
Mereka berpamitan dan berlari kembali ke stand, memasuki area parkir. Mereka menghampiri sekuter melayang. Mobil melayang berwarna kuning mirip model Bubble Bee di film Transformer dalam wujud mobil melayang, memasuki area parkir dan merepet di antara deretan mobil-mobil melayang mewah. Pintu bergeser otomatis, turun seorang gadis berambut sepundak, memakai bando pink di rambutnya. Mengetahui mereka, menyapa,"Sinetra, Eka!" menghampiri mereka.
Mereka menoleh,"Linea?"
Pintu bergeser lagi di sebelah kanan. Turun seorang pemuda yang lebih tinggi dari Sinetra dan Eka. Berwajah tampan, berkulit putih mengikuti gadis itu di belakangnya.
"Kalian ngapain di sini?" tanyanya.
"Refeshing," jawab Eka.
"Oh," dia melirik pemuda di belakangnya."Kenalin, ini temanku. Namanya Bagus. Lebih tepatnya sih pacarku," katanya memperkenalkan sembari tertawa."Beb, mereka ini temanku."
Deg.
Tawa gadis itu seakan mengejek Sinetra, bahwa dirinya sebagai cowok tidak layak menjadi pacarnya. Bagus, pemuda itu, tampilannya memang berbeda dengan mereka—apalagi dirinya. Jujur ia mengakui, bahwa berpakaian pemuda di depannya kini mirip model papan atas. Sementara dirinya berpenampilan cupu dan kampungan. Seketika ia minder di hadapan mereka.
Bagus mengulurkan tangannya kepada mereka, menyalami tangan mereka bergantian."Bagus," ucapnya tersenyum.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo masuk ke dalam bareng," ajak Linea.
"Enggak usah. Kami mau pulang," kata Eka.
Linea dan pacarnya berpamitan, berbalik masuk meninggalkan mereka. Sinetra langsung berubah muram layaknya jiwa kebahagiaannya diisap oleh Dementor.
"Ayo, Ka, kita pulang," ajaknya menyambar helm, memakaikannya di kepala."Kamu saja ya yang
menyetir..." katanya malas.
Eka mengangguk. Menyambar helm yang tergantung di setir. Ia langsung tahu kenapa pemuda di hadapannya kini menjadi murung. Ia naik duluan, menyalakan sekuter melayang, memundurkannya pelan. Sinetra menyusul, naik di bangku belakang. Sekuter melayang meluncur keluar menuju jalan raya. Ia mengamati perubahan Sinetra yang diam itu. Membuka obrolan agar ia mau berbicara.
"Sine, yuk, kita ke kafe Korea lagi?" bujuknya."Aku kok kepingin ke sana lagi..."
"Ke kafe itu lagi? Enggak, ah..." katanya menggelengkan kepala pelan.
"Kalau enggak mau, terus mau ke mana? Ke toko buku? Kalau kamu mau, kita ke sana saja. Beli komik kesukaanmu."
Sinetra menggeleng.
"Enggak. Kita pulang saja..." pintanya, ia sekarang menjadi bad mood.
Eka diam, gagal menghiburnya. Mengegas pelan sekuter melayang dengan kecepatan sedang. Meluncur melewati setiap kota di Kota Cyborc. Setengah jam, sampai memasuki wilayah Kota Pan, sekuter melayang melewati beberapa kota lagi. Setengah jam sampai di desa mereka, Desa Jati, Eka membelokkan sekuter melayang ke arah dua gapura. Menyeberangi rel kereta, berbelok lagi ke arah jalan kecil Gang Bambu. Sampai di rumah, raut wajah Sinetra masih sama muramnya. Hari sudah menjelang siang, memasuki kamar, ia merebahkan diri di ranjang, memeluk guling dan melepas kacamata pemberian Maretha, meletakkannya di pinggir kasur. Membalikkan badan ke dinding. Eka menyusul masuk ke kamar, berpikir saudaranya sudah tertidur. Ia duduk di pinggir kasur, melepas jaketnya. Tangannya merogoh saku celana. Memperlihatkan benda layar sentuh itu sama sekali tak ada pesan. Melihat status-status keluarga dan teman sesama di Aliansi Garuda. Ia melihat status Maretha yang sedang memamerkan desain yang dibuatnya, dan siap dikirimkan kepada kliennya di tempat kerjanya. Ada pula status keduanya, tampak Handoko menyantap bekalnya sambil bergumam kecil di hadapan bangku kosong.
"Berarti bener omongannya si Tata waktu itu," gumamnya.
Ia membalas statusnya. Terpikir di otaknya tentang Sinetra yang muram.
Ta, Handoko ngomong sama siapa itu? Kamu ada waktu enggak, nanti?
