Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 10: Come back



Setelah berubah, mereka mengeluarkan Golden Dagda, senapan berukuran besar, berbentuk mirip keris berwarna kuning mengkilat. Bagaikan sniper, Eka duduk di bawah sebagai kaki sementara Sinetra di atasnya sebagai pembidik.


"Bidik apa yang kamu lihat, Sine. Bidik dengan satu tembakan penuh!" seru Eka.


"A-apa?" kata Sinetra takut-takut.


"Kamu takut kan? Aku sama..."


"Ngapain ngeluarin senapan Ini?"


"Oh eh enggak kepikiran ngeluarin, kok."


Sinetra mendengus. Matanya melihat di balik teropong, melihat sesuatu tampak panjang dan bersisik hitam.


"Ah, ular!"


"Ular?"


"Iya, Ka!" Sinetra mencoba menekan pelatuk di bawahnya. Ujung senapan pelan-pelan membentuk pusaran. Pusaran itu tambah membesar lalu menembaknya dengan sekali tembakan.


Door!


Satu tembakan penuh melesat bagaikan Mantra Ekspelliarmus milik Harry, mengarah ke satu objek yang ditembaknya. Di sana mereka melihat kilatan cahaya di belakang Taksaka.


"Menghindar!" seru Margana, melepas kartu Mandura dari tiang spanduk yang menempel. Semua berada di atas atap spanduk menghindar. Nagagini melayang turun dengan cepat, mengeluarkan sihir tanah melindungi Yudha dan Aksa yang baru tiba, menyerupai bola raksasa.


Buum!


Tembakan Sinetra telak mengenai tubuh ular itu lalu terpental jatuh beberapa meter. Tembakan barusan mengakibatkan luka menganga lebar, gosong dan darah mengucur keluar. Taksaka meraung kesakitan. Berusaha bangkit.


"Si-siapa... siapa yang berani melukaiku..." katanya parau. Dengan susah payah bangun, dia berbalik merayap ke arah mereka.


Nagagini membuka pelindung bola tanahnya.


Sreet!


"Ada apa?"


Nagagini melihat pamannya merayap ke jalan menuju Sinetra dan Eka.


"Ada yang menembak," katanya.


"Apa?"


"Siapa?"


Yudha merasakan sesuatu.


"Sinetra dan Eka!"


Nagagini melesat terbang menyusul pamannya dan menggulungkan badan secepat mungkin, berubah wujud menjadi ular raksasa merayap. Taksaka mendekati mereka, badannya berputar, membelit tubuh mereka. Golden Dagdha terpental jauh.


"AAH!!"


"JADI KALIAN YANG MELUKAIKU!" raung Taksaka emosi. Mencengkeram mereka.


Mereka meraung kesakitan.


Nagagini menggigit badannya, berusaha menyelamatkan mereka.


"AAH!!"


"Kita dilindungi..."


Taksaka balik membalas, menggigit kepala. Mereka saling gigit, membuat cengkeraman Taksaka merenggang. Sinetra dan Eka terjatuh dan kembali ke wujud normal. Mereka merasakan Evolution Entity masing-masing bersinar amat terang—bahkan Yudha, Aksa dan Margana cs menyala bersama. Kembali ke wujud normal.


"I-ini?" kata Margana, menatap sinar merah di Evolution Entity-nya.


Mendadak terdengar suara lengkingan kencang dari atas langit diringi suara kepakan sayap. Langit seketika mendung. Suara lengkingan itu mendekat. Betapa kagetnya mereka, sosok makhluk raksasa menyerupai burung, berkulit putih, di kepalanya bermahkota emas, bertubuh seperti manusia, dua kakinya memiliki cakar tajam. Dua sayapnya emasnya berkilau indah, membuat mata mereka silau.


"Garuda!"


Garuda melayang ke arah dua ular yang saling gigit. Taksaka membanting Nagagini, menggigitnya dalam hingga tak sadar diri, menghilang. Garuda menunduk, melayang turun. Tangan besarnya terulur ke bawah menyambar Sinetra dan Eka, melindungi mereka. Melayang lagi ke atas, mengeluarkan sihir menyerupai cahaya. Sihir itu terbelah menjadi beberapa bagian mirip tombak cahaya mengelilinginya dan melesat ke bawah menghunjani Taksaka, jatuh menancap ke jalan membentuk sebuah benteng yang melingkari tubuhnya.


Sriing!


Jleeb!


Jleeb!


Ular itu bingung, berusaha membebaskan diri tetapi tidak bisa. Terdengar lagi lengkingan diiringi kepakan sayap meluncur di atas mereka. Sosok burung raksasa berbulu merah menyala bagaikan api mengeluarkan sihirnya—berupa bola merah-api mengelilinginya menghunjani Taksaka.


Wuuur!


Bwooosh!


"Aruna!"


Teriakan kesakitan menggelar dari Taksaka merasakan tubuhnya terbakar seketika lenyap disertai asap menyeruak. Dua burung raksasa itu melayang menghampiri mereka, menjejakkan kaki ke jalan.


Samudra, Aji, dan Aksa di tempatny masing-masing sadar.


"Ugh..."


"Apa yang terjadi?"


Mereka melihat sosok burung raksasa itu membelalakkan mata.


"I-itu?"


"Garuda... Aruna..."


"Beneran?"


Garuda mengulurkan tangan besarnya membuka genggamannya. Memperlihatkan Sinetra dan Eka.


"Kalian kembali!" seru Yudha senang.


"Kukira kalian dimakan sama ular itu!" seru Aksa.


"Ngawur kamu!" sungut Sinetra dan Eka, mengalihkan pandangan ke dua burung itu.


"Terima kasih," ucap mereka.


Garuda dan Aruna mengangguk lantas melebarkan sayap, terbang lagi ke atas lenyap diikuti sinar dari Evolution Entity yang ikut meredup.