Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 18: Suara Bisikan (2)



Dewa di kamar, membuka dua matanya perlahan. Menatap langit-langit berwarna kuning. Dia menoleh, menatap sekeliling dengan bingung.


"A-aku di mana...?" katanya lirih.


Dia mencoba bangun perlahan. Rambutnya berantakan.


"Di mana ini?"


Dia berdiri namun oleng. Tangannya segera memegang pinggiran ranjang. Ranjang di kamar itu terbagi dua. Ranjang atas dan bawah yang bisa digeser.


Yudha berdiri, beranjak ke dapur mengambil minum, melengok ke arah kamar. Dia kaget, mengetahui Dewa sudah sadar. Buru-buru masuk dan menghampirinya. Membantunya bangun.


"Kamu sudah bangun? Kamu sudah baikan?"


Dewa menggeleng pelan.


"Ini dimana?"


"Kamu di kost-ku. Tadi saya membawamu ke sini," ujar Yudha.


"Kenapa kamu menolongku?"


"Enggak apa-apa kan menolongmu terus saya membawamu ke sini. Bukannya itu tugas Pahlawan Garuda maupun Pahlawan Aruna? Dan saya khawatir keluargamu mencarimu."


Dewa terdiam.


"Sudah, kamu istirahat saja di sini. Badanmu kan masih lemas." Yudha berdiri. "Sebentar, ya, saya ambilin minum dulu." dia beranjak keluar menuju dapur.


Gatra meletakkan keripik kentangnya. Beranjak dari ruang tengah menuju dapur. Dia mendengar pembicaraan mereka. Dilihatnya adiknya mengambilkan minum di gelas di ceret. Membawa air minum itu ke kamar.


"Dia sudah siuman, Gos?"


"Sudah. Ini aku mau bawakan minum buat dia."


Mereka berdua memasuki kamar. Gatra mendelik saat mengetahui siapa Dewa.


"Dewa?!"


Dewa mendongak kaget.


"Bang Gatra?"


"Jadi, kamu ya yang pingsan itu? Kamu Pahlawan Aruna musuh Bagos?"


"Bagos? Siapa dia?"


"Adikku, Yudha, namanya. Iya, kan?" menoleh ke arah Yudha yang duduk di samping Dewa.


Yudha memberikan gelas yang berisi air putih kepada Dewa. Menyuruhnya untuk minum.


"Ini, minum dulu."


Dewa mengulurkan tangan, meraih gelas itu dari tangan Yudha.


"Terima kasih," ucapnya meminum air itu sekali teguk. Setelah meminumnya, memberikan gelas itu ke Yudha.


"Sama-sama. Kamu kok kenal Bli Gatra?" tanyanya.


"Dia teman kerja saya."


"Kamu ilmuwan juga kayak Bli Gatra?"


"Iya."


"Wa, bener nih kamu Pahlawan Aruna musuh Bagos?" ulang Gatra, menyakinkan.


Dewa mengangguk.


"Bener, Bang. Aku musuhnya. Aku enggak tahu selama ini kamu itu adalah Pahlawan Garuda..."


"Mana kita tahu. Kita selama ini pakai wujud kita sebagai pahlawan, makanya enggak tahu. Nanti kamu pulang gimana? Nanti saya pinjami sepeda melayang saya," katanya.


"Enggak usah. Saya pakai ini saja— mana Evolution Entity sama kartu Blumbangan-ku?"


"Oh iya, saya meletakkannya di meja."


Yudha berdiri lagi, menghampiri meja, meraih dua benda itu. Memberikannya ke Dewa. Dia duduk kembali di sampingnya.


Dewa menerimanya.


"Mirip seperti Evolution Entity punya saya? Bedanya cuma logo sama warnanya yang beda."


"Ya," kata Dewa,"Sebentar, Yudha," dia baru ingat. "Kemana Margana sama yang lain? Apa mereka dibawa temanmu itu pulang ke rumah?"


"Enggak. Aksa membawa temanmu pulang ke Studio Alzaki. Kebetulan saya bertemu Sena sama robot hitam kecil mirip Bumi," cerita Yudha.


"Robot hitam kecil itu ya? Memang mirip sama Bumi," timpal Gatra.


"Robot itu namanya Angkasa. Dia punya Margana."


Dewa berdiri.


"Terima kasih ya, Yudha. Kamu sudah menolong saya. Walaupun kita


sama-sama musuh. Suatu saat, kita bisa bekerja sama sebagai rekan bukan musuh. Saya mengira selama ini Pahlawan Garuda itu jahat... ternyata perkiraan saya itu salah... kamu baik..."


Yudha tersenyum.


"Sebenarnya yang jahat selama ini Pahlawan Garuda atau Pahlawan Aruna sih?" Gatra mengeryitkan kening. "Atau keduanya yang jahat?"


"Dua-duanya, Bli. Keripik kentangnya masih ada?"


"Ada. Buat apa?"


"Mau kuberikan ke Dewa."


"Biar kuambilkan dulu," kata Gatra keluar dari kamar kemudian masuk kembali masuk dengan tangan membawa kantong plastik warna putih berisi beberapa keripik kentang. Memberikannya kepada Dewa. Dewa menerimanya mengucapkan terima kasih.


"Itu buat anak kamu. Aksa bilang, dia tadi bertemu dengan anakmu."


"Apa?"


"Sudah bawa saja," kata Yudha.


"Terima kasih."


Dewa memegang erat kartu Blumbangan. Kartu itu langsung bersinar. Muncul lingkaran sihir di kedua telapak kakinya. Mengisapnya perlahan sembari berpamitan kepada mereka. Lingkaran sihir kartu itu membawanya pulang sampai di depan rumah. Tangannya memencet bel. Terdengar langkah kaki kecil ke arah pintu, suara lubang kunci diputar dua kali, pintu terbuka memperlihatkan bocah laki-laki berwajah mirip dengannya. Dia terlihat senang.


