
Aksa datang lebih awal seperti biasa kembali memakai penyamarannya. Selesai sarapan, dia dikirimi pesan oleh Devian di Whatsapp karena ada konser kecil di taman dekat Kampus USER. Sehabis Memakirkannya di tempat parkir yang sudah disediakan di taman. Pintu bergeser, dia turun dari mobil melayang. Berjalan memasuki taman yang dijaga dua robot menghampiri loket mini yang sudah disiapkan sebelum dia datang. Dia mengantri panjang bersama para penggemar untuk membelikan tiket. Setelah lama mengantri, dia memesan tiket, dan membayarnya.
"Terima kasih, Pak. Ah ya, kalau nanti ada teman saya ke sini tolong berikan tiket ini kepadanya," ujarnya, berbisik.
"Iya, Bang. Tapi orangnya?"
Aksa menjelaskan ciri-ciri temannya. Sang penjaga loket, manggut-manggut mengerti.
"Saya mengerti," katanya.
Dia berbalik, meninggalkan mini loket menuju taman. Di mana taman itu sudah disediakan enam kursi bulat hitam dan enam set alat musik yang akan dipakai. Dia duduk di salah satu kursi sambil menunggu teman band dan manager-nya. Mobil melayang berwarna hitam memasuki tempat parkir. Pintu bergeser, turun teman sesama Band-nya dan manager-nya. Para penggemar yang mengetahui mereka langsung menyerobot ke arah mereka. Devian, buru-buru menjadi tameng bagi mereka yang sudah dianggap anaknya, menyibak-nyibakkan kerumuran para penggemar, wartawan ingin meminta tanda tangan, berfoto, dan memberikan jalan untuk mereka. Setelah berhasil keluar dari serobotan, Aksa memperhatikan datangnya mereka. Para penggemar dan wartawan dengan cepat dihadang oleh dua robot patroli. Salah satu temannya memandangi sekeliling mencari Aksa.
"Mana vokalis kita?" tanyanya.
"Sepertinya belum datang," jawab temannya yang lain. Menghampiri enam kursi itu, duduk.
Mereka rupanya tidak sadar bahwa Aksa sudah tiba duluan. Dia terkikik. Temannya yang lain menoleh, tidak tahu siapa yang duduk di sebelahnya. Berceletuk,"Maaf, Pak, itu kursi milik vokalis kami."
"Saya tahu."
Kalau tahu, kenapa ini orang enggak pergi saja? Batinnya.
Devian melihat jam di pergelangan tangan kanannya masih pukul 07.30. "Ke mana dia?"
"Belum datang kali, Pak. Telepon saja lho," kata yang lain.
Devian segera membuka handpone-nya di kantong baju batiknya. Menekan tombol nomor Aksa tersambungnya. Bunyi ringtone handopone lain terdengar. Temannya yang di sampingnya menoleh,"Aksa?"
Semuanya menoleh ke arahnya. Devian mematikan sambungan. Aksa membuka penyamarannya tertawa terbahak. Temannya di sampingnya jengkel, mendorongnya sampai terjatuh dari kursinya.
Bruuk!
Aksa merintih kesakitan, masih tertawa seraya meminta maaf,"Oh, maaf."
"Huh, bilang dong kalau kamu sudah sampai!"
Temannya yang lain langsung
meng-huu dirinya.
"Iya, iya. Aku minta maaf..."
Devian hanya menggelengkan kepala melihat ulahnya barusan dan menyuruh mereka untuk mempersiapkan diri. Beberapa jam kemudian angkot melayang berhenti di taman. Pintu bergeser, Eka turun, berlari ke arah taman menghampiri mereka.
"Maaf, saya terlambat!" kata Eka, napasnya tersengal-sengal."Untung belum dimulai..."
"Oh, enggak apa-apa. Belum dimulai, kok. Kalian persiapan dulu," Devian mengingatkan.
