Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 22: Vin Bole



"Mereka terlempar ke sana!" kata Aksa, menunjuk arah terlemparnya Eka dan Sinetra.


Semuanya menoleh ke arah yang ditunjuknya. Hanoman mengetahui ke mana mereka terlempar.


"Bahaya! Mereka pasti terlempar sampai ke Hutan Peteng!" kata Hanoman.


VITTO membalikkan badan. Membungkukkan badan ke bawah, seperti bersiap lomba lari estafet. Dua kakinya muncul sekelebat percikan lidah api.


"Mau apa kamu?!" sahut Hanoman.


VITTO tidak menjawab. Lidah api itu berubah menjadi kobaran api merah menyala. Dia pun meluncur tanpa menghiraukan panggilan abang angkatnya.


Wuuush!


Kembali lagi ke Sinetra yang menghadapi makhluk itu di hutan. Terdengar suara seperti menggali tanah. Makhluk itu berpindah, muncul lagi dari lubang yang dibuatnya. Meloncat ke arah mereka, merentangkan kedua tangannya yang panjang. Menyerang mereka.


"Graaawh...!"


"Sine, di belakang!"


Sinetra membalikkan badan, mengayunkan pedangnya lagi. Makhluk itu mengeluarkan sihirnya berwarna biru gelap ke arahnya. Sihir itu meluncur cepat merasuki kepalanya. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Sayup-sayup terdengar di kedua telinganya adalah suara bisikan tawa seakan mengejek dirinya. Pikirannya seakan terkorek.


Hahaha! Kamu itu aslinya memang bodoh! Kamu itu beban bagi orang terdekatmu—terutama keluargamu! Kamunya saja enggak sadar... makanya, keluargamu, terutama ayahmu memilih keponakanmu karena kamu enggak bisa diandalin! Kamu itu ngomongnya berputar-putar, ya... bikin sebal saja! Percuma kamu menjadi cucunya, kamu enggak patut dibanggakan! Kasihan kamu dibeda-bedain, sama cucu yang lain... kasihan dibeda-bedain sama keponakanmu yang lain... kasihan diputusin pacarmu... enggak cocok lagi? Memang kamu itu enggak cocok! Kamu dibilang enggak mandiri? Aslinya kamu enggak mandiri kok... hidupmu luntang-lantung? Menjadi pengangguran? Makanya enggak ada yang mau memperkerjakanmu karena kamu itu lelet sama bodoh! Kamu itu cupu, ya? Kamu sih enggak punya banyak teman! Pantas, saudaramu itu mengejekmu... teman-temanmu mem-bully-mu... karena penampilanmu itu kampungan! Enggak usah dekat-dekat sama orang gaul. Iya kan, Sinetra? Iya kan, Sinetra? Iya kan, Sinetra? Hahaha!


"Sineeee!"


Kesadarannya menghilang.


Eka beranjak, mengulurkan kedua tangannya, meraih tubuhnya.


"Sine!"


Eka membaringkan tubuhnya ke tanah. Pandangannya kosong. Bagaikan mayat yang terbujur kaku. Eka menepuk-nepuk pipinya agar ia sadar.


"Sine, bertahanlah!"


Makhluk itu menjejakkan kaki ke tanah.


"Sepertinya sihir yang kulancarkan bekerja," sahutnya, masuk ke lubang kembali.


"Apa?" Eka membaringkan tubuh Sinetra. Menepuk-nepuk pipinya."Sine, Sine!"


Pemuda itu tidak menjawab. Pandangannya masih kosong. Bibirnya terbuka, mengeluarkan suara rintihan lalu rintihan itu menjadi erengan parau kesakitan yang memekikkan telinga dan ia pun meronta-ronta bagaikan orang kesurupan.


"AAAAA! AAAAA!" pekiknya.


"Ada apa denganmu?!" Eka dilanda khawatir dan kebingungan. Ia langsung menubrukan tubuhnya di atasnya. Kedua tangannya memegang erat kedua tangan Sinetra. Agar pemuda di bawahnya tidak meronta-ronta.