"Papa!" serunya, memeluk papanya. Tangannya membawa boneka Ice Bear. Dewa membalas memeluknya, menggendongnya ke dalam sembari menutup pintu lalu menguncinya. Dia mengelus rambutnya sayang.


"Papa habis kemana?" tanya Nanda.


"Tadi Papa baru pulang dari rumah teman... kamu sudah makan?"


"Sudah. Pakai telul dicampul sosis. Papa tahu, enggak? Aku tadi ketemu sama Pahlawan Galuda lho!"


"Oh, ya?" dia pura-pura kaget. "Di mana ketemunya?"


"Di bus melayang."


"Bus melayang? Kenapa Mama enggak minta jemput saja kalau pulang? Kan, Papa bisa jemput kamu berdua pulang."


"Enggak kepikiran tadi, Bang," sahut Christine keluar dari dapur.


Dewa menghampiri ruang tengah, duduk di sofa. Televisi menyiarkan channel kartun Cartoon Network, menampilkan kartun "Super Noob". Empat pahlawan melindungi bumi dan membasmi virus. Dewa meletakkan plastik pemberian Gatra di meja. Nanda menoleh menatap plastik itu.


"Apa itu Papa?"


"Buka saja. Kalau mau," kata Dewa.


Nanda turun dari pangkuan papanya, membuka plastik itu. Menjatuhkan boneka Ice Bear-nya di sofa. Wajahnya terlihat senang.


"Jajan!"


Dia mengambil satu snack kentang.Membuka bungkusnya, mengambil satu keripik kentang, memakannya.


"Berarti Pahlawan Galuda yang ketemui tadi benelan ngasih tahu kalau aku tadi minta jajan ke Papa..." Dewa menoleh ke arah istrinya yang duduk di sampingnya. Christine mengangguk.


"Dengarkan dulu Nanda cerita," bisiknya.


Bocah itu melanjutkan ceritanya, "Aku bilang ke Pahlawan Galuda, suluh ngasih tahu ke Papa, kalau aku minta jajan."


"Terus?"


"Dia bilang iya. Papa tadi ketemu enggak cama Pahlawan Galuda-nya?"


"Hmm," Dewa berhenti sebentar akan menjawab," Ketemu! Dia ke kost teman Papa tadi. Papa ditolongin sama dia."


"Benelan, Pa, Pahlawan Galuda-nya di sana? Dia bilang sesuai omonganku?"


"Iya. Dia bilang begitu... ya sudah, dimakan."


Nanda mengangguk, melanjutkan memakan snack kentang, naik ke sofa. Tangannya yang lain meraih boneka, melanjutkan menonton.


"Padahal jajan itu jajannya Bang Gatra, Chris, tadi memang aku ditolong sama Pahlawan Garuda waktu aku pingsan... aku enggak tahu siapa Pahlawan Garuda yang kamu berdua temui..." bisiknya.


"Beneran, Bang?" bisik Christine kaget.


"Bener, ternyata Pahlawan Garuda yang menolongku adiknya Bang Gatra... kayaknya dia seumuranku."


"Siapa namanya?"


"Yudha namanya."


Besoknya, di Studio Alzaki, Sena sudah berdandan rapi dengan setelan baju kemeja panjang hijau tua kotak-kotak hitam dan memakai celana jeans biru. Dia menghampiri dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Menggeser kursi di samping Erza sedang menyantap sarapan yang dibuat tadi: nasi goreng.


"Oom Erza," panggil Sena.


Erza menyiduk nasi serta telur goreng yang diorak-arik di sekitar nasi.


"Iya, Nak? Mau nyicip? Ini masih ada nasi gorengnya. Saya bikin banyak buat makan siang," tawarnya.


"Terima kasih," ucap Sena. "Saya sudah sarapan tadi di rumah. Begini, Oom, anu..."


"Anu apa?"


Sena melirik Aji yang memasuki dapur menghampiri kulkas, membukanya.


"Anu... boleh saya keluar untuk hari ini?"


Erza berhenti menyiduk nasi.


"Mau keluar ke mana?"


"Anu... itu..." Sena melirik lagi ke arah Aji yang sedang menuangkan air minum ke dalam gelas.


Aji mengembalikkan lagi botolnya ke dalam kulkas menutup kembali pintunya. Dia menggeser kursi, duduk, meneguk air di gelas itu.


"Mau keluar kemana?" ulang Erza.


"Sa-saya mau keluar bersama


Wanda..."


Erza akan menyiduk nasi, langsung diam. Aji selesai meneguk air, menatapnya langsung tidak suka.


"Ngapain kamu mengajak adikku?" kata Aji, suaranya serak.


Sena tidak menjawab.


Erza bergantian menatap mereka berdua.


"Enggak apa-apa kalau kamu pengin keluar. Tapi ingat, kamu harus pulang," izinnya.


"Mengajak Wanda, boleh?"


"Boleh, Sen," Erza menatap ke arah Aji."Boleh ya, Nak. Nanti Wanda di antar pulang sekalian."


"ENGGAK!" seru Aji. "Kamu kenapa mengajak Wanda, hah? Dia bisa jalan-jalan keluar bersama temannya yang lain! Tapi bukan sama kamu!" dia menatap Erza,"Oom, kalau mereka jalan berdua, entar yang ada, ada apa-apanya lagi! Karena aku... aku..."


Peristiwa yang pernah menimpa adiknya dilecehkan hingga hampir diperkosa oleh mantan pacarnya sewaktu SMA kembali terulang di ingatannya... dia duduk terdiam. Meletakkan gelas itu di meja. Menundukkan kepala. Erza yang mengerti situasinya,"Sen, kamu boleh mengajak Wanda. Ingat, kamu harus menjaganya dan jangan menjauh darinya," pesannya.


