Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 13: Meet a Woman



Raut muka Sinetra sedih menatap Bumi di kedua tangannya. Menyerahkan kembali ke Aksa sesuai omongannya kepada Bumi sebelum berubah wujud menjadi Pahlawan Garuda di toilet kampus. Mereka sudah kembali ke wujud normal, sekarang berada di depan Kampus USER meminta maaf seraya menceritakannya kepada Aksa.


"Maaf, gara-gara aku, Bumi..." ucap Sinetra lirih."Kalau enggak ikut sama aku tadi, dia mungkin enggak seperti ini..."


Aksa menatap Bumi di kedua tangannya amat sedih. Sinetra merogoh saku celana, mengambil dompet hitam bergambar gadis iblis menggigit bambu karakter favoritnya. Mengambil uang lima ratus ribu dan diberikannya kepada Aksa.


"Ini," kata Sinetra.


"Buat apa?"


"Ganti rugi."


Aksa menerima uang itu. Eka lalu teringat merogoh saku celana juga, mengambil kartu Gapuran. Memberikannya kepada Aksa.


"Ini kartumu. Kukembalikan. Kemarin kuambil dari Bumi,


dia ke rumah kami," ceritanya.


"Bumi ke rumah kalian?"


Eka mengangguk.


"Kalau begitu kami duluan." ia berbalik, beranjak mengajak Sinetra berjalan masuk ke kampus.


"Aku merasa enggak enak sama mereka," kata Aksa melihat mereka sudah memasuki kampus. Dia merasa bersalah menatap uang itu dan kartu Gapuran.


"Untung, mereka sudah ganti rugi sama nemuin Bumi, Sa," kata Yudha,"yuk, kamu pulang pakai kartumu sendiri. Aku kembali lagi ke tempat kerja." mengeluarkan kartu Gapuran di Evolution Entity-nya seketika muncul lingkaran sihir, mengisapnya hilang, diikuti Aksa yang menggunakan kartunya sendiri dan lingkaran sihir itu mengisapnya, membawanya sampai di depan Kost Pria. Berjalan memasuki kost, di sana Pranaja dan Gatra sedang mengobrol.


"Brot," panggilnya.


Mereka berhenti mengobrol, menoleh.


"Sudah selesai? Dan eh, kenapa sama Bumi?"


Aksa duduk di samping Pranaja. Memperlihatkan robot itu dalam keadaan mati. Menceritakannya seperti Sinetra menceritakannya tadi.


"Sang Hyang Widhi! Kok bisa?" kata Gatra melihatnya kaget.


"Bisa kan, Brother, memperbaikinya kembali?" tanya Aksa.


"Bisa. Tapi siapa yang menemukannya?"


"Sinetra sama Eka."


Sementara Margana, Aji, dan Samudra sampai di depan Kost Pria kembali dalam wujud normal. Aji kaget melihat di kost itu—di tangan Aksa robot yang tadi dilemparnya.


"Jadi robot itu punyanya?"


"Apa?" kata Samudra."Robot siapa sih?"


Aksa yang meratap sedih melihat ke arah mereka.


"Kenapa sama robot itu?"


Aji membisikan ke telinga Samudra. Sontak dia kaget, terpikik,"Ha? Robot itu kamu lempar?!"


"Sssh!"


Aksa yang mendengarnya meletakkan Bumi di meja, kerutan kecil muncul di pelipisnya, berdiri, beranjak keluar. Pranaja dan Gatra buru-buru ikut keluar.


"Saya dengar tadi!"


Aksa menghampiri mereka, emosinya tersulut lagi."Kamu ya yang membuat Bumi celaka!" tangannya menyambar kerah baju hijau Aji."Dengar, ya, gara-gara kamu, saya punya salah sama Sinetra! Padahal dia enggak merasa bersalah malah mengganti rugi!"


Margana menyuruh Samudra untuk memanggil Erza di studio. Samudra menurut, segera pergi memanggilnya. Berlanjut, dia mencoba merelai keduanya. Pranaja dan Gatra pun sama. Orang-orang yang lewat berhenti menonton mereka termasuk Wanda dan Wulan, kakak Samudra.


"Ada apa sih?"


"Mungkin orang berkelahi. Eh, itu kan Aji sama—Aksa Maheswara?"


"Maaf," kata Aji.


Samudra kembali lagi bersama Erza di belakangnya. Erza bertanya kenapa mereka bisa berkelahi. Aksa emosi, melepaskan kerah baju Aji. Setelah mengetahui masalahnya, Erza meminta maaf seraya memberikan uang ganti rugi.


"Saya minta maaf, apa yang sudah dilakukan anak saya," katanya."Dan terimalah uang itu..."


"Yes, Sir," Aksa beranjak pergi diikuti Pranaja dan Gatra kembali ke kost bersamaan orang-orang yang menonton bubar kecuali Wanda dan Wulan. Erza menoleh dengan tatapan datarnya ke arah Aji, menepuk pundaknya pelan.


