi, menundukkan badan secepat mungkin lalu Yudha melompat ke arahnya, menjejakkan kaki di atas bintang itu menendangnya mengenai wajahnya.
Buuk!
"Ugh!"
Dewa terjatuh ke bawah. Jalan di bawahnya retak.
Yudha melompat ke jalan, Bintang Raksasa berputar turun, berhenti di tangannya. Dewa berdiri memanggil called.
Bluush!
Keluar cahaya di sekeliling jalan, muncullah sesosok menyerupai naga, sisiknya hitam mengkilat, dua matanya menyala merah dan moncongnya lebar.
"Ahahaha! Akhirnya aku keluar! Ahahaha!" katanya, suaranya menggelegar.
"Taksaka," gumamnya, memanggil called. Muncul sinar kuning menyilaukan di depan matanya.
Bluush!
Sinar kuning menyilaukan itu muncul sosok wanita cantik, berambut panjang disanggul, berpakai lengan panjang modern warna hijau dan bawahan rok motif batik dan sepatu terompah modern. Di kepalanya memakai mahkota.
Taksaka segera mengetahui sosok wanita di depannya kini.
"Oh, Gini!" dua mata merahnya membulat seraya tertawa menggelegar menggunakan bahasa Ular,"Ahaha! Oh, apa kamu melawan pamanmu ini?"
Nagagini tersenyum.
"Iya, Paman," jawabnya kalem, menggunakan bahasa Ular."Tapi kalau enggak ada perlawanan, aku enggak perlu melawanmu."
"Begitu, ya?" kata Taksaka."Baiklah, tapi aku terlanjur dipanggil... aku berterima kasih kepadamu,
Master," kepalanya yang lentur menoleh ke arah Dewa. Dewa mengangguk pelan, perasaannya mulai tak enak.
"Nah, Gini, kalau aku yang menyerang duluan bagaimana?" Taksaka menyeringai.
Wajah Nagagini waspada.
"Misalnya seperti ini—!" tubuhnya bergerak, ekornya yang besar mengayun ke arah mereka. Nagagini menyambar pinggang Yudha, melesat terbang menghindar lalu ekornya mengenai setiap bangunan dan
pilar-pilar dan ambruk ke jalan. Nagagini melompat bersalto, melayangkan satu kakinya ke arah kepala Taksaka.
Buuk!
Sekali tendangan, membuat naga itu meraung kesakitan. Nagagini menjejakkan kaki ke tanah, melepaskan pinggang Yudha.
"Master, tetaplah di sini. Biar aku yang maju," kata Nagagini, tak menggunakan bahasa Ular kepada manusia.
"Tapi, Gini—"
"Dengar, aku tahu kamu ingin merebut kartu. Kalau kamu ngelawan Pamanku... kamu bakal celaka!"
Yudha diam, menggangguk.
Nagagini maju, melompat ke tubuh panjang bersisik pamannya berlari ke arah kepalanya, menendangnya lagi berkali-kali hingga naga itu meraung dan ambruk.
"AAAAH!" raungnya kesakitan.
Nagagini menjejakkan kaki ke jalan.
Sementara sekuter melayang melesat melewati empat kota dan sekarang mereka memasuki Desa Jati, berbelok ke arah dua gapura besar menyeberangi rel kereta berbelok lagi ke jalan "Gang Bambu", berhenti di rumah di samping Ayyuni Lolita, butik yang menjual berbagai macam baju bergaya lolita. Mereka melesat menuju samping rumah hingga ke dapur. Seperti biasa, dua keponakan Sinetra datang lagi tapi kali ini mengajak adik mereka yang berumur delapan tahun, berwajah hitam, berambut cepak hitam yang tergolong nakal, suka menjawab omongan orang, dan suka
berbohong. Ketiga keponakannya ini soal makanan, terkenal pelit, tak mengenal istilah "Berbagi" ketiganya menyukai makanan yang wajib selalu ada yaitu DAGING. Sekali lagi dijelaskan, DAGING. Bila tak ada daging, mama terpaksa menggoreng telur untuk si bungsu, karena dia selalu makan jika makanan itu tergolong enak. Di balik semua itu, keponakannya ini suka sekali memelihara hewan dan suka menyiksa hewan. Molly, selalu menjadi korban penyiksaannya membuat Sinetra tidak suka.
Mereka turun, meletakkan helm di gantungan jok, berbelok menuju kamar. Keponakan Sinetra si bungsu menatap Eka dengan penasaran. Bocah itu mirip sosok tuyul yang siap melaksanakan tugas dari sang majikan yang melakukan pesugihan untuk mencuri uang. Eka menatapnya gantian dengan pandangan tak suka.
"Siapa bocah itu, Sine?"
"Tuyul Lamis," jawab Sinetra, membuka pintu dan mereka masuk ke kamar.
"Tuyul Lamis?"
"Iya, itu panggilannya."
"Kenapa dia dipanggil Tuyul Lamis?"
"Kalau bicara dia suka bohong."
"Kalau aku lihat, dia bocah belagu," kata Eka.
"Memang belagu, kok. Terus dia mengganggu."
Sinetra melepas kacamata, merebahkan badan di ranjang. Eka ikut merebahkan badan. Mama membuka pintu keluar dari kamar mandi, melihat sekuter melayang anaknya. Beliau tahu jika anaknya sudah pulang, berbelok menuju kamar. Membuka sedikit pintu, menengoknya. Seperti kemarin menanyakan mereka sudah makan atau belum.
"Sudah, Ma."
"Makan di mana kok sudah makan?"
"Di Kafe Korea tadi," kata Sinetra.
Sebelum beranjak, Mama mengatakan pada mereka, sesudah mereka berangkat ke Aliansi Garuda, beliau pergi berbelanja di toko langganannya membeli bahan persediaan rumah yang sudah habis, termasuk tambahan jajan untuk mereka dan Shinta yang selalu disembunyikan di lemari mereka masing-masing.
"Beneran, Ma?"
"Iya."
"Yeah!"
"Mama cantik deh! Kayak Molly Weasley!" puji Eka pada Mama.
"Siapa itu Molly Weasley?"
"Hadeh, Molly Weasley itu mamanya Ron, temannya Harry, Ma," jelas Eka.
"Harry Potter?"
"Iya, masa Heri Munajab!"
Mama lantas tertawa. Beranjak pergi melesat ke ruang tengah. Mereka melanjutkan rebahannya. Eka memeluk guling, mencoba tidur namun Sinetra mengajaknya mengobrol," Biasanya kayak begini kita buru-buru bertugas ya."
"Kita sudah berhenti, Sine," Eka menyahut.
"Aku tahu kok."
"Kita enggak ada hubungan lagi sama mereka... Aliansi Garuda..."
Sinetra menarik guling satunya.
"Mendingan kalau begini kita bisa tidur siang. Sudah ah aku mau tidur!" Eka menutupi wajah dengan guling.