
Sinetra mengajak Bumi besoknya. Bumi langsung banyak disukai oleh para mahasiswi di beberapa jurusan selain jurusan Desain Grafis. Tak hanya mahasiswi tetapi para dosen—terutama dosen wanita yang memperebutkannya hingga membuat salah satu dosen, Kamal, dosen Bahasa Inggris, yang terkenal tampan kalah pamor membuat beliau sebal. Bumi merasa senang dan lupa dengan masalah kemarin. Bukan hanya di kampus, di rumah pun sama. Saat Sinetra memperkenalkannya di depan keluarganya, Mama dan Shinta tampak antusias. Sementara Ayah cuek dan Molly melihatnya tak suka dengan mendesis tampak diacuhkan. Sinetra juga ikut-ikutan terkenal dan banyak didekati para mahasiswi
gara-gara Bumi. Para mahasiswi bertanya kepadanya tentang Bumi.
"Siapa namanya?"
"Iih, lucunyaaa!"
"Gemesin, deh."
"Namanya Bumi? Hai, Bumi!"
"Cubit boleh?"
Indra di sebelahnya melihatnya iri. Padahal kalau dilihat-lihat Sinetra memiliki wajah biasa-biasa saja. Si kembar Hendra, ikut mencubit pipi mungil Bumi. Seperti Eka, dia suka sekali yang berbau lucu dan imut. Selesai mencubit, mengelus, dan berebut dengan Bumi, para mahasiswi keluar dari ruangan lab. Sebelum pulang, Hendra memberikan sebungkus cokelat kepada Bumi. Bumi menerimanya dengan senang. Hendra dan Hendri keluar dari lab menuju ruang 4, memulai kegiatan belajar.
"Sudah?" kata Indra mencari buku absen di tumpukan map-map berisi tugas Nirmana.
"Sudah apanya, Bang?" Sinetra membuka ujung pembungkus cokelat diberikannya kepada Bumi."Ini"
Bumi menerima cokelat di tangannya, memakannya. Dua pipinya memerah senang karena bisa makan cokelat biarpun bukan cokelat mahal yang biasa dibelikan Aksa seperti biasa.
"Sudah membuat robot ini terkenal," Indra melihat Bumi memakan cokelat."Kamu beli robot ini kemarin?"
"Enggak. Robot ini punya teman
saya."
"Terus kenapa robot ini ada sama kamu?"
Sinetra mengendikan bahu.
"Enggak tahu."
"Nyasar kali, Sinetra. Oh ya, saya pernah baca artikel "Robot In Cyborc World Company" di internet, harga robot kayak dia mahal lho sekitar lima ratus ribu. Juga ada versi warna hitamnya. Yang membuatnya adalah seorang ilmuwan asing bernama Lucas Grissham tetapi dia terkenal dengan nama Pranaja Maheswara," jelas Indra.
Sinetra menoleh, Bumi berhenti memakan cokelatnya.
"Eh, namanya Pranaja Maheswara?"
"Iya."
Sinetra teringat pria yang bersama Aksa waktu di rumah Yamamoto Bersaudari. Ia menoleh ke Bumi.
"Dia abang Aksa, kan?"
Wajah Bumi muram.
"Eh, maaf, Bum. Aku enggak bermaksud menyinggung masalahmu. Aku cuma bertanya," kata Sinetra mengelus kepalanya.
Bumi kepalanya dielus, merasa nyaman. Dua matanya terpejam.
"Sebentar, robot ini punya dia? Maksud saya Aksa Maheswara, vokalis band cadas apa itu... Har, Harote Band?" Indra kaget.
"Hard Core Band!" Sinetra membenarkan. "Begitu deh, Bang."
Indra menarik buku absen, di antara tumpukan map-map. Di berdiri beranjak dari ruangan.
"Saya mau mengajar dulu, ya—aduh!" tangannya menyenggol mouse. Mouse terpencet ke salah satu lagu di Youtube—ke lagu milik Hard Core Band, "Choiser." Lagu mulai terdengar, muncul sesosok wajah pemuda di video itu. Bumi yang kenal suara dan wajahnya mendelik ke komputer Indra. Cokelat di tangannya jatuh. Wajahnya berubah emosi lantas terbang ke komputer Indra. Menginjak-injak keyboard, menendang-nendang mouse bahkan memukul-mukul kasar monitor. Sinetra melihatnya cepat-cepat menghentikan aksi yang dilakukan Bumi.