Eka menurut. Menghampiri perlengkapan Deejay-nya yang sudah disiapkan. Sementara Sinetra meminta izin ke Indra untuk menonton konser di taman sebelah kampus. Indra memperbolehkannya menonton. Menyerahkan tugasnya kepada Irfan, yang menonton anime di komputer di meja sebelah kirinya. Ia beranjak dari lab, menuruni tangga, berbelok ke arah pintu keluar yang bergeser terbuka. Ia melihat beberapa mahasiswi menyeberang pulang. Robot satpam yang ada di situ membantu menyeberangkan. Ia ikut menyeberang bersama beberapa mahasiswi. Berlari menghampiri taman. Ia melihat sekeliling taman, namun gadis yang ditemuinya belum juga datang.
"Tata belum datang, ya?" gumam Sinetra, berjalan ke mini loket. Merogoh saku celana mengambil beberapa uang. Sang penjaga mengetahuinya memberitahu.
"Maaf, Bang, tiketnya enggak usah dibayar. Tadi ada sudah dibayar," katanya.
Sinetra kaget.
"Sudah dibayar?"
"Iya."
"Siapa yang Membayar tiket ini?"
"Maaf, Bang. Kata orangnya, dia enggak mau memberitahukan namanya."
Sinetra termangu. Ia bingung.
Terus, siapa yang membayar tiket ini? Batinnya.
"Terima kasih, Pak," ucap Sinetra, menghampiri kerumunan penonton yang bergejumbul. Alunan musik dimainkan, Aksa mulai bernyanyi. dia membawakan lagunya berjudul "Forgive Me". Sinetra berada di belakang kerumunan. Ia menoleh mengetahui mobil melayang hitam memasuki tempat parkir. Pintu bergeser, keluarlah gadis yang dicarinya. Berjalan ke arah kerumunan.
"Maaf, lama. Eh, kamu sudah daritadi Sinetra?" sapanya tersenyum.
Sinetra menatapnya, jantungnya mulai berdebar. Ia menatap cewek itu seperti Jukyung memakai jubah penyihir seperti Harry Potter.
"Sinetra?"
Sinetra tersadar dari khayalannya barusan.
"Er, apa?"
"Kamu kenapa?" tanya Maretha.
Ia menggeleng."Aku enggak apa-apa, kok." menolehkan kepala."Sudah mulai, tuh. Kamu enggak mengajak Handoko?"
"Tadinya sih. Tapi enggak jadi. Katanya Hendri sakit... terus aku mau mengajak Kak Rossi, orangnya enggak bisa... yah, terpaksa sendirian, deh. Untung ada kamu yang mau kuajak," katanya langsung teringat,"oh, aku lupa! Aku belum beli tiket! Sebentar, ya." dia bergegas menuju loket mini. Beberapa menit dia kembali membawa tiket di tangannya. Aksa bernyanyi sambil menghampiri kerumunan penonton sembari menyalami mereka. Dia melihat Sinetra di belakang kerumunan. Membawa mik-nya ke arahnya, menyodorkannya. Menyuruhnya melanjutkan lirik nyanyiannya. Ia menolak halus dengan alasan tidak hafal liriknya.
"ENGGAK HAFAL!" serunya lantang.
"Enggak apa. Ayo," kata Aksa.
"ENGGAK HAFAL!" ulangnya.
Berikutnya mik disodorkan ke arah Maretha. Menyuruhnya juga melanjutkan liriknya. Ternyata Maretha hafal betul.
"Good! Ternyata pacarmu hafal ya, Sinetra?" Aksa meringis.
Wajah Sinetra langsung merona mendengar perkataan Aksa. Ia diam saja. Maretha di sampingnya tersenyum.
"Thank you," ucap Aksa, berbalik, beranjak ke depan melewati kerumunan menyalami lagi. Setelah kepergiannya, senyum Maretha langsung memudar. Dia terdiam saat melihat di antara penonton, melihat sosok yang, menurutnya mengerikan. Tanpa disadari Sinetra, tangan Maretha menggenggam erat tangannya hingga memutih. Jantung Sinetra berdegup tambah kencang seperti meledak. Ia melihat ke arah yang dilihat gadis itu namun tak ada apa-apa. Hanya para penonton yang mengangkat tangan tinggi-tinggi saat Aksa ber-screamo kencang diringi suara ground temannya.
"Tata?" panggil Sinetra.
"Tata?" panggilnya lagi.
Maretha tak menjawab, menyeret Sinetra menjauh dari kerumunan menuju tempat parkir. Tepat di depan mobil melayangnya, dia melepaskan genggamannya.
