Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 21: New Called



Yudha tiba-tiba merasakan sesuatu daya sihir. Raut wajahnya menjadi tegang.


"Ada apa, Master?" Hanoman menatap Yudha bingung.


"Kartunya... ada di sekitar daerah


sini... entah di mana..."


Hanoman penasaran.


"Kartu? Kalau begitu," katanya, berdiri."Ayo, segera kita cari. Nanti keburu musuh kalian, Pahlawan Aruna, datang mendahului kita," lanjutnya."Kamu tunggu di rumah saja, ya, Nila. Kami mau keluar dulu," peringatnya.


"Iya, Bang."


Di garasi, muncul lingkaran sihir. Muncul sosok pemuda memasuki ruangan. Tampak VITTO sudah pulang.


Hanoman melengok melihat sosok itu.


"VITTO? Eh, kamu sudah pulang


rupanya," katanya, dia melihat jeli pemuda itu."Kenapa dengan celana sama kakimu itu kok luka terbakar?"


"Ini ulah Bang Rahwana," jawabnya.


Yudha tersentak saat melihat pemuda itu. Matanya tidak berkedip sekalipun sama seperti Margana, mukanya horor. Bukan hantu yang dilihat, melainkan seorang pemuda.


"Dia punya daya sihir?


Daya sihirnya... kuat banget..." gumamnya.


"Dasar Rahwana! Pasti dia menggunakan sihir Bola Api-nya! Apakah dia kalah?"


"Yah, seperti Abang tahu," VITTO mengetahui sosok Sinetra dan Eka yang meminum lemon tea buatan Hanoman."Halo, Bang, kita ketemu lagi! Kok ke sini?"


Sinetra dan Eka berhenti menyeruput, meletakkan cangkirnya ke meja, terkejut.


"VITTO?! Kamu di sini?"


"Iya, di sini rumahku."


"Berarti, adik kecil yang dimaksud..."


"Ya, dia adik saya. Lebih tepatnya adik angkat kami," kata Hanoman memberitahu."Kamu, cepat ganti baju. Nanti kalau mama pulang dan sampai tahu, aku sama Hanila yang kena omel," suruh Hanoman kepada adik angkatnya.


VITTO mengangguk.


"Maaf ya, Bang, aku masuk dulu," katanya kepada Sinetra dan Eka. Dia beranjak menaiki tangga, berbelok masuk ke kamar.


Mereka merogoh saku celana. Menampilkan Evolution Entity-nya.


"Sebentar, kenapa Evolution Entity kami enggak menyala?" tanya Eka.


Aksa dan Yudha merogoh saku celana, melihat benda di tangan mereka.


"Punya kami juga."


Mereka bingung kenapa Evolution Entity masing-masing sama sekali tidak menyala. Padahal, jika ada kartu yang muncul, benda itu menyala tiba-tiba.


"Itu karena Evolution Entity kalian sama sekali enggak berpengaruh di dunia kami," tutur Hanila.


Mereka terkejut mendengar penuturan Hanila.


"Apa?"


"Jangan bohong!"


"Bagaimana kami bisa berubah wujud menjadi Pahlawan Garuda?" kata Aksa.


"Kan, kalau benda yang kalian bawa itu, juga ada daya sihirnya... seperti cerita Bang Hanoman barusan," kata Hanila."Kalian memang enggak bisa berubah, tetapi bisa mengeluarkan senjata maupun sihir..."


"Syukur, deh," kata Aksa."Tunggu apalagi? Kita cari kartunya sekarang!" dia berdiri.


Pintu kamar terbuka. VITTO keluar, menuruni tangga, sudah mengganti pakaiannya dengan kaos lengan panjang, berwarna merah, pinggiran lengannya abu-abu. Bergaris merah bertuliskan huruf N besar bertuliskan NEW YORK di sisi kirinya sementara di sisi kanannya bertuliskan DENIM. Dan di tengahnya terdapat lingkaran bertuliskan ATHLETIC DEPARTEMENT N. Y. C dan di tengahnya lagi bertuliskan SINCE 98. Bawahannya memakai celana panjang polos berwarna biru tua. Berjalan ke arah ruang tamu.