"Hentikan!" serunya, badannya di selonjorkan ke depan, dua tangannya meraih Bumi, memegangnya kuat.
"OH, TIDAAAK! KOMPUTERKUUUU!" jerit Indra berusaha menyelamatkan komputernya.
Di kedua tangan Sinetra Bumi meronta-ronta hebat. Ia berusaha menenangkannya. Mengelus kepalanya kembali.
"Tenanglah!"
Beruntung, komputernya masih berfungsi dengan baik. Sambil mengelus, Sinetra mengerti kenapa Bumi emosi.
"Kamu marahan sama Aksa?"
Bumi masih emosi mengangguk.
"Soal apa?"
Bumi menunjuk cokelat yang terjatuh tadi. Remahnya berserakan di meja Sinetra.
"Cokelat?"
"Kamu mengerti, ya, maksud robot ini? Saya tadi enggak tahu kenapa dia emosi begitu... lucu tapi pemarah..."
Bumi menoleh ke arah Indra masih emosi, terbang ke arahnya, memukul-mukul pipi dan kepalanya tanpa ampun. Sinetra meraih Bumi lagi, menghentikan aksinya kedua kali. Indra mengelus pipi dan kepalanya, mengaduh kesakitan.
Di dalam mobil melayang, Pranaja dan Aksa pulang dari rumah Yamamoto Bersaudari mencari Bumi namun tak ada. Mobil melayang menyusuri jalan menuju Kost Pria. Pranaja menyalip pelan mobil-mobil melayang di depannya. Aksa menatap jendela di sampingnya. Raut mukanya masih sama seperti kemarin bahkan dikedua pelupuk matanya sembab bagaikan kebahagiaannya telah diisap Dementor. Waktu ke rumah Yamamoto Bersaudari, dua saudari itu kaget melihat Aksa. Dhea, menawarkan kompres es kepadanya untuk menghilangkan sembab di matanya. Aksa menolak. Setelahnya ke Studio Cyborc, teman-teman dan manajer kaget dan di kantor pun sama, Bumi tak ada. Mobil melayang mengarah ke jalan menuju Kost Pria. Membelok ke sebuah bercatkan kuning sisi areanya terdapat bunga-bunga yang tergantung dan ada dua kursi dan satu meja di terasnya dan berpagar hitam. Pranaja memakirnya di depan pagar. Pintu bergeser otomatis, mereka turun. Berjalan masuk ke teras. Pranaja mengetuk pintu sembari mengucapkan kata permisi.
"Iya, sebentar," kata suara dari dalam, langkahnya menghampiri pintu, membukanya."Eh, Pranaja, Aksa?" kata Gatra."Ada apa?" menatap mereka terutama Aksa dengan mata sembab, tak seperti biasanya.
"Bumi ada di sini, Gat?" tanya Pranaja.
"Bumi? Dia enggak ada di sini. Memangnya ada apa?"
"Bumi hilang."
"Hilang? Sudah kalian cari di Studio Cyborc? Rumah temanmu? Di kantor?"
"Sudah tadi."
"Kok bisa?"
"Berkelahi. Kamu bisa bantu kami nyari dia?"
"Hmm, kalau begitu buat lagi sudah."
"Apanya?" Aksa mendongak, menatap Gatra.
"Bumi," kata Gatra.
Aksa mengasurkan wajah, memeluk erat pinggang Pranaja. Menangis. Betapa berharganya Bumi bagi dirinya karena sudah dianggapnya sebagai keluarga.
"Gatra!" seru Pranaja.
Gatra menyengir,"Maaf, maaf, aku hanya bercanda... sudah jangan menangis... kubantu mencari... tapi Yudha belum pulang kerja. Nanti kutanyakan ke dia soal Bumi sama anak kost lainnya. Mereka juga pada kerja."
Aksa terisak dalam tangis, dua matanya memerah dan tambah sembab. Menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"T-terima kasih..." ucapnya lirih, melepas penggangnya di pinggang Pranaja.
Gatra mengajaknya ke rumah Mirna, menanyakan keberadaan Bumi. Mereka berpapasan dengan tiga anak perempuan yang bermain loncat kaki.
