
Eka paham, menancapkan laju senapannya lebih kencang, memasuki pohon-pohon, tersibak-sibak ranting dan daun.
Di luar pulau, seluruh masyarakat terkejut melihat penampakan wujud raksasa itu yang diperlihatkan oleh satelit melalui berita di televisi dan di internet.
"Ternyata raksasa!"
"Dari mana datangnya?"
"Waah..."
Maretha dan Handoko sedang makan siang di kantin kantor "Cyborc Degsain" mengalihkan pandangan ke televisi yang terpapang di ujung. Gadis itu merasakan firasatnya mengatakan bahwa dua di antara Pahlawan Garuda itu adalah Sinetra dan Eka.
Kembali ke pulau, tangan besar Kuwera kembali direntangkan, keluar sinar kehijauan meluncur ke arah mereka—mengenai Sinetra. Ia menoleh, refleks mengeluarkan sihir pelindung dari tangannya, menahannya. Masih di tempat sama, Mirna terbaring tengkurap tidak sadarkan diri kembali ke wujud normalnya. Matanya terbuka pelan lalu bangkit perlahan. Dia memandang sekeliling. Maya dan lainnya juga tidak sadarkan diri dan porak-poranda, sunyi.
"Uuh..."
Sontak langkah kaki berlari ke arahnya. Dia menoleh ke sumber suara dari semak-semak. Tampak Cuwiri yang tadi ditemui mendekatinya. Cuwiri itu mencoba keluar memandangi situasi berganti menatap sekujur tubuh Mirna luka-luka. Satu kaki depannya menyentuh tangannya. Sihir berupa gumpalan bening keluar merasuki sekujur tubuhnya. Sekejap, luka-lukanya sembuh. Mirna melihatnya takjub.
"Kamu menyembuhkanku?"
Cuwiri itu mengangguk.
"Terima kasih," ucapnya, mengelus kepalanya."Kalau begitu tolong sembuhkan yang lainnya, ya," pintanya.
Makhluk itu menurut, berjalan mendekati Maya bergantian dengan yang lain untuk disembuhkan. Setelah sembuh, mereka kembali sadar seraya mengucapkan terima kasih. Mirna teringat ada sesuatu yang kurang—tidak lengkap di antara mereka.
"Di mana Sinetra dan Eka?"
"Mere—aduh!" kata Aksa mengaduh sakit karena jemarinya digigit Cuwiri. "Bukannya mereka tadi ikut melawan buta itu bersama ki—hahaha..." tertawa menahan geli jemarinya dijilati pelan.
"Pasti mereka berhasil kabur dari serangan buta tadi," timpal Margana,"dan lihat, kartu yang ada di Evolution Entity saya diambilnya," memeriksa benda digenggamannya.
Mirna khawatir. Tangannya meraba Evolution Entity-nya yang jatuh. Meraihnya, merentangkannya ke atas seraya mengucapkan kata kunci namun dicegah Maya dengan menyambar tangannya. Dia tahu apa yang Mirna ingin lakukan. Mirna berhenti mengucapkan kata kunci. Sinar di Evolution Entity-nya meredup.
"Hentikan, Mirna! Percuma kamu melakukannya!" peringatnya."Daya sihir yang kita miliki sekarang belum cukup untuk menolong mereka."
Mirna tersinggung.
"APA? Mereka dalam bahaya!" katanya setengah berteriak. Menepis tangannya.
"Aku tahu. Tapi buta itu sangat kuat. Walaupun kamu menyerangnya lagi. Kamu akan sia-sia..."
Mirna kembali duduk di tanah. Menggigit bibirnya. Dia tidak bisa melakukannya. Dia sudah percaya kepada mereka. Tangannya menggenggam erat Evolution Entity.
Semua menatapnya sama.
Deg.
"Ada apa?"
"Sinetra dan Eka..."
"Mereka dalam bahaya!"
Kembali ke Sinetra dan Eka. Mereka berdua masih terkejar. Eka belum sempat membelok, mereka malah jatuh terjungkal ke bawah danau.
"Aaah!!"
Byuur!