"Ayo," ajak Hanoman.


Dia melihat adiknya sudah mengganti pakaian."Kamu jaga rumah sama Bang Hanila. Nanti kalau mama pulang, kasih tahu kalau Abang pergi membantu Pahlawan Garuda," peringatnya.


"Iya."


Mereka pun beranjak dari ruang tamu menuju garasi. Yudha, tetap tinggal masih memperhatikan pemuda itu. Acara Koki Mayapada telah habis, bergantikan iklan loction body yang diperankan oleh model cantik, dengan pakaian batik bunga-bunga. Model itu diperankan oleh Rara Jonggrang. Hanila meraih remote, melihat Yudha masih berada di sofa.


"Lho, enggak ikut sama Bang Hanoman sama yang lain?"


Yudha berhenti memperhatikan VITTO dan memandang Hanila.


"Enggak. Nanti saja. Saya boleh enggak ngomong sama kamu—VITTO?"


"Boleh."


VITTO berjalan ke arah sofa, duduk di samping Yudha.


"Mau ngomong apa, Bang?"


Yudha masih merasakan daya sihir di diri pemuda itu.


"Kamu punya daya sihir kuat banget. Aku masih merasakannya..."


"Abang bisa ngerasain?"


"Bisa," kata Yudha."Kamu kok bisa punya daya sihir kuat?"


"Aku punya daya sihir kuat itu latihan dan dulu pernah sekolah di sekolah sihir," cerita VITTO."Aku belajar juga menggunakan daya sihir di sana."


"Begitu. Abangmu cerita, kalau mengontrak seseorang, seseorang dikontrak itu harus memiliki daya sihir lebih... kamu punya daya sihir lebih itu..."


"Betul," kata Hanila.


Yudha melanjutkan,"Kalau aku mengontrakmu, seperti Abangmu, kamu mau?" tawarnya hati-hati.


VITTO ternganga mendengarnya.


"A-aku... dikontrak?"


"Saya enggak memaksa. Hanya menawari saja."


VITTO diam, tampak berpikir. Dia pun mengangguk mantap.


"Aku mau! Kalau Abang Hanoman menjadi Called, aku juga!" serunya.


Hanila menggelengkan kepala mendengar persetujuan adiknya.


"VITTO, VITTO... selalu saja, kemauanmu itu harus sama persis seperti Bang Hanoman..."


Sewaktu dari kecil, dia diadopsi oleh Anjani, mama Hanoman dan Hanila, di salah satu panti asuhan di Kota Hastina. Dulu, dia diadopsi semenjak masih bayi. Dia dibuang oleh kedua orangtuanya karena hasil hubungan gelap dan tidak mau menerima atau merawatnya sebagai anak dan pihak panti menemukannya di depan pintu. Di sebuah kerdus, tubuhnya dibalut kain tebal agar tidak kedinginan dalam keadaan menangis. Di balik masa lalunya yang kelam itu. Sifatnya yang sama sekali tidak berubah hingga sekarang ini menginjak umur delapan belas tahun, selalu mengikuti apa yang ada dari diri abang angkat pertama itu. Selera pakaian, mainan, kesukaan harus seperti Hanoman. Beda dengan abang angkatnya kedua, Hanila, dia tidak terlalu dekat. Malahan, tidak pernah akur, walaupun hanya hal sepele. Seperti sekarang. Pemuda itu ditawari Yudha untuk mengontraknya.


VITTO menyengir lebar.


"Hehehe. Enggak apa-apa kan, Bang, tapi jangan kasih tahu sama mama, ya..."


"Kuberi tahu mama nanti. Kalau dia pulang," kata Hanila mengancam. Padahal hanya bercanda.


"Iih, Abang Nila!" VITTO pipinya langsung cemberut.


"Bener ini! Kalau kamu di kontrak sama Pahlawan Garuda, nama kamu tadi Yudha, kan?" Hanila bertanya kepada Yudha.


"Ya."


"Kalau kamu, TO, dikontrak seperti Abang Hanoman, kamu harus siap membantu dan melawan Called dari musuhnya, Pahlawan Aruna, terutama Rahwana yang tempramental itu," lanjutnya."Betul, kan, Yudha Wijaya?"