Sena mengangguk mantap. Dia berdiri dari kursi, melangkah dengan gagah keluar dari dapur melewati ruang tamu. Samudra yang menonton Youtube bola dan Margana membaca majalah fashion menoleh melihatnya.


"Ayo, Ang," ajaknya.


Angkasa menurut tetapi terlihat bingung akan diajak kemana olehnya. Dia terbang melayang masuk ke kantong kemejanya. Sena memakai helm hitamnya, menaiki sepeda melayang melesat keluar dari teras menuju rumah Aji. Berbelok ke Jalan Mawar ke blok C, menuju salah satu rumah bercatkan hijau muda. Dia menghentikan sepeda melayang-nya tepat di depan pagar. Turun dari sepeda melayang, masuk ke teras mengucapkan salam. Kebetulan Wanda keluar membalas salamnya.


"Oh, Sena. Ayo, masuk dulu. Angkasa ikut? Sebentar ya, aku mau mengambil sepatu," kata Wanda mempersilakan pemuda itu masuk. Dia masuk kembali ke rumah untuk mengambil sepatu. Sena melangkah ke arah kursi di situ. Duduk menunggunya. Beberapa menit Wanda keluar lagi merenteng sepatu di tangan kanannya berpamitan kepada sang mama. Sebelum pergi, dia sempat bercerita kepada mamanya bahwa dia akan pergi bersama Sena. Mamanya menyetujui. Tetapi sebaliknya dengan Aji, pasti mendengarnya langsung marah. Wanda sudah mengerti sifat abangnya itu ingin selalu melindunginya. Mengingat peristiwa yang menimpanya dulu. Dia masih ingat Sena pernah menghiburnya dan memberikan gelang untuknya. Gelang itu masih dipakainya hingga sekarang.


"Kalau bersama Sena, pasti aku akan baik-baik saja," katanya, menyakinkan mamanya. Dia tahu semenjak dari SD, Sena adalah pemuda yang tidak macam-macam.


"Mama aku berangkat, ya!" ucapnya berpamitan.


Terdengar sahutan dari dalam,"Iya, hati-hati! Sena sudah datang menjemputmu?"


"Sudah!" Wanda mengucapkan salam dan memakai sepatu kets-nya, berjalan menghampiri sepeda melayang Sena."Ayo," ajaknya memakai helm hitam milik Sena. Sena berdiri mengikutinya, buru-buru naik di belakang. Wanda memberikan helm pink lain kepadanya. Sena menyambarnya. Wanda mengegas sepeda melayang-nya membuat Sena dan Angkasa tersentak ke depan. Pemuda itu memegang punggungnya erat agar tidak jatuh. Mereka berbelok keluar menuju jalan raya. Sesuai janji Sena, dia mengajaknya ke tempat nongkrong yang sedang populer saat ini—stan minuman yang kekininan bernama "Dream Of Mini". Melewati beberapa kota termasuk Kota Malang,sampai di antara perbatasan kota itu mereka masuk di Kota Cyborc, kota yang dipenuhi oleh berbagai macam robot. Mereka melanjutkan perjalanan menuju stan yang stan itu ternyata ramai dikunjungi oleh anak-anak muda maupun dewasa. Wanda membelokkan sepeda melayang-nya di area parkir, menghentikannya di antara sepeda melayang lainnya. Mereka melepas helm masing-masing, meletakkannya di jok.


"Ramai ya?" kata Wanda."Enggak apa-apa nih, Sen, kita mengantri dulu?"


"Enggak apa-apa."


Mereka berjalan ke arah stan itu. Mereka duduk di antara beberapa bangku kecil yang sudah disediakan. Sena akan beranjak menuju antrian, tetapi tangannya dipegang Wanda yang mencegahnya.


"Sen, kamu tadi ketemu sama Bang Aji? Kamu bilang mau mengajakku jalan?" tanyanya.


"Ketemu. Tapi aku izinnya ke Oom Erza. Soal Bang Aji, dia sempat marah ke aku."


"Maaf ya, Abang suka begitu kalau menyangkut diriku. Kamu tahu, kan?"


"Tahu. Aku sudah dua kali kena marah sama abangmu. Aku tahu kalau abangmu itu selalu ingin melindungimu... tenang saja..."


"Baguslah. Sejak kematian ayah, abang yang menggantikan posisinya untuk melindungiku. Aku tahu aku bisa menjaga diri... tapi mau bagaimana lagi..."


"Enggak apa. Aku bisa menerimanya. Berkat Oom Erza yang mengizinkanku keluar bareng sama kamu. Eh, aku lupa! Angkasa juga ikut. Nah, Ang, kamu keluar dulu, kamu sama Wanda ya," Sena menyuruh robot itu keluar dari kantong. Angkasa keluar, melayang turun ke meja.


"Kamu mau pesan apa minumannya? Biar aku yang pesankan. Kamu Ang?"


Angkasa menggeleng.


"Aku cokelat saja. Bukannya Angkasa sukanya sama cokelat? Coba kamu lihat di sana, ada yang jualan cokelat atau enggak," tutur Wanda.


"Iya, tunggu sebentar."


Sena beranjak menuju stan. Di sana sudah pada mengantri untuk membeli minuman. Banyaknya pengunjung ada yang duduk sambil mengobrol dan ada yang memakan camilan yang dibeli. Dia mengantri. Setelah menunggu dan mengantri lama, akhirnya kini gilirannya memesan minuman dan cokelat. Akhirnya, dua minuman cokelat itu sudah di tangan, serta cokelat batang di tangan lainnya. Beranjak ke arah meja tadi. Sinetra membelokkan sekuter melayang-nya ke area parkir, Sinetra melepas helm bersama Eka yang melepas helm. Mereka turun berjalan masuk. Hari ini mereka libur, berencana untuk pergi ke stan minuman itu.


"Kita duduk dimana, nih?"