Mereka kembali dalam wujud normal. Senapannya ikut lenyap. Buta itu berhasil mengejar, berlari ke arah mereka. Tangannya direntangkan ke depan, muncul ketiga kalinya sinar kehijauan dari telapak tangannya meluncur ke Evolution Entity milik Sinetra dan Eka. Suara "Card Out" terdengar di Evolution Entity milik Eka. Dua kartu keluar terbang menuju tangannya, menangkapnya. Membiarkan benda itu meredup, tercemplung ke dalam air. Satu kartu di tangannya kini dimasukkan ke sebuah pelindung yang diciptakannya bersama empat kartu yang terkumpul. Menundukkan kepala menatap mereka pingsan. Tangannya terulur, menggenggam lalu membawanya pergi. Namun langkahnya terhenti dan menoleh melihat sesuatu cahaya yang muncul secara tidak terduga dari Evolution Entity mereka—bahkan dari Evolution Entity milik Mirna, Maya dan lainnya menyala amat terang seperti waktu di Kota Balik. Di balik menyalanya Evolution Entity, dari kejauhan mulai terdengar seperti kepakan sayap dari langit, semakin mendekat terbang meliuk melintasi mereka. Satu lagi suara kepakan sayap yang sama meliuknya. Mereka mendongak, terkejut melihat dua sosok yang terbang itu. Ternyata dua burung raksasa terbang melesat ke utara. Satelit memperlihatkan wujud keduanya. Amat jelas, membuat masyarakat yang memandangi televisi dan Youtube tidak lepas dari dua sosok itu.
Kampus USER heboh menyaksikan penampakan dua burung raksasa itu. Apalagi jurusan Desain Grafis Komputer, di ruang Lab Desain. Terlihat Irfan di belakang heboh sambil mengguncang bahu Hendri yang baru sembuh dari sakit. Dia merasa risih sementara Indra menyuap sepotong telur goreng ke mulutnya ternganga.
Buta itu mendongak, "Garuda... Aruna..."
Dari atas, Garuda melayangkan sihir cahaya terbelah menjadi beberapa bagian mirip tombak melingkarinya lalu cahaya itu meluncur cepat menghunjaninya secara serentak.
Sriing!
Sriing!
Kuwera melompat menghindarinya hingga tombak-tombak itu jatuh menancap ke tanah.
Jleeb!
Jleeb!
Selanjutnya, Aruna melayangkan sihir apinya ke arahnya.
Wuuur!
Bwoosh!
Buta itu melompat lagi menghindar, berbalik menyerang mereka. Melayangkan gadanya—terjadi adu gada, cakar dan paruh.
Dlaaang!
Mata besar Garuda melihat Sinetra dan Eka berada dalam genggaman musuhnya. Lima kartu berada di dalam pelindung. Garuda menerjangnya merebut lima kartu itu. Aruna, menepis gadanya hingga senjata itu terpental jauh. Mencabik-cabik tubuh Kuwera menggunakan paruhnya yang tajam. Garuda membuka paksa genggamannya, berpindah ke tangan raksasanya di antara kukunya yang tajam. Tangan lainnya mengepal, menghancurkan pelindung.
Praaak!
Pelindung itu remuk seketika.
Garuda langsung menangkap lima kartu itu, mengepakkan sayapnya ke atas disusul Aruna yang ikut mengepakkan sayapnya. Bersama-sama mengeluarkan sihir cahaya dan api—menghujankannya ke arah Kurewa. Buta itu pun meraung membahana tidak berdaya. Timbul ledakan luar biasa beruntun hingga menyebar ke seluruh penjuru pulau itu. Mereka semua melihatnya buru-buru menghindar, membungkukkan diri melindungi. Aksa mendekap erat Cuwiri. Bulu-bulunya nan halus berdiri, badannya bergetar karena ketakutan. Kuku-kukunya mencengkeram jaket hitam pemuda itu. Lambat laun, ledakan mulai mereda. Dua burung itu mengepakkan sayap mereka berbelok melayang ke arah selatan lalu menjejakkan kaki mendarat di depan kartu Batharayudha. Mereka semua berdiri, memandanginya takjub.
"Itu..."
"Garuda..."
"Aruna..."
Cuwiri didekap Aksa melompat ke bawah, berlari mendekati Garuda dan Aruna lantas meneriaki kawanannya dengan suara aneh menggema. Kawanannya di dalam gua mendengar, berlari berkumpul menuju temannya. Menubruk Mirna dan lainnya. Garuda mengulurkan tangannya, memperlihatkan lima kartu. Seketika bersinar melayang, saling terhubung dengan kartu Batharayudha dan melingkari kartu itu. Bergantian membuka genggamannya, memperlihatkan Sinetra maupun Eka yang tidak sadarkan diri.