"Betul. Namaku Made Yudha tahu," kata Yudha membenarkan.


Daritadi aku kok dipanggil Yudha Wijaya, sih? Batinnya sebal.


VITTO cemberut.


"Terus," dia menatap ke arah Yudha."Aku enggak jadi dikontrak, nih?"


"Jadi, kok! Jadi!" kata Yudha buru-buru. Dia menutup kedua matanya, wajahnya berubah serius. Dia seakan di kegelapan total, dia merasakan daya sihir membentuk dua daya sihir mirip bola jiwa. Dua bola jiwa sihir itu keduanya sama-sama berukuran besar. VITTO menatapnya ikut menutup kedua matanya. Sontak, muncul di telapak kaki keduanya sebuah lingkaran sihir besar berwarna kuning bersinar terang. Hanila, duduk di seberang mereka terkejut sekaligus kagum melihat apa yang dilakukan oleh mereka.


"Mereka melakukannya..." gumamnya.


Mata Yudha masih tertutup. Dua jiwa sihir itu perlahan mendekat, lalu menyatu menjadi satu menjadi bola jiwa sihir dua lebih besar. Bersinar lebih terang. Dia membuka matanya sambil bergumam,"Contract!"


Setelah menggumamkan kata itu, dia membuka matanya. Sinar di antara mereka tambah bersinar—membuat mata Hanila silau. Dia menutup matanya dengan punggung tangan. Sinar itu diiringi bunyi door hebat hingga Hanila terdorong menjauh dari sofa, badannya menubruk dinding.


Bruaak!


Sinar yang berkilauan itu perlahan menghilang bersamaan dengan lingkaran sihir di bawah kaki mereka. VITTO membuka matanya.


"Su-sudah?" katanya, melihat Yudha yang sudah kelelahan. Dahinya penuh dengan peluh. Dia membantunya duduk."Abang baik-baik saja?"


Yudha menjawabnya dengan anggukkan pelan.


"Bagaimana rasanya saat dikontrak?" tanya Yudha.


"Aku merasa ada yang berbeda,


kayak ada yang memegang kendali tubuhku... maksudku, daya sihirku..."


"Aduh, aduh..." sahut suara Hanila kesakitan. Mengelus belakang punggungnya.


VITTO menoleh ke arah abangnya,"Abang enggak apa-apa?"


"Enggak. Tadi itu hebat banget! Aku baru pertama kali melihat cara mengontrak Called..." dia berdiri. Berjalan menghampiri sofa, mengembalikan sofa berdiri seperti semula.


"VITTO."


"Ya?"


"Tolong kamu pergi menyusul teman-temanku, ya... bantu mereka..." pinta Yudha pelan.


VITTO berdiri, mengangguk.


"Aku pergi dulu ya!" katanya berpamitan beranjak ke ruang tamu menuju garasi. Dia memakai sandal berwarna hitam, keluar melewati pagar dan berlari melewati beberapa blok. Melewati lapangan sepak bola. Beberapa pemuda Kera-Manusia seumurannya melihatnya. Salah satunya memanggil,"TO, kebetulan! Kami kekurangan pemain, nih! Kamu jadi stiker ya—kamu mau ke mana?"


"Kapan-kapan! Aku mau menyusul Abang!" jawabnya tanpa menoleh sekalipun. Beberapa lesung melayang dan pelepah pisang melayang ke arahnya. Dia dengan cepat melompat di atasnya.


Hup!


Dia menjejakkan kaki ke jalan. Berlari lagi melewati pos jaga, keluar dari area apartemen. Yang di depannya berplatkan "KISKENDA APARTEMENT". Dia berbelok ke jalan raya.


"Mana bisa terkejar kalau begini," gumamnya."Aku pakai itu saja!" sekelebat dua kakinya muncul percikan api, bahkan percikan api itu mulai membesar. Dua kakinya tidak lagi berlari melainkan meluncur secepat kilat.


Wuush!


