Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 24: Suara Itu



Sinetra mendengar suara itu lagi. Bukan lagi bisikkan, melainkan nyata. Terdengar sangat jelas di telinganya. Suaranya berat.


"Garuda... Aruna..."


Ia menutup kedua telinganya


cepat-cepat. Membungkukkan badan. Cuwiri di dekatnya bingung menatapnya. Suara itu terngiang terus.


"Garuda... Aruna..."


"Aaaa! Hentikan! Hentikan!" serunya.


Eka segera mendekatinya. Cuwiri di pangkuannya melompat ikut mendekati.


"Sine! Ada apa?!"


"Garuda... Aruna..."


"Aaaa! Hentikaaan! Kumohon..."


Eka merasakan khawatir. Mencengkeram pundanknya erat.


"Tenanglah, Sine!"


Mirna dan lainnya mendekat bersama para Cuwiri.


"Kamu kenapa, Sinetra?" tanya Mirna.


"Garuda... Aruna..."


Sinetra mengeratkan kedua tangan di telinga. Terpekik seperti kesakitan yang tiada habisnya.


Kenapa hanya aku yang bisa mendengarnya? Batinnya.


Suara itu makin terdengar jelas-hingga Eka dan yang lain dapat mendengarnya. Bahkan suara itu berganti menjadi raungan membahana.


"Garuda... Aruna... Garuda...


Aruna...!!"


"Suara apa itu?" kata Yudha, dia merasakan daya sihir yang amat kuat. Margana merasakan hal sama.


"Suaranya... suaranya dari arah Selatan!" kata Margana.


"Bagaimana sekarang, Ketua?" Aksa di belakang Mirna, menurunkan Cuwiri di pangkuannya."Aduh! Jangan gigit... sudah..." katanya pada Cuwiri itu. Cuwiri itu meninggalkannya bersama kawanannya berlari ketakutan kembali masuk ke gua.


"Kita lawan," kata Mirna mantap.


Mereka mengeluarkan sayap mecha masing-masing di balik punggung. Menjejakkan kaki ke udara, melesat terbang meninggalkan Sinetra yang gemetaran menuju ke Selatan. Tampak di antara pepohonan, sesuatu amat besar bersisik hijau-emas mengkilat-di tengah badannya membelit ular raksasa, duduk bersila di belakang sebuah pilar menjulang tinggi. Di atasnya sebuah kartu terlindungi kaca menyerupai kristal. Kartu itu bersinar terang. Tangan kanannya menggenggam gada emas raksasanya. Semua membelalakkan mata, terkejut melihat sosok itu...


"Garuda... Aruna...!!"


Kali ini suara sosok itu membuat sekitarnya menjadi bergetar.


"Sine, kamu baik-baik saja, kan?" Eka merenggangkan cengkeramannya."Ketua dan lainnya sudah duluan menuju Selatan... kamu harus menguasai dirimu... kita susul mereka." Eka sekarang mengetahui mengapa pemuda itu selalu terdiam dengan pandangan kosong belakangan ini. Ia mengeluarkan sayap mecha-nya. Sinetra melepas tangannya dari telinganya, mencoba berdiri. Badannya masih bergetar.


"Ayo!"