"Ah!" Mirna menghampiri mereka diikuti yang lain. Dia berjongkok di dekat tangan raksasa Garuda. Menepuk-nepuk pipi mereka. Sekujur tubuh mereka basah kuyup. Mirna melepas jaketnya, memakaikannya ke Eka. Aksa ikut melepas jaketnya namun didahului Aji yang memberikan jaket warna birunya bertuliskan warna putih "CREATIVE" kepada Mirna.
"Pakaikan saja, Ketua," katanya.
Mirna menyambarnya, memakaikan jaket pinjam itu ke Sinetra. Aksa memandanginya, bukan dengan pandangan tidak suka melainkan heran. "Kamu..."
"Bukan apa-apa, kok."
Cuwiri itu memandangi keduanya terbaring. Dia merasakan iba. Aksa menunduk, kedua tangannya terulur, menggendongnya.
"Bisakah kamu menolong lagi? Kali ini untuk menolong mereka..."
Dia mengangguk. Aksa berjongkok, mendekatkannya ke mereka. Satu kaki depannya menyentuh dada Eka, muncul gumpalan putih seperti tadi saat menyembuhkan Mirna. Gumpalan itu merasuki tubuh Eka. Luka-lukanya perlahan hilang, ia pun membuka matanya. Ia melihat semuanya mengerumuninya. Bangun perlahan.
"Syukurlah," kata Mirna lega."Kamu sudah sadar."
"Kalian selamat!" seru Yudha senang.
"Eh?"
"Hah?"
"Bagaimana dengan buta itu? Kartunya?"
"Tenang, buta itu sudah dikalahkan. Kartu itu telah kembali," terang Mirna.
"Dan menyelamatkan kamu berdua," tambah Maya."Merekalah yang melakukannya," tunjuknya ke depan.
Mereka berbalik, berdiri. Terkejut melihat dua makhluk itu. Garuda merentangkan tangan raksasanya ke atas, cahaya kuning muncul di telapaknya. Dua benda yang tercemplung di danau seketika lenyap dan berpindah ke tangan mereka.
"Evolution Entity kita," gumam Sinetra."Terima kasih, Garuda," ucapnya, menerima.
Garuda mengangguk.
"Terima kasih Aruna," ucap Eka.
Aruna mengangguk.
Perlahan tubuh dua makhluk itu mulai lenyap diiringi percikan-percikan cahaya kuning-merah. Angin sepoi-sepoi menyibak rambut dan baju mereka semua. Takjub apa yang baru saja berlangsung.
"Hei," panggil Margana, di punggungnya menempel Cuwiri. "Terima kasih ya, sudah menolong kami waktu itu," ujarnya malu-malu. Waktu mereka ditolong oleh Yudha dan Aksa, Sena langsung menceritakannya kepada mereka.
"Maksudmu?"
"Sena, adikku, pernah cerita kalau kamu berdua yang menolong kami dan membawa kami pulang," ceritanya.
"Bukan kami. Yang menolong kami itu sebenarnya Aksa sama Yudha," jawab Sinetra membenarkan. "Iya, kan, Yud, Sa?" ia menatap Yudha dan Aksa.
Yudha dan Aksa mengangguk.
Margana terdiam sebentar. Melanjutkan,"Terima kasih emm..."
"Yudha."
"Aksa."
"Aku juga," kata Aji,"soal robot kecilmu itu. Aku minta maaf..." dia meminta maaf kepada Aksa.
"Eh, kamu kan sudah minta maaf waktu itu—bukan, ya? Yang minta maafkan Oom kayak boyband
korea... tapi, itu enggak masalah kok. Aku sudah maafin kamu."
Aji tersentak lalu tersenyum.
"Terima kasih banyak, Daniel," ucapnya.
Aksa mendelik. Dia tidak percaya ada seseorang yang memanggilnya dengan nama Inggris-nya. Selama ini teman-temannya bahkan penggemarnya hanya memanggilnya dengan nama Indonesia-nya.
"Sebentar, sebentar, kamu panggil aku apa? Daniel?"
"Iya, namamu yang asli memang Daniel."
"Kuterima deh, kamu panggil itu," kata Aksa.