"Enggak tahu, Oom," kata mereka polos.
Aksa menatap mereka tersenyum.
"Enggak apa-apa, kok," katanya parau, mengelus rambut mereka satu per satu. Mereka menatap Aksa maupun Pranaja kagum, melanjutkan bermain lagi. Mereka berbelok ke kiri ke arah rumah Mirna. Mirna selesai menyapu halaman.
"Bumi di sini, Bu?" tanya Pranaja, menceritakan detail tentang Bumi menghilang dan membawa kartu Gapuran milik Aksa.
Mirna menggeleng.
"Enggak ada. Bumi ke mana? Tanpa kartu itu kamu enggak bisa
bertugas... dan apa? Bumi membawanya kabur?" dia tak percaya bahwa robot itu ternyata bisa menggunakannya.
"Iya."
"Coba kamu tanyakan di Kost Wanita di sebelah sana." tangannya menunjuk rumah bercatkan pink. Mereka menoleh, berpamitan seraya meminta maaf beranjak ke Kost Wanita. Di tempat itu, Pranaja bertanya sembari menjelaskan ciri-ciri Bumi. Lima penghuni di situ tak ada yang tahu. Maya, di sana yang mengecek anak-anak kost berbicara dengan mereka di teras. Penasaran, dia menghampirinya.
"Ada apa ini?" tanya Maya.
"Eh, ini, Bu, ada yang tanya robot..."
"Robot?"
"Bumi namanya," kata Pranaja.
"Bumi? Robotnya seperti apa?"
Pranaja menjelaskannya lagi.
"Oh, ada yang seperti robot yang kalian cari. Coba kalian tanyakan di Alzaki Studio. Studio-nya di ujung depan sana. Dekat kok, pas mau masuk ke jalan ini," kata Maya, memberitahu. Dia menatap Aksa lekat. "Tunggu, kayaknya kamu enggak asing..."
Aksa yang hari ini malas berdandan, malas menggunakan penyamaran—rajin setiap dia keluar bersama temannya atau dengan Pranaja. Karena pikirannya tersita oleh Bumi.
"...kayak Aksa Maheswara, bukan?" lanjutnya.
"Saya bukan siapa-siapa," kata Aksa parau.
"Sa, jangan begitu," bisik Pranaja.
Aksa diam.
Mereka bertiga berpamitan, beranjak menuju Alzaki Studio. Mereka berjalan keluar yang di jalan itu ada tugu bertuliskan Jalan Bunga Anggrek berwarna kuning-hijau bertuliskan perak. Mereka melewati kafe kecil, membelok ke sebuah studio foto—bertuliskan Alzaki Studio. Mereka menghampiri teras. Tampak Erza sedang mengemut permen Apelibeb rasa stroberi di mulutnya melayani pelanggan yang meminta fotokopi. Setelah kepergian pelanggannya, dia melihat mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Sir?"
Aksa memandang tampilan Erza takjub. Wow, orang ini tampilannya ala boyband korea banget, batinnya.
Pranaja menjelaskan ciri-ciri Bumi ketiga kalinya.
"Ada kok di sini yang Anda bilang. Tapi robotnya warna hitam. Punya salah satu pegawai saya. Ke mana robot Anda sekarang?"
"Hilang."
"Hilang? Sebentar, biar saya tanyakan sama Margana dulu." memanggil Margana dan Angkasa. Mereka yang dipanggil muncul. Margana dan Angkasa yang menempel di pundaknya.
"Iya, Oom. Ada apa?" memandang mereka bertiga dan tiba-tiba merasakan sesuatu daya yang sama seperti dikenalnya.
Deg.
Dia memandang ke arah Aksa.
"Margana," panggil Erza.
"Eh, ya?"
Erza menceritakan mereka ke sini mencari robot yang mirip seperti Angkasa.
"Enggak tahu," kata Margana masih memandang Aksa.
Aksa mendengarnya tambah sedih. Dia berpikir harus merelakan robot yang amat disayanginya hilang.
Erza memandangi Aksa. Dia teringat Sinetra.
"Sinetra?"
"Iya."
"Sinetra siapa sih—" Margana teringat pemuda memakai cosplay yang pernah diceritakan Sena. Yang dikiranya adalah Pahlawan Garuda. "Oh, dia ya?"
