Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 5: Harapan yang Sia-Sia (2)



Mobil melayang Pranaja keluar dari jalan pintas. Melesat di antara ojek online. Sinetra membuka kaca di sebelahnya. Angin sepoi-sepoi masuk. Setengah jam memasuki beberapa kota dan sampai di Desa Jati, Aksa membelokkanya ke jalan di antaranya ada dua gapura berdiri, menyeberangi rel kereta. Tepat di jalan kecil, ada papan nama bernama "Gang Bambu".


"Rumah kalian yang mana?"


"Di tengah itu," Eka menunjuk di balik jendela mobil ke arah rumah ke dua bercatkan putih, di sisi kanannya ada balkon.


Aksa memberhentikan mobil melayang Pranaja di depan pagar. Pintu bergeser, mereka turun. Eka menawarkan mereka untuk mampir, Aksa menolaknya halus. Pintu terbuka, Shinta keluar melihat siapa yang mendatangi rumah. Mobil melayang Pranaja mundur, membelokkannya keluar.


"Siapa ya?" tanya Shinta.


Mereka melongo.


Shinta ternyata tak mengenal dua


adiknya.


"Ini aku, Sinetra."


"Ini aku, Eka."


"Hah?"


"Iya, Kak."


Mereka masuk, melepas sandalnya ke dalam rumah. Dua keponakan laki-laki Sinetra di ruang tengah melengok di balik dinding—sama kagetnya dengan Shinta.


Sinetra dilihat seperti itu cuek, masuk ke dalam kamar diikuti Eka. Pintu ditutupnya, mereka melepas kostum yang melekat di tubuh mereka lalu melipatnya rapi. Sinetra melepas kacamata dan dua anting hanafuda, meletakkannya di meja. Mereka keluar menuju kamar mandi di dapur, dua keponakannya masih menatapnya tanpa berkedip. Mereka masuk, membasuh muka mereka.


"Kayak enggak pernah lihat saja," kata Eka, persis perkataan Yudha, mengambil Biore Man—sabun pencuci muka milik Sinetra. Memencetnya hingga keluar, meletakkannya di pinggir baskom air. Ia mengusapnya ke wajah. Sinetra melakukan hal sama. Selesai membasuh muka, mereka keluar dari kamar mandi, berbelok ke arah kamar. Dua keponakan Sinetra


melihat mereka.


"Bang," panggil di antara mereka. Yang juga menyukai anime seperti dirinya dan Sena.


Sinetra berhenti melangkah di ambang pintu.


"Apa?"


"Abang maeng nggawe kostume Tanjirou karo Harry Potter?"


"Iya."


"Sejak kapan Abang dadi cosplayer?"


"Aku maeng mek didandani thok," kata Sinetra.


"Sing cosplay Giyuu iku sapa?"


"Dulurku. Areke dulur adoh saka Kutha Balik."


Sinetra masuk ke kamar, menutup pintunya sedikit. Ia merebahkan badan di kasur. Eka sama halnya Gatra, terlelap.


Suara sekuter melayang memasuki dapur. Mama melepas helm dan masker. Turun, merenteng satu kresek hitam berisi mangga. Meletakkannya di meja makan.


"Kakak, adikmu sudah pulang?" tanya Mama, melepas kacamata.


"Sudah. Baru pulang," jawab Shinta sudah berada di kamar, melanjutkan menonton K-Drama yang ditonton.


Mama masuk melewati ruang tengah menghampiri kamar depan. Membuka pintu sedikit.


"Lha, pada tidur semua?"


Sinetra menggeliat, membuka mata pelan.


"Apa, Ma?"


"Sudah makan?"


"Sudah. Tadi di sana kami diajak makan."


"Oh, lantas Mama tadi masakin kamu cumi-cumi kesukaanmu," bisik Mama, agar tidak kedengaran dua keponakannya.


"Nanti saja makannya. Aku masih kenyang..."


Mamanya beranjak meninggalkan kamar sambil bergumam,"Bikin rujak buah, ah!"


"Aku mau!" seru Shinta, mematikan K-Drama-nya, keluar dari kamar.


"Kamu bantuin ngupas buahnya. Mama yang bikin bumbunya."


Mereka ke dapur, menyiapkan alat-alat dan bahan untuk membuat rujak.


Sinetra terbangun sore harinya, ia mengucek mata sambil mulut menguap—tertutupi satu tangannya. Ia beranjak dari kasur, keluar kamar. Berjalan ke ruang tengah, yang sekarang telah kosong. Dua keponakannya sudah pulang saat ia tidur. Molly seperti biasa pulang bermain dengan cicak kecil di mulutnya. Mendekati Sinetra dan memamerkan hasil tangkapannya.


Sinetra duduk di sofa abu-abu. Melihat kucingnya. Ekspresi wajahnya terlihat jijik.


"Euh, aku sudah tahu, kok," katanya,"Kucing pintar!"


