
Hari menjelang sore, sekarang waktunya ia berkemas untuk pulang. Kacamata barunya masih dipakainya. Indra juga mengemasi barang-barangnya dan memasukkan dua map kuning dan merah ke dalam tasnya. Dua map itu berisi nilai tugas pelajaran Nirmana yang sudah di nilai oleh Vian, namun Indra membawanya untuk dimasukkan ke file nilai yang pernah dibuat sebelumnya, melanjutkannya di kost-nya, menyempatkan bermain game Final Fantasy 15 yang sudah menjadi favoritnya dari SMA dulu. Dulu, di rental PS di kotanya yang booming-booming-nya Play Stasion 1, karena dia pernah melihat pemuda yang bermain game Final Fantasy lalu mencoba memainkannya hingga sekarang. Namun dia melihat Hendra, mahasiswa dari kelasnya tampak akan menangis dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa, Nak?" tanya Indra kepada Hendra dari arah bangkunya. Dia diam saja di sampingnya, Hendri berusaha memasukkan salah satu tugas web yang dibuatnya di Program aplikasi DreamWeaver di internet namun sama sekali tidak muncul.
"Ini lho, Bang, tugas Bang Hendra enggak muncul-muncul," kata Hendri.
Hendra masih diam. Perasaannya khawatir.
"Masa, sih?" tanya Indra.
"Iya, Bang. Nih, enggak bisa... sudah saya coba berulang kali masih tetap saja..."
"Gimana, dong?" kata Hendra parau, masih dengan mata yang berkaca-kaca.
Indra menatap Hendra merasa kasihan. Berpikir sebentar.
"Hmm, gimana ya? Kalau begitu enggak apa-apa. Tapi, nilainya saya kasih tujuh puluh lima, ya. Kalau Hendri kan, sudah muncul, tuh web desain yang dibuatnya saya kasih nilai delapan puluh," Indra memberitahu.
Hendra tidak terima.
"Kok cuma tujuh puluh lima?"
"Memang saya kasih nilai segitu. Karena web desain yang kamu bikin kan enggak muncul... soal itu saya enggak marah... pokoknya kamu sudah berjuang bikin," tambahnya bermurah hati kepada pemuda itu.
Hendra mendengarnya kecewa. Dalam hatinya dia masih belum menerima nilai kurang tinggi itu.
"Hendri kan dibantuin tugas web-nya sama Rommy, Bang..." kata Hendra pelan.
Rommy, teman satu kelas mereka, yang duduk di pojok sedang membuka internet hanya meringis.
Hendri menatap abang kembarnya berusaha menghiburnya. Menepuk pundaknya pelan.
"Sudahlah, Bang, yang terpenting Abang sudah bikin dan kita bisa bebas dari tugas! Pokoknya bikin tugas berikutnya kita harus sesek huwek!" Hendri menirukan kata-kata Indra.
Indra mendengarnya tertawa bahwa mahasiswa kembarnya itu meniru kata-katanya. Seperti biasa, disela mengajar, dia tidak ketinggalan selalu mengucapkan kata-kata itu hingga ditirukan oleh mahasiswa-mahasiswi terutama jurusan Desain Grafis. Karena kata-kata itu merupakan bahasa masa kecilnya dulu hingga terbawa sampai sekarang. Sementara Hendra tidak tertawa dan terdiam.
Sinetra mendengarnya tertawa kecil lalu berpamitan kepada Indra, Si kembar dan Irfan. Beranjak keluar dari lab sambil mencangklong tas. Berjalan menghampiri tangga, menuruninya. Pintu bergeser, keluar berjalan menuju area parkir. Akan menyeberang namun tidak jadi karena ada pesan masuk dari whatsapp-nya.
Ting!
Ia merogoh saku celana, membuka handpone. Membacanya.
Kamu masih di kampus, Sine? Aku masih di taman. Konsernya sudah selesai. Aku menyusulmu.
Sinetra mengetik balasannya. Beberapa menit kemudian Eka sudah di pinggir taman. Ia melihat kacamata yang dipakai oleh Sinetra mendelik, segera menyeberang jalan. Mereka berjalan lagi menuju perempatan jalan. Di sana ada Halte Tansportasi Melayang. Mereka menghampirinya, duduk menunggu transportasi melayang. Hari ini mereka tidak membawa sekuter melayang.
"Hah, Harry Potter...!" Eka heboh, memegangi kedua pipinya."Sejak kapan kamu jadi Harry Potter—
maksudku memakai kacamata itu?!"