"Pokoknya kamu sudah minta maaf," kata Erza, menatap ke arah Wulan,"enggak apa-apa. Jangan beritahu mama sama ayahmu. Saya yang bertanggung jawab. Ayo," ajaknya kembali ke studio.


Di dalam kost, Aksa masih emosi, napasnya naik-turun.


"Sudah, Sa, jangan marah. Masalah sudah selesai... kan, sudah ganti rugi orangnya..." kata Pranaja."Oh ya, Tra, kami sekalian pulang. Terima kasih sudah membantu kami." dia meraih Bumi di meja.


Gatra mengangguk.


"Sama-sama."


Mereka keluar beranjak menuju mobil melayang. Wajah Aksa memerah saking emosinya. Masuk duluan tanpa sepatah kata pun. Disusul Pranaja, mobil melayang pun melayang melesat pulang. Tak seperti Aksa yang emosi, lain halnya Eka dan Sinetra, yang berwajah muram penuh penyesalan. Setengah jam pulang dari Kota Cyborc, dan sekarang berada di rumah. Mereka baru selesai mandi, berganti pakaian lalu beristirahat sebentar, melanjutkan aktivitas. Eka, menonton Harry Potter and Philshopher Stone di laptop Sinetra. Sinetra masih berbaring di ranjang memeluk guling menonton di balik punggung Eka. Dari luar kamar, tercium bau telur goreng dari dapur. Mama menyerukan kepada mereka untuk makan. Karena sehabis pulang tadi, mereka belum makan apa-apa bahkan bekal yang dibuatkan mama untuk sinetra tak tersentuh. Malahan, Shinta yang menghabiskannya. Untung mama tak marah. Eka mem-pause film-nya, beranjak.


"Ayo, makan," ajaknya,"mumpung Mama menggoreng telur."


Sinetra bangun dengan malas.


"Sudahlah, Sine, kamu kan sudah mengganti rugi ke Aksa. Pasti dia mengerti, kok. Aku tahu, kamu masih dilanda perasaan bersalah. Aku punya obatnya buat kamu..."


"Apa?"


"Nih, sudah ada," tunjuk Eka ke arah laptop. "Kalau kamu marah, sedih, kalau nonton ini marah atau sedihmu bakal hilang."


Mereka keluar dari kamar menuju dapur. Mama meletakkan telur goreng di meja. Telur goreng itu diberi bawang merah dan cabai dipotong kecil-kecil, makanya baunya sedap. Mereka menggeser kursi, duduk. Mereka menyantap telur itu. Sinetra, tak afdol tanpa kecap, menambahkannya di nasi dan telurnya.


"Oh ya, Le," kata mama, seperti biasanya mencuci piring.


"Apa?"


"Salah satu dari kamu nanti belikan Mama kopi ya, kopinys sudah habis. Mama kemarinnya lupa beli. Siapa tahu ada tamu ayah kalian datang ke rumah," suruhnya tanpa menoleh.


"Iya, kenapa enggak kakak saja yang beli? Lha, dia enggak ngapa-ngapain."


"Kakakmu sampai sore tadi habis pulang rapat."


Mereka diam melanjutkan makan. Selesai makan, salah satu dari mereka, keluar membeli kopi di toko di seberang rumah. Sinetra memanggil Eka, ikut untuk membeli sosis. Mereka berjalan melewati Ayyuni Gothic Lolita dan penggilangan padi. Menyeberang jalan. Sampai di depan toko kecil bercatkan warna kuning. Membeli sesuai apa yang dibeli. Seorang ibu-ibu penjaga toko itu yang berwajah mirip Doroles Umbridge, melayani mereka. Sempat bertanya siapa Eka. Mobil melayang warna putih berhenti di depan toko, pintu bergeser, memperlihatkan gadis berparaskan cantik, berambut panjang, memakai kacamata bulat mirip Harry Potter, dan berpenampilan modis seperti artis korea namun sederhana. Dia membeli botol air meneral berukuran kecil. Lantas tersenyum kecil ke arah mereka. Sinetra terpana akan senyumnya. Mengingatkannya kepada Jukyung, karakter True Beatifull, yang berwajah cantik saat make up tetapi aslinya berwajah jelek yang pernah dibacanya di Webtoon. Gadis itu memberikan uangnya kepada penjaga toko, menyapa mereka saat mereka keluar dari toko.


"Halo," sapanya ramah.


Mereka menoleh, salah tingkah, membalas,"Halo."


"Aku ke sini, baru dari rumah temanku. Temanku rumahnya daerah sini," jelasnya."Siapa nama kamu berdua?" tanyanya gantian, mengulurkan tangan.


Sinetra dan Eka berjabat tangan bergantian, membalasnya.


"Saya Sinetra."


"Eka."


"Maretha."


"Siapa teman kamu itu?"


"Handoko," jawab Maretha.


"Handoko? Handoko yang punya adik kembar itu?"


Maretha mengangguk.


"Kamu kenal sama Doko?"