"Hentikan, Sine! Hentikan!"


"AAAA! AAAA!"


VITTO meluncur menjauh dari arah kota. Memasuki sebuah perbatasan hingga ke dalam hutan yang bernama Hutan Peteng. Konon hutan itu katanya terkenal angker. Ada cerita, manusia yang pernah memasuki hutan itu sampai tersesat. Manusia itu sampai sekarang tidak terdengar kabarnya lagi. Maka, Pemerintah Hastina memutuskan melarang memasuki kawasan itu karena dianggap berbahaya. Dia meluncur ke dalam. Makhluk itu muncul dari lubangnya lagi saat Eka berusaha menenangkan Sinetra. Merentangkan ke dua tangannya, cakarnya siap mencabik mereka seraya mendesis.


"Akan kucabik-cabik kalian!"


Eka menoleh cepat, matanya mendelik melihat dua cakar makhluk itu melesat mendekatinya! Ia bangkit, memutar tubuh mereka menghindari serangannya. Dua cakarnya menebas pohon di dekatnya terbelah menjadi dua. Eka hanya bisa menutupi kedua matanya... berdoa mengharapkan ada sesuatu keajaiban untuk mereka agar bisa menyelamatkan diri...


Duuk!


Buuk!


Makhluk itu tidak jadi menyerang mereka. Ada sebuah tendangan melesat mengenai kepala hingga seluruh badannya berputar. Tepat diposisinya seperti gasing.


Wuuur!


"Ugh!"


Kepala dan badannya berhenti berputar. Makhluk itu mencoba bertahan diposisinya. Dua tangannya menangkup kepalanya.


"Apa yang barusan?!" gumamnya.


Dia melihat di depannya, di sekelilinginya dipenuhi kabut. Muncul sosok tidak jauh darinya menjejakkan kaki ke tanah. Sosok itu mulai terlihat. Memperlihatkan pemuda bertinggi 155 cm, memakai baju yang sama. Rambutnya di sisi-sisinya mencuat tertepa angin. Yang paling gampang diketahui yaitu dua tahi lalatnya di hidung kiri dan pipi kirinya.


"Nggilani!" serunya berdiri. Melesat cepat ke arah makhluk itu. Merentangkan kaki kanannya ke atas, menghentakkannya ke tanah—ke Nggilani.


Druuak!


Setelah menghentakkan kakinya. Dia menunduk terkejut melihat retakan yang dibuatnya. Kosong.


"Huh?"


Nggilani muncul lagi dari lubang lain. VITTO akan mengejarnya namun menghentikan larinya dan berbalik saat mendengar suara teriakan Eka dan Sinetra. Dia menghampiri mereka. Nggilani masuk ke lubang kembali, merentangkan dua tangannya ke atas menyusul mereka. Melompat dari lubang saat VITTO lewat. Dia melompat, mengayunkan kakinya, menendangnya.


Bruuak!


Nggilani terempas terkena tendangannya. Terjatuh terseok-seok ke tanah.


"Abang!"


Eka menoleh,"VITTO?!"


Dia mendekati mereka. Mengamati Sinetra dengan jeli. Sinetra masih berteriak dan meronta-ronta.


"Dia terkena sihirnya!" katanya."Abang jangan menjauh! Tetaplah di dekatku!"


Eka mengangguk.


VITTO berada di depan melindungi mereka. Tatapannya fokus menatap sekeliling, jika sewaktu-waktu makhluk itu menyerang. Tiba-tiba sosok di balik kabut itu muncul menyerangnya. Merentangkan dua cakarnya. Dia menunduk, menghindar. Nggilani menyerangnya berulang kali. VITTO tetap menghindar. Menendangnya ke belakang. Satu tangannya membentuk kepalan, meninju perut Nggilani lalu darah muncrat dari mulutnya.


Bugh!


"Uaagh...!"


Nggilani terseok-seok. Tetapi tetap menahan tubuhnya. Dia memandangi VITTO dengan pandangan penasaran sambil terbatuk-batuk.