Sinetra tersenyum.
"Rahasia," katanya.
"Rahasia katamu? Kasih tahu! Kasih tahu, dooong!" Eka tambah heboh. Lebih heboh ketimbang Greyderoy Lockhart saat bertemu Harry Potter.
"Mau tahu atau mau tahu banget?"
"Aku kepingin tahu siapa yang ngasih kamu kacamata itu?"
"Beneran, nih?"
"Iyalah! Makanya cepetan kasih tahu!"
"Kacamata ini Tata yang ngasih, Ka."
"Apa? Tata? Kok bisa kamu dikasih kacamata itu?"
Sinetra pun menceritakan soal pemberian kacamatanya
panjang-lebar kepada Eka.
"Dia ngasih kacamata ini sebagai tanda minta maaf," ceritanya mengakhiri cerita.
"Dia bisa melihat, ya? Terus kamu bilang gimana soal itu?"
"Ya sama bilang kalau kamu bikin cerita yang karakternya bisa memiliki kemampuan melihat kayak dia. Tapi dia bilang boleh kok kalau kamu mau meriset dia. Eh, ngomong-ngomong, ceritamu itu sudah selesai apa belum? Aku boleh baca?" tanya Sinetra.
"Belum selesai."
"Coba kamu publis, Ka, ceritamu di *******. Pasti banyak yang membaca. Nanti kamu bisa kayak Kak Lisa Massivecore, Kak Sanaz Nadya, Andhyrama sama Bang Komikus Rifain! Hebat itu!"
"Aku belum berani buat mempubliskasikannya."
"Kamu masih takut, ya?"
"Iya, begitu, deh."
"Kalau jadi penulis, enaknya kamu pakai nama aslimu atau pakai nama pena?"
"Aku belum kepikiran soal itu."
"Kalau kamu bikin nama pena enaknya apa, ya? Hmm, kalau nama penanya pakai nama Eka Kamajaya, mau?"
"Sebenarnya yang bikin cerita itu kamu atau aku, sih? Kok langsung bikin nama pena..."
"Siapa tahu kalau kamu sudah bikin nama pena. Bagus lho, nama penanya Eka Kamajaya!"
Tak menunggu lama, transportasi melayang mirip bus jurusan Kota Landungsari-Kacuk berhenti di depan mereka. Pintu bergeser, mereka pun masuk mencari bangku yang masih tersisa. Mereka duduk di samping Nanda yang memandangi pemandangan sambil berdiri.
"Ayo, duduk lagi," pinta Christine.
Nanda menurut berselonjor turun memeluk boneka Pikachu yang pernah dibelikan Dewa. Duduk di samping mamanya. Transportasi melayang itu melayang lagi. Dia menoleh ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
"Kenapa?" tanya Sinetra, merasa ditatap seperti itu.
Nanda menggelengkan kepala. Eka mencubit pipi mungilnya.
"Siapa nama kamu?" nimbrung Eka. Menatap ke arah Christine."Sama Mama, ya?
"Nanda. Iya, sama Mama," jawabnya.
"Habis dari mana?"
Christine ikut menatap mereka bergantian tersenyum.
"Habis dari kampus, Oom."
"Oh, sama dong."
Bunyi rem terdengar nyaring. Semua penumpang terenyak dari bangku masing-masing disertai kendaraan di depan dan belakang suara klason tambah nyaring saling bersautan.
"Ada apa?" tanya Sinetra panik.
Eka melihat di balik jendela.
"Enggak tahu. Macet kayaknya."
Bukan mereka saja, para penumpang lain dan sopir sama paniknya. Bunyi klason masih nyaring bersautan. Di depan terlihat dua pahlawan bertarung heboh. Terjadi banyak ledakan yang terdengar.
"Kayaknya itu pertarungan, deh," Eka menebak. Mirip seperti waktu di kota Balik.
Semua penumpang menoleh padanya. Nanda mendengarnya tampak senang.
"Belalti Pahlawan galuda-nya muncul, dong!" serunya."Aku mau lihat!"
Tiba-tiba ada sesosok Pahlawan Garuda terpental ke arah angkutan melayang yang ditumpangi mereka. Menubruk keras kaca di depan hingga sang sopir melompat menghindar ke belakang.
Praang!
