
Mereka kembali pulang dan sampai di rumah. Kembali ke wujud normal. Memasuki kamar. Duduk di kasur. Melepas tas masing-masing.
"Kamu tadi kenapa?" tanya Eka, masih khawatir.
"Aku enggak apa-apa."
"Memangnya tadi kamu lihat apa?"
"Aku enggak lihat apa-apa."
"Yang bener kamu?"
"Beneran, Ka! Tadi aku sama Tata nonton konsermu," kata Sinetra, mengganti topik pembicaraan.
"Oh ya?"
"Iya. Aku tadi janjian sama dia. Tadi pas nonton aku dihampirin sama Aksa. Aku disuruh menyanyi. Lanjutin liriknya."
"Terus?"
"Aku enggak bisa menyanyi. Aku enggak hafal. Terus Tata yang menyanyi melanjutkan liriknya. Dia hafal betul sama liriknya!"
"Bagus, dong."
"Tapi cuma sebentar nontonnya."
"Terus kamu dikasih itu? Yang kamu cerita tadi?"
"Bener. Berarti omongannya beneran seperti waktu kita ketemu dia. Tapi di sisi lain dia baik. Dia seperti tahu aku punya masalah. Handoko apa kayak begitu?"
"Enggak tahu. Aku saja baru kenal kemarin," kata Eka,"dia berbeda dengan si Linea itu. Bukannya aku membeda-bedakan, ya."
"Dia manis."
"Siapa?"
"Tata..." wajah Sinetra merona.
"Oh, oh! Hmm, kamu suka ya?" tebak Eka menggoda."Wah, enggak apa kok kamu pacaran sama dia! Kudukung deh sepenuh hati!"
Sinetra tambah merona.
"A-aku enggak pacaran sama dia! Aku sama Tata kan, baru kenal..."
"Siapa tahu, Sine."
"Omonganmu kayak Bang Indra, deh! Lha, kamu sudah punya cewek belum? Aku belum pernah tahu?"
"Punya cewek? Ada kok. Dia aneh kayak Tata."
"Siapa?"
Eka tersenyum. Merogoh saku celana membuka handpone lalu menunjukkan foto di galeri kepada pemuda itu.
"Nih!"
Sinetra menatap foto itu. Rambutnya panjang pirang bergelombang, dua telinganya memakai anting wortel.
"Siapa itu?"
"Luna Lovegood. Dia gadis dari asrama Ravenclaw..." ia tertawa terbahak. Ia melihat spidol permanen berwarna hitam di wadah tumpukan pulpen, pensil, spidol berwarna dan Drawing Pen. Beranjak meraihnya. Membuka tutupnya.
"Garing ah! Itu kan karakter dari film Harry Potter!" seru Sinetra cemberut. Ia menatap Eka mengambil spidol. "Buat apa spidol itu?" tanyanya.
Eka duduk kembali. Mengarahkan spidol itu ke arahnya. Senyumnya berganti seringai.
"Nah, tinggal pelengkapnya."
Ia langsung memegang kepala Sinetra. Sinetra buru-buru menepis tangan Eka yang memegang spidol.
"Tunggu! Apa-apaan, sih?!"
"Tinggal pelengkapnya. Kamu akan menjadi Harry James Potter! Hahaha!" dengan cepat spidol itu ditorehkan ke dahi kiri Sinetra, menggambar sebuah petir kecil.
"Nah, beres!" kata Eka senang, selesai menggambar, menutup spidol hitam itu kembali.
"Kamu gambar apa di dahiku?"
"Lihat sendiri kalau mau tahu."
Sinetra mendengus, beranjak menuju cermin kotak besar di dekat lemari baju. Ia menyibakkan rambutnya sebagian. Melihat dengan jelas apa yang digambar Eka.
"Iiih, Eka!"
Eka kembali tertawa terbahak. Sinetra menghampirinya. Merebut spidol itu dari tangannya. Membuka tutupnya. Eka berhenti tertawa.
"Mau ngapain kamu?"
"Mau balas dendam!" spidol di tangannya di arahkan ke arahnya. Ia teringat sesuatu apa yang akan digambarnya."Giliranmu! Aku akan menggambar..." Eka akan menghindar, namun ia sigap memegang erat kepalanya. Mencoret sesuatu di dahi kanan Eka. Eka meronta.
"Cukup! Cukup!" pekiknya.
Selesai mencoret di dahinya. Sinetra menutup spidolnya.
"Nah, jadi! Silakan kalau mau melihat hasil karyaku. Hehehe. Yah, enggak jelek-jelek amat sih."
Eka bangkit dari ranjang menghampiri cermin. Ia menatap dahinya. Di dahi kanannya terdapat gambar tato berupa coretan bekas luka.
"Bagus kan, Ka?" kata Sinetra, menoleh ke arah cermin."Sekarang kamu jadi Kamado Tanjirou!"
Eka mendengus.
Sinetra bergantian tertawa terbahak.
Muncul lingkaran sihir kartu Gapuran di depan Studio Alzaki. Berjalan masuk ke teras, mengucapkan permisi.