Margana cs datang dan muncul dari lingkaran sihir. Mereka terkejut di depan mereka, Rahwana sudah menunggu mereka. Dia memakai kaos berlengan pendek, berwarna merah dan memakai celana panjang katun berwarna hitam, dan memakai sandal kulit berwarna cokelat. Mereka sekarang berada di Dimensi Penghubung.


"Rahwana?" kata Dewa.


"Ya, ini saya, Master," jawabnya.


Mereka memandangi tempat berwarna biru tua dan terlihat mirip dinding-dinding dan sekelilinganya berkabut tebal.


"Kenapa kami ada di sini? Tempat apa ini sebenarnya?" tanya Samudra.


"Ini Dimensi Penghubung."


"Dimensi Penghubung?"


"Sekarang, mari ikut saya ke jalan situ," tunjuknya ke arah dinding yang tertutupi kabut. Yang dinding itu dimasuki Hanoman dan yang lainnya beberapa menit yang lalu. Mereka mengikuti pria tinggi gagah itu.Memasuki dinding secara bergantian. Dinding itu menembus sebuah dunia—kota yang padat penduduk. Rahwana mengajak mereka menyusuri kota itu.


"Rumah saya enggak jauh dari sini," kata Rahwana memberitahu.


Mereka berjalan ke jalan di pinggir gang besar. Gang besar itu berplatkan tulisan "PERUMNAS ALENGKA".


"Perumnas Alengka?"


"Di sini?"


"Iya, kota yang saya huni ini bernama Kota Alengka. Tetapi dunia yang melahirkan saya bernama


Mayapada," jelas Rahwana.


Mereka masuk ke Perumnas. Saat memasuki, Margana menghentikan langkahnya. Dia merasakan sesuatu. Teman-temannya dan Rahwana ikut menghentikan langkah, menoleh,"Ada apa, Gana?" Dewa menatap wajah pemuda di belakangnya itu.


"Kartu..."


"Kartunya ada di sekitar sini?"


Margana mengangguk.


"Kartu Hastina..." katanya.


"Tunggu sebentar!" seru Margana berlari, tangannya merogoh saku celana jeans birunya. Menggenggam benda hitam itu."Kenapa Evolution Entity-ku enggak menyala?"


"Apa?"


Dewa, Aji, dan Samudra ikut merogoh saku celana masing-masing. Menggenggam Evolution Entity. Benda itu sama sekali tidak menyala seperti biasanya.


"Iya, kenapa ya? Biasanya menyala kok ini enggak?" kata Aji.


Rahwana berada di depan. Melihat satu sosok yang amat dikenalnya, sekaligus amat dibencinya. Bersama rombongannya.


"HANOMAN?!" geramnya, mempercepat larinya kemudian menghentikannya ke arah Kera-Manusia itu.


Hanoman mengetahui sosok itu. Menghentikan lompatnya melewati rambu pembatas lalu lintas.


"Aku males ketemu sama dia," gumamnya.


Rombongannya ikut berhenti. Sinetra mendongak, melihat sesuatu tampak menyala di atas jembatan khusus penjalan kaki tepat di atas kepala mereka. Tangannya menunjuk,"Itu kartunya!" katanya.


Aksa, Eka, dan Margana cs mendongak. Melihat sesuatu yang ditunjuk oleh Sinetra.


"Bener!"


Eka diam-diam berbalik, berpura-pura meninggalkan mereka.


"Hanoman," geram Rahwana."Kalau kamu menginginkan kartu itu buat Pahlawan Garuda di belakangmu, akan aku berikan."


"Rahwana! Kamu itu ngo—" Dewa memperingatkan namun Rahwana menyuruhnya untuk diam.


"Oh, betulkah kartu itu buat teman-temanku?" Hanoman senang.


"Akan aku berikan kartu Hastina itu padamu tetapi kamu harus melawanku dulu! Apakah kamu sanggup menerima tantanganku ini?" tantangnya tidak sabar."Dan, jangan panggil BOCAH HITAM BERTAHI LALAT itu seperti kemarin!"