Sampai menorobos masuk ke dalam angkutan. Semua melihatnya berteriak kecuali Sinetra dan Eka. Mereka tahu, siapa Pahlawan Garuda yang terpental itu adalah Aksa Maheswara. Mendarat jatuh di dekat mereka. Dia merintih kesakitan. Mereka buru-buru membantunya bangun.
"Anda enggak apa-apa?"
Aksa menatap mereka kaget.
"Ka-kalian! Kenapa enggak berubah, sih?" dia melihat tatapan dua temannya yang melotot ke arahnya. Mengerti situasinya, dia meminta maaf,"Oh, maaf."
Di luar, Yudha kewalahan menangkis serangan Aji dan Dewa dengan sihir di pedangnya. Sihir beradu hebat lantas terjadi dentuman hebat.
Duum!!
Margana, yang berusaha melepas kartu Bumiratewu diam-diam yang tidak jauh dari arah mereka menangkis, menyimpannya di Evolution Entity-nya kembali menghampiri mereka.
"Sudah?"
"Sudah apanya?"
"Kamu cari kartunya."
"Sudah. Kusimpan di Evolution Entity," kata Margana,"musuhmu mana, Dra?"
"Kok bisa?"
Samudra menceitakan panjang-lebar. Saat melawan Aksa tadi, dia sempat ditabrak oleh Aksa dari belakang. Tak ayal dirinya terpental jauh beberapa meter sampai menabrak mobil melayang yang terpakir di bawah pohon hingga mobil kacanya pecah dan pintu mobil penyok. Dia kena tegur oleh sang pemilik mobil yang pemiliknya adalah seorang bapak-bapak paruh baya yang tempramental. Dia dalam wujud pahlawan-nya meminta maaf seraya mengganti rugi dengan uang. Yang uang itu hasil gajinya bulan lalu.
Margana tertawa terbahak mendengar.
"Hahaha!"
"Jangan tertawa!"
"Kamu seperti Aji waktu itu! Hahaha!"
Samudra mendengus.
Sementara di angkutan melayang, Sinetra dan Eka mengamankan para penumpang turun mencari tempat aman atas suruhan Aksa. Sebelum Aksa keluar, Nanda memanggilnya,"Pahlawan Galuda!"
Aksa menoleh,"Ya?"
"Mau kemana?"
"Seperti biasa, menyelamatkan
dunia. Memangnya kenapa?"
Nanda menggeleng.
"Kenapa Pahlawan Garuda harus bermusuhan?"
"Sudah jelas, kan kami itu musuh dari dulu? Apalagi yang pernah dilakukan terhadap Bumi!" dia teringat kejadian yang menimpa Bumi waktu itu.
Sinetra dan Eka terdiam.
"Bumi? Siapa itu?"
"Robot," kata Aksa."Ada yang ditanyakan sebelum saya pergi?"
Bocah itu tampak berpikir.
"Ada."
"Apa?"
"Nanti, kalau ketemu cama Papa, bilang ke Papa, aku minta beliin jajan, coalnya jajanku cudah habis."
Sinetra, Eka, dan Christine tertawa. Di keadaan gawat seperti ini, bisa-bisanya meminta sesuatu dengan bicara polosnya.
Aksa ikut tertawa.
"Cuma itu?"
Nanda mengangguk.
"Siapa nama Papamu itu?"
"Dewa."
"Baiklah, nanti kalau bertemu saya sampaikan," kata Aksa."Nah, sebaiknya kamu dan Mamanu cepatlah keluar dari sini mencari tempat aman..."
Christine menurut, menggendong Nanda dan beranjak keluar dari angkutan.
"Aku akan kembali lagi. Cepatlah menyusul!" Aksa beranjak keluar, sayap mecha-nya terbuka dari punggungnya meluncur ke pertarungan.
"Sekarang waktunya, Sine," Eka memberitahu, mengambil Evolution Entity di saku celananya.
Sinetra mengangguk, mengeluarkan Evolution Entity juga. Dua benda itu digenggam, berseru mengucapkan kata kunci.
"Garuda... Evolution!!"
Sinar menyilaukan dari Evolution Entity mereka, mereka langsung berubah wujud diringi suara "Become of Evolution". Mereka keluar berlari ke tempat pertarungan hingga para pengendara mendelik ke arah mereka.
"Dari mana datangnya dua Pahlawan Garuda itu?!" seru salah satu pengendara.