"Permisi," ucap Yudha.
Di dapur, Sena yang menyantap makan sorenya bersama Angkasa yang memakan cokelat mendengar ada sahutan orang yang memanggil di depan.
"Permisi," ucap Yudha lagi.
"Kemana sih yang punya tempat ini?" Aksa merasa sebal karena orang yang dipanggil tak kunjung datang.
"Permi-sabarlah, Sa! Siapa tahu pemiliknya sedang keluar atau ada..." kata Yudha."Permisi, permisi..."
Aksa merasa sebal, menyahut lantang.
"PERMISI! PERMISI! KALAU ENGGAK KELUAR, ORANG-ORANG INI SAYA BANTING DI SINI!"
"Permi-hush, kamu jangan ngomong begitu! Kamu ini enggak sopan banget, sih!"
Di dapur, Sena dan Angkasa menghentikan makan.
"Kayaknya ada orang, tuh, Ang. Ayo," ajaknya berdiri beranjak dari dapur menuju depan. Angkasa mengangguk, melayang terbang mengikutinya. Sampai di depan studio, mereka terkejut siapa yang ditemui. Melihat abang dan dua temannya digendong mirip guling tak sadarkan diri.
"Abang?!" Sena menghampiri mereka.
"Eh, sebentar. Tenang dulu, ya. Boleh kami membawa mereka masuk dulu? Nanti saya ceritakan di dalam," jelas Yudha.
Sena menurut, memperlihatkan mereka masuk. Dia menyuruh mereka membaringkannya masing-masing di sofa. Sena mempersilakan duduk sebentar. Angkasa melayang turun di meja.
"Kok bisa kayak begini?" kata Sena menatap abangnya dan teman-temannya khawatir.
"Panjang ceritanya. Aku malas menceritakannya. Biar Yudha saja yang menceritakannya-ups!" Aksa tak sengaja menyebut nama Yudha dalam wujud pahlawan.
"Bang Yudha?"
"Enggak apa. Memang ini saya. Jangan kaget," kata Yudha.
"Abang juga Pahlawan Garuda?"
"Berarti kayak Bang Margana, dong?"
"Apa? Abangmu?"
"Abang Margana juga pahlawan. Dia Pahlawan Aruna."
"Yang mana Abangmu itu?" tanya Aksa.
Sena menunjuk ke arah pemuda di belakang Aksa.
"Yang dua kakinya kamu duduki itu siapa?" Yudha menoleh ke arah Aksa,tampak dirinya menduduki kaki Margana yang pingsan.
Aksa menoleh ke belakang,"Oh, maaf!" dia berdiri, duduk di pinggir sofa meringis.
"Ceritanya gimana, Bang? Kok bisa begini?"
Yudha pun menceritakan yang sebenarnya. Selesai bercerita, Sena mengangguk paham,"Begitu, ya? Sebenarnya sih dulu pertama mengetahui abang menjadi Pahlawan Aruna, aku kaget. Tapi lama kelamaan sudah terbiasa." Dia bergantian bercerita.
"Cuma kamu yang tahu kalau siapa-Mar, Mar..."
"Margana," kata Yudha.
"Iya, cuma aku doang yang dikasih tahu. Mama enggak tahu kalau abang selama ini seorang Pahlawan Aruna... tapi terima kasih ya, Bang Yudha sama siapa ya Bang?" Sena menatap Aksa.
"Aksa."
"Oh. Oh!" Sena mendelik."Maksudnya, Aksa Maheswara?"
"Yeah."
"Woow!" Sena kagum karena selain Aksa menjadi penyanyi band metal, dia juga menjadi seorang Pahlawan Garuda.
"Nah, Sena," kata Yudha, menolehkan kepala ke belakang, menoleh ke arah pemuda itu. "Tolong, jangan beritahu siapa pun kejadian yang menimpa abangmu sama dua temannya ini, ya? Apalagi jangan beritahu bos kamu... bikin alasan saja kalau orangnya tanya. Kamu mengerti, kan? Dan, tolong, jangan beritahu tentang aku dan Aksa soal kami menjadi Pahlawan Garuda, ya?" Yudha memperingatkan.
"Iya. Aku enggak akan bilang, kok. Gampang soal abang sama temannya ini."
"Ngomong-ngomong, siapa nama bos kamu itu?" tanya Aksa.
"Oom Erza, namanya. Kenapa?"
"Dandanan orang itu kayak artis korea banget. Aku pernah bertemu sama orangnya, gara-gara insiden kesalahpahaman teman kami yang menimpa Bumi. Dan," menoleh ke arah Aji di belakang Yudha. "Orang itu yang melakukannya terhadap Bumi." Di balik kostum pahlawan, menampakkan ekspresi tidak suka.
Sena dan Yudha menoleh ke pandangan Aksa di belakang Yudha.
"Bang Aji?"
"Dia ini yang melakukannya?"
"Sama ganti rugi itu?"
