Garuda Evolution

Garuda Evolution
Bab 20: Mayapada



"Kamu enggak apa-apa kan?" Maretha memastikan.


"Beneran. Aku enggak apa-apa."


Maretha menatap pemuda itu lekat. Wajah pemuda itu tidak terlihat pucat, melainkan biasa-biasa saja. Hanya berkeringat di dahi dan lehernya.


"Ya, Alhamdulillah..." ucapnya, menghela napas panjang."Eh, iya, nih! Buat kamu." menyodorkan kantong plastik hitam kepadanya.


Sinetra menerimanya,"Buat aku? Oh, terima kasih, Tata," balasnya.


"Pas aku membaca pesan dari Eka, aku kaget banget kalau kamu sakit hati..." waktu membacanya hari itu dia pulang dari tempat kerjanya, langsung meluncur menaiki mobil melayang-nya menuju rumah Sinetra. Tidak lupa mampir sebentar ke super market, membelikan camilan untuk pemuda itu. Dia berdiri,"Ya, sudah. Kamu istirahat, ya. Semoga kamu cepat sembuh... aku pamit


dulu," pamitnya, melengok ke dalam rumah."Mana Eka?"


Mendengar namanya dipanggil, Eka keluar menghampiri keduanya.


"Ya?"


"Tata mau pulang, tuh," kata Sinetra mencibir. Wajahnya menampakan tidak suka.


"Oh, kok cuma sebentar, Ta?" tanya Eka, menyalaminya.


"Iya. Kapan-kapan aku mampir lagi kalau ada waktu. Kamu berdua, kalau sempat, mampir ke rumah, ya."


"Pasti! Kalau sakit hati akutnya kambuh lagi, aku akan membawanya ke rumahmu untuk mampir," kata Eka, menggoda Sinetra.


"Hush, kamu enggak boleh ngomong begitu, dong, kasihan kan, Sinetra," bela Maretha.


Eka menyengir.


Gadis itu pun berjalan ke arah pagar, memasuki mobil saat pintu bergeser, memundurkannya pelan lalu berbalik ke arah jalan awal sembari membunyikan klason kepada mereka. Setelah Maretha pergi menjauh, Eka menggeser pagarnya lagi, ditutupnya seperti semula. Ia berbalik masuk ke teras.


"Ka, kamu sengaja ya tadi?" kata Sinetra masih mencibir."Kamu yang melakukannya?"


"Ya, begitu, deh," Eka menyengir lagi kali ini ke Sinetra."Kamu tahu kan, kamu itu susah banget dibujuk maupun dihibur..."


"Tapi enggak harus cerita ke dia kalau aku itu SAKIT HATI AKUT!"


"Kalau aku enggak cerita ke dia, kamu bakal enggak bisa melupakan si dokter—Linea yang kamu sukai itu! Aku tahu kamu sakit hati, kan? Patah hati, kan?"


"Mana ada aku sakit hati atau patah hati yang seperti kamu bilang?" kata Sinetra, pura-pura tidak tahu."Bohong!"


"Kata siapa aku bohong! Kelihatan dari mukamu, Arief Sinetra Dwi Putraaaa," jawab Eka."Mukamu tadi sudah kusut kayak kaset bolanya sudah ruwet. Sejak pulang dari Stan Dream of Mini aku sudah tahu!"


Sinetra diam.


Eka menyambar kantong plastik hitam pemberian Maretha di kursi, membukanya. Matanya mendelik, melihat isinya.


"Wow, wow, Sine! Dia beneran perhatian padamu! Lihat, dia membawakan camilan sebanyak ini... aku minta, ya!" ia merogoh kantong plastik itu. Mengambil camilan, tiba-tiba saja di bawah kaki mereka berdua muncul lingkaran sihir berwarna putih—mengisap mereka secara perlahan. Eka tidak jadi mengambil camilannya menjatuhkannya kembali ke kantong plastik.


"Apa yang terjadi?"


"Lingkaran sihir?"


Mereka sekejap terisap, menghilang—berpindah ke tempat mirip sebuah dimensi tampak dipenuhi oleh kabut.


"Eh, kita di mana ini?" tanya Eka.


Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Sosoknya di balik kabut terlihat. Sosok itu bukan manusia. Melainkan mirip seperti kera dan berbulu putih mulus di seluruh tubuhnya. Memakai baju mirip manusia berwarna hitam bertuliskan "AJA DUMEH" di depannya, memakai celana putih selutut, memakai sandal jepit rumahan.


"Halo, Pahlawan Garuda!" sapanya ramah.


Mereka membalikkan badan. Melihat sosok di belakang mereka.


"Hanoman?!" kejut mereka.


Hanoman menyengir lebar.


"Maaf, ya, saya panggil kamu berdua tiba-tiba. Sesuai janji..."