"Semuanya sudah dipenuhi sama pengunjung." Mata Sinetra mengelilingi tempat itu. Ia melihat di antara meja—ada satu meja tadi yang sebagiannya kosong, namun sudah ditempati oleh Wanda.


"Di situ, yuk, Ka, masih ada yang kosong," katanya menunjuk meja di sisi tiang berplatkan kayu.


Eka melihat meja yang ditunjuk Sinetra.


"Iya, deh. Daripada kita enggak kebagian tempat duduk."


Mereka berjalan ke arah meja yang ditunjuk Sinetra. Sena, yang membawa dua minuman serta cokelat batang, meletakkannya di meja.


"Ini minumannya,Wan, cokelatnya ini Ang," Sena memberikan satu minuman cokelat kepada Wanda. Bergantian membuka bungkusnya, memberikan cokelatnya kepada Angkasa. Angkasa menerimanya dengan senang. Dia memakan cokelat itu. Mirip Bumi, dua pipinya memerah.


"Lucunya kamu, Ang," kata Wanda gemas.


Sena kembali duduk. Menyeruput cokelatnya. Menyeruputnya sedikit, dia menatap Wanda yang menyeruput cokelatnya.


"Habis ini kita kemana?" tanyanya.


Wanda berhenti menyeruput.


"Terserah. Kamu kepinginnya ke mana?" katanya balik bertanya.


Sena tampak berpikir.


"Eem, kemana ya? Aku bing—" perkataannya terhenti saat dirinya dipanggil seseorang.


"Sena!"


Dia menoleh, mengenali seseorang yang memanggilnya barusan. Menghampiri meja bersama Eka.


"Bang Sinetra? Abang kok di sini?"


Sinetra duduk di sebelahnya sementara Eka duduk di sebelah Wanda. Eka membuka kerudung jaket hitam bergambar tengkorak dipinjamnya dari Sinetra. Sena kaget melihat gambar tato Tanjirou yang digambar Sinetra kemarin belum hilang di dahinya.


"Kok?"


"Ada apa?"


"Kok tatonya Tanjirou pindah?"


"Oh ini, tato-nya enggak pindah. Memang digambar sama orang di sebelahmu kemarin," ucap Eka.


Wanda terkikik.


"Kenapa digambar di dahinya abang—"


"Eka," ucapnya memberitahu."Dia usil. Gara-gara aku menggambar tanda petir di dahi kirinya."


Sinetra menyibakkan rambutnya sebelah, memperlihatkan tanda petir di dahi kirinya.


"Oh," katanya paham, terkikik. Dia menatap Sinetra seperti menatap Harry Potter. "Bang Sinetra sama Bang Eka ke sini?"


"Kami ke sini cuma refeshing. Kamu ke sini sama robot siapa ini? Lucu ya kayak Bumi." Sinetra mengelus kepala Angkasa.


"Dia Angkasa. Robotnya Bang Margana, abangku," teringat obrolan abangnya dengan Samudra waktu dirinya pulang bersama Erza di Asia Festival Cosplay Minggu lalu."Abang Margana pernah tanya sama aku waktu aku pertama kali bertemu sama Bang Sinetra cosplay Tanjirou... dia bilang, dia pernah bertemu sama Abang berdua pas melawannya menjadi Pahlawan Aruna," suaranya berganti berbisik.


Sinetra dan Eka langsung teringat waktu mereka melawan Margana bersama Saguplo, called harimau milik Yudha. Berganti tempat Aksa dan Yudha menolong musuh mereka. Membawa mereka pulang. Sinetra melihat di antaranya—pemuda memakai kaos putih bertuliskan "Kinara".


"Sebentar, Sena, berarti... orang yang ditolong sama Aksa itu salah satunya abangmu."


"Memang bener dia, Sine, pas melihatnya, memang mirip sama kamu," Eka memandangi Sena. Memandangi lagi Sinetra."Kita mau pesan minuman apa, nih?"


"Oh, iya, sampai kelupaan! Kamu pesan sana," Sinetra menyuruhnya.


Eka berdiri, mendengus. Beranjak dari kursi menuju stan. Sinetra melanjutkan obrolan, menatap sebentar Wanda."Kamu di sini berkencan, ya?"


Sena tersentak, pipinya merona.


"Bu-bukan, Bang, kami hanya berteman..." bisiknya. "Kebetulan kami kepingin jalan-jalan saja. Mumpung diizinkan keluar sama Oom Erza." dia meringis. "Abang juga seorang Pahlawan Garuda, ya? Katanya Bang Yudha waktu ke studio bilang begitu."


"Iya, aku sama Eka sama-sama menjadi Pahlawan Garuda."


Eka memesan dua cokelat dan membeli camilan berupa choco chips. Ia mengambil dua. Pelayan melayaninya, menyuruh untuk menunggu. Di belakang salah satu pengunjung yang beranjak pergi meninggalkan meja berganti pengunjung lain berjumlah empat orang menduduki bangku itu. Satu di antara mereka berseru menyuruh gadis kecil di sampingnya untuk memesan minuman.


"Oi, Ke! Cepetan kamu pesan minum.Aku kayak biasanya," sahut seorang pemuda memakai headband motif batik Gatotkaca yang pernah ditemui Sinetra di Asia Festival Cosplay.


"Kenapa mesti aku?" jawab gadis kecil dikuncir kuda, berpita hijau muda cemberut."Abang dekat tuh sama tempatnya!"


"Sudah, sudah! Enggak usah berantem! Biar aku saja," ucap pria berambut hitam acak-acakan."Pesan seperti bia—"


"Biar aku saja!"


Gadis kecil itu berdiri membawa boneka beruang putihnya memukulkannya ke wajah pemuda itu.


Buuk!


"Aduh!" rintihnya.