"Tata?"
Maretha mendongak.
"Ya? Maaf, Sinetra..."
"Eh?"
"Sekarang kamu tahu sendiri, kan?" Katanya pelan.
"Hah? Apa maksudmu—"
"Yang barusan," lanjutnya.
"Tunggu," Sinetra langsung mengerti maksud perkataannya. "Kamu bisa melihat, ya?" bisiknya.
Maretha mengangguk.
"Berarti Handoko juga bisa melihat, dong?"
Maretha mengangguk lagi.
Sinetra tak percaya. Tapi ia sudah sering membaca di internet, mempunyai teman SMA atau pernah menonton acara yang orang-orang mempunyai semacam kemampuan yang dimiliki Maretha maupun Handoko.
"Kamu mengejekku?"
"Enggak," kata Sinetra,"justru aku malah penasaran sama orang yang bisa memiliki kemampuan seperti kamu... siapa tahu, Eka mau meriset sebagai bahan ceritanya..."
"Dia bisa menulis?"
"Bisa. Aku pernah membaca karya yang ia tulis di buku tulisnya, sih. Kalau begitu kamu pulang saja. Takutnya ada apa-apa..."
"Konsernya?"
"Sudah, pulang saja," kata Sinetra, merasa khawatir namun di sisi lain merasa kecewa. Baru pertama kali ia menonton konser metal biarpun konser mini bersama seorang gadis."Aku enggak apa-apa," lanjutnya.
Maretha menurut. Sebelum pulang, dia merogoh tasnya, merogoh sesuatu, mengelungkan sebuah kotak berwarna hitam kepada Sinetra.
"Nih, sebagai permintaan maaf, aku kasih ini," katanya.
"Buat aku?"
"Iya."
Sinetra menerimanya.
Maretha meminta maaf lagi kepadanya, masuk saat pintu bergeser, mobil melayangnya meluncur keluar dari tempat parkir ke jalan raya. Sinetra pun beranjak dari situ juga menyeberang lagi menuju kampus. Masuk dan menaiki tangga, ia penasaran, kotak di tangannya itu berisi apa. Ia masuk ke lab, menghampiri kursinya, duduk. Indra mengalihkan pandangan dari film kesukaannya, Final Fantasy 15 KingGlaive yang ditontonnya.
"Kok balik lagi? Enggak jadi nonton?"
"Jadi kok."
"Terus?"
"Cuma sebentar." Sinetra meletakkan kotak itu di meja.
Indra menatap kotak itu.
"Apa itu?"
"Oh, ini tadi dikasih sama teman
saya. Enggak tahu isinya apa."
"Buka saja. Siapa tahu sesuatu yang penting dikasih temanmu itu."
Sinetra membuka kotak itu. Saat membuka kotak, tampak di dalamnya sebuah kacamata berukuran bulat.
"Kacamata?"
"Eala, cuma kacamata doang. Kirain apa," kata Indra kembali ke film-nya.
Sinetra meraih kacamata itu dari tempatnya. Ia teringat kejadian kemarin soal kacamatanya yang dijatuhkan oleh Molly dan paginya menolak memakai kacamata Shinta. Kata Mama hanya untuk sementara. Hatinya senang karena mendapat kacamata ganti yang baru. Ia meraih kaca kecil di atas CPU-nya. Mencoba memakai kacamata itu.
Plek.
Seketika pandangannya yang awalnya kabur, menjadi sangat jelas. Ia takjub.
"Woow!"
"Apa yang woow?" Indra mengalihkan pandangan lagi ke arahnya. "Oh, kamu pakai kacamatanya? Cocok gitu. Tapi kacamatamu ke mana yang kemarin?"
"Jatuh terus pecah."
"Siapa yang menjatuhkan?"
"Molly."
"Siapa Molly? Pacar kamu?"
"Bukan. Kucing saya." ia masih memandangi cermin. Ia teringat Eka, Eka sangat menyukai Harry Potter. Ia tersenyum sendiri, membayangkan reaksi pemuda itu terhadap kacamata baru yang diberikan Maretha kepadanya.
"Pasti dia heboh. Hehehe," gumamnya, memandangi cermin.