"Maksud kamu VITTO? Yah, dia memang punya tahi lalat. Kalau enggak salah di pipi kirinya, di hidung bawahnya sama di dahi kirinya yang tertu—"


"DIAM! Mau enggak, kamu melawanku?!" geram Rahwana.


Hanoman diam. Sebenarnya dia malas meladeni si tampramental di hadapannya kini. Mengembuskan napas,"Rahwana, teman sesama artisku yang baik, aku bukannya enggak mau, tapi aku sangat malas melakukannya... seperti perkataanku di Wedhi dulu," katanya."Sudahlah enggak usah berantem... aku tahu, aku salah karena gara-gara rantingku naik sewaktu memerankan peran sebagai office boy di serial komedi "PEMBANTU DI KANTOR HASTINA". Dan itu membuatmu marah... aku minta maaf..."


Rahwana diam. Dia masih geram.


"Gara-gara peranmu itu. Kamu dibela,kan, sama Sita?! Memang dari awal kamu itu salah! Kenapa orang salah sepertimu harus dibela, hah?!" dia mengeluarkan pedang dari tangannya melompat ke atas, melayangkan pedangnya ke arah Hanoman.


"Rahwana!"


Hanoman dengan tatapan datarnya menangkis pedang itu dengan tangannya cepat. Rahwana melayangkannya kembali, Kera-Manusia itu menangkis dengan giginya hingga patah menjadi dua.


Praak!


Rahwana melompat mundur. Pedangnya telah tumpul. Menjadi separo. Pedang itu menghilang dari tangannya.


"Aku kan sudah minta maaf! Kenapa kamu masih enggak terima?"


"Huh!"


"Kupukul kamu!" ancam Hanoman.


Wuush!


VITTO melesat ke arah mereka. Dia melompat ke atas melewati mereka, mengayunkan kaki kanan yang mengeluarkan api di atas kepala mereka.


"VITTO?!"


Kakinya mengenai kepala Rahwana dengan sekali hentakan. Hingga seluruh tubuhnya jatuh ke jalan dan terbakar. Menimbulkan retakan yang seukuran tubuhnya.


"Fire Kick!"


Bruuaak!


Dia menjejakkan kakinya ke jalan. Tangan kanannya sebagai pijakan, badannya memutar menghujamkan api membentuk lingkaran api ke arah Margana cs.


Wuuur!


Margana cs buru-buru melompat menghindar. Menjejakkan kaki masing-masing.


"Dia..."


"Yang kemarin menolong Sena!"


"Sena? Ada apa dengan dia?" tanya Dewa.


"Dia yang menolong Sena dari kebakaran kemarin," Margana memberitahu.


"Kalau kebakaran kemarin, berarti..." Dewa menatap Rahwana yang pingsan. Tubuhnya terbakar."Rahwana yang kusuruh... jadi lawannya dia?"


"Sudah Abang suruh kan, kamu jagain rumah! Ngapain kamu ke sini segala?"


"Di rumah ada Bang Nila," katanya.


"Nanti kalau kamu bertarung lagi, kamu bisa kena marah mama nanti. Cukup, yang kemarin itu!"


VITTO berdiri. Menghampiri abangnya. Tubuhnya digoyang-goyang mirip bocah kecil yang merengek kepada mamanya.


"Aaaa! Abaang, jangan begitu dong! Abang kayak Bang Nila, deh! Main ancam segala..." rengeknya."Aku kan pengen jadi Called kayak Abang... jangan bilang ke mama..."


"Menjadi Called? Enggak, enggak! Aku enggak akan membiarkanmu menjadi Called! Malah bikin masalah! Kalau mama sampai tahu... aduh, aku maupun Nila dipecat jadi anaknya!"


"Kalau terlanjur menjadi Called, gimana?" katanya mengganti goyangannya mirip goyangan dangdut.


"Terlanjur menjadi Called kamu bilang? Mau bagaimana lagi kalau sudah seperti itu—" ekspresi Hanoman berubah serius."—jangan bilang kamu menjadi Called?"


"Aku cuma tanya."


"Bener kamu menjadi Called, TO?" Hanoman memastikan.


Melihat ekspresi abangnya, dia menghentikan goyangan dangdutnya.