Bocah itu tidak mempedulikannya. Menghampiri stan. Dia mencoba melengok di belakang punggung Eka, berjinjit ingin tahu sang pelayan meracik minuman. Karena tempat itu tinggi. Eka menunduk ke bawah melihat gadis kecil itu.


"Kamu kepingin lihat?" tanyanya.


Bocah itu mendongak meringis. Ia menyuruhnya ke depan, menaiki sebuah tangga kayu kecil bertingkat.


"Kelihatan, kan?"


"Umm!"


Dua minuman pesanannya sudah jadi. Pelayan memberikannya. Ia menerima, membayarnya.


"Enaknya! Sudah lama enggak minum ini!"


Tangannya meraih satu bungkus chocho chpis, menawarkannya kepada Sena dan Wanda.


"Nih, silakan kalau mau ambil."


"Enggak, Bang, terima kasih," ucap Sena dan Wanda bersamaan.


Eka juga menusuk minumannya dengan sedotan, menyeruputnya. Ia dan Sinetra tidak menyadari Evolution Entity mereka menyala di kantong celana masing-masing. Mereka menunduk ke arah kantong celana masing-masing. Saling menatap.


"Kenapa, Bang?" Sena menyeruput minuman cokelatnya menatap mereka.


"Seperti biasa."


Sena yang sangat hafal dengan tatapan mereka yang mirip abangnya.


"Mau pergi?"


"Er..."


"Yah, bisa dibilang begitu."


"Pergi saja, Bang," celetuk Wanda menyeruput minumannya.


"Kamu..."


"Abangku, Bang Aji, juga seorang pahlawan. Dia seorang Pahlawan Aruna. Abang berdua Pahlawan Garuda?" tebaknya.


Mereka mengangguk.


"Abangmu Pahlawan Aruna?" Sinetra tidak percaya tanpa sadar tangannya ditarik oleh Eka yang sudah berdiri dari kursinya. Memegang minuman masing-masing, tidak lupa camilannya.


"Duluan, ya!" ia berpamitan kepada mereka yang dibalas dengan anggukan. Mereka berlari menuju area parkir.


"Kita bersembunyi di mana, Ka?" ia sempat-sempatnya menyeruput minumannya.


"Pokoknya kita mencarinya dulu! Lewat sini," Eka berbelok ke arah spanduk-spanduk besar. Di tempat itu mereka tidak terlihat oleh orang lain. Mereka menghentikan larinya. Napas mereka terangah-engah. Sinetra menyeruput minumnya lagi.


"Kita sembunyi di sini saja. Hei, kamu ini, sempat-sempatnya


minum!" seru Eka, tetapi ia juga menyeruput minumannya cepat-cepat.


"Aku haus! Kamu juga minum, kan?"


Minuman yang diminum mereka habis, tertinggal bubuk cokelat yang mengedap di tengah wadah plastik minuman. Membuangnya bersamaan di tempat sampah di belakang mereka.


"Minum enggak jenak kalau begini! Ayo, mumpung belum dilihat orang!"


Mereka merogoh saku celana, mengeluarkan benda menyala dan mengucapkan kata kunci bersama.


"Garuda... Evolution!"


Mereka berubah. Setelah berubah dalam wujud Pahlawan Garuda.


"Kita lari cepat saja, Sine," kata Eka.


"Kita enggak memakai kartu Gapuran?"


"Enggak. Sepertinya kartu yang kita cari enggak jauh dari sekitar


jalan ini," katanya memastikan.


"Masa di sekitar sini?"


"Firasatku mengatakan begitu."


Eka berlari cepat mendahului. Keluar menuju jalan raya.


"Tunggu, Ka!"


Sinetra berlari cepat menyusul di belakangnya. Berlari beriringan. Tidak jauh dari arah Stan "Dream World of Mini", mereka melihat sosok called Rahwana milik Dewa tampak berteriak menembakkan peluru apinya ke sekitar jalan bahkan menghancurkan gedung maupun pagar di situ.


"Rahvana Shooting Fire!"


Booom!


Mereka menghentikan lari mereka.


"Berhenti!" seru Sinetra.


Rahwana berhenti mengeluarkan pelurunya yang kedua. Menolehkan kepala, menatap mereka tidak suka. "Kenapa kamu berdua melarang? Saya datang ke tempat karena perintah Master..."


"Master?"


"Di mana Master-mu? Dan dimana Pahlawan Aruna yang lain?"


"Ya, Master saya! Hahaha..." tawanya."Pertanyaan bodoh! Saya tidak mau memberitahukan namanya dan mereka ada dimana... saya di sini sendirian. Kalian ke sini juga mencari kartu Awangga, kan? Kalau mau mencarinya, kalian harus berhadapan dulu dengan saya!" tantang Rahwana menghadapkan dua senjata bergabung dengan tangannya. Siap menembakkan tembakannya yang urung ditembaknya.


"Rahwana Shooting Fire!"


Sinetra dan Eka berlari menghindar, meloncatkan tubuh mereka hingga limbung ke jalan.


Booom!


Tembakan Rahwana mengenai gedung lain di hadapannya hingga hancur terbakar. Mereka merintih. Melihat gedung yang hancur, kobaran api melahapnya di depan mereka.


"Bagaimana mau mencari kalau begini," kata Eka."Sebisa mungkin, kita harus menghindar dari tembakannya!"


Sinetra berdiri dengan tegak. Tangan kanannya mengeluarkan pedang.


"Kamu mau apa?"


"Kalau kita menghidar terus, kita enggak bisa balik menyerangnya! Aku yang akan menyerangnya!"


Sinetra berlari maju ke arah Rahwana. Rahwana mengganti senjatanya dengan senjata lainnya menyerupai tangan mecha. Menghadapkannya ke depan. Sinetra mengayunkan pedangnya ke lengannya, membesetkannya dengan sekali beset.


Breeet!


Rahwana melihatnya marah, tangannya membentuk kepalan lalu meninjunya.


Bruuak!