"Sesuai janji?"


"Masa kalian enggak tahu? Oh, lupa saya! Yang kujanjiin kan, Master! Maaf, memanggil kalian ke sini, mengajak kalian ke dunia kami," kata Hanoman. "Tinggal menunggu Master sama temannya yang satu lagi." sesuai dengan omongannya, lingkaran sihir menyusul di belakang mereka muncul


sosok Yudha dan Aksa.


"Oi, oi—apa yang barusan—" Aksa mendongak menatap sekeliling tempat itu. "Ini di mana?"


Yudha di sampingnya memperbaiki rambutnya. Dia tidak memakai udeng yang selalu dikenakannya.


"Mana aku tahu, Sa—Hanoman?"


"Hehehe. Maaf, nanti saya ceritakan ke kalian. Ayo kita ke jalan situ," ajaknya kepada mereka semua.


"Tempat ini sebenarnya apa, sih?"


"Ini Dimensi Penghubung. Jadi kalau mau ke dunia kami, harus lewat sini," kata Hanoman.


"Kenapa enggak langsung saja ke duniamu?" tanya Yudha.


"Sebenarnya bisa. Tetapi lebih aman di tempat ini. Kalau langsung ke sana, kalian bakal dicegat sama Polisi Wanara sama Polisi Cakrabhuya. Di sini kita enggak bakal ketahuan sama mereka," jelas Hanoman.


"Maksud kamu, menyeledup begitu?"


"Ya, bisa di bilang kayak begitu."


"Wah, mirip dunia kita, ya?" kata Sinetra."Apa keduanya itu pernah ke sini sebelumnya?"


"Setahu saya, mereka belum pernah ke sini. Dimensi ini sebenarnya ditemukan oleh para ilmuwan kami dan ilmuwan dari dunia kalian. Lewat sini."


Jalan itu tertutupi oleh banyaknya kabut, membuat mata Sinetra dan Eka terhalang.


"Lewat mana—yang lain ke mana?" Sinetra bingung, ia menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Bukannya Hanoman bilang lewat sini?"


Muncul di balik dinding yang tertutupi oleh kabut, kepala dan badannya yang cuma setengah.


"Lewat sini," kata Hanoman. "Saya kira, kamu berdua tersesat."


Mereka bergantian masuk ke dinding itu. Setelah melewati dinding itu tampak dunia yang mereka lihat mirip seperti dunia mereka—lebih tepatnya modern. Mereka takjub melihatnya.


"Nah, selamat datang di dunia kami, Mayapada!" sambut Hanoman."Saya akan mengajak kalian semua ke rumah. Saya tadi memakirkan lesung melayang di mana, ya?" Hanoman pun mengajak mereka ke arah parkiran. Di dunia itu tampak ramai dan banyaknya lalu lalang kendaraan. Kendaraan yang dipakai di dunia itu adalah lesung melayang dan pelepah daun kelapa dan pisang yang dimodifikasi mirip karpet terbang. Penghuni di dunia itu melakukan aktivitas mirip seperti di dunia mereka. Ada beberapa ibu-ibu sehabis berbelanja di supermarket "Bawang Merah". Ada yang berbelanja di toko "Toko Jaka Kendil"—Menjual Berbagai Macam Bentuk dan Ukuran Kendil. Seorang pria tampan tampak melayani pelanggannya yang seperti dayang cantik, memberitahu cara menggunakan kendil yang dibeli. Ada juga toko yang menjual barang-barang perlengkapan yang terbuat dari batu dan jangkar—Toko Perlengkapan Batu dan Jangkar Malin Kundang." Pelanggan di toko itu mencoba melemparkan jangkar yang dibelinya. Alih-alih melemparnya, jangkar itu malah memecahkan jendela toko. Pembeli itu langsung meminta maaf pada pemilik toko. Sinetra melihat di salah satu toko, toko yang menjual Berbagai Perhiasan—Toko Segala Macam Sovenir Keong Mas. Sovernir di sana terbuat dari lonceng dan cangkang keong. Dua pelanggannya, seorang nenek sedang memilihkan kalung untuk cucu laki-lakinya.


"Ini mau enggak, Baru?" tanya sang nenek, seorang manusia, kepada cucunya, si manusia ular.


"Wah, cocok! Kamu suka?"


Pemuda itu menatap cermin besar di depannya. Di sekitar wajahnya


seperti kudisan. Dia menyelentik kalung itu. Menimbulkan suara klinting-klinting lagi.


"Hehehe. Aku suka, Nek," katanya, mempelihatkan dua taringnya.


Ada pula salon rambut. Salon Rambut Para Siluman. Pelanggannya berbagai kalangan. Pelanggan di situ selesai dipotong. Siluman kelinci berpotong rambut bergelombang hitam sebahu.