"Eem, ya begitu..." akunya akhirnya menundukkan kepala.


"Begitu," kata Hanoman. Ekspresi wajahnya kembali seperti sebelumnya. Matanya melotot, tidak percaya."Siapa yang menyuruhmu menjadi Called? Hanila?"


Dia mendongak. Tertegun mengetahui reaksi abangnya. Bukan marah, melainkan sebaliknya.


"Bilang, TO, siapa yang menyuruhmu menjadi Called!" ulang Hanoman memegang kedua pundaknya,menggoyang-goyangkannya heboh.


"Itu..."


"Hanila, ya? Huh, Hanilaaaa!" pekiknya.


"Bang, bukan Bang Nila yang nyuruh, tapi Abang yang mirip kayak Bang Arjuna yang jadi El, pemainnya di sinetron Ikatan Paksa."


"Master? Dia yang melakukannya? Masteeeer!"


"Berisik tahu!" kata Margana, mendongak ke arah jembatan."Eh, dia! Dia mengambil kartunya!"


Aksa dan Sinetra mendongak, Hanoman berhenti berteriak dan VITTO mendongak. Sinetra segera berlari duluan menyusul saudaranya. Ia disusul oleh Aji dan Margana. Eka yang sudah memanjat sambil berpegangan erat pada salah satu pagar agar tidak jatuh. Satu tangannya terulur meraih kartu Hastina yang menempel pada bawah jembatan. Orang-orang dibawahnya menghentikan lesung melayang dan pelepah daun pisang. Bunyi klason bertumbuk saling bersahutan. Ada pengendara daun pelepah kelapa yang memotretnya dari bawah. Sinetra menyeberang jalan melewati beberapa pengendara. Menaiki jembatan menyusulnya. Eka berhasil meraih kartu itu, memasukkannya ke saku celana. Melompat ke atas jembatan.


Hup!


"Eka!" Sinetra berlari menghampirinya."Kamu enggak apa-apa?"


"Enggak." ia mengusap peluh di dahinya."Aku mendapatkan kartunya!" katanya senang.


Sinetra ikut merasakan senang.


"Bagus! Ayo, kita segera pergi dari si—" menoleh, ternyata Aji dan Margana sudah menyusul."Kita kabur dari sini!"


"Oi, tunggu!"


Mereka saling mengejar. Sinetra dan Eka menuruni tangga. Sinetra berhenti berlari.


"Kenapa berhenti?"


"Capeeek!" napas Sinetra terengah-engah.


"Apa? Harry Potter enggak boleh capek!" kata Eka menarik tangannya paksa. Mereka berlari lagi. Aji dan Margana di belakang masih mengejar. Aji merentangkan tangan ke depan. Mengeluarkan sihir.


"Throw!" ucapnya.


Seketika sihirnya melesat ke arah mereka. Mengenai mereka hingga melesat menjauh dari tempat itu sejauh berkilometer dari jaraknya kota. Mereka jatuh ke dalam hutan lebat, gelap dan berkabut tebal.


"Aaaah!!"


Bruuk!


Mereka terjatuh dengan posisi terlentang secara berpisah. Tubuh Eka menabrak pohon besar. Mereka merintih kesakitan. Sinetra membuka matanya. Kacamata miring.


"Ugh... ini di mana?"


Eka membuka matanya. Ia bangun perlahan, duduk menyandarkan di pohon. Memandangi sekeliling.


"Enggak ada siapa-siapa di sini?" katanya.


Tanpa disadari mereka, di bawah tanah, di bawah Eka, muncul sosok dua tangan panjang, jari-jarinya mempunyai cakar tajam terjulur membekap pinggangnya erat.


Greeb!


Eka menunduk, kaget melihat dua tangan itu. Berlanjut memperlihatkan kepala dan matanya yang merah di belakangnya.


"Kena!" serunya, diiringi gelegar tawa yang menyeramkan.


Eka mencoba menggerakkan badan, membebaskan diri dari cengkraman makhluk yang tidak dikenalnya.


"Lepaskan!"


"Eka!"


"Hahaha! Percuma kamu melepaskan diri! Sebentar lagi kawananku


akan segera kemari, memakanmu—memakan kalian!"