Ia terpental mengenai Eka yang mulai berdiri. Menabraknya.


"Sine?!"


Sinetra merintih sakit. Eka memandangi sosok Rahwana lekat.


"Uuh, sakit banget..."


"Tuh, kan, dibilangin! Ngotot, sih!"


Rahwana merentangkan tangan kanannya mengeluarkan sihirnya membentuk pusaran. Pusaran itu mengubah wujudnya menjadi bentuk bola. Melemparkannya ke arah mereka.


"Rahwana Fire Bowling!"


Eka meloncat membawa tubuh Sinetra menjauh dari bola api itu.


Bola api itu berputar meliuk-liuk membelah menjadi lima bagian ke segala arah membuat di sekitar mereka meledak dan termakan oleh api.


Duaar!


Dia mengeluarkan sihirnya lagi melancarkannya hingga mengenai stan minuman "Dream of Mini".


"Ada kebakaran!" sahut salah satu pengunjung yang melihatnya dari area parkir. Pengunjung lain ikut melengok. Namun pengunjung itu melihat sekelebat beberapa sinar merah berputar cepat ke arah tempat itu. Pengunjung itu berbalik berlari menghindar dan memekik,"SELAMATKAN DIRI KALIAN!!"


Beberapa bola api itu meliuk-liuk masuk ke area parkir, kemudian masuk melewati semua kursi dan kolong meja terus memasuki ke dalam stan. Pengunjung berlari menyelamatkan diri masing-masing. Sena berdiri meraih Angkasa dan menarik tangan Wanda, pergi meninggalkan tempat itu. Bola api meliuk mengenai kaca, asbes, tiang-tiang. Seketika berjatuhan menimbulkan asap menyeruak. Dia melengok ke belakang—satu bola api mengenai tiang di belakang mereka. Mendorong tubuh Wanda dan melempar Angkasa menjauh. Wanda dan Angkasa terjatuh ke lantai. Tak ayal tiang jatuh menimpanya.


Bruuk!


"Sena!"


Wanda berdiri menghampirinya tetapi bola api itu tetap meliuk-liuk menghancurkan apa saja disusul bola lainnya. Berbelok akan mengnyerangnya. Sekelebat muncul di belakangnya sosok berambut hitam mencuat tersibak oleh angin. Berkulit cokelat, kedua pipinya—pipi kirinya ada tahi lalat dan hidung bawah kirinya juga. Tampak memakai jaket kulit berwarna cokelat muda dengan kaos berwarna hitam, bawahannya memakai celana jeans hitam dan kedua kakinya memakai sepatu kets berwarna hitam.


Duaak!


Menendang bola api itu kembali meluncur ke arah pemiliknya. Meluncur melewati mereka tanpa melukai mereka sekali pun. Meledakkan spanduk-spanduk yang lain di belakangnya.


Duaar!


Eka dan Sinetra menoleh ke


belakang,"Apa yang barusan?"


"Bolanya di balik tendang?" kata Rahwana tidak percaya.


Masih di stan, pemuda yang menendang bola, menendang bola kedua, ketiga, dan keempat. Ketiga bola api itu meluncur bergantian melewati mereka. Dia mengangkat tiang yang menimpa tubuh Sena dengan ringannya. Meletakkannya di lantai. Berjongkok di dekat pemuda itu membaringkannya, tangannya menyentuh pinggangnya yang terluka bersimbah darah, mengeluarkan sihir penyembuhan untuk menyembuhkannya. Wanda memandang pemandangan itu dengan takjub. Angkasa perlahan bangun, melayang sempoyangan menghampirinya. Dia jatuh dipangkuannya.


"Angkasa!" Wanda mengelus kepalanya, memastikan robot itu baik-baik saja. Tubuh robot itu hanya terbeset sedikit."Syukurlah, kamu enggak apa-apa... tapi Sena..." memandangnya sedih.


"Dia akan baik-baik saja," kata pemuda itu. Luka di pinggang Sena tertutup. Dia menggendongnya ke  pundaknya seperti membawa sekarung beras."Sebaiknya Kakak keluar dari sini. Ikuti aku," ajaknya.


Wanda menurut, menompang Angkasa di kedua tangannya berdiri mengikutinya keluar. Mereka mencari tempat aman yang jauh dari area kebakaran. Pemuda itu membelokkan kakinya ke gazebo kecil di samping Supermaket. Membaringkan Sena di kursi kayu.


"Kakak sementara tunggu di sini, ya. Nanti aku kembali lagi," katanya.


"Eh, Dik, kamu mau kemana?"


Pemuda itu tidak menjawab, langsung pergi begitu saja. Dia berlari sembari melompati atap-atap rumah. Melompati atap stan tadi yang tidak terbakar. Pohon-pohon di sekitar jalan raya. Dia melihat sosok Rahwana dari pohon, kakinya menendang tepat ke arahnya—Rahwana mendongak, menangkisnya dengan tangan besarnya. Dia terkejut melihat pemuda itu. Pemuda itu menendangnya membabi buta. Rahwana menangkis kembali, melemparkannya hingga terpental terseok ke belakang. Tetapi kaki pemuda itu berhasil menompang tubuhnya agar tidak limbung ke jalan. Di samping Eka dan Sinetra. Rahwana menatap pemuda itu tajam.


"Kukira yang kemari itu abangmu. Ternyata malah kamu," katanya."Apa abangmu yang menyuruhmu kemari?"


"Iya, memang Bang Hanoman yang menyuruhku kemari," jawabnya.


"Aku enggak ada urusan denganmu bocah! Kalau mau mencari, mau merebut kartu Awangga dariku, biarkan saja dia yang menemuiku!"


"Bang Hanoman sibuk. Pekerjaannya itu enggak bisa ditinggal. Makanya aku ke sini buat menggantikannya," jelasnya,"dan apa yang telah Bang Rahwana lakukan sama tempat ini? Abang itu cuma bisa merusak dan melukai mereka!" dia menoleh sebentar ke arah Eka dan Sinetra.