"Kamu kenal, Mar?" kata Erza.
"Kamu kenal Sinetra?" kata Aksa.
"Enggak. Tapi, Sena pernah cerita ke kami. Waktu Oom Erza sama Sena ke Asia Festival Cosplay. Kami kan, enggak ikut... saya enggak mengenal dua pemuda yang memakai cosplay Harry Potter dan Samurai salah satunya memakai anting, menaiki harimau, berusaha menangkis
sihir..."
"Menangkis sihir? Kamu kok tahu kalau mereka memakai cosplay Samurai sama Harry Potter?"
Margana tersenyum.
"Tahu saja," katanya,"mereka bahkan enggak bisa mendapatkan sesuatu yang seharusnya adalah milik saya—kami."
"Apa?" kerutan kecil muncul di pelipis Aksa. Dia teringat cerita Yudha waktu di acara itu. Mengerti maksud Margana."Begitu, ya? Berarti kamu 'mereka'?"
Margana tersenyum, kali ini senyum biasa.
"Kalian ini ngomongin apa, sih?" kata Erza tak paham apa yang dibicarakan.
Pranaja memegang pundaknya, takut akan terjadi sesuatu.
"Sudah, Sa."
"Enggak kok, Brot. Terima kasih sudah memberitahu kami. Maaf, merepotkan." Aksa meminta maaf.
"Enggak masalah. Mudah-mudahan ketemu ya robotmu, Nak."
Mereka beranjak, saku celana jeans Aksa menyala, dia menghentikan langkah.
"Kenapa?" tanya Pranaja dan Gatra bersamaan.
"Seperti biasa."
"Sudah, pergilah. Aku sama Gatra menunggu di kost."
Aksa mengangguk. Mereka mendengar suara langkah berlari keluar dari studio. Samudra berlari duluan menabrak Aksa. Aksa limbung, namun salah satu kakinya menahan badannya.
"Aduh!"
"Maaf!" katanya, dia buru-buru berlari diikuti di belakangnya Aji dan Margana yang berpamitan, berseru,"Ada Sena, Oom!" Margana menoleh sebentar ke arahnya, mengikuti langkah Aji di depannya.
"Kamu enggak apa-apa?"
"Enggak, Brot. Aku pergi dulu!" dia bangkit, berlari membelok ke arah gang tadi. Pranaja dan Gatra berjalan membelok ke arah gang juga. Erza, mengemut permennya yang sudah mengecil.
"Mereka sebenarnya mau ke mana?"
Sena masuk ke studio mendengar omongannya.
"Enggak tahu, Oom. Paling ada urusan."
Di kampus, Sinetra men-scroll bacaan manga-nya di Internet. Bumi melanjutkan memakan cokelat sesekali mendelik marah ke Indra yang memeriksa komputernya. Indra melirik takut, tak berani berkata apa-apa. Sinetra melirik, mengelus lagi kepala Bumi.
"Sudah, jangan marah, Bang Indra tadi hanya bercanda, kok."
Bumi melanjutkan memakan cokelatnya. Dia melihat ke bawah meja ke saku seragam Sinetra menyala. Menarik-narik tangannya yang memegang mouse.
"Apa, Bum?"
Bumi menunjuk ke arah saku seragam Sinetra. Sinetra menunduk ke bawah, kaget menatap sakunya menyala segera meminta izin kepada Indra dengan alasan ada urusan mendadak. Indra mengizinkan, menyuruhnya untuk mengajak Bumi sekalian karena dia tak mau lagi disakiti Bumi. Berkata,"Dia kan nurutnya sama kamu."
Mereka beranjak keluar dari lab, menuruni tangga berbelok masuk ke arah salah satu toilet lalu menutup pintunya.
"Gelap," kata Sinetra meraba-raba tembok, tangannya menekan sakelar. Lampu pun menyala diringi AC di atas mereka menyala. Ia merogoh saku, mengeluarkan Evolution Entity menyala di tangannya. Sebelum berubah, ia memberitahu Bumi.
"Dengar, Bum, aku akan mengembalikanmu ke Aksa," kata Sinetra.
Bumi mendengarnya cemberut.