Sinetra mengeluarkan sayap


mecha-nya, menjejakkan kaki, melesat bersama Eka. Meluncur ke arah Selatan menyusul. Kuwera berdiri mengangkat gada besarnya, melayangkannya ke arah mereka. Mirna dan lainnya melayang menghindar. Aksa mendarat di lengan besarnya, membungkuk lalu menggulungkan badan. Badannya membentuk sebuah tameng berbentuk roda emas-berputar kencang. Mengenai wajah, dada, perut, kaki Kuwera seperti memukuli orang. Di dunia Mayapada terjadi kehebohan. Kehebohan itu terjadi di Dimensi Penghubung yang secara tiba-tiba menghilang beserta raksasa yang kabur dari Hutan Kisma. Pemerintah Kota Hastina sudah menyelidikinya dan ternyata itu akibat ulah Kuwera. Pemerintah Hastina menyuruh Polisi Wanara dan Polisi Cakrabyuha untuk mengamankan seluruh kota, melarang masyarakat jangan ada yang keluar sesuai perintah. Dua polisi itu membuat sebuah pelindung sihir, jika sewaktu-waktu raksasa itu kembali menyerang kota. Sebagiannya mencoba mengembalikan Dimensi Penghubung dengan menggunakan daya sihir mereka. Berita itu pun menyebar cepat. Di Apartemen Kiskenda, VITTO bersama Hanoman menyaksikkan dengan serius berita yang disiarkan di televisi.


"Beneran itu, Bang?" VITTO mengalihkan pandangan dari novel yang dibacanya sambil menengkurapkan badan. Hanoman yang di sampingnya


menoleh,"Bener. Memangnya kenapa?"


"Kalau raksasa itu di pulau yang pernah Abang ceritain itu, berarti raksasa itu mengincar daya sihir di sana?"


"Iya."


"Terus siapa yang melawannya?"


"Mungkin Pahlawan Garuda," kata Hanoman.


Mata VITTO membulat lebar.


"Kenapa dibiarin? Kita harus membantu mereka! Itu tugas seorang Called, kan?" katanya khawatir.


"VITTO, dengarkan Abang, memang kita ini sebagai Called harus membantu. Tetapi, lihat situasinya. Kita enggak boleh keluar kan dari apartemen? Raksasa itu sebenarnya musuh dua burung raksasa yang kita kenal melegenda semenjak dulu hingga sekarang. Masa kamu lupa sama legenda lama itu? Padahal mama pernah menceritakannya pada kita," jelasnya, mengelus rambutnya sayang.


"Legenda tentang burung Garuda dan Aruna itu? Beneran ada kisahnya?"


"Ada," jawab Hanila dari dapur, memakan keripik kentang. Duduk di samping kiri VITTO."Bang, jangan bilang kalau VITTO menjadi Called, ya? Nanti kita kena marah..."


"Cepat katakan! Siapa yang menyuruh adikmu menjadi Called?" desak Anjani.


Hanila menyikut lengan abangnya. Mencoba menjelaskan namun Hanoman tidak berani menjawab. VITTO segera menjelaskan,"Tenang Mama, sebenarnya aku menjadi Called itu karena aku ditawari sama Master. Bukan aku yang minta..."


"Master?" Anjani mengeryitkan alis.


"Master, Mama. Mama enggak tahu siapa itu Master?"


Anjani menggeleng.


"Wajahnya mirip Bang Arjuna, pemain Ikatan Paksa itu lho. Iya, kan, Bang?" VITTO menoleh ke arah dua abang angkatnya.


"Beneran? Kayak dia?!" Anjani terkejut. "Duh, kenapa kamu enggak mengajaknya ke sini?"


"Tadi Master ke sini sama teman sesama Pahlawan Garuda-nya," VITTO memberitahu."Mama sih keluar... aku keluarnya waktu itu melawan Bang Rahwana jel-" mulutnya langsung dibekap Hanoman.


"Apa? Jadi kamu berdua yang biarin adikmu melawan Bocah Pemarah itu?!"


"Bukan aku, Ma. Aku enggak ikut-ikut. Bang Hanoman yang nyuruh... waktu itu kami sedang konser band di salah satu Senayan Kiskenda," adu Hanila.


"APA?!" Anjani emosi.


"Enggak begitu, kok, Mama..." Hanoman takut-takut.


"Begitu?!" tangan kanan Anjani membentuk kepalan.


"Mama, dengerin dulu, dong. Aku enggak berma-"


"Berarti kalau raksasa itu datang ke Pulau Buminata, berarti dua burung raksasa itu muncul?" potong VITTO.


Anjani menurunkan tangannya.


