Forgotten Husband

Forgotten Husband
sebuah memori episode 11



Keesokan harinya...


.


.


.


.


.


.


.


"Dimana Aku? " Tanya Gu Qiaoling menatap ruangan asing yang cukup familiar baginya.Tiba tiba potongan memori masuk ke kepala Gu qiaoling.


"puk " Seorang pria tampan, sayangnya wajah pria itu tidak jelas. Melemparkan surat perjanjian dengan kasar di depan wanita yang baru saja sah menjadi isterinya.


"Apa ini ? "Tanya wanita itu.


"Surat perjanjian. Kau harus menanda tangani nya!" Perintah pria tersebut yang berkesan memaksa.


Wanita itu membaca surat perjanjian tersebut yang berisi;


.


.


.


.


**pihak satu : Wanita itu


Pihak dua : pria tersebut


1.Pihak satu tidak boleh membantah perintah pihak dua.


2.Pihak satu dan pihak dua tidur di kamar terpisah.


3.Pihak satu tidak boleh mencintai pihak ke dua begitu pula sebaliknya.


4.Pihak dua akan menanggung semua kebutuhan pihak satu sampai bayi berusia dua tahun.


5.Pihak dua boleh menjalin hubungan dengan wanita lain dan pihak satu juga boleh menjalin hubungan dengan pria lain.


6.Setelah bayi berusia dua tahun hak asuh bayi. Jatuh pada pihak dua.


tertanda tangan tertanda tangan


(pihak satu) (pihak dua*)


.


.


.


"Saya tidak terima! Tidak puas anda merusak kesucian ku. Sekarang anda ingin anakku?" Tanya wanita itu setelah membaca habis surat perjanjian yang ditulis suaminya .


"Dia Juga anakku! Aku juga berhak mendapat hak asuhnya." Jawab pria itu mengepalkan tangannya.


"Anakmu! Dia milikku hanya milikku!" Bantah Wanita itu tidak terima dengan jawaban yang diberi pria di depannya.


"Plak.."


Tamparan mulus meluncur indah ke pipi wanita itu.


"Ka....Kau menampar ku!" Ucap Wanita itu terbata bata.


Wanita itu menyentuh pipinya yang di tampar dengan mata berkaca kaca.


Pria itu memajukan langkahnya hingga membuat punggung wanita di depannya menabrak tembok.


"A...Apa yang anda inginkan." Gugup Wanita itu.


"Cepat tanda tangani surat perjanjian tersebut. Atau Aku akan menyentuhmu seperti aku mengambil kesucian mu dulu." Ancam Pria tersebut tak sepenuhnya benar.


jatuh sudah pertahanan yang dibuat wanita itu, air matanya sudah jatuh deras di pipinya. Sekarang apa ia akan mengorbankan anaknya? Ia tak ingin malam itu terulang lagi. Malam dimana pria brengsek yang sialnya sekarang menjadi suaminya menyentuhnya dengan kasar, tanpa ada perasaan dan itu sangat menyakitkan untuk jiwa dan raganya. Tapi ia juga tak ingin kehilangan anak yang susah payah sedang dikandungnya. Jadi apa yang harus Ia lakukan?


"Bisakah Aku memohon padamu untuk berjanji satu hal padaku." Ucap Wanita itu menatap sendu pria kejam yang sialnya menjadi suaminya.


Melihat Wanita di depannya memohon dengan menyedihkan. Ada percikan rasa ingin melindungi saat melihat mata wanita itu menatap sendu ke arahnya. Namun Pria itu mencoba menepis rasa itu. Karena di pikirannya wanita itu tak sebanding dengan kekasih yang dicintainya.


"Jika Anda mau menandatangani surat perjanjian ini." Jawab pria itu dingin.


"Saya akan menanda tangisnya, asalkan Anda berjanji jika setelah saya meninggalkan anakku padamu anda akan menyayanginya sepenuh hati dan tidak akan menyakitinya batin maupun fisik." Ucap Wanita itu berlinang air mata.


"Saya berjanji Jika anak yang lahir dari mu akan Saya sayangi sepenuh hati dan tidak akan menyakitinya batin maupun fisik. Setelah hak asuh jatuh padaku." Ucap pria itu tak bisa menutupi nada malas dalam ucapannya.


"Sudahkan? Sekarang tanda tangan!" Ucap pria itu menyerahkan surat perjanjian dan bolpoin.


Dengan tangan yang bergetar dan air mata yang tak ada habis habisnya mengalir, Wanita itu menanda tangani Surat perjanjian itu.


"Kerja bagus! Anda tidur di kamar tamu mulai sekarang. Ambil barang barang mu. Saya tak mau melihat barang murah mu setelah makan siang." Ucap pria itu meninggalkan wanita itu sendirian.