Siapa bocah ini? Aku merasakan sesuatu daya sihir begitu kuat dari dalam dirinya... apa bocah ini seorang penyihir? Padahal serangannya yang kuterima darinya hanya serangan kecil... tetapi entah kenapa serangannya begitu kuat? Kalau kayak gini, aku enggak bisa memakan dua bocah di belakangnya! Batinnya.


Nggilani maju, menyerang kembali. Satu tangan panjangnya direntangkan ke arah VITTO. VITTO tidak sempat menghindar. Kuku-kuku tajamnya mencakar pipi dan dadanya. Bajunya sobek.


Craak!


Craak!


"Ugh!"


Eka melihat VITTO terkena cakarannya. Berdiri, tangannya mengeluarkan sebuah pedang. Ia meninggalkan Sinetra, berlari ke arah mereka.


"Hahaha! Percuma!" serunya, merentangkan cakarnya kembali. VITTO tidak bisa berbuat apa-apa. Eka berlari, mengayunkan pedangnya ke arah tangan Nggilani, menebasnya dengan sekali tebas! VITTO melihatnya terkejut.


Breet!


Nggilani berteriak kesakitan. Eka menebas satu tangannya lagi.


Breet!


"Aaargh..!!"


Nggilani terjatuh ke tanah. Kedua tangannya telah terpotong berceceran dan darah menguar di sekitarnya. Eka berada di depan VITTO. VITTO di belakangnya memegang pipinya yang berdarah menahan sakit.


"Kamu apakan saudaraku?!" kata Eka emosi.


Nggilani menahan sakit, tapi bisa menggerakkan tubuhnya berdiri.


"Aku apakan saudaramu? Tahu sendiri, kan! Dia maupun dirimu akan kujadikan santapanku hari ini! Semenjak manusia sudah tidak memasuki hutan ini lagi, kami semua kelaparan bertahun-tahun!" jawabnya.


"Seenaknya saja kamu menjadi kami santapanmu! Katakan, kenapa kamu dan kawananmu memburu manusia!"


"Aku memburu manusia karena mereka adalah makhluk lemah, jelek dan rendahan! Makanya mereka gampang dijadikan makanan oleh kami! Daging maupun darahnya sangat menggiurkan... yah, seperti yang kamu tahu bocah. Apa kamu enggak sadar? Kamu bakal mati seperti para manusia yang pernah kami santap, yang ada di belakang kalian itu!" Nggilani menunjuk menggunakan dagunya ke arah semak-semak belukar yang tertutupi kabut. Memperlihatkan banyaknya bangkai tengkorak manusia yang berceceran.


Eka menoleh, mendelik melihat pemandangan itu. Emosinya memuncak, berganti memandang Nggilani.


"Makhluk busuk!" raungnya, mengayunkan pedangnya lagi ke arah makhluk itu. Menebas kepalanya.


Breet!


"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Eka.


"Aku enggak apa-apa... terima kasih ya. Abang sudah menolongku..."


"Justru aku yang berterima kasih! Kamu sudah menolong kami dari makhluk jelek itu!" Eka melihat Sinetra berteriak, badannya meronta-ronta."Sine, bagaimana?" ia sedih melihat pemuda itu.


"Dia bisa disembuhin. Abang tenang saja. Sebelumnya, kita harus pergi dari sini... hutan ini berbahaya..."


Eka menurut, segera menggendong Sinetra. VITTO menjentikkan jari, muncul lingkaran sihir mirip lingkaran sihir Hanoman waktu memanggil mereka di Dimensi Penghubung. Mereka terisap, kembali ke apartement. Lingkaran sihir berpindah dan mereka sampai di apartemen. Semua yang ada di ruang tamu terkejut mengetahui mereka—terutama Sinetra dalam keaadan seperti itu.


"Ada apa ini? Kenapa dia?" tanya Hanoman.


"Abang itu terkena sihir Nggilani," cerita VITTO."Waktu aku datang, dia sudah seperti itu," lanjutnya.