Rahwana mendengarnya langsung naik darah.


"Apa katamu bocah?!" serunya, langsung tersadar,"Oh, jadi yang menendang balik bola api-ku barusan kamu?!" menghadapkan satu tangan ke atas, mengeluarkan sihir bola api lagi melemparkannya menuju mereka. Bola api itu membagi menjadi beberapa bagian melesat terpisah di mana-mana. Pemuda itu mengetahuinya melompat menghindar. Eka dan Sinetra hanya bisa menunduk melindungi diri.


"Bagaimana ini, Ka? Apa yang harus kita lakukan?"


"Aku enggak tahu!"


Ia berpikir sebentar. Menundukkan kepala dalam-dalam hingga mencium jalan. Terlintas dipikirannya apa yang harus diperbuat.


"Ka."


"Apa?"


"Aku tahu yang harus kita lakukan. Kamu yang mencari kartunya, aku membantu pemuda itu," katanya."Kamu sanggup? Kamu harus hati-hati terhadap kobaran api," peringatnya.


Eka ragu, kemudian menggangguk.


"Baiklah."


Ia berdiri. Menunduk bahkan menghindari serangan bola-bola api itu. Setelah tidak ada serangan, ia berlari menuju ke dalam kobaran api. Ia menghentikan larinya, memandangi sekitar kempulan api di hadapannya. Seluruh badannya terasa panas.


"Dimana kartu itu?" gumamnya.


Ia melanjutkan berlari ke dalam. Walaupun seluruh tubuhnya kepanasan, tetapi dirinya terlindungi oleh kostum pahlawannya yang bersinar menyala. Ia mencari kartu itu di sela-sela kayu dan dinding yang terbakar. Tiang-tiang di sudut, berjatuhan—di antara tiang-tiang itu—ia sekelebat melihat sesuatu tampak bercahaya di dalam kobaran api.


Ia tersenyum, berlari menuju tiang-tiang itu, melompati tiang, meraih kartu Awangga dan melompat kayang ke bawah dan berlari keluar menemui Sinetra. Sebaliknya, Sinetra melesat menghindar bola-bola api itu membantu pemuda itu yang masih melompat ke depan-belakang, kanan-kiri.


Duaar!


Duaar!


Sinetra merentengkan pedangnya menebas salah satunya.


Sreeet!


Bola api itu setelah ditebasnya kembali seperti asal. Berbelok ke arahnya.


"Bolanya...?!"


Bola api itu berputar tepat mengenai kepalanya sampai topeng pahlawan-nya pecah. Kepalanya berdarah.


Preeek!


"Akh!"


Pemuda itu menghindar, mendarat ke jalan. Menoleh, beranjak menghamprinya. Meloncat saat di antara bola api itu berputar ke arah mereka.


Duaar!


"Abang, enggak apa-apa, kan?" ujarnya, menompang tubuh Sinetra. Sinetra berubah ke wujud normalnya. Memegangi kepalanya yang berdarah. Ia merintih kesakitan. Pemuda itu memandangi kepalanya, mengalihkan pandangan, menundukkan kepalanya karena beberapa bola api melesat di atas mereka.


"Abang, sebentar, ya. Aku yang akan melawannya. Nanti aku kembali lagi."


Dia beranjak, mendudukkannya di pohon di seberang jalan. Meninggalkannya kembali ke pertarungan.


"Hahaha! Percuma kalian melawan Bola Api-ku!" seru Rahwana.


Eka berlari mendekati Rahwana mengeluarkan empat keris menyala dari tangannya, melemparkannya ke arahnya.


Set!


Set!


Rahwana merasakannya berbalik merentangkan tangan menghalau empat keris itu tanpa melukai tangannya.


Criing!


Kali ini menginjak jalan dengan sekali hentakan. Hentakkan di kakinya muncul sesuatu menyerupai tali-tali berwarna merah-api meluncur ke arah Eka.


"Tali Kabut," gumamnya.


Ia mengetahuinya segera meloncat, tali-tali itu sontak meluncur ke atas berbelok ke arahnya.


"Apa?!"


Tali-tali itu menjulur, mengikat kaki kirinya secepat mungkin.


Wuuur!


Tali-tali itu mengayunkannya bolak-balik, membatingnya ke jalan berulang kali.


"Uaagh...!"


Ia pun kembali ke wujud normalnya. Sekitar tubuhnya luka-luka, bajunya kotor, rambutnya berantakan berbaring di antara jalan yang retak. Pemuda itu menghindari beberapa bola apinya. Menendangnya lagi. Saat menendangnya, bola api itu makin berputar cepat dan panasnya bertambah. Sebelum dia kemari atas perintah abangnya, Hanoman, untuk menggantikannya membantu Pahlawan Garuda atas perintah sang master waktu dirinya dipanggil. Dia mengucapkan Mantra Anti Panas. Maka, dia menyuruh adik angkatnya untuk pergi menemui. Bola api itu membakar kakinya. Dia langsung terjatuh. Merasakan panas dan kesakitan.


"Hahaha! Rasakan!" kata Rahwana puas. Dia berbalik, beranjak menghampiri Eka. Pemuda itu mengucapkan mantra,"Lost." seketika api yang membakar kakinya hilang tergantikan dengan asap. Dia berdiri, tidak peduli dengan kakinya yang terasa sakit. Berlari mengejar Rahwana. Pikirannya langsung teringat, sihir yang pernah diajarkan oleh Hanoman padanya. Kejadian itu waktu dirinya menyaksikan kedua abangnya membantu mengejar seorang perampok di apartemen mereka di dunia mereka—Mayapada. Perampok itu dipukul oleh Hanoman dengan sekali pukul. Kira-kira umurnya masih sekitar dua belas tahun. Sejak kejadian itu dia membujuk Hanoman untuk mengajarinya. Hanoman mengajaknya bersama Hanila ke lapangan sepak bola. Hanoman menggemblengnya sampai dirinya bisa mengusainya.