"Iya," kata Hanoman melirik Hanila. Hanila diam saja, pura-pura tidak bersalah."Dasar pengadu," desisnya.


Berita yang disiarkan di televisi belum berlangsung. Berita itu memberitahu lagi, menunggu kepastian dari Pemerintah Hastina.


"Tuh, dengerin! Jangan ada yang boleh keluar. Terutama kamu VITTO. Jangan main bola dulu," peringat Anjani, berbalik berjalan ke arah kamar di sebelah aquarium.


Mereka bertiga menghela napas.


"Untung aku enggak jadi dipukul... huh, dasar kamu ini! Pengadu!" pukul Hanoman jengkel ke pundak Hanila.


"Aduh!"


"Oi, sudah, Bang, sudah... nanti mama denger bisa marah lagi..."


Hanoman mendengus. Hanila meringis.


Berpindah ke Sinetra dan Eka, mereka melihat teman-temannya melawan raksasa itu. Eka mengeluarkan senapan raksasanya, naik lalu menutup sayap mecha-nya. Menyuruh Sinetra untuk naik di belakangnya. Senapan itu melesat terbang ke arah raksasa. Mereka ikut membantu. Eka menekan pembidik, banyak peluru masuk ke lubang-lubang ditembaknya. Mengenai Kuwera. Kuwera berteriak, mata berkilat jahat melihat siapa yang menembakinya... melayangkan gada ke arah mereka. Eka menutup pembidiknya, buru-buru menghindar ke bawah. Berpegangan erat pada ganggang senapan. Meluncur ke atas. Sinetra mencoba berdiri, melemparkan keris menyala di tangannya. Tangan kiri Kuwera direntangkan ke depan, muncul dari telapaknya sinar bulat kehijauan meluncur-ke Yudha. Aksa berteriak memanggil, tidak sempat menolongnya terkena sihirnya terpental jatuh ke bawah.


"Yudha!"


"Kartu..."


Seluruh tubuhnya seperti ditarik paksa. Dia meronta kesakitan. Dia kembali ke wujud normalnya, tidak sadarkan diri. Sekejap Evolution Entity-nya meredup, terdengar suara "Card Out", di dalamnya tertarik tiga kartu dengan sendirinya. Beberapa kartu melayang ke arah tangan Kuwera kemudian menangkapnya. Muncul lagi sinar kehijauan kini beralih ke Margana-malah mengenai Aji. Mendorongnya paksa menjauh, terjatuh tidak sadarkan diri. Kembali ke wujud normalnya.


"Aji!"


Kuwera mengeram karena usahanya dihalangi. Tangannya direntangkan ke atas, sinar kehijauan terpancar membentuk sebuah pusaran besar, dilemparkannya ke mereka berenam.


Buuum!!


Dari mereka berenam, yang berhasil menghindar hanyalah Sinetra dan Eka. Eka membelokkan senapan raksasanya menuju utara. Kekuatan bulat kehijauan meluncur ke Evolution Entity Margana menangkap kartu lain, berbunyi "Card Out". Setelahnya mulai mengejar mereka. Mereka terbang menjauh. Sinetra menoleh ke belakang, khawatir.


"Bagaimana dengan Ketua dan yang lain?" sahutnya.


Eka mengemudikan senapannya.


"Jangan khawatir, aku yakin mereka baik-baik saja. Yang penting kita harus menjauh dari raksasa itu karena sisa kartu ada padaku," jawabnya.


Sinetra mengalihkan pandangan.


"Jadi, kita yang harus mengalahkannya?"


"Iyalah, siapa lagi?"


Terdengar dentuman langkah kaki cepat mengejar mereka. Sinetra menoleh ke belakang lagi. Ia mendelik, jantungnya mulai berdebar,"Ka, kita terkejar!"serunya."Cepat!"


Eka paham, menancapkan laju senapannya lebih kencang, memasuki pohon-pohon, tersibak-sibak ranting dan daun.