Setelah pria itu meninggalkannya. Wanita merasa kakinya lemas seperti jelly. Wanita itu jatuh ke karpet tebal di bawahnya.


"Sayang maafkan mama tak berguna ini yang tak bisa mendapat hak asuh dirimu . " Lirih Wanita itu mengelus-elus perutnya yang masih rata .


.


.


.


.


.


"Memori siapa itu yang nyasar di kepalaku? Apa benar itu ingatanku. Sejak kapan aku menikah? dan lagipula siapa pria itu. Tapi kenapa wajah wanita dalam memori sama persis denganku? Apa aku benar benar sudah menikah? Kasihan sekali wanita itu." banyak pertanyaan masuk dalam benak Gu Qiaoling membuatnya berpikir keras.


Lelah berpikir keras mengenai memori tadi, Gu Qiaoling memutuskan untuk tak mencari tau lebih dalam tentang memori tadi. Semakin ia ingin mencari tau semakin sesak dadanya tanpa alasan.Tanpa sengaja setetes air mata lancang menyentuh pipi Gu Qiaoling.


"Eh kenapa aku menangis?" Sadar Gu Qiaoling ada yang basah dengan pipinya.


Hu Qiaoling mengusap air itu dengan lembut.


Gu Qiaoling merasa ada beban berat menimpa perutnya. Ia menoleh dan mendapati Jiang Xiahuan tidur pulas memeluk Gu Qiaoling.


"Bukankah dia pria kemarin? Bagaimana bisa aku tidur satu ruangan lagi dengannya? " Batin Gu Qiaoling bingung.


"Tunggu... satu ruangan? Dengan seorang pria? Sebelum menikah? Tidur bersama? memeluk ku?" Tanya Gu Qiaoling dalam hatinya .


"Aaaaaaaaaaaah...."Teriak Gu Qiaoling tersadar.


"Apa Ling baik baik saja? " Khawatir Jiang Xiahuan terbangun dari tidurnya.


"Siapa sebenarnya anda? Bagaimana bisa saya hanya bersamamu disini? Apa anda menculik ku? Apa yang anda inginkan? Apa anda mau membunuhku? Saya akan memberi anda uang dalam jumlah besar asalkan anda tidak membunuhku." Ucap Gu Qiaoling panik.


"Aku tak akan membunuhmu. Lagipula apa aku terlihat seperti orang miskin?" Ucap Jiang Xiahuan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Kalau begitu bagaimana aku bisa sampai disini?" Tanya Gu Qiaoling menginterogasi.


"Kemarin aku menemukanmu terbaring di tepi danau. karna kau pingsan aku membawaku ke sini?" Alibi Jiang Xiahuan menutupi kebenaran bahwa Gu Qiaoling tenggelam karena altar ego Jiang Xiahuan.


"Onew dimana aku ? " Tanya Gu Qiaoling.


"Rumahku." Jawab Jiang Xiahuan.


Gu Qiaoling bersiap melepas infus yang ada tangannya namun ditahan oleh tangan besar Jiang Xiahuan.


"Jangan berpikir untuk melepas infus di tanganmu. " Ucap Jiang Xiahuan tak terbantahkan.


"Kenapa anda sangat peduli denganku? Saya tidak memiliki hubungan denganmu. sebaiknya anda menjauhi saya. Karena saya masih takut dosa." Ucap Gu Qiaoling.


"Hahaha kasihan sekali kau...Xiahuan. Tak dianggap istri sendiri." Ejek Jiang Huang dalam kepala Jiang Xiahuan.


"Ling tak menganggap ku berati Ling juga tak menganggap mu bodoh!" Ujar Jiang Xiahuan menanggapi ejekan bodoh Jiang Huang.


"Eh...benar juga ya. Huaaaaa... Xiahuan bagaimana ini?" Tangis histeris Jiang Huang memenuhi kepala Jiang Xiahuan.


"Berisik. Diem Lo Bocah! Minta dijahit ya mulutmu itu." Teriak Jiang Xiahuan.


"Ti...Tidak." Ucap Jiang Huang menggeleng-kepala nya dan menutup rapat mulutnya takut pasalnya Jiang Xiahuan tak pernah main main dengan ucapannya.


.


.


.


.


"Hah? Hubungan spesial? " Heran Gu Qiaoling.


"Bukankah kita sepasang suami istri? " Tanya Jiang Xiahuan menatap Gu Qiaoling.


"Kemarin Saya sudah bilang. Saya bukan istrimu dan tidak akan pernah menjadi istrimu." Dingin Gu Qiaoling.


"Tapi Kau memang istriku dan sudah menjadi istriku bagaimana. " Ucap Jiang Xiahuan terkekeh.