"Kenal. Dia alumni mahasiswa Kampus USER, adik kembarnya saja kuliah di situ juga. Kamu kok bisa kenal Tata eh boleh ya, aku panggil kayak gitu?"


Maretha tersenyum.


"Boleh," katanya,"eh, ke sini


sebentar..." mengajak mereka menjauh dari toko. Di depan pagar yang ada garasi tertutup."karena kami mempunyai ke samaan, yang sebagian orang enggak ada yang punya," lanjutnya pelan.


"Maksudnya?" Eka bingung.


"Kami memiliki semacam kemampuan, bahkan orang-orang mengejek. Yah, kamu nanti tahu sendiri..."


Mereka bingung namun penasaran. Maretha mengganti topik."Terus rumah kamu berdua di mana?"


"Di sana," tunjuk Sinetra, di jalan yang bertuliskan "Gang Bambu." "Kalau kamu?"


"Rumahku di Kota Pan." Maretha memandang Sinetra tajam."Kamu ada masalah, ya?"


Sinetra terkejut.


"Kamu punya masalah sama temanmu? Soal robot?"


"Kok tahu?"


"Aku hanya menebak saja," katanya, merogoh saku celana, mengeluarkan handpone-nya."Nomor Whatsapp kamu berapa? Jadi, kita bisa kenalan lebih jauh. Kalau kalian belum percaya sama aku, kamu bisa tanyakan ke Handoko atau si


kembar."


Mereka berpandangan. Bisa-bisanya gadis di depan mereka itu menanyakan nomor whatssap mereka. Padahal mereka baru mengenalnya.


"Aku enggak bawa handpone."


"Aku hafal nomorku."


"Ya sudah. Salah satu saja dari kamu berdua."


Eka mengucapkan nomor handpone-nya di luar kepala memberitahu Maretha. Maretha mencatatnya. Dia menyimpannya di kontak dan nomor itu langsung muncul di Whatsapp-nya ber-profile kan gambar Luna Lovegood.


"Terima kasih," ucapnya, berpamitan segera. Dia berjalan ke arah mobil melayangnya, masuk lalu melesat pergi. Mereka berjalan pulang.


"Kamu tahu enggak, Sine?"


"Apa?"


"Tata. Dia gadis aneh."


"Aneh?"


"Iya. Aneh, entah kenapa aku penasaran sama dia. Minta nomor whatsapp segala."


"Aku juga, Ka, dibilang, dia sama kayak Handoko. Memangnya Handoko dulu kenapa?"


"Setahu kamu, Handoko itu anaknya kayak apa? Aku belum tahu Handoko sama dua adik kembarnya..."


"Kalau ketemu sama mereka, aku kenalin, deh, ke kamu. Handoko dulu, ya? Er, dia itu cenderung pendiam banget malah... beda sama adik kembarnya yang ceriwis kalau ngomong... anak daerah sini juga."


"Pendiam katamu?"


"Tapi, kalau sudah kenal, anaknya asyik. Dulu, dia itu suka menyendiri. Aku dengar dari salah satu teman sekelasnya, dia suka ngomong sendiri.Kalau ditanya, dia bilang enggak apa-apa," jelas Sinetra."Kalau di depanku biasa-biasa saja, tuh."


"Itu tambah aneh menurutku."


Pemuda yang dibicarakan mereka lewat begitu saja mengendarai sekuter melayang. Sinetra mengetahuinya segera memanggilnya. Pemuda itu langsung berhenti tak jauh dari rumah. Dia menoleh, "Ah, Bang Sinetra?"


Mereka menghampirinya.


"Kamu habis ke mana, Han?" Sinetra basa-basi.


"Aku baru beli tempe, Bang, Hendra sama Hendri kepingin makan tempe penyet," jawabnya."Abang habis ke mana?"


"Beli sosis sama kopi."


Eka memandangi Handoko. Handoko penasaran siapa yang bersama Sinetra. Pandangannya seperti mengenalnya.


"Han, ini Eka, saudaraku," Sinetra memperkenalkannya."Ini Handoko, Ka. Oh ya, Han, kamu kenal sama Tata?"


"Tata siapa, Bang? Aku enggak kenal," kata Handoko.


"Maksudku Maretha," Sinetra membenarkan.


"Cewek pakai kacamata kayak Harry Potter," imbuh Eka.


Handoko berpikir sebentar lantas teringat teman kerja sekaligus kakak seniornya di tempatnya bekerja.


"Oala, Kak Maretha itu, ya? Kok bisa kenal? Darimana?"


"Barusan tadi kenalan. Dia bilang, dia mirip denganmu... soal kemampuan."


Handoko diam.


"Begitu? Ya sudah, Bang. Aku pulang dulu. Nanti Hendra sama Hendri menunggu di rumah," katanya, menyalakan sekuternya lagi.


"Iya."


Handoko melesat lagi. Mereka memasuki pagar, berjalan menuju rumah dan masuk. Eka memberikan kopi yang dibelinya kepada mama sementara Sinetra masuk ke kamar lagi. Eka menyusul, melanjutkan menonton film.