
Tanpa sadar kaki Gu Qiaoling melangkah ke arah danau yang airnya tenang, hampir saja Gu Qiaoling tenggelam jika saja tidak ada yang memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi! " Lirih orang yang memeluk Gu Qiaoling dari belakang.
Gu Qiaoling menolehkan kepalanya ke belakang, Ia mendapati seorang pria berpakaian serba hitam yang kini sudah basah kuyup, dan memakai topeng yang biasanya dipakai Azura.
"siapa Kau? Apa kau fans berat Azura?" Tanya Gu Qiaoling.
Jiang Huang hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Mana mungkin Aku ngefans berat sama diri sendiri." Batin Jiang Huang memutar bola matanya malas.
"Aku Azura, my wife." Ucap Jiang Huang santai.
"A...Apa?" Tanya Gu Qiaoling tak percaya kalo orang di depannya adalah Azura si pembunuh bayaran yang ditakuti semua orang termasuk Gu Qiaoling.
"Aku Azura, my wife. " Ulang Jiang Huang sabar.
"Az.....Azura." Ucap Gu Qiaoling terbata.
Tanpa sadar kaki Gu Qiaoling melangkah ke belakang.
" Ya. " Jawab Azura menganggukkan kepalanya semangat.
"Byurrrrr..." Gu Qiaoling jatuh ke danau di belakangnya.
Cepat cepat Jiang Huang menceburkan dirinya ke dalam danau untuk menyelamatkan istrinya. Ia menyesal terlambat menyadari tindakan Gu Qiaoling.
Meskipun Gu Qiaoling adalah agen yang terkenal kehebatannya. Namun ia tak bisa berenang, karena saat kecil ia pernah tenggelam di laut yang membuatnya koma bertahun tahun akhirnya itu membuatnya trauma.
"To....Tolong Aku! " Batin Gu Qiaoling menjerit.
Gu Qiaoling mencoba menggerakkan tangannya ke atas dengan harapan agar ia dapat ke permukaan tapi justru itu membuatnya semakin tenggelam ke bawah.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Batin Gu Qiaoling.
"Apa inikah akhir hidupku? Tuhan Aku belum mau mati! Aku masih belum menyaksikan upin ipin dewasa! Apa saat dewasa mereka masih botak?" Batin Gu Qiaoling gagal fokus.
Tangan Gu Qiaoling terasa berat untuk di gerakan lagi, dadanya terasa sesak seperti ada banyak air yang memaksa masuk ke dalam tubuh.
Tak kuat lagi Gu Qiaoling menahan air yang masuk ke dalam tubuhnya, pandangan Gu Qiaoling mulai menggelap. Namun Gu Qiaoling masih sempat melihat seseorang mencoba menggapai tangannya.
Malam hari membuat pandangan di dalam danau tidak jelas.Saat Jiang Huang menemukan Gu Qiaoling, ia memeluk Gu Qiaoling dan membawanya ke permukaan.
"Istriiii....Jangan mati. Bangun kita belum punya dua belas anak!" Ucap Jiang Huang dengan mata yang berkaca kaca menepuk pipi Gu Qiaoling pelan.
Tiba tiba Jiang Huang ingat pertolongan pertama yang dilakukan penjaga pantai pada pengunjung yang tenggelam saat berlibur di pantai.
"Apa aku harus memberikan nafas buatan ?." Batin Jiang Huang panik.
Jiang Huang memberikan nafas buatan pada Gu Qiaoling.
"Uhuk....uhuk " Batuk Gu Qiaoling mengeluarkan air dari paru parunya namun ia masih betah memejamkan matanya.
Dengan panik bercampur khawatir dan takut Jiang Huang menggendong Gu Qiaoling ala bridal style. Ia berlari secepat mungkin ke arah mobil nya.
Jiang Huang membuka pintu mobil ferrari miliknya lalu meletakkan Gu Qiaoling di kursi belakang.
Jiang Huang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh di jalan yang lenggang karena tengah malam orang dah pada tidur .
Sampai di rumah Jiang Huang ia menggendong Gu Qiaoling lalu membaringkannya di kasur nya yang luas.
"CEPAT DATANG KE RUMAHKU ATAU KAU KU PECAT." Ancam Jiang Huang panik kepada dokter pribadinya di seberang sana terbangun karena teriakan Jiang Huang yang menggelegar.
"Tutttt..".Jiang Huang memutuskan sambungannya.
"Ling ling kau harus kuat ya. Ada aku disini..." Lirih Jiang Huang . Air matanya sudah meluncur di pipi mulusnya.
"Apa yang kau lakukan! Jika aku tau kau akan membuat Ling ku menjadi seperti ini aku tak akan membiarkan mengambil kendali atas diriku!" Teriak Jiang Xiahuan di kepala Jiang Huang.
"Maafkan aku aku yang salah. Aku memang tak berguna, sudah membuat istri takut hingga jatuh ke danau." Sesal Jiang Huang.
"Biarkan aku keluar! Biar aku yang menjaganya." Ketus Jiang Xiahuan.
"Tidak bisa, aku ingin menebus kesalahanku dengan menjaganya! Lagipula kau sudah berjanji padaku malam ini milikku! Kau tidak akan menelan ludah sendiri kan?" Bantah Jiang Huang tak terima.
"Baiklah. Tapi jika kau membuatnya terluka aku akan membunuhmu!" Ancam Jiang Xiahuan.
"Apa kau bodoh? Jika kau membunuhku kau juga akan mati. Apa kau rela melihatnya bahagia dengan orang lain. Lalu siapa yang akan menjaganya." Ucap Jiang Huang .