Molly membulatkan mata, tampak senang dipuji oleh majikannya. Berbalik, melangkah ke dapur. Dia menyelinap masuk di kolong meja makan, menyantap hasil tangkapannya di sana. Mama yang sedang makan, menjerit ketika mengetahui Molly di kolong meja. Ayah sehabis dari kandang ayam, memberi pakan, langsung panik.


"Apa sih, Ma?"


"Ini lho, Yah, Molly!"


"Kenapa sama Molly—ke mana ya kucing itu? Kok enggak kelihatan sama sekali?"


"Ini lho, di bawah!" tunjuk Mama ke kolong meja.


Ayah menghampiri meja makan, menundukkan kepala. Molly berhenti menyantap, dua mata birunya menyala bak melihat lawan yang ingin merebut mangsanya.


"Eh?"


Molly menyantap lagi. Kali ini dengan mendesis.


"Tuh, kan, Bang! Dia ngelihat kamu kayak gitu! Jangan dilihat, diusir!" perintah Mama kepada suaminya.


Ayah mendongak, tak mengusirnya.


"Suruh Sinetra saja," katanya. "Aku malas..."


"Kamu disuruh malah gantian nyuruh orang lain!" seru Mama seraya mendengus.


Ayah cuek saja, menghampiri westafel di samping rak piring dan sendok, mencuci tangan kemudian berbelok ke arah ruang tengah, meraih remote di meja kecil, menyetelnya namun tak kunjung menyala. Remote itu dipukul-pukulkan di meja. Mencoba menyetelnya lagi, dan berhasil, televisi menyala. Ayah duduk di samping Sinetra.


"Mana Eka?"


"Masih tidur."


"Sore-sore lak kok turu..."


"Dari tadi siang kok, Bang. Mereka habis pulang dari acara temannya," jelas Mama dari dapur.


"Acara apa?"


"Banyak, Yah!"


"Rambutmu kenapa?" tanya Ayah, menatap rambutnya tak suka.


"Oh, habis cosplay di acara itu," jawab Sinetra menonton kartun Upin dan Ipin.


"Kok rambutmu kayak gitu?"


"Memang gini gayanya, Yah. Eka apalagi, dia jadi Harry Potter tadi."


"Acarane sing nyeleneh."


"Acaranya bukan nyeleneh yang Ayah bilang... kalau aku jelasin, Ayah enggak bakalan ngerti..."


Ayah diam saja.


Terdengar bunyi pesan dari handpone-nya di meja. Meraihnya, membukanya. Eka terbangun, keluar dari kamar sambil menguap masuk ke ruang tengah. Ia menatap Sinetra.


"Sudah mandi?"


"Belum."


"Kalau gitu, aku mau mandi duluan." Eka masuk ke dapur, melewati meja makan, keluar mengambil handuk, kembali lagi ke depan kamar mandi.


"Siapa yang ada di kamar mandi, Ma?"


"Kakakmu. Ka, nanti kamu sama Sinetra makan cumi-cumi yang Mama buatkan tadi pagi. Habisin saja," kata Mama berdiri, membawa piring ke keran tadi, mencucinya.


"Kakak gimana?"


"Sudah Mama sisakan tadi. Shin, cepetan kalau mandi! Gantian!"


Di dalam kamar mandi, gadis itu tak mendengar omongan Mama karena terendam bunyi air mengalir.


"Shinta!" panggil Mama.


Gadis itu tak mendengar.


"Shinta!"


"Apa?!"


"Cepetan kalau mandi! Gantian!"


ulangnya.


"Iya!"


"Dasar anak itu! Kalau mau mandi sampai mau berapa jam lagi sih?" umpat Ayah.


Setelah dua jam lamanya, Shinta keluar dari kamar mandi, dengan handuk bermodel baju, handuk kecil menggulung rambutnya di atas kepala. Di bergegas ke kamar, menutup pintunya. Giliran Eka masuk.


Upin-Ipin pun berganti iklan sabun. Sinetra berdiri kembali ke kamarnya, terbayang di pikirannya tadi, ia menggeser kursi, duduk, tangannya membuka laptop kemudian menyalakannya. Sambil menunggu, ia meraih tas kecil di gantungan dinding. Membukanya, meraih flash disk putih. Muncul di layar—menampilkan windows berganti menampilkan wallpaper bergambar gadis iblis menggigit bambu di mulutnya serta ikon-ikon program-nya. Ia menancapkan flash disk itu ke salah ujung colokan. Flash disk pun masuk. Tangannya menggeser mouse ke arah ikon, membuka Microsoft Word. Mulai mengetikkan kata di lembar kosong. Di sela mengetik, Mamanya menghampiri kamar.


"Sinetra, makan dulu," pinta Mama.


"Sebentar, Ma."


"Nanti kan bisa dilanjutin menulisnya. Adikmu nanti keburu datang lagi. Kamu sama Eka malah enggak kebagian. Mumpung mereka belum ke sini."


Mamanya meninggalkan kamar. Sinetra berhenti mengetik, berdiri dari kursi keluar. Membiarkan laptop menyala. Sinetra berjalan ke dapur. Mamanya meraih mangkok yang disimpannya di atas lemari, meletakkannya ke meja. Masakan cumi-cumi diberi tambahan cabe yang dipotong kecil-kecil dan beberapa buah pete—kesukaannya selain jengkol. Mama kembali ke keran, membereskan panci-panci kotor.