"Yang mengganti rugi katanya Oom gaya artis korea itu. Bukan dia. Tapi ngomong-ngomong orangnya ke mana, ya?"
"Oom Erza sedang keluar. Dia ada job cosplay lagi bersama temannya," jelas Sena. "Bumi itu siapa?"
"Robot. Kayak robot ini. Mirip, tapi warnanya beda. Bumi berwarna putih," kata Aksa, mengulurkan tangannya mengelus kepala Angkasa. Angkasa dielus, merasa nyaman seperti Bumi saat dielus Sinetra di kampus.
"Ya sudah, Sena," Yudha berdiri, mengangkat Dewa. "Kami pulang dulu, ya," pamitnya keluar. Aksa berdiri, berjalan mengikuti Yudha keluar dari studio.
Sena mengangguk. Dia teringat sesuatu-teringat sosok Sinetra. Dia berdiri sofa dari keluar.
"Tunggu, Bang!"
Mereka berhenti melangkah, Aksa mengambil kartu Gapuran di Evolution Entity di belakang tengkuknya.
"Apa?"
"Abang kenal sama namanya Bang Sinetra?"
"Sinetra?"
"Abang kenal?"
"Kenal."
"Dia Pahlawan Garuda seperti Abang berdua?"
"Yes," kata Aksa, kartu Gapuran di tangannya mulai bersinar.
"Beneran?"
"Iya. Kamu kok bisa kenal sama dia-" ucapannya terpotong oleh Aksa yang lingkaran sihir sudah muncul di bawah kedua telapak kakinya.
"Aku pulang dulu, ya, Sen, terima kasih," ucap Aksa terisap lingkaran sihir kemudian menghilang.
"Kamu kok kenal sama dia?" ulangnya.
"Kenal, sejak festival dua hari yang lalu."
Setelah percakapan itu, Yudha berpamitan kepada Sena namun dia tidak memakai kartu Gapuran, melainkan berjalan kaki menuju Jalan Mawar, berbelok masuk berjalan ke arah Kost Pria. Di depan kost, tampak sepi. Membuka pagar, membuka pintu, dan pintu tidak terkunci.
"Enggak dikunci?"
Dia masuk, tampak sepi namun di ruang tengah itu di meja, ada beberapa bungkus keripik kentang dan televisi menyala-menampilkan acara Jejak Si Gundul. Pasti Gatra, kakaknya yang yang menyalakannya. Seraya menutup pintu, berjalan ke arah kamar. Membaringkan pelan Dewa di ranjangnya. Melepas dua sepatunya dan Evolution Entity milik Dewa diletakkan di meja di samping ranjang kemudian seluruh tubuh Yudha bersinar, kembali ke wujud normalnya. Memandangi Dewa yang masih pingsan. Terdengar suara langkah kaki ke arah ruang tengah. Dia berdiri keluar dari kamar.
"Bli," panggilnya.
Gatra menoleh, kaget.
"Sang Hyang Widhi! Bagos!"
Yudha menghampirinya, duduk di sampingnya. Tanganya meraih beberapa keripik kentang itu. Membuka bungkusnya.
"Bli, di kamar ada temanku," katanya memberitahu.
Gatra meraih keripik kentang yang lain, membuka bungkusnya.
"Temanmu main ke sini?"
"Bukan main ke sini sih, Bli, tapi dia pingsan saat melawan di pertarungan tadi... biarin dulu ya."
"Maksud kamu musuhmu-Pahlawan Aruna?"
"Siapa lagi?"
"Terus kamu bawa pulang ke sini? Enggak apa-apa, Gos, dia enggak dicariin sama keluarganya?"
Yudha menggeleng.
"Enggak tahu, Bli. Menunggu dia sadar saja. Baru kita tanyakan. Aku juga khawatir, takut keluarganya nyariin."
"Selama kamu menjadi Pahlawan Garuda, apa kamu pernah bertemu atau berkenalan dengan salah satu dari mereka?"
"Enggak. Tapi aku mengenal orang terdekat salah satu dari mereka. Tahu kan, anak yang bekerja Studio Alzaki?"
"Aku enggak tahu. Kalau pemiliknya tahu. Kayak artis korea-sebentar, kayaknya pas Pranaja sama Aksa, sambil menangis nyari Bumi hilang, Aksa sama siapa itu pemuda berkelahi gara-gara Bumi... katanya Bumi dilempar begitu..."
"Berarti pemuda eh mereka yang kutemui sama Pranaja itu Pahlawan Aruna?"
"Betul. Bang Dhonny sama lainnya belum pada belum pulang, ya." Yudha merogoh keripik kentang, menggigitnya. Memandang ke arah televisi.
"Terus," lanjut Gatra,"Temannya yang lain, gimana?"
"Teman yang lain dibawa sama Aksa pulang ke Studio Alzaki."
"Ya, syukurlah. Aksa bertemu sama siapa itu temanmu, Sinetra?"
"Ketemu. Soal Bumi, aku sudah dengar tadi dia sudah minta maaf ke dia. Katanya, Bumi sudah kembali diperbaiki."