"Itu lebih baik daripada membiarkan diriku yang lain melukainya." Sinis Jiang Xiahuan.
Dada Jiang Huang terasa sesak, benar kata Jiang Xiahuan ia tak pantas hidup, Ia hanya bisa membuat Gu Qiaoling terluka. Ia Memang manusia tak berguna yang berkali kali menyakiti Gu Qiaoling.
Ingin sekali Jiang Huang mengantikan Posisi Gu Qiaoling yang terbaring lemah di depannya. Sungguh ia tak sanggup, rasanya ia telah kehilangan oksigennya.
Gu Qiaoling bagai oksigen di dalam hati Jiang Huang , Saat oksigennya tercemar ia akan ikut sakit. Ia sangat membutuhkannya dalam hidupnya. bahkan jika Gu Qiaoling mati ia akan mengikutinya. Ia tak peduli semua hal kecuali semua tentang Gu Qiaoling .
"Akhirnya dokter sial** itu datang juga." Ucap Azura pelan.
Jiang Huang melepaskan genggamannya pada tangan pucat Gu Qiaoling.
"Tunggu sebentar ya sayang. " Ucap Jiang Huang mengecup kening Gu Qiaoling lembut.
Jiang Huang melepas topeng identitas Azura , menyimpannya di laci samping tempat tidur.
"Ceklek...." Jiang Huang membuka pintu depan ternyata orang yang mengetuk pintu adalah dokter pribadinya yang masih mengunakan baju tidur bergambar kartun Boboiboy.
"Kau tak sakit parah? Kenapa memanggilku mengganggu tidur malam ku saja." Ketus Bo Jihan.
"Bukan aku yang sakit tapi istriku!" Dingin Jiang Huang.
"Ha? Kapan Kau menikah? Kenapa Jihan tak tau? " Tanya Bo Jihan tak ditanggapi Jiang Huang.
"Ikuti Aku!" Perintah Jiang Huang mutlak.
Bo Jihan mengikuti langkah cepat Jiang Huang dari belakang.
"Ceklek..." Jiang Huang membuka pintu kamarnya.
"Periksa Dia!" Perintah Jiang Huang menunjuk Gu Qiaoling yang terbaring lemah di kasur nya.
Bo Jihan mulai memeriksa kondisi Gu Qiaoling, beberapa jam kemudian Bo Jihan berbalik menghampiri Jiang Huang yang dari tadi melotot ketika Bo Jihan menyentuh kulit Gu Qiaoling.
"Hay bro, mata tolong dikondisikan. Kau membuatku takut. Lagi pula dia bukan tipeku." Ucap Bo Jihan pada Jiang Huang yang duduk di sofa panjang dalam ruangan itu.
"Bagaimana?" Dingin Jiang Huang.
Jiang Huang masih kesal Bo Jihan menyentuh tangan Gu Qiaoling saat memasang infus.
"Dingin banget you! Xiahuan les sama AC? " Canda Bo Jihan.
"Udah bosan hidup lo ? Mau mati sekarang? Malaikat maut ini selalu standby untukmu." Tanya Jiang Huang menampilkan senyum menawannya namun ada kabut hitam di belakang punggung Jiang Huang.
"Ca....Canda, Serius amat." Gugup Bo Jihan nyengir lebar, membuat gigi Bo Jihan terlihat.
"Jadi?" Tanya Jiang Huang memandang Gu Qiaoling.
"Istrimu baik baik saja, Apa dia punya trauma ? kemungkin besok sudah bangun." Jelas Bo Jihan santai.
"Oh...Syukurlah..." Lega Jiang Huang.
"Puffft..."
Jiang Huang menahan tawanya saat sadar Bo Jihan masih memakai sandal jepit dan baju tidur bergambar kartun Boboiboy ditambah lagi rambut coklatnya berantakan.
"Kalo mau ketawa, ketawa aja! Gak usah ditahan!" Ketus Bo Jihan yang merapikan peralatan kedokterannya.
"Hahahaha..." Tawa Jiang Huang pecah, memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu keras.
"Udah dibela belain dateng cepet...Bukanya terima kasih malah diketawain." Sebal Bo Jihan.
"Huhh...huh..." Jiang Huang menarik nafasnya panjang guna menstabilkan nafasnya.
"Ya udah makasih ya, sayang." ucap Jiang Huang.
"Kok Aku jijik ya?" Tanya Bo Jihan pada diri sendiri.
"Xiahuan, belom jawab pertanyaan dariku. Dia istrimu? Kapan kalian menikah?" Tanya Bo Jihan menginterogasi.
"Hmmm...mau tau aja atau mau tau banget. Tumben mau ikut campur urusanku?" Tanya balik Jiang Huang.
"Yasudah...Bay... Jihan mau bobok ganteng." Pamit Bo Jihan alay.
"Hmm..." Balas Jiang Huang.
Setelah Bo Jihan keluar, Jiang Huang mendekati isterinya di kasur.
"Maaf.... Aku lalai menjagamu. Maafkan aku ya sayang." Lirih Jiang Huang membelai pipi Gu Qiaoling.
Jiang Huang naik ke ranjang yang sama dengan Gu Qiaoling memposisikan dirinya menghadap Ke samping.
Jiang Huang terus menatap wajah indah yang selalu menjadi candunya dari samping.
Karena hari yang sudah lewat tengah malam Jiang Huang tertidur pulas memeluk Gu Qiaoling.
...----------------...
^^^BERSAMBUNG π₯°π₯°π₯°^^^
jangan lupa like, vote, coment, like, vote, share, dan hadiahnya π₯°ππππ₯°ππ₯°ππ₯°π