Sinetra meraih piring, mengambil nasi di bakul kecil, mengambil berapa cumi-cumi berukuran kecil dan pete. Ia menyantapnya. Decap lidahnya merasakan makanan itu. Sesekali Mama memasakkannya cumi-cumi. Menurutnya, masakan Mama itu sangat enak dan tidak kalah dari masakan semur jengkol buatan almarhum sang nenek. Selesai mencuci, beliau menoleh melihat anaknya lahap memakan masakannya. Biasanya, jika beliau masak, sering malah, makanan itu utuh tak tersentuh dan membuangnya. Apalagi lidah Ayah yang kerap kali tak cocok dengan makanan yang dimasak Mama, membuat Mama jengkel setengah mati.


Mama keluar dari samping rumah, menaiki tangga ke balkon, mengambil jemuran yang sudah kering.


Pintu terbuka, satu menit selesai mandi, Eka sudah berbalut handuk melilit di pinggangnya, rambutnya yang tak bergaya Harry Potter basah karena habis keramas.


"Kamu makan apa, Sine?" tanya Eka, dua kakinya diusap-usapkan di keset handuk.


"Makan cumi-cumi," jawabnya. "Nih, kusisakan buat kamu." Sinetra mengambil kuah kental berwarna hitam yang sebenarnya adalah tinta.


Eka berbelok menuju kamar. Masuk, menutup pintu dan gorden seraya berganti pakaian. Selesai berganti pakaian, meraih sisir di meja rias, ia menatap cermin. Di balik cermin itu laptop masih dalam keadaan menyala diringi slide show berbentuk gelembung busa. Menyisir rambutnya yang kembali normal, meletakkan sisir ke tempat semula menghampiri laptop. Ia melihat di layar itu, membacanya.


Betapa terkejutnya ia membaca tulisan yang tertera di laptop keluar lagi berlari ke dapur.


"Sine, kamu enggak apa-apa?"


"Ha? Apa maksudmu?"


"Kamu menulis apa di laptop? Aku tadi membacanya!"


Sinetra tidak menjawab, membereskan piringnya ke tempat cuci piring.


"Kenapa kamu menulis itu?"


Sinetra memutar keran. Air keluar mengalir.


"Bukan apa-apa, Ka. Aku hanya


iseng."


"Bohong!"


"Apa sih itu? Ribut saja!" sahut Mama dari atas.


"Enggak tahu," celetuk Ayah tak memperhatikan televisi malah terpekur ke arah handpone, menyaksikan video prank di Youtube sambil rebahan di sofa, mirip sekali dengan karakter Richard Watterson, karakter kelinci berbulu pink yang pemalas dan pengangguran dari kartun The Amazing World of Gumball yang pernah ditonton Sinetra.


"Bohong!" lanjut Eka.


"Dibilangin ya sudah." tangannya menyabuni piring dan sendok, membilasnya dengar air mengalir. Selesai membilas, meletakkan dua benda itu ke rak sesuai tempatnya. Bergegas keluar mengambil handuk, melewati Eka dan masuk ke kamar mandi, menutup pintu.


"Sine!"


"Aku mau mandi!" seru Sinetra dari dalam diringi suara keran menyala.


Eka berbalik kembali lagi ke kamar. Shinta selesai mengganti pakaiannya dengan daster biru, bergambar semut berjajar rapi di depan-belakang.


"Ada apa, sih?"


"Enggak tahu dua anak itu." Ayah masih terpekur menonton Youtube di handpone.


Eka masuk ke kamar, duduk di pinggir ranjang menatap laptop yang menampilkan slide show sama. Molly berjalan ke kamar dengan menjilati mulutnya, puas menyantap seekor cicak, menaiki ke ranjang, duduk di sampingnya berganti menjilati salah satu kakinya.


Ia melirik ke arahnya.


"Ngapain kamu ke sini?"


Molly menjilati kakinya, menatapnya sebentar, menjilat lagi.


Eka menatap laptop. Ia tak percaya jika Sinetra menulis lembaran di depannya. Daripada menatap lama-lama, beranjak ke arah lemari kecil berisi kumpulan komik koleksi Sinetra dan paling banyak adalah koleksi novel berbagai genre, terutama fantasi dan teenlit. Tangannya terulur ke rak nomor empat deretan novel tebal—termasuk seri novel Harry Potter favoritnya hanya beberapa. Tangannya meraih salah satu novel bersampul biru dan bergambar dua gadis penyihir, berjudul "Darkest of Ray". Saat di dalam tubuh Sinetra, ia suka sekali mengoleksi novel. Alih-alih tersadar, Sinetra tampak bingung karena lemarinya didominasi novel.


Ia duduk lagi di ranjang, membuka novel dengan asal, mulai membaca. Molly berhenti menjilat, merentangkan ke empat kakinya, seperti biasa dilakukannya tidur.