Mereka tak mempedulikannya, berlari memasuki kepulan asap menyeruak masing-masing mengeluarkan sihirnya. Sinetra mengeluarkan pedangnya, mengayunkannya ke depan ke arah Dewa, pedangnya memutar diikuti badannya, keluar sihir dari pedangnya.
"Silver Blind!"
Dewa akan menangkis sihirnya namun tidak sempat. Dia terkena sihirnya, terpental menjauh hingga menabrak Margana yang membalas serangan Aksa bersama Samudra. Muncul senjata mecha dari lengan Eka muncul sihir kilatan cahaya biru dari tangannya, dihantamkannya ke jalan menyebar menyeluruh mengenai Aji yang menangkis serangan Yudha lalu mengenai Samudra.
"Thunder of Hastina!"
Badan mereka berempat sontak kesakitan dan bergetar hebat seperti tersengat petir namun efek yang ditimbulkan tidak parah. Mereka akhirnya terkapar pingsan. Berubah ke wujud normalnya. Evolution Entity mereka terjatuh, sinar merahnya meredup.
"Mereka enggak apa-apa, kan?" tanya Sinetra khawatir.
Mereka menghampiri Margana dan yang lain. Eka menghentikan sihirnya. Sihirnya langsung lenyap.
"Padahal sihirku tadi cuma level
satu," kata Eka.
Yudha dan Aksa menyusul. Yudha berjongkok memeriksa denyut nadi tangan Margana.
"Enggak, mereka enggak apa-apa, kok! Sebaiknya kita bawa mereka kembali ke tempatnya... sebelum orang-orang di sini melihatnya. Sa, kamu kenapa?" dia menatap Aksa diam.
"Orang ini yang membuat Bumi celaka waktu itu," tunjuk Aksa ke arah Aji.
Mereka menatap Aji.
"Dia?"
"Iya, mereka bertiga berkerja di studio foto. Studio fotonya bernama Alzaki Studio," jelasnya."Aku enggak tahu kalau orang ini—eh, tunggu! Orang ini kan papanya bocah yang bernama Nanda tadi!"
Mereka memastikan.
"Bener! Aduh, gimana nih, Ka! Papanya pingsan! Padahal tadi Aksa disuruh bilangin pesan ke papanya!"
"Aku tahu, tapi efek sihirku tadi enggak akan lama kok sakitnya."
"Tapi kan, Ka, kalau anak atau istirinya tahu gimana? Kita harus tanggung jawab!"
"Kalau orang ini bawa saja ke tempat kost-ku sementara," timpal Yudha. "Nanti kalau sudah sadar, aku berita tahu dia."
Sinetra menghela napas lega.
Yudha menggendong Dewa dan Aji seperti menggendong guling di kanan-kirinya seraya mengeluarkan kartu Gapuran di Evolution Entity bersama Aksa yang juga menggendong Margana dan Aji di kanan-kirinya. Menatap Sinetra.
"Sinetra," panggilnya.
"Apa?"
Aksa terdiam sebentar, memberanikan diri berbicara,"Maafin aku ya soal Bumi waktu itu..."
Sinetra tak menjawab.
"Sebenarnya, itu bukan salahmu sih... walaupun kamu
salah... yang melakukanya terhadap Bumi bukan kamu, tetapi cowok ini," kepalanya menunjuk ke bawah, ke Aji di sebelah kirinya. Di balik kostumnya, dia tersenyum mirip senyumannya Ronald Weasley waktu diseleksi oleh Shorting Hat, menentukan asramanya.
Sinetra salah tingkah.
"Oh eh ya..."
Kartu Gapuran di tangan Yudha menyala—muncul lingkaran sihir di bawah kaki mereka. Mereka terisap di lingkaran itu. Setelah kepergian mereka, Sinetra yang beranjak berdiri merasakan sesuatu yang menurut tidak enak. Seakan suara itu berbisik kepadanya.
"Garuda... Aruna..."
Deg.
Suara itu menghilang tergantikan oleh suara Eka yang cempreng memanggilnya berulang kali.
"Sine!"
"Sine!"
"Sine, kamu dengar aku?" kedua tangan Eka menepuk-nepuk pipinya. Ia menatapnya khawathir.
Sinetra langsung tersadar.
"Eh, apa—aduh, aduh! Sakit, Ka!" erangnya.
Eka berhenti menepuk pipinya.
"Kamu kenapa?"
Sinetra menggeleng pelan.
"Aku enggak apa-apa, kok."
Itu tadi suara apa ya? Batinnya.