"Aku tahu kamu masih marah sana dia. Tapi kamu boleh kok berkunjung ke rumah. Yah, walaupun rumah kami terlihat biasa-biasa saja... banyak binatang peliharaannya..."
Bumi menggeleng cepat. Baru pertama kali dia menginap di rumah seseorang, dan jujur betah menginap di situ walau hanya semalam.
Mengerti maksud gelengan Bumi, Sinetra tersenyum."Nah," lanjutnya,"berarti kamu mau ikut denganku merebut kartu dan bertarung?"
Bumi mengangguk.
Sinetra tetap tersenyum lalu mulai mengucapkan kata kunci, berubah langsung saja mereka berpindah tempat menggunakan kartu Gapuran, muncul di sebuah kota letakkanya jauh dari Kota Malang dan Kota Cyborc. Muncul di dalam gedung berlantai dua dengan posisi miring di atas dinding depan sampai dijadikan tontonan orang-orang di sekitarnya. Sinetra mendengar suara dentuman hebat dari luar.
"Bum, jangan sampai menjauh dariku," katanya, melompat turun ke bawah diikuti Bumi. Sinetra berlari keluar. Di seberang jalan sudah dimulai pertarungan. Sambil berlari ia mengeluarkan sebuah tangan mekanik sihir raksasa berukuran raksasa,"Vitto Golem!" melayangkannya ke atas tepat ke arah pertarungan hingga terdengar bunyi bum kencang.
"Apa yang barusan?" Aksa berusaha melihat tetapi tertutupi oleh retakan tanah dan asap menyeruak. Melebarkan mata kaget melihat Sinetra bersama Bumi.
"Bumi!" serunya.
Mengetahui Sinetra datang, Aji di atas kepala Aksa melayang merentangkan kaki ke Sinetra. Aksa segera menyusul Yudha.
"Dasar pengganggu!" pekiknya.
Bruaak!
Sinetra buru-buru menangkisnya. Ia mengalihkan pandangan ke atas gedung. Bumi menghindar ke atas. Tampak Samudra dan Margana memanjat miring seraya berlari dengan ringannya. Aksa dan Yudha di belakang mereka berlari mengejar. Bumi ikut membantu Sinetra, menempel ke wajah Aji kasar. Dia meronta, tangannya memegang lalu melemparnya jatuh ke jalan.
"Bumi!"
Aji kembali melayangkan kaki-kakinya. Sinetra kembali menangkisnya hingga menonjoknya dan Aji pun terpental jauh ke arah dinding gendung menabraknya tembus ke dalam. Samudra dan Margana mendekati salah satu jendela. Yudha mengeluarkan Bintang Raksasa-nya, meleparkannya ke mereka. Mereka menoleh, melompat salto menghindar.
"Cih!"
Bintang Raksasa-nya berputar kembali ke mereka. Mereka melompat salto lagi. Dewa baru muncul dari lingkaran sihir kartu Blumbangan di tiang di sebuah gedung beberapa meter dari arah pertarungan. Sebelum kemari, dia beristirahat makan di kantin dan berbincang dengan temannya sesama ilmuan. Dia sempat mendengar dari temannya yang membaca koran harian tentang raksasa ular mengamuk di salah satu Kota Cyborc—di Kota Balik. Tangannya mengeluarkan senapan, berjongkok. Matanya sebelah kanan, melihat ke teropong—ke arah kartu yang menempel di jendela. Satu tangannya pelan menekan pembidik...
Door!
Kaca jendela langsung pecah!
Mereka semua mendongak, berhenti sejenak. Bintang Raksasa berputar kembali ke tangan Yudha.
"Suara tembakan?"
"Dewa," bisik Samudra.
Berikutnya Dewa mengalihkan pandangan ke bawah—ke Sinetra Dibidiknya lagi, bunyi door kembali terdengar. Peluru melesat cepat ke arah Sinetra, tiba-tiba muncul di depan Sinetra sebuah lingkaran sihir kartu Gapuran di lingkaran itu keluar Eka yang sudah berubah wujud sekelebat tangannya menangkap peluru sihir itu sampai berasap.
"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanyanya menoleh. Peluru di tangannya langsung diremukan.
Sinetra kaget namun mengangguk pelan.
Eka menghilang dengan cepat, berpindah tempat persis di depan Dewa. Dewa kaget. Eka melayangkan kaki mengenai wajahnya.