"Beneran?! Terus, kenapa dengan bajumu? Sebentar, sebentar, pasti kamu melawan makhluk itu, kan?" Hanoman melihat bekas cakaran di baju adiknya."Tapi kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Yang terpenting Abang ini harus disembuhin."


Yudha dan Aksa yang duduk di seberang sofa Hanila menatap ngeri Sinetra.


"Ya sudah, TO, bawa dia ke


kamarmu," perintah Hanila."Kamu," menatap baju Eka yang terkena noda darah Nggilani."Yang membunuhnya?"


"Iya, aku yang membunuhnya," kata Eka jujur.


Semuanya terkejut.


"Cepat ganti bajumu. Nanti kamu pinjam bajunya sama VITTO," kata Hanila.


Eka menggendong Sinetra mengikuti VITTO menaiki tangga ke salah satu kamar di antara tiga kamar itu. Satu kamar, bersebelahan dengan kamar mandi dan di sisi kanan ada sebuah balkon yang terbuka. VITTO membuka pintu, menyuruh mereka masuk duluan. Eka membaringkannya ke kasur bawah. Kasur itu bersepreikan bergambar bola. Di kamar yang semuanya berdominasi wallpaper dinding berwarna hijau muda. Di samping kanan kasur, ada lemari baju bergambar beruang. Di sampingnya lagi, ada meja belajar dan kursi roda tiga berwarna hitam. Di dinding, menempel sebuah AC. VITTO menutup pintu. Menghampiri mereka, dia duduk di pinggir kasur. Menatap Sinetra yang belum berubah.


"Kamu bisa sembuhin?"


"Bisa," katanya.


VITTO merentangkan tangan kanannya. Menempelkannya ke dahi Sinetra. Bibirnya menggumamkan sesuatu,"Vin Bole..."


Muncul sinar berwarna kuning dari tanganya. Sinar itu sangat hangat. Perlahan, sihir itu menyebar ke seluruh tubuh Sinetra. Ia berhenti berteriak maupun meronta. Ia kembali normal. Eka menyaksikkan takjub apa yang dilakukan pemuda itu kepada saudaranya. VITTO menghentikan sihirnya.


"Woow," kagum Eka. "Sudah sembuh?"


"Sudah, Bang. Abang ini hanya pingsan saja. Dia bakal siuman nanti. Oh ya, aku pinjamin baju dulu." dia berdiri menghampiri lemari lalu membukanya. Mencari baju yang cocok di antara tiga rak berisi tumpukan baju-baju. Setelah mencari baju yang cocok, dia memberikan baju berwarna hijau tua yang terlipat rapi di tangannya kepada Eka."Nih, Bang, pakai saja," katanya. "Sudah di-Loundry sama mama."


Eka menerima baju itu.


"Terima kasih," ucapnya,"TO, kamu kenapa bisa tahu kalau kami ada di hutan itu?"


"Hutan Peteng. Iya, aku bisa tahu karena teman Abang yang orang bule itu. Abang berdua kok bisa sampai terlempar ke sana, sih? Untung saja Abang baik-baik saja. Kecuali Abang ini... kalau enggak bisa diselamatkan dari sihir Nggilani, Abang ini bisa mati..." kata VITTO menatap Sinetra pingsan.


"Mati, kamu bilang?" Eka tidak percaya."Kami terlempar gara-gara sihir salah satu Pahlawan Aruna."


"Memang begitu." VITTO memutar badan, duduk di kursinya.


"Sekali lagi terima kasih. Kamu sudah menolong kami. Kalau kamu enggak ada, pasti kami sudah menjadi santapan makhluk itu. Jadi mahluk itu namanya Nggilani?"


"Ya, itu namanya."


"Terima kasih juga, sudah dipinjami baju," ucap Eka lagi."Kapan-kapan kalau kami ke sini lagi, aku kembalikan bajumu ini."


VITTO menyengir.


"Enggak usah, bawa saja. Bajuku di lemari masih banyak," katanya.