"Bagus kan, rambutmu. Apa yang aku bilang waktu itu," kata kakak perempuannya.


"Iya, yang motong orang ganteng kayak Ramawijaya..."


"Kamu ini. Tadi enggak mau kan, kalau yang motongin bukan kayak dia? Tapi kamu tadi hampir buat aku malu. Gara-gara tukang potong manusia beruang yang gendut itu kamu tolak. "


"Biarin! Aku enggak mau dipotongin rambutku sama beruang madu, huh!" dengus sang adik.


"Dia memang beruang madu. Pokoknya jangan kayak begitu lagi lain kali," peringatnya kepada adik perempuannya.


"Iya, iya."


Setelah melewati salon itu, mereka berlima sampai di area parkir yang luas sekali. Beberapa lesung melayang dan pelepah pisang maupun pelepah kelapa terparkir. Mengalahkan luasnya area parkir di Kampus USER. Mereka berjalan masuk. Hanoman mencari lesung melayang-nya. Tangannya merogoh saku celananya. Memperlihatkan kunci mirip kunci mobil melayang di dunia mereka. Merentangkan tangan ke depan, menekan tombol. Lantas terdengar bunyi klason. Mirip bunyi lesung saat menumbuk sesuatu.


"Ow, di situ rupa rupanya," sahutnya.


Mereka menghampiri lesung melayang itu di pojok pagar berjaring-jaring.


"Silakan naik," ujarnya sopan kepada mereka membuka pintu.


Mereka masuk secara bergantian. Tempat duduknya bulat terbuat dari kayu dan empuk. Disusul Hanoman yang masuk dibangku sopir sebelah kanan.


"Jangan lupa pasang sabuk pengaman kalian," dia mengingatkan. Memasang sabuk pengamannya. Diikuti Sinetra dan lainnya memakai sabuk pengaman. Memasukkan kunci, memutarnya. Lesung itu melayang lalu berbelok keluar ke arah jalan raya.


"Kita ke mana ini?"


"Ke rumah saya. Lebih tepatnya apartemen," kata Hanoman.


"Apa? Apartemen?"


"Iya, saya tinggal di apartemen. Enggak jauh dari sini."


Lesung melayang meluncur membawa mereka ke apartemen yang dimaksud. Beberapa menit, mereka sudah sampai di sebuah apartemen besar dan berlantai dua bernama "Kiskenda Apartement." Lesung melayang itu berbelok masuk ke arah jalan memasuki apartement.Apartement itu bergedung tingkat dua. Di sana, fasilitas disediakan lengkap termasuk petugas kebersihannya. Meluncur terus ke dalam melewati pos satpam. Sampai di Blok E, apartemen yang dihuni.Hanoman masuk ke garasi, memberhentikannya. Mereka semua turun. Hanoman mengetuk pintu itu dua kali dan pintu dibuka oleh Hanila kera biru, adiknya. Memakai kaos polos berwarna putih dan memakai celana senada selutut.


"Sudah pulang, Bang?" tanyanya, melihat empat orang di belakang abangnya."Siapa mereka?"


"Sudah," jawabnya,"mereka teman-temanku. Silakan masuk," mempersilakan mereka masuk.


Mereka masuk ke ruang tamu yang tampak bersih dan rapi. Mereka duduk di sofa masing-masing. Ruangan itu merangkap menjadi ruang keluarga. Ada televisi layar datar di meja menyala menayangkan sinetron yang lagi hits—Ikatan Paksa—di salah satu channel. Di sisinya ada pot bunga mungil ditanami bunga-bunga mirip mawar berwarna kuning. Bunga-bunga itu mekar perlahan. Kemudian mengalun suara gamelan diringi nyanyian dari bunga-bunga itu mirip suara sinden saat menyanyi tembang jawa. Enak didengar. Bunganya mekar apabila ada tamu atau sang pemilik rumah datang, akan disambut dengan nyanyiannya. Jika bukan, bunga itu akan menguncup.


"Bunga apa itu?" tanya Eka.


Hanoman menoleh ke arah bunga itu."Bunga Gamelan. Bunga punya Mama.Kenapa?"


"Bunganya unik."


"Memang unik. Adik kecil kita belum pulang, Nila?" menoleh ke arah Hanila.


"Belum. Dia memangnya ke mana?"


"Tadi dia kusuruh membantu Pahlawan Garuda. Apa dia kewalahan ya melawan si Rahwana?"


Manusia kera biru itu kaget.


"Apa? Abang yang nyuruh? Pantas saja dia belum pulang! Aku kasih tahu ya, nanti kalau mama tahu Abang nyuruh dia melawan si Rahwana, kita bisa kena marah


nanti!" peringatnya."Aku enggak mau kena marah sama mama... Abang masa enggak ingat waktu dia diajarin sihir pukulan... sampai bikin panci sama wajan mama penyok, tahu!"