Sesuai perkataannya, muncul dari tanah beberapa makhluk yang mirip dengannya bahkan lebih. Tubuh mereka kurus tinggi, berkulit cokelat tua, rambutnya menjutai panjang hingga ke punggung, berwajah jelek kerempeng, mata mereka besar merah menyala, bertelinga lancip, mempunyai gigi tajam setajam pisau dan cakar sama tajamnya.


Sinetra bangun, memperbaiki kacamatanya yang miring. Memandang kawanan makhluk-makhluk itu muncul dari lubang. Mereka semua berdesis. Ada bau tidak enak menguar di tubuh mereka. Bau mereka anyir. Ia menutup hidungnya segera.


Bau apa ini? Baunya sangat enggak enak! Baunya amis banget! Seperti bau... bau amis darah! Batinnya.


Eka berusaha melepaskan diri tetapi sia-sia saja. Cengkraman di tubuhnya sangat kuat.


"Lepaskan! Ugh!" ia membekap hidungnya."Bau amis!"


Makhluk itu menyeringai. Menyuruh kawanannya untuk menyerang Sinetra. Seluruh makhluk itu menurut, meloncat dari lubang masing-masing yang dibuat mereka. Menyerang Sinetra berada di tengah-tengah mereka. Ia seakan mau muntah mencium bau mereka.


"Aku enggak boleh menyerah cuma bau ini! Aku harus menyelamatkan Eka! Tapi... Evolution Entity-ku enggak menyala! Apa yang harus aku lakukan?! Berpikir, berpikir Sinetra... kamu akan di serang oleh mereka!" gumamnya.


Ia langsung teringat perkataan Hanila yang lalu di apartement.


Kalian memang enggak bisa berubah, tetapi bisa mengeluarkan senjata dan sihir...


"Oh, iya! Aku harus mengeluarkan senjata..."


Ia melepas bekapan tangannya di hidung. Mengeluarkan senjata berupa pedang. Mengarahkannya ke depan, memegang erat ujung pedangnya.


"Kalau musuhnya sebanyak ini... aku akan pakai sihir itu!"


Ia mulai berkonsentrasi.


Kawanan makhluk itu menyerang ke arahnya secara brutal. Memperlihatkan gigi-gigi mereka serta kuku tajam mereka. Menyerang ke segala arah.


"Sekarang! Magic Big light of


Occlussion!"


Ia mengayunkan pedangnya yang menyala terang. Sinar dari pedangnya itu membentuk gelombang cahaya yang amat besar hingga melindungi sang pemilik. Kawanan makhluk itu tertebas sihirnya sekaligus. Ia memegang pedangnya erat sekali, tangannya tidak kuat menahan pedangnya karena kawanan itu ribuan! Tetapi ia tetap dalam posisinya yang miring. Tangannya kebas. Seluruh tubuhnya sakit.


"Ugh! Berat sekali! Kalau aku tetap menahannya, aku enggak bisa menyelamatkan Eka kalau gini! Kalau begitu..." ia mencoba mendorong pedangnya ke depan. Mendorong ke arah kawanan makhluk-makhluk itu.


"HEYAAAAAH...!!"


Makhluk-makhluk itu berteriak kesakitan. Tubuhnya tertebas hingga habis tidak tersisa. Baunya ikut lenyap. Sihir yang dihasilkan dari pedangnya lambat laun menghilang. Ia jatuh, tetapi berhasil menompang tubuhnya. Eka memekik lantang karena makhluk yang membekap punggungnya ngotot tidak mau melepaskannya.


"Aku enggak akan melepaskanmu bocah! Walaupun kawananku sudah dikalahkan! Bersiaplah menjadi santapanku!" makhluk itu menyeret tubuh Eka ke lubangnya.


Sinetra berbalik, berlari ke arah mereka. Pedangnya diayunkan ke bawah ke arah makhluk itu.


Sreet!


Bruaak!


Makhluk itu melepaskan cengkeramannya. Makhluk itu masuk kembali ke lubangnya.


"Eh? Dia masuk ke lubang!" seru Sinetra.