Eka tersenyum. Melepas bajunya yang terkena noda darah, meletakkan di lantai, mengganti bajunya dengan baju yang dipinjam VITTO. Membuka lipatan baju itu dan memperlihatkan gambar di tengah baju itu. Gambar itu bergambarkan ular melengkung, di bawahnya mirip lambang Slytherin, asrama Hogwarts di film Harry Potter, film favoritnya.


"Waah!"


"Kenapa? Abang suka baju itu?"


Eka mengangguk mantap. Ia senang memakai baju itu. Pas di badan. Kesenangannya buyar saat mendengar erengan pelan di sampingnya.


"A-aku di mana?"


"Sine! Kamu sudah sadar?"


VITTO turun dari kursinya. Menghampiri Sinetra.


"Aku di mana ini?" katanya lagi. Menatap sekeliling kamar.


"Abang di kamarku. Abang sudah enakkan?"


"Mendingan... siapa yang menolongku? Makhluk tadi gimana?"


"Kamu tadi ditolong sama VITTO. Makhluk jelek itu sudah kubunuh."


Sinetra diam.


"Gimana rasanya terkena sihir makhluk itu?" tanya Eka.


Sinetra melepas kacamatanya.


"Rasanya... rasanya sama sekali enggak enak... menyakitkan. Seperti dilanda perasaan bersalah..."


"Rasa bersalah, ya," kata Eka,"kalau kamu enggak disembuhin, kamu bakal mati."


Sinetra terkejut.


"Masa?"


"Bener. Untung Abang itu masih sempet diselamatkan. Kalau enggak, akhirnya mati dan menjadi santapannya," timpal VITTO."Aku mau ke bawah dulu. Abang ikut enggak?"


"Iya, kamu tinggal di sini saja, istirahat dulu. Nanti kami kembali lagi."


Eka dan VITTO beranjak dari kamar, meninggalkan Sinetra sendirian. Membiarkan dirinya istirahat. Mereka menuruni tangga. Berjalan kembali ke ruang tamu. Mereka duduk di sofa.


"Bagaimana? Apakah dia baik-baik saja?" Hanoman melihat mereka duduk.


"Sudah. Dia sudah siuman. Dia sedang istirahat."


"Syukurlah. Yang terpenting dia selamat."


Eka memandang Yudha dan Aksa yang menyeruput lemon tea mereka kembali.


"Kenapa kemarin kamu berdua enggak datang bertugas?"


Aksa dan Yudha meringis.


"Maaf, Ka, kemarin itu kami sibuk banget dan pekerjaannya enggak bisa ditinggal. Makanya Hanoman kupanggil untuk membantu kamu sama Sinetra," jelas Yudha.


"Saya juga sibuk, Master. Pekerjaan saya nge-band enggak bisa ditinggal. Saya yang kemarin menyuruh VITTO menggantikan saya," aku Hanoman.


"Kamu berdua tega ya sama teman sendiri! Kemarin itu lawannya kuat banget!" kata Eka kembali emosi, tidak terima.


"Rahwana memang kuat," Hanoman nimbrung."Kamu apakan dia sampai dia kalah, TO?"


"Kupukul."


"Kamu pukul?"


"Kupukul pakai sihir Magic of Punch," lanjut VITTO.


"Kamu sudah bisa menguasai sihir pukulan itu?" Hanila tidak percaya. Dia dan Hanoman saja butuh tiga tahun untuk menguasai sihir itu hingga mahir. Apalagi yang menggembleng mereka adalah Anjani. Malah kalau salah pukul, seperti dulu mereka latihan, kena marah Anjani. VITTO sebaliknya, pemuda itu cukup menguasainya butuh satu tahun. Tanpa memberitahu sang mama.


"Hebat! Pinter adikku saiki!" Hanoman bangga, menepuk-nepuk pelan pundak adiknya.


"Jangan marah begitu dong, Ka, aku minta maaf," Aksa meminta maaf, dua tangannya menutup ke atas kepala.


"Aku juga," kata Yudha.


*Nggilani (Bahasa Jawa): Menjijikkan.


*Peteng (Bahasa Jawa): Gelap.