"Aku masih ingat itu. Aku yakin adik kecil kita baik-baik saja," kata Hanoman menyakinkan."Aku ya enggak mau dimarahi... hehehe. Aku mau buat minum buat Master sama teman-temannya dulu." dia beranjak dari dapur. Segera membuatkan minuman untuk mereka.


Hanila menemani tamu abangnya. Duduk di samping Eka. Memandangi wajah mereka satu per satu. Dia terkejut memandangi Yudha.


"Lho, kok Bang Arjuna, pemain Ikatan Paksa, di sini?"


"Arjuna? Saya Yudha. Kamu salah orang kali..."


"Masa? Bukan Bang Arjuna?"


"Bukan. Dia Yudha Wijaya namanya—" kalimat Aksa dipotong oleh Yudha.


"Saya Made Yudha. Temannya Hanoman," kata Yudha."Lebih tepat sih, kami Pahlawan Garuda. Siapa itu Yudha Wijaya, hah? Jangan seenaknya manggil nama orang gitu, dong!"


"Biarin!" kata Aksa.


"Beneran? Kalian ini Pahlawan Garuda itu? Berarti Bang Hanoman enggak bohong. Dulu dia pernah bertemu dan dikontrak sama Pahlawan Garuda..."


"Tapi sekarang kamu percaya, kan?" Sinetra melihat Hanoman kembali lagi menuju ruang tamu membawa empat lemon tea hangat dan beberapa toples macam kacang dan keripik. Meletakkannya di meja.


"Silakan diminum," ucapnya. Matanya memandangi televisi."Kamu yang nonton sinetron itu?"


"Bukan aku. Mama yang nonton itu tadi. Sesudah Abang nyusul mereka ini, mama keluar sebentar arisan. Jadi belum kuganti tayangannya."


Hanoman meraih remote di dekat Hanila, duduk di samping kanannya. Mengganti channel yang menurutnya bagus.


"Nah, ini saja," katanya meletakkan remote kembali."Mama alay, deh, suka sinetron yang kayak begituan... mending acara masak ini."


Acara masak itu diperlihatkan ketiga juri melihat para peserta yang serius membuat hidangan untuk ketiga juri, setiap masakan yang dibuat mereka akan dicicipi. Ketiga juri itu Bhima, Timun Mas dan Bawang Putih—ketiga chef berpengalaman dan handal.


"Koki Mayapada?" Sinetra mengernyitkan kening membaca judul tayangan di televisi.


"Nama acaranya itu."


"Oh ya, Hanoman, kamu bilang, waktu menjemput kami di Dimensi Penghubung, orang bisa memasukinya atau dipanggil, kan?" tanya Sinetra,"apa bisa juga seseorang itu bisa meng-called kalian di dunia ini?"


"Bisa di dunia ini. Bisa di dunia kalian. Waktu saya dikontrak dulu, saya di dunia kalian," jawab Hanoman."Dulu para ilmuwan kalian, pernah ke dunia kami dan menganggap kami sebagai rekan, bukan musuh. Daya sihir itu milik dunia kami. Sebagiannya dibawa oleh mereka ke dunia mereka. Sebab, di antara raksasa ada yang memasuki Dimensi Penghubung, sambil membawa daya sihir yang dicurinya dari ilmuwan kami, memutuskan pindah ke tempat di dunia kalian. Hidup di sebuah pulau, selatan Pulau Jawa—Buminata—yang dulu enggak berpenghuni, menempatinya hingga sekarang. Ada pula, selain mereka, binatang aneh hidup di sana. Cuwiri, namanya. Nah, kalau soal daya sihir, daya sihir yang dibawa oleh mereka sudah berpencar secara terpisah. Para ilmuwan kalian menggalinya karena mereka tahu daya sihir itu tetapi  dimasukkan ke kartu-kartu yang mereka bawa dari dunia kami agar menjadi barang bermanfaat. Sisanya diletakkan di benda yang kalian bawa—Evolution Entity. Jadi, di sini kalian enggak bisa memakai dan berubah di dunia kami, karena daya sihir itu kembali berhubungan dengan daya sihir di dunia kami karena dianggap ilegal. Daya sihir itu asalnya dari hutan Kisma yang jauh dari sini. Tempat itu dilindungi oleh Pemerintah Pandawa. Soal mengontrak, jika punya daya sihir lebih, kami bisa dikontrak menjadi Called. Walaupun kami dikontrak, kami masih bisa hidup sebebas-bebasnya. Jika orang yang mengontrak kami orang yang salah, bisa saja kami diperintah semena-mena," Hanoman mengakhiri ceritanya.


NB:


*Kisma: Bumi (Bahasa Kawi)


*Buminata: Ratu (Tembung Dasa Nama Jawa)