Ting!
Pesan terkirim. Pesannya dibaca lalu dibalasnya dengan tulisan sedang mengetik...
Ting!
Pesan masuk. Ia membukanya.
Hehehe. Iya, dia lagi ngobrol sama temanku. Dia baik kok. Aku ada waktu. Kenapa?
Ia mengetik balasan. Pesan dikirimkan.
Ya sudah. Kamu bisa ke rumah nanti.
Ia berhenti sebentar, menoleh ke arah Sinetra. Melanjutkan mengetik.
Sine, tiba-tiba sakit. Aku takut sakitnya tambah parah...
Pesan dikirimkannya.
Ting!
Maretha mengetik balasan.
Sakit apa, Ka? Kok bisa? Nanti aku ke sana ya. Kamu di rumah, kan?
Sakit hati akut katanya. Iya, aku di rumah.
Setelah mengirim pesan. Ia tersenyum. Menunggu reaksi Sinetra nanti. Sore pun menjelang lebih cepat. Warna cerah langit di siang hari berganti menjadi warna orange. Namun panasnya menyengat, membuat orang-orang mengambil mereka yqng kering. Terutama Mama yang memasukkan jemuran kering ke tempat tas khusus untuk loundry. Seperti pesan Eka tadi siang, Maretha datang tepat waktu di rumah. Mobil melayang putihnya terparkir di depan pagar. Eka yang sedaritadi menunggu kedatangannya baru mengganti baju karena sehabis mandi. Ia beranjak dari kamar menuju pagar. Pintu bergeser, Maretha turun dari mobil melayang-nya memasuki pagar. Tangannya merenteng kantong plastik hitam. Eka membuka pagar.
"Mana Sinetra, Ka?" tanyanya duluan. Tanpa menunggu Eka mempersilakan masuk. "Dia baik-baik saja?"
"Sudah mendingan anaknya. Dia masih tidur. Masuk dulu. Biar kubangunkan anaknya," ajaknya memasuki teras rumah yang terdapat kursi kayu cokelat panjang. Ia mempersilakannya duduk. Menyuruhnya menunggu. Eka beranjak masuk ke rumah, memasuki kamar. Ia melihat Sinetra masih tertidur dengan posisi terlentang. Bajunya yang melekat di tubuhnya masih sama. Membangunkannya.
"Sine, ayo bangun..." menggoyang-goyangkan badannya pelan.
"Nggh..."
"Sine, bangun! Ada orang yang mencarimu... dia sudah datang..."
"Nggh... siapa, sih, Ka...?" Sinetra membuka matanya, menatap Eka."Siapa?" ulangnya parau.
"Ada di teras orangnya. Lihat, sudah jam berapa sekarang? Ini sudah Ashar. Makanya cepat bangun!"
Sinetra bangun perlahan. Matanya dikucek dengan satu tangannya. Rambut dan bajunya berantakan.
"Ayo, cepet! Ditungguin itu lho!" perintah Eka.
Sinetra menguap lebar. Merentangkan badannya.
"Oahaam—aduh!" Eka segera menutupi mulutnya dengan tangan.
Sinetra melepaskan tangan Eka dari mulutnya. Ia beranjak dari kasur keluar dari kamar menuju teras rumah—langkahnya terhenti melihat siapa yang sudah datang menunggunya.
"Tata?! Ngapain kamu di sini?"
"Aku ke sini ingin menjengukmu katanya kamu sakit parah," kata Maretha.
"Parah? Siapa yang sakit parah? Aku enggak sakit, kok. Cuma..."
"Cuma apa? Lihat, kamu itu enggak baik-baik saja. Eka mengirimku pesan kalau kamu sedang sakit hati akut... Kamu beneran sakit, Sinetra? Kata dokter bagaimana?" cerita Maretha sesuai pesan Whatsapp yang dikirimkannya tadi siang.
Sinetra menghampiri kursi, duduk di samping gadis itu.
"Eka ngomong begitu ke kamu kalau aku sakit hati akut?"
"Iya, dia ngirim pesannya begitu," kata Maretha, ada sirat khawatir di terpatri di wajah cantiknya."Kamu enggak apa-apa, kan?"
Sinetra tidak menjawab. Pikirannya masih dalam keadaan loading... apa yang dimaksud gadis itu dengan sakit hati akut? Pikirannya sedikit demi sedikit mencerna omongan gadis itu. Dan pikirannya melayang ke arah kejadian yang dialaminya waktu bertemu Linea bersama pacarnya di Stan World of Mini... ia segera sadar, apa yang sebenarnya dilakukan Eka untuknya... ia ternyata ditipu! Sekali lagi, para pembaca, DITIPU!