"Enggak apa-apa, Bang, dia belajar pakai sihir itu?" tanya Hanila khawatir saat melihat mereka selesai latihan.


"Enggak," jawab Hanoman."Enggak usah khawatir. Dia kan baru belajar." dia menatap adiknya."Nah, kamu sudah lumayan menguasai tekniknya. Kalau kamu sering latihan pasti kamu bisa menguasainya dengan baik. Tapi ingat, teknik sihir yang Abang ajarkan itu terpusat pada kepalan tanganmu. Menghasilkan pukulan sangat kuat. Jangan menggunakannya untuk hal enggak baik. Paham?"


Dia menggangguk.


Pikirannya kembali ke pertarungan sekarang.


Terpusat pada kepalan tangan? Batinnya.


"Kalau begitu," gumamnya, satu tangannya membentuk kepalan. Mengeluarkan sihir berwarna putih bening, mengayunkannya ke arah pipi kiri Rahwana dengan sekali pukulan!


"Magic of Punch!"


Buuaak!


Rahwana mengaduh kesakitan disertai mulutnya yang memuncratkan darah. Tubuhnya terpental beberapa meter kemudian dia terseok-seok ke jalan.


"Uagh...!"


Dia memuntahkan sisa darah dari mulutnya.


"A-aku dipukul oleh seorang bocah..." lantas tubuhnya perlahan lenyap disusul bola apinya ikut lenyap. Pemuda itu menatap tangannya yang terkepal mengeluarkan asap. Dia tersenyum. Berlari menghampiri Eka yang pingsan. Menyembuhkan luka-lukanya. Eka tersadar saat merasakan tubuhnya hangat. Ia menatapnya.


"Kamu... siapa?" tanyanya.


Dia hanya tersenyum.


Penyembuhannya dihentikan.


"Ayo, kita pergi dari sini," ajaknya."Oh iya, Abang satunya kan, belum disembuhin!"


Dia membantunya bangun.


"Terima kasih. Aku sudah enggak apa-apa..." ia menunduk menatap celana jeans terbakar separuh dan sepatunya terbakar habis, kakinya menyembuhkan luka sendiri.


"Kaki kamu..."


"Aku enggak apa-apa, kok!"


Mereka beranjak ke arah salah satu pohon. Di pohon itu tergeletak Sinetra masih memegangi kepalanya dan merintih kesakitan. Mereka duduk berjongkok di dekatnya.


"Sine! Apa yang terjadi padamu?!" pekiknya kaget.


"Aduh, maaf ya, Bang. Sebentar..." tangannya menyentuh luka di kepala Sinetra, mengeluarkan sihir penyembuh.


"Ngomong-ngomong, si Called tadi ke mana?" Eka menoleh ke kanan dan ke kiri. Semua di sekitar jalan itu telah porak-poranda akibat pertarungan tadi dan akibat perbuatan Rahwana.


"Maksud Abang, Bang Rahwana?"


"Oh, Rahwana. Dia pernah muncul dipanggil sama salah satu Pahlawan Aruna waktu di Wedhi melawan Hanoman... jadi kamu yang melawannya?"


"Iya."


"Tapi, kukira tadi yang datang Hanoman. Kamu siapa? Waktu kamu datang menolong kami, kamu belum memperkenalkan diri?"


"Maaf, namaku VITTO," akunya. "Kita ke tempat tadi, yuk. Aku tadi habis nolongin orang. Orangnya kusuruh menunggu," lanjutnya.


Mereka berdiri, pergi menuju ke tempat yang dimaksud VITTO. Dia menunjuk tempatnya."Di situ, Bang! Itu orangnya!" tunjuknya.


Sinetra dan Eka berlari di belakangnya segera mengenali orang itu.


"Itu kan, Sena—" kata Sinetra, perkataannya terpotong merasakan perasaan yang tak enak itu muncul kembali. Suara yang terdengar sayup-sayup membisiki telinganya.


"Garuda... Aruna..."


Suara itu langsung lenyap tergantikan suara memanggil di sebelahnya. Melambaikan tangan di depan mukanya.


"Bang, Abang?" panggil VITTO.


Ia mengerjapkan mata sadar.


"Eh?"


"Abang kenapa?" tanyanya.


Ia menggeleng. Di sebelah kiri VITTO, Eka menatapnya khawatir." Kamu enggak apa-apa? Kamu sudah dua kali ini melamun dengan tatapan kosong seperti itu."


"Memangnya aku tadi melamun?"


"Iya. Kamu tertinggal jauh saat aku sama VITTO sudah di tempat ini. VITTO yang menyeretmu ke sini," jelas Eka."Sebenarnya apa sih yang kamu pikirin sampai melamun begitu?"


"Pasti cewek ya, Bang?" celetuk VITTO.


Pipi Sinetra merona.


"Bukan!" bantahnya cepat. Menatap Sena yang terbaring pingsan serta Wanda dan Angkasa."Dia enggak apa-apa, kan?" ia berganti menatap pinggangnya yang berdarah tembus di baju kemeja kotak-kotak hijau-hitam.


"Dia sudah kusembuhin. Hmm, biar aku yang membawa abang ini pulang bersama kakak ini. Abang berdua pulang saja," saran VITTO.


"Baguslah. Tapi bagaimana dengan sekuter melayang kita? Bukannya area parkirnya hancur sama bola api tadi?"


"Mudah, kok, Bang." VITTO menjentikkan jarinya.


Ctik!


Dalam hitungan detik, dalam kedipan mata tempat tadi melayang dengan sendirinya kembali ke asal dengan utuh. Sinetra dan Eka melihatnya takjub.