Hari menjelang pagi, namun di pulau itu langitnya tidak berubah. Karena tertutupi kabut tebal. Matahari tampak menyinari di balik kabut. Sebelum kembali pulang, mereka semua berpamitan kepada Cuwiri dan kawanannya.
"Terima kasih sudah menolong
kami," ucap Eka, berjongkok mengelus kepala Cuwiri.
Cuwiri itu mengangguk.
Mereka semua berjalan meninggalkan kawanan makhluk itu menuju kendaraan melayang Dewa sesudah mendarat beberapa waktu lalu. Mereka naik, kendaraan melayang itu terbang ke atas perlahan, melayang pergi meninggalkan pulau itu diiringi lingkaran sihir yang mengisapnya hingga tiba di rumah dengan selamat. Tanpa sepengetahuan orang tua dan kakaknya, Sinetra diam-diam membuka pintu yang tidak terkunci, mengendap-endap memasuki rumah. Melangkah menuju kamar. Akan memasuki kamar, Shinta yang membawa ember berisi serbet yang baru dicucinya dari kamar mandi terkejut melihat dua adiknya kembali dengan keadaan basah kuyup. Menjatuhkan ember di tangannya.
"Kenapa dengan kalian?!" pekiknya, segera memanggil sang mama dari dalam dapur.
"Mama! Mamaaaa! Mereka pulang!" panggilnya.
Terdengar langkah kaki berlari dari arah dapur, mama sama terkejutnya dengan anak pertamanya mulai memarahinya panjang-lebar. Mama segera menyuruh Shinta untuk merebuskan air panas untuk mereka. Shinta menurut, beranjak menuju dapur.
"Ceritanya panjang, Ma," kata Sinetra.
"Mama bakalan enggak percaya," tambah Eka.
Mama masih dengan nada
marahnya,"Pokoknya kamu berdua cepat mandi! Bikin bingung orang serumah kalian ini!"
Sesudah peristiwa itu, besoknya, Eka keluar dari kantin kampus, berjalan seraya pintu bergeser otomatis masuk ke dalam kampus. Di dalam masih ramai membicarakan peristiwa kemarin. Ia menuju tangga, akan menaiki tangga, dari arah toilet ada suara memanggilnya."Bang Eka!"
Ia menoleh, melihat Hendra menghampirinya.
"Bareng, Bang!"
Mereka pun menaiki tangga menuju lantai dua ke Lab Desain. Bangku-bangku yang biasa dijadikan tempat nongkrong mahasiswa-mahasiswi dari jurusan Desain Grafis Komputer. Beberapa mahasiswi tampak heboh membicarakan berita kemarin.
"Hebat ya dua burung raksasa itu?" kata salah satu mahasiswi menyaksikkan ulang berita di Youtube di handpone.
"Iyalah."
"Tapi siapa yang memanggil mereka?"
"Enggak tahu. Mungkin datang sendiri."
"Bukan Pahlawan Garuda sama Pahlawan Aruna?"
"Enggak tahu, tuh."
"Bang, sudah lihat berita kemarin?" tanya Hendra, memegang ganggang pintu, membuka pintu. Mereka masuk. Mereka menghampiri meja masing-masing. Hari ini mahasiswa dan mahasiswi tampak senggang sembari mencicil tugas yang diberikan Indra. Indra sendiri, tidak masuk karena hari ini libur. Dan lab, digantikan oleh Sinetra dan Irfan yang seperti biasanya asyik menonton anime. Hendra duduk di samping Hendri yang mengupil ria. Hendra menegurnya. Sinetra menoleh, terkikik.
"Akhirnya kembali normal, ya?" katanya.
"Begitulah." Eka menoleh, melihat anak kembar itu. Hendra tidak henti-hentinya menegur adik kembarnya.
Selain di kampus USER, di tempat lain seperti Studio Cyborc, Aksa menjalani hari normalnya bersama teman-teman band-nya. Dewa bekerja seperti biasa di kantor. Margana cs, melayani pelanggan. Yudha sibuk memasak untuk tamu-tamu di hotel. Mirna dan Maya, hubungan mereka kembali membaik. Semuanya kembali normal. Eka menyudahi perdebatan dua anak kembar itu. Sinetra terkikik lagi. Sayup-sayup terdengar suara bisikan di telinganya membuatnya tersentak. Bukan suara Kuwera yang selama ini membisikannya tetapi suara lain.
"Pahlawan Garuda..."
"Pahlawan Aruna..."
...End...