"EKAAAA!!" pekiknya.
"Ada apa, Sinetra?"
Eka diam-diam melihat dan mendengarkan obrolan mereka terkikik di balik jendela kamar. Usahanya telah sukses! Akhirnya setelah mengerti, ia menjelaskan apa yang dimaksud Eka sakit hati akut itu. Tetapi tidak menceritakannya ia ditipu oleh Eka.
VITTO menggendong Sena yang masih pingsan melompat cepat menaiki pohon-pohon dan gedung-gedung di sekitar jalan bersama Angkasa dan Wanda yang mengikuti di bawahnya meluncur cepat mengendarai sepeda melayang milik Sena. Melewati pasar dan kantor polisi di situ lalu tepat di depan tulisan kapital besar sangat jelas "STUDIO ALZAKI" di samping Jalan Mawar. Dia melompat di depan studio itu. Memasuki studio tanpa melepas sepatunya seraya mengucap kata permisi. Erza yang keluar dari Ruang Pemotretan langsung kaget disusul Margana, Aji dan Samudra yang sehabis makan sore di dapur.
"Sena?! Apa yang terjadi! Baringkan dia di sofa!" perintahnya kepada VITTO.
Dia menurut berlari ke arah ruang tamu. Membaringkannya di salah sofa. Beberapa menit kemudian Wanda dan Angkasa menyusul. Dia berbelok ke teras dengan mendadak. Melepas helm-nya, turun dan berlari sambil menangis, memeluk Aji.
Aji membalas pelukannya. Menenangkannya dengan mengelus rambutnya.
"Sena, Bang... Sena..." ucapnya parau.
"Semua salahku, Bang... dia menjadi seperti itu gara-gara menolongku sama Angkasa... dia tertimpa tiang..."
"Yang benar kamu?"
"I-iya... semua salahku, Bang..."
"Wanda, itu bukan salahmu. Apa yang sudah terjadi, enggak usah dipikirin... Sena pasti siuman..."
Wanda terisak dipelukannya.
"Apa yang terjadi pada adikku?!" Margana khawatir. Berlari ke arah ruang tamu. Duduk berjongkok di dekat adiknya. Dia melihat pinggangnya—baju yang dikenakannya berdarah."Astaga! Kita harus membawanya ke rumah sakit!"
"Enggak usah, Bang," kata VITTO.
"Apa maksudmu?"
"Abang ini sudah kusembuhkan. Jadi tenang saja."
"Apa? Kamu yang nyembuhin Sena?" timpal Samudra tidak percaya. Begitu pun Erza.
"Bener, Bang. Tadi saya yang menolongnya dari tertimpanya pilar di tempat aku datangi. Terus saya sembuhin. Habis nolongin abang ini sama kakak juga robot kecilnya, saya bawa ke tempat aman. Kan, tempat tadi terbakar," ceritanya.
"Tempatnya terbakar?"
"Siapa yang membakarnya?"
"Bang Rahwana," katanya.
"Rahwana called-nya Dew—eh maksud aku, called-nya Pahlawan Aruna?"
VITTO mengangguk.
"Kamu kok tahu yang melakukannya punya Pahlawan Aruna?" Erza penasaran.
Margana menjadi salah tingkah.
"Sa-saya... cuma menebak saja. Iya, kan, Dra, Ji?"
Mereka membalas omongan Margana dengan menyengir.
"Terus kamu ini siapa? Saya belum pernah melihatmu sebelumnya?" tanya Erza.
"Saya VITTO, temannya Pahlawan Garuda, Oom," jawab VITTO memperlihatkan senyumannya yang manis. Senyumnya mirip Jadden Simith, artis hollywood. Senyumnya juga mirip Andhyrama, penulis novel Fashion Abel.
"VITTO? Saya kira namamu Vitto Ardana."
"Siapa lagi itu Vitto Ardana?"
"Siapa ya, enggak tahu. Saya cuma mengira saja. Tapi terima kasih, ya, Nak, kamu sudah menolong anak saya," ucap Erza. "Enggak mampir dulu?" tawarnya.
"Sama-sama. Enggak, terima kasih. Nanti saya dicariin sama Bang Hanoman sama Bang Hanila," jawabnya. Sebelum pulang, Margana merasakan sesuatu daya sihir di dalam diri pemuda itu.
Deg.
Apa? Tunggu, masa daya sihir di dalam tubuhnya sekuat ini? Batin Margana.
Keluar keringat dingin di dahinya. Menatap horor pemuda itu. VITTO kemudian berpamitan kepada mereka. Muncul lingkaran sihir di bawah dua telapak kakinya.
Siing!
Dia terisap di lingkaran itu, kembali pulang ke dunia asalnya.