"Kau....Bagaimana mungkin?" Ucap Gu Qiaoling tak mempercayai fakta ucapan Jiang Xiahuan .


"Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini." Ucap Jiang Xiahuan.


"Jangan bercanda! Siapa Sebenarnya dirimu? " Tanya Gu Qiaoling serius.


.


.


.


...----------------...


.


"Hey..Es batu apa kau lupa? Istri melupakanmu. " Ucap Jiang Huang mengingatkan.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Hal menyebalkan yang tak ingin ku ingat." Dingin Jiang Xiahuan pada Jiang Huang di dalam dirinya.


"Coba pikir . Bagus juga kalau Istri melupakanmu. Kau mungkin bisa mendapatkan hatinya lagi, tanpa terhalang kenangan buruk yang kau torehkan pada istri." Ucap santai Jiang Huang.


"Bener juga katamu Bocah! Habis makan obat pinter ya?Beli dimana?" Ledek Jiang Xiahuan tanpa Ekspresi.


"Au...Ah ..Gelap." Kesal Jiang Huang mengerucurkan bibirnya, ngambek.


.


.


.


.


.


...----------------...


.


"Baiklah. Jika Kamu tidak percaya. Aku adalah Orang yang bertanggung jawab padamu menjadi masa depanmu. " Ucap Jiang Xiahuan sok serius.


.


.


.


.


"Cek...Bertanggung jawab jadi masa depan. Udah sah juga, buat apa bertanggung jawab." Ketus Jiang Huang.


"Diam!" Ucap Jiang Xiahuan datar.


"Apa? ngak sekalian aja tunjukkin buku nikah biar istri percaya." Saran Jiang Huang spontan.


"Maunya sih gitu. Sayangnya ada orang bodoh yang memasak buku nikah jadi sup buku nikah." Kesal Jiang Xiahuan mengingat Jiang Huang yang salah memasukan buku nikah di samping sayur yang sudah dipotong karena keasikan menonton kartun upin ipin habis sunat, tapi sarung nya di gantung di atas kaki. Kalo gak percaya liat aja di you tube terus tamat mesti gantungan sarung nya itu gak pas sama anunya.


"Jadi kamu ngatain aku bodoh,gitu? Salah siapa yang meletakkan buku nikah di dapur." Kesal Jiang Huang dikatai bodoh oleh Jiang Xiahuan.


"Iya...iya...Aku yang salah. Emang yang waras ngalah." Ucap Jiang Xiahuan pura pura pasrah.


"Jadi Aku Gila gitu? " Tanya Jiang Huang kesal sampai ke ubun-ubun.


"Emang situ waras?" Tanya Jiang Xiahuan tanpa ekspresi.


"Au ah... Aku Ngambek...." Kesal Jiang Huang memajukan bibirnya beberapa centimeter.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Maaf, Saya tidak butuh pertanggung jawaban dari anda. " Datar Gu Qiaoling.


"Bagaimana jika kamu hamil, siapa yang akan menjadi anak itu?" Bujuk Jiang Xiahuan sok bijak.


"Ya, tinggal cari seorang pria dewasa buat dinikahin beres." Ucap Gu Qiaoling tidak yakin.


"Benarkah? Jaman sekarang ini cari cowok yang setia dan bertanggung jawab susah loh, banyak yang suka selingkuh contohnya Su Su siapa itu lupa aku, pokoknya matan pacar sampah kamu itu." Bujuk Jiang Xiahuan sok tau.


"Cek..hamil aja enggak." Decak kesal Gu Qiaoling.


"Pasti kamu hamil, Berani taruhan? Bagaimana kalo kita cek ke rumah sakit besok." Tantang Jiang Xiahuan.


"Kenapa anda yakin kalau saya hamil anak anda?" Remeh Gu Qiaoling mengalihkan arah pembicaraan.


"Yakin lah. dulu aja aku pertama buat sama kamu karna obat perangsang yang dikasih musuh aja langsung jadi. masa sekarang gak jadi? Kan masalahnya sama keadaannya waktu itu bukannya Ling kena obat perangsang." Pikir Jiang Xiahuan dalam benaknya.


"Ya..." Bingung Jiang mau jawab apa tidak mungkin kan kalau dia mengatakan sesuai apa yang dipikirkannya.


"Gak bisa jawabkan? Makanya jangan asal ngomong. Sana buatkan saya makanan. Saya lapar." Usir Gu Qiaoling menjalankan rencana yang baru saja dibuatnya.


....


...----------------...


.........


.......


^^^.... BERSAMBUNG 🥰🥰🥰^^^


..


.


vote, coment,like donggggg hehehe 😁😁