Bruaak!
Dia terseok ke belakang, merintih kesakitan. Eka maju, kakinya akan menendang lagi, Dewa menangkisnya.
"Jangan seenaknya menembaki
orang!" kata Eka marah."Saya enggak mau saudara saya dilukai!"
"Oh ya? Lebih baik saya menembaki kalian sekalian."
Eka mendesis.
Dewa menendang balik hingga Eka terlempar jauh dan sukses menabrak Sinetra. Dia memanggil Called. Kali ini Called muncul menyerupai dewa diselubungi api di seluruh tubuhnya.
"Ya, Master?"
"Serang mereka di bawah sana, ambil kartunya di gedung seberang," perintahnya.
Called-nya terbang melesat bagai kobaran api.
Sinetra dan Eka merintih kesakitan, bangkit perlahan. Eka mendongak melihat sosok terbang ke arah mereka. Called itu menggelembungkan pipi lalu menyemburkan api. Aji bangkit perlahan, berjalan keluar menuju ruangan belakang. Ruangan itu pintunya terbuka sedikit, dia keluar, mendongak melihat semburan api tak jauh dari arahnya jatuh tadi.
"Api?!"
"Bahaya, Ka!" pekik Sinetra, mengganti tangan raksasa Vitto Mechanic Magic-nya dengan semacam pelindung sihir. Eka ikut mengeluarkan pelindung sihir. Mereka menahan semburan api itu bersama.
"Rupanya kalian menahannya, ya?" sahut Brama angkuh."Coba tahan ini dengan yang ini!" api yang disemburkan volume-nya bertambah besar.
"Aku enggak akan membiakan Bumi ikut terbakar!"
Di tempatnya jatuh, kondisi robot mungil itu dalam keadaan mati. Karena dibanting Aji tadi sekitar badannya ada bekas besetannya.
"Bumi? Bumi ikut sama kamu?" tanya Eka.
"Iya!"
"Kenapa enggak menyuruhnya menunggu di kampus? Daripada kena akibat ulah kita sekarang... apa yang kita katakan nanti kepada Aksa?"
"Aku tahu! Tapi dia ikut karena di suruh Bang Indra karena dia habis dipukuli..."
Samudra dan Margana berlari lagi, masuk melalui jendela yang pecah tadi. Benda yang mereka cari menyala di antara pecahan-pecahan kaca.
"Dapat," kata Samudra, mengambil kartu Parang Garuda, menyibak-nyibakkan serpihan kaca.
"Tunggu sebentar," sahut suara dari luar jendela.
Mereka menoleh, mengetahui Aksa melompat masuk, disusul Yudha."Itu kartu milik kami," sahut Aksa.
"Enggak bisa!"
Samudra menggenggam kartu itu. Brama menyemburkan apinya mengarah ke gedung, di dalam mereka mulai merebut kartu. Di antara mereka tak satu pun mengalah dan saling tindih. Api seketika menyembur masuk.
"Bahaya!"
Mereka bergegas menghindar, berlari menuju tangga. Aksa merosot ke bawah di pegangan tangga, mereka masih berebut. Api melahap sebagian isi gedung namun mereka berhasil keluar. Yudha melihat siapa penyebab terjadinya kebakaran—yang sibuk menyerang dua temannya.
"Called," gumamnya. Dia berdiri, memanggil Called. Tiba-tiba di atas langit muncul sosok Dewa. Shiwa, Called itu pernah dipanggil waktu di taman tak jauh dari arah Kampus USER. Shiwa mengangkat tangannya, muncul senjata berupa trisula lalu dilemparkannya mengenai Brama yang menyemburkan api.
Jleeb!
Brama tumbang, kobaran api ditubuhnya perlahan menghilang bersamaan semburan apinya. Aji masih ditempatnya melihatnya takjub, bergegas menuju Samudra dan Margana yang tampak marah karena kalah rebut dengan Aksa meninggalkan mereka. Dewa, ikut terisap lingkaran sihir kartu Blumbangan menghilang. Yudha dan Aksa menghampiri Eka dan sinetra yang menghentikan pelindung sihir mereka. Sinetra menoleh ke belakang—melihat Bumi terkapar dan berlari ke arahnya.
"Bumi!" panggilnya